
"Tapi, kabar ini teramat menyenangkan bagiku, Rafka. Jika benar sebentar lagi, kau akan berkeluarga. Itu artinya kau sudah siap untuk menjadi seorang pemimpin dalam skala paling terkecil, yaitu rumah tangga. Maka tidak lama lagi, kau juga akan siap untuk menjadi pimpinan dalam skala yang lebih besar, yaitu perusahaan keluargamu."
Demikian ucap pak Zaini Dahlan kemudian. Ucapannya sedikit menjawab tanda tanya dalam diri mereka, dan juga mengungkap sebuah fakta baru. Bahwa Arafka adalah calon pemimpin sebuah perusahaan.
Arafka tak memberi tanggapan, ia hanya terlihat menghela napasnya samar. Sedangkan Zaini Dahlan, melangkah ke arah hospital bed, yang di mana, Meidina duduk menyandar di sana.
"Nak, aku harus memberitahukan semua ini padamu. Karena kau calon istrinya Rafka. Aku yakin, anak itu pasti belum memberitahukan, siapa orang tuanya 'kan?"
Meidina mengangguk kecil, sementara perasaannya berdesir. Anggukannya ini terasa sebuah kesalahan, karena selama ini ia memang tidak ingin tahu apa-apa tentang Arafka. Apalagi untuk memcoba mencaritahunya. Di saat mayoritas santri Alhasyimi, mengidolakan pemuda tampan itu, bersamaan dengan kiprahnya dalam tubuh Albadar, Meidina berdiri di lajur kiri. Di jajaran orang-orang yang tidak ikut-ikutan sama sekali. Bukan karena ia tidak mengakui ketampanan seorang Arafka, hingga pantas menjadi sosok idola. Bahkan, menurut gadis ayu itu, pemuda yang sekarang menjadi calon suaminya itu memang sangat tampan memesona. Hanya saja, dia tak memenuhi kriteria bagi seorang Meidina untuk menjadi sosok idaman dalam hidupnya.
Tak terpenuhinya kriteria calon imam impian dalam diri Arafka, menurut Meidina Shafa itulah, garis besar yang menjadi pokok keresahannya, saat kini ia malah menjadi calon istri pemuda tersebut. Meidina yang yang ayu dan cerdas itu, menginginkan calon impian yang sempurna menurut versinya. Sekali lagi, sempurna menurut versi Meidina Shafa. Karena definisi kesempurnaan calon suami impian, bagi setiap perempuan itu tidak sama, atau tidak akan sepenuhnya sama.
Bagi Meidina, kriteria imam impian itu, yang mampu menjadi pemimpin, dengan standar terkecil yang harus dimiliki seorang calon pemimpin yaitu punya sifat tanggung jawab.
Yang mampu jadi guru, saat ia butuh tahu di berbagai pengetahuan keagamaan maupun yang berada di luar lingkup itu.
Artinya, calon suaminya itu, harus lebih dalam dan lebih luas pemahaman agamanya dari gadis ayu tersebut.
Yang mampu jadi sahabat, kala resah ia ingin mengadu, sebagaimana ciri khas perempuan ketika mendapat sebuah permasalahan, sharing is caring. Jika lelaki lebih mengedepankan mencari solusi, wanita akan lebih dulu berbagi cerita dengan yang sefrekuensi. Maka, jika pendamping hidupnya mampu menjadi sahabat, dia tidak perlu orang lain lagi, untuk menjadi teman curhat. Demikian menurut Meidina.
Dan yang berikutnya, yang mampu menjadi kekasih, tempat bermanja, saling memadu cinta. Untuk yang ketiga ini, semua orang pasti bisa, walau tidak ada yang menjamin, seberapa lama mereka bisa. Karena yang umum terjadi, pasangan kekasih, tak mampu lagi memodofikasi ikatan cinta kasih mereka setelah lama terikat dalam hubungan rumah tangga. Maka cinta kasih yang semula teramat indah, menjadi layu dan pudar dengan sendirinya, setelah beberapa tahun menikah. Tentu saja bukan kriteria kekasih yang seperti ini, yang diharapkan oleh Meidina Shafa.
Semua kriteria imam impian itu diklaim oleh Meidina, tidak ada dalam diri Arafka Wafdan. Maka seberapa indah dan tampannya seorang Arafka, tak sedikitpun menarik perhatian Meidina Shafa. Justru kriteria tersebut ia temukan dalam diri Rayyan Ali Fattan. Tapi, dunia dengan keputusannya, telah mengajak Meidina bercanda. Di mana kini, ia malah menjadi calon istri seorang Arafka. Dan mau tak mau harus melepas Ra Fattan "Sang calon imam impian" karena ternyata ia adalah calon jodoh sahabatnya.
__ADS_1
Wanita, memang sering kali terjebak di antara asa dan realita. Seperti kini yang dialami oleh Meidina Shafa.
Kembali pada Zaini Dahlan, yang kini mengajak bicara Meidina Shafa.
Setelah Meidina menjawab dengan anggukan atas pertanyaannya itu. Zaini Dahlan segera berkata, "Sebenarnya aku ini bukan ayahnya Arafka. Aku adalah sahabat ayahnya, dan sudah menganggap kalau Rafka ini adalah anakku sendiri."
"Hoo?" Kalau dibahasakan dengan sebentuk kata, mungkin begitu reaksi mereka semua, saat Zaini Dahlan mengungkap kebenaran itu.
"Ayahnya Rafka itu pak Himawan, dan ibunya, Bu Dian Maulidia. Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, saat Rafka masih duduk di bangku SMA."
Satu fakta baru lagi yang diungkap oleh Zaini Dahlan, terkait siapa Arafka. Ternyata benar kabar burung yang sempat beredar, kalau orang tua Arafka sudah tiada. Pasti setelah ini, masih ada atau mungkin masih banyak beberapa fakta baru lagi tentang pemuda tampan itu.
Mari kita simak dengan seksama.
"Pak Himawan, adalah seorang pengusaha kaya raya yang memiliki perusahaan besar dengan beberapa anak perusahaan, sebagian ada di Jakarta, dan sebagiannya lagi di Bali," lanjut Pak Zaini Dahlan.
"Ayah ..." Arafka terlihat kurang suka, saat Zaini Dahlan mengungkap hal yang demikian.
"Calon istrimu perlu tahu, tentang siapa kamu, Nak. Tapi, jangan kawatir, ayah hanya akan bicara, apa yang boleh dibicarakan. Selebihnya, itu adalah bagianmu," kata Zaini Dahlan cepat. Dan Arafka pun memilih diam. Karena memang apa yang dikatakan oleh ayah angkatnya itu benar. Meidina harus tahu tentang dirinya, terlepas nanti mereka akan benar-benar menikah atau tidak.
"Rafka itu anak tunggal, maka dia pewaris satu-satunya dari semua badan usaha ayahnya. Tapi, saat pak Himawan meninggal, dia masih belum siap untuk memimpin beberapa perusahaan besar. Maka atas keputusan dewan direksi yang disetujui pula oleh Bu Arum, ibunya pak Himawan, aku yang ditugaskan untuk mengemban amanah itu sementara, sampai Rafka siap untuk duduk di kursi kepemimpinan."
Zaini Dahlan melanjutkan ceritanya, yang mana semua itu disimak dengan seksama oleh mereka semua yang ada di sana.
__ADS_1
"Sekarang aku merasa kalau dia sudah mampu untuk mengemban amanah dari kedua orang tuanya itu. Tapi, setiap kali aku memintanya untuk terjun langsung di perusahaan, dia selalu bilang belum siap. Padahal aku kawatir, hidupku tak akan lama lagi, setidaknya sebelum aku meninggal, aku sudah harus menyerahkan semua tanggung jawab ini pada Rafka, selaku yang berhak."
Zaini Dahlan lalu menatap terarah pada Meidina Shafa yang memang sudah menjadi khitob pembicaraannya dari semula, sejak ia memutuskan untuk memberitahukan perihal orang tua Arafka pada gadis ayu itu.
"Tolong ya, Nak. Setelah kalian menikah nanti. Tolong bujuk dia untuk mau melanjutkan semua usaha ayahnya, yang memang adalah hak milik Rafka. Dan dengan berkekuatan hukum tetap, sudah atas nama Rafka. Tolong bujuk dia ya, Nak." Dahlan terlihat sangat berharap pada Meidina. Di sisi lain, gadis itu terlihat tidak tahu harus menjawab apa.
Jelas saja, Meidina merasa bingung harus bagaimana. Memikirkan menikah dengan Arafka saja, ia belum pernah, walau mungkin mereka akan menikah. Apalagi kini diminta untuk membujuk pemuda yang sikap, sifat dan wataknya saja ia belum tahu. Tapi, terlepas nanti Meidina mau menjawab apa atas permintaan dari Zaini Dahlan, tidakkah para pembaca ada yang bertanya-tanya. Setelah Meidina tahu kalau calon suaminya adalah seorang yang kaya raya, pewaris banyak perusahaan besar yang omzet perbulannya sudah mencapai angka M atau mungkin T, apakah gadis ayu itu akan berubah pikiran?
Apakah dia akan berbalik menerima Arafka, terlepas apapun perbedaan yang ada? Apakah Meidina akan silau dan akan mau dengan suka rela menjadi istri Rafka, meskipun pemuda tampan itu tak memiliki kriteri imam impian bagi Meidina seperti yang sudah dipaparkan di atas?
Faktanya, harta adalah bujuk rayu yang paling ampuh. Banyak fakta yang terjadi, bahwa Para pemilik kekayaan tidak perlu susah-susah mengeluarkan jurus rayuan, apalagi harus mengejar-ngejar wanita impian. Mereka hanya perlu memerlihatkan sebagian saja dari harta kekayaan, dijamin, mereka sendiri lah yang akan dikejar-kejar.
Lalu bagaimana dengan Meidina Shafa ini? Apakah akan sama, dengan banyak kisah yang sudah terjadi?
Disimak saja ya seterusnya. Setiap bab akan menjawab setiap tanya. Insyaallah.
Sampai saat ini Penulis masih betah menyapa para pembaca dengan karya di aplikasi ini. Ya, walaupun keberadaan penulis di sini, di Noveltoon ini, hanyalah bagian yang terkecil dari yang sangat kecil, yang karena begitu kecilnya, sampai tak bisa dideteksi sama sekali oleh sistem. Ah sudahlah, membicarakan sistem NT dengan segala aturannya, seperti menggarami air laut saja, alias sia-sia belaka. Karena air laut sudah asin, buat apa diberi garam.
Lebih baik fokus berkarya, fokus menulis, ada apa dan bagaimana, serahkan pada yang punya kuasa.
Al-insan bittahkyir, Allah bittaqdier.
Ini adalah keputusan saat ini, mana tau nanti atau kapan, penulis bisa menarik koper, pindah aplikasi..apa pun bisa terjadi.
__ADS_1
Love uu semuanya.
Jangan lupa like dan komennya ya..ditunggu