Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
Extra 2


__ADS_3

Pov Arafka.


Ini sudah berapa kali aku melihat pada jam tangan yang melingkar di pergelangan. Sekali lagi menatap pada jarum berukuran paling pendek yang berfungsi sebagai penunjuk angka itu. Ternyata Waktu hanya bergerak lima menit dari terakhir kali kulihat. Terasa sangat lambat. Aku embuskan napas sekali lagi. Dan menatap jam tanganku kembali.


Akhirnya, aku kalah.


Segera bergegas keluar dari kamar sambil membawa kunci mobil yang sedari awal memang tak lepas dari genggaman.


Saat melintas di ruang tengah yang menghubungkan ke halaman samping, aku berpapasan dengan umi. Maka beliau pun bertanya, "Mau kemana, Nak?"


Kuhentikan langkah sejenak, menatap beliau dan tersenyum. Bagaimana pun kurasa kurang sopan jika menjawab pertanyaan orang tua sambil berjalan. Meski sebenarnya aku sangat ingin segera keluar.


"Saya mau jemput Ning Adin, Umi."


Umiku mengangguk kecil seraya melihat pada jam dinding. Beliau tersenyum. Saat ini memang baru jam sepuluh siang. Sedangkan pelajaran istriku di KM, tuntas pada jam 12:30. Jarak dari kediaman aba dan umi yang masih kutempati sekarang ke area studio alam Albadar--tempat lokasi sementara KM--tak lebih dari lima belas menit bila ditempuh dengan kendaraan. Maka, seharusnya aku pergi menjemput istriku setelah lewat jam 12. Umiku pasti tahu hal itu, karenanya beliau menampilkan senyuman lembut.


"Saya juga ingin silaturrahim dengan para senior di Albadar," Aku segera menambahkan keterangan lantaran merasa malu terhadap umi yang sebenarnya tidak mengatakan apa-apa tentangku.


"Umi paham Nak. Kamu pasti sudah rindu pada teman-temanmu. Tapi, pasti lebih rindu lagi kepada istrimu."


Beliau mengusap lembut pundakku setelah mengucapkan kalimat itu.


Aku tertegun, merasa malu. Rahasiaku terungkap di depan umi.


Memang itulah fakta yang terjadi. Aku baru satu jam kembali dari mengantar istriku ke KM. Aku sendiri yang memutuskan untuknya kembali mengikuti pembelajaran dari sekarang. Namun, baru setengah jam aku tak melihat wajahnya, rasanya sudah seperti sebulan.


Dari tadi aku berusaha menahan diri. Walau sebenarnya kedua kaki terasa gatal ingin segera meluncur menemui. Aku berusaha bersikap wajar, meski rasa rindu yang kurasakan hampir merampas kewarasan. Tapi, di menit yang kesekian, aku kalah. Aku menyerah pada rasa yang tak bisa kulawan. Kuputuskan untuk menjemputnya ke KM. Meski aku tahu kalau sekitar dua jam aku harus menunggu.


"Gak papa, Nak." Terdengar lagi suara umiku. Rupanya beliau belum berlalu. Sentuhan lembut tangan wanita yang hampir tak pernah menyebut namaku tanpa embel-embel "nak" itu kembali mendarat di pundakku, yang masih sesaat terpaku.


"Rindumu halal. Cintamu pada Ning Adin direstui tuhan. Tak perlu malu," lanjut beliau lagi yang seketika memantik datangnya senyum yang terbit di bibirku.


Aku mengangguk sambil tersenyum. Umi menyilakan padaku dengan isyarat tangan. Setengah berlari aku segera melanting keluar.


"Mas Rafka."


Mas Azmi menyapaku saat kakiku baru keluar dari mobil dan menjejak halaman aula.

__ADS_1


Kami saling bersalaman, saling bertanya kabar, lanjut dengan obrolan ringan, dan gazebo dua dekat aula menjadi tempat duduk pilihan. Tak lama, teman-temanku yang lain juga berdatangan, seperti mas Nizam, ustad Widad dan Ustadz Fadil. Kami pun terlibat pembicaraan akrab. Tapi sesekali ujung mataku mencuri pandang ke aula, berharap dapat melihat wajah ayu Meidina Shafa, meski hanya untuk sesaat saja.


Sungguh aku sedang kasmaran. Kasmaran pada istriku tersayang.


Entah berapa lama waktu berlalu. Obrolan kami sedikit mengikis rasa rindu yang menggebu. Hingga kemudian terasa ada desir aneh dalam dadaku. Gelenyar aneh ini kurasakan saat pertama kali aba menyebut nama Meidina Shafa sebagai calon istriku.


Subhanallah.


Aku bertasbih mengagungkan kebesaran nama tuhan. Kala ujung mataku menangkap adanya siluet perempuan. Dia, kekasih halalku telah berdiri di sana. Rupanya, hadirnya lah yang mendatangkan debaran aneh dalam dada.


Ini sungguh ibarat sinyal dari Sang Maha Rahman, sebuah pemberitahuan, kalau di sekitarku telah hadir orang yang kusayang.


Semua teman-temanku bertanya, saat aku segera beranjak dari tempat duduk semula. Aku hanya memberi isyarat saja. Karena langkah kakiku, hatiku, dan jiwaku hanya mengarah pada istriku saja.


Dia seperti tak menyadari kehadiranku. Bahkan tatapannya tampak kosong. Seperti sedang berkelana jauh. Padahal aku bersusah payah menahan diri untuk tidak berlari dan mendekapnya erat serta menghadiahi wajah ayunya dengan ciuman hangat.


"Ning ..." Aku memanggilnya pelan, saat langkahku hampir mencapai.


Dia tak mendengar suaraku, dan tak menyadari keberadaanku. Tatapannya tetap kosong.


Degg


"Sayang." Sepenuh perasaan aku kembali memanggil.


"Subhanallah, Mas Rafka."


Ia nampak kaget dan segera menatapku dengan wajah bersemu merah. Entah apa yang sedang ia rasa. Tapi aku tahu apa yang kurasa saat ia mencium punggung tanganku.


Kuusap pucuk kepalanya. Ingin sekali menunduk dan mencium keningnya. Tapi ku rasa tidak di tempat ini. Di mana banyak pasang mata yang sedang melihat kami. Meskipun kami pasangan halal, tetap ada etika yang tak boleh dilanggar, bukan.


"Jennengan sudah lama, Mas?"


Aku tersenyum seraya mengangguk.


"Maaf, jadi lama menunggu," ucapnya dengan raut wajah kurang nyaman.


"Saya yang datang terlalu awal, Ning," jawabku.

__ADS_1


"Ada janji sama yang lain ya?" tanya istriku sembari menatap sekilas ke arah teman-temanku.


"Tidak."


"Lalu?"


"Rindu, yang membawa saya datang lebih awal," sahutku sambil tersenyum.


"Rindu pada siapa, Mas?"


Dan ia masih bertanya. Membuat ku semakin gemas karenanya. Entah ia sedang berpura-pura tidak tahu, atau justru benar-benar tak tahu.


"Meidina Shafa, istrinya Rafka."


"Kenapa rindu pada istri orang, Mas?"


Ia malah bertanya demikian, membuatku merasa telah salah bicara. "Kenapa Mas Rafka jadi meniru-niru saya, yang juga sedang merindukan suami orang," ujarnya lagi. Yang membuat ada desir tak nyaman, hinggap di perasaan.


"Siapa?" Aku bertanya singkat. Tapi aku yakin frekuensi suaraku masih lembut. Berkata kasar pada wanitaku, adalah pantangan yang harus kujauhi. Apalagi sosok istriku saat ini, yang kuyakini sebagai amanah dan anugerah dari Allah. Yang Harus kujaga, dan harus kuhormati.


"Saya merasa rindu pada Arafka Wafdan, suaminya Meidina Shafa," jawab istriku.


Aku menatapnya tanpa jeda, dalam rasa bahagia yang membuncah dalam dada. Aku menatap dengan sepenuh cinta. Satu jemariku terangkat untuk mengusap pipinya. Dan satu tanya terucap dariku untuknya.


"Ning, boleh cium?"


"Nanti saja," jawabnya menahan tawa, dan segera berlalu dengan wajah bersemu.


Subhanallah,


Rasa syukur dalam kalbu kugaungkan seiring dengan memuji kebesaran nama Tuhan.


Menjadikan Meidina Shafa sebagai istriku, adalah takdir-Mu yang luar biasa, Ya Rabb.


Demikian pengakuanku pada Sang Maha Penentu. Yang telah menetukan aku dan Meidina Shafa bersatu.


🌺🌺🌺

__ADS_1



Tetap mohon dukungannya ya, untuk cerita terbaru saya...like, koment, vote, Rate bintang 5 juga...saya mohonnnn dehh..πŸ˜„πŸ˜„πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


__ADS_2