Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
67 Dian Maulidia


__ADS_3

Untuk menuntaskan segenap pertanyaan yang berjibun dalam benak mereka, Syaikhona segera mengatakan, "Selama ini, selama dia belajar di Alhasyimi, aku tidak pernah memberitahukan identitasnya, atas permintaan dari Rafka sendiri kepadaku. Karena di Alhasyimi ia ingn menjadi santri untuk belajar, bukan untuk menjadi anakku. Ini adalah syarat yang ia minta padaku. Syarat agar aku merahasiakan, kalau sebenarnya dia adalah anakku."


Kyai pengasuh memangkas sejenak ucapannya, dan menoleh ke Arafka yang menunduk. Beliau lalu mengusap pundak pemuda tampan itu pelan.


"Tapi seluruh keluarga besar, dan segenap anggota majlis msyayikh Alhasyimi tahu, kalau dia adalah anakku. Karena saat aku menikah dengan ibunya Arafka 25 tahun yang lalu, pernikahan itu diketahui dan direstui oleh seluruh keluarga besar. Dan juga atas persetujuan dari nyai Syarifah sendiri pada waktu itu."


Syaikhona menyentuh tangan bu nyai dengan lembut, seraya menatap beliau dengan pandangan hangat. Seolah menunjukkan penghargaan beliau yang begitu besar terhadap bu nyai, yang saat itu mau menerima pernikahan kedua suaminya dengan berlapang dada.


Nyai Syarifah sendiri tersenyum lembut, seolah menunjukkan bahwa memang demikianlah kenyataannya. Tanpa beban dan tanpa berkeratan, beliau memutuskan untuk menerima pada waktu itu.


"Tapi, Takdir yang menggariskan, sehingga aku tidak bisa membesarkan putraku sendiri. Dan Takdir pula yang telah mengembalikannya padaku, saat ini. Takdir yang sudah digariskan dan ditentukan oleh Allah kepada kami."


Demikian ucap beliau dengan nada pasti. Sementara sepasang mata kyai pengasuh Alhasyimi tersebut berkaca-kaca, saat teringat kembali peristiwa dua puluh lima tahun silam.


AL-HASYIMI, DUA PULUH LIMA TAHUN YANG LALU.


--------------------------------------------------------------------


Pesantren Alhasyimi, saat itu berada di bawah kepengasuhan KH Umar Hasyim--pendiri dan pengasuh kedua Alhasyimi, yang juga merupakan ayahanda dari KH Abdullah Umar, pengasuh Alhasyimi, saat ini. Sedangkan KH Abdulloh Umar, pada saat itu masih belum terjun secara praktis di dunia pendidikan Alhasyimi, karena sedang menjalankan tugas mengajar dari pesantren tempat beliau menimba ilmu di Makkah.


Akan tetapi, kyai Abdulloh tidak tinggal menetap di sana, ada sekitar dua bulan sekali, beliau pulang. Karena bagaimana pun saat itu Alhasyimi juga butuh campur tangannya. Di samping ada istri dan dua orang anak yang selalu merindukan kedatangannya, putri sulung beliau ning Karimah, dan putra kedua beliau, Mas Ahmad Izzatil Fanani, yang saat itu masih berusia dua tahun.


Sedangkan ibunda Irfan Arafka Wafdan sendiri, adalah seorang wanita cantik bernama, Dian Maulidia. Dia seorang wanita yang sudah berprofesi sebagai pengacara muda berasal dari Jakarta, meski pada saat itu masih belum punya firma hukum sendiri.

__ADS_1


Wanita cantik yang punya pola pikir sangat modern itu terdampar di Alhasyimi, adalah atas janji dari mendiang ayahnya, yang merupakan dokter kepala sebuah rumah sakit terkemuka di Jakarta. Menurut sejarahnya, dokter Faishal, ayah dari Dian Maulidia adalah alumni Al-Hasyimi. Dulu, setelah lulus sekolah menengah atas, sebelum melanjutkan pendidikan kedokteran, Faishal masih sempat mengabdi selama dua tahun di Alhasyimi, dan berteman akrab dengan kyai Umar Hasyim pada waktu itu.


Faishal ini berjanji, bahwa jika kelak menikah dan dikaruniai anak, dia akan memondokkannya di Alhasyimi. Ternyata, setelah ia berkeluarga, usai meraih gelar kedokterannya, ia hanya dikaruniai seorang putri--Dian Maulidia--yang sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti pendidikan pesantren.


Wanita cantik nan cerdas itu memilih mengejar cita-cita dan keinginannya untuk menjadi seorang advokad, dengan menentang keinginan Faishal yang ingin mengirimkannya barang satu tahun saja untuk belajar di Alhasyimi. Hingga pun dokter Faishal meninggal, janji itu belum terbayarkan. Dua tahun kemudian, ibunda Dian juga meninggal, sedang janji itu belum tertuntaskan.


Maka kemudian atas prakarsa dari pamannya--adik dokter Faishal--yang sedikit memberi penekanan pada Dian, bahwa janji adalah hutang yang harus dibayar, wanita cantik itu bersedia untuk sejenak belajar di Alhasyimi, dengan artian harus meninggalkan pekerjaan sebagai pengacara muda--yang baru ditekuninya selama dua bulan belakangan--untuk sejenak menjadi santri di Alhasyimi.


Kehidupan pesantren di Alhasyimi, sangat bertolak belakang dengan kehidupan seorang Dian Maulidia. Karenanya ia sering mempertanyakan aturan-aturan yang diterapkan dalam pesantren, dengan pertanyaannya yang kritis. Setiap jawaban yang ia dapat, dari beberapa ustadzah dan bu nyai, justru mendatangkan pertanyaan baru yang lebih kritis lagi. Sehingga dengan ini, mereka cenderung dibuat kewalahan dengan cara bertanya Dian yang cukup frontal, karena tak mendapatkan kepuasan dari jawaban yang didapatkan.


Tak hanya itu, Dian juga terkadang menolak untuk menutup aurat secara praktis sebagaimana cara berbusana seorang santri. Ia pun menolak untuk mengikuti semua peraturan pesantren karena dianggap tidak sesuai dengan pola pikirnya selama ini. Hingga kemudian semua hal tentang Dian sampai pada pengasuh, KH Umar Hasyim.


Pada suatu kesempatan, tepat di malam jumat, kyai Umar khusus memanggil Dian Maulidia untuk makan malam bersama keluarga kyai di Dhelem. Usai makan itu, dengan ditemani Nyai pengasuh, kyai Umar mengajak berbincang Dian. Beliau menanyakan pada gadis tersebut apa sebenarnya yang tidak memuaskan baginya seputar pendidikan pesantren.


Dengan tegas, Dian menyatakan bahwa ia bersedia mengikuti seluruh peraturan pesantren, jika ada yang bisa menjawab semua pertanyaannya seputar aturan dan pendidikan pesantren, dengan jawaban yang sesuai serta memuaskan menurut logikanya dan tingkat IQ gadis itu yang memang di atas rata-rata. Jawaban yang akan membuatnya merasa puas dan tak ada sanggahan lagi.


Contohnya, saat ia bertanya kenapa, di pesantren pakaian yang digunakan adalah yang serba tertutup. Dan jawaban yang ia dapat, sebab menutup aurat itu wajib.


Dian pun lanjut bertanya, kenapa diwajibkan? Pada bagian ini, jawaban yang ia dapat cenderung tidak memuaskan. Hingga ia terus bertanya dan bertanya pada orang lain lagi dan yang lain lagi dengan pertanyaan yang lebih frontal.


Atas penjelasan dari gadis tersebut, kyai Umar tersenyum lembut. Bahkan dengan nada santai beliau berkata, "Jika ada yang bisa menjawab semua pertanyaanmu, dengan jawaban yang akan memuaskan rasa ingin tahu dalam dirimu, dan yang menjawab tersebut adalah seorang laki-laki, apa kau bersedia untuk menikah dengannya?"


Dan dengan beraninya, Dian Maulidia menjawab, "Jika memang ada yang bisa menjawab semua pertanyaan saya Kyai, jawaban yang bisa membuat saya paham, tak hanya sekedar jawaban yang berkisar dari kata wajib, halal dan haram seperti yang selama ini saya dengar. Tapi jawaban yang sesuai dan cocok dengan semua konteks kehidupan, tak hanya dalam lingkup pesantren ini saja, maka saya bersedia menikah dengan orang itu."

__ADS_1


Demikian tegas sang pengacara muda itu membuat keputusan tanpa perlu dipikirkan atau pun dipertimbangkan lebih dalam. Ia dan kyai Umar seperti sedang beradu di ajang taruhan, bagi yang dikalahkan hukumannya adalah pernikahan. Hukuman, atau imbalan? Tergantung bagaimana pembaca menafsirkan semuanya.


Dalam posisi Dian sendiri, dia tak sedang membuat kompetisi yang hadiahnya adalah dirinya sendiri. Tapi, dia sungguh merasa jengah dengan banyaknya aturan dan tata tertib yang harus dipatuhi, tanpa dia mengerti kenapa dan bagaimana. Kalau hanya mengacu pada sebuah aturan yang termaktub dalam kitab-kitab pelajaran, itu tak cukup membuatnya merasa puas dan tercerahkan. Harus ada penjelasan yang reel dan sesuai, yang tak bertolak belakang antara logika dan peri kehidupan yang ada sekarang, dengan peraturan yang memang sudah ditetapkan.


Sedangkan bagi KH Umar Hasyim sendiri, beliau juga tak sedang membuat kompetisi dengan sang santri baru yang ingin banyak tahu dan kritis itu. Melainkan karena ia melihat kalau tanda tanya besar yang ada dalam diri seorang Dian harus dijawab dengan benar dan tepat. Selanjutnya, gadis itu butuh seorang pembimbing yang tepat untuk mengarahkan kecerdasannya pada jalur yang sesuai. Sehingga kecerdasan itu akan membawanya pada jalan yang diridhoi Tuhan.


Seberapa banyak kecerdasan yang menyimpang dari jalan yang benar, ketika kehausan akan sebuah informasi yang tepat dan akurat tentang sebuah kebenaran, tak bisa didapat. Logika yang tinggi jika tidak disertai dengan kekuatan iman yang memadai, bisa mengarah pada jalan yang dimurkai. Itu, yang menjadi bahan pertimbangan bagi Kyai Umar dalam memberikan keputusan.


Karena sudah tercapai kata sepakat antara Dian dengan Kyai. Maka, kyai Umar lalu meminta pada putranya, KH Abdullah Umar, yang saat itu memang sedang pulang dari makkah sejak seminggu yang lalu, untuk menghadap. Kepada sang putra sulung yang akan mewarisi tahta Alhasyimi itu, kyai Umar meminta Dian untuk menanyakan hal apa pun yang ingin diketahui.


Maka, yang terjadi kemudian, adalah bukan hanya sekedar tanya jawab yang disaksikan langsung oleh kyai Umar dan Nyai. Tapi juga sebuah dialog panjang antara Kyai Abdullah Umar dan Dian Maulidia.


Kyai muda itu menjawab semua pertanyaan Dian dengan jawaban yang mencakup segala hal, tegas, jelas, tepat dan benar, Sesuai dengan nash Alquran dan hadis, yang juga berkaitan dengan tatanan kehidupan sosial, budaya sejak dari zaman nabi, sampai zaman yang sudah modern sekarang ini. Yang mana semua jawaban itu mampu membungkam segala kata tanya yang akan dilafadzkan oleh Dian selanjutnya.


Sang pengacara muda, yang pandai mengolah kata, mahir dalam tatanan bahasa, kini hanya mampu terdiam, dan seolah telah kehilangan segala kosakata yang biasanya berjumlah ribuan tertanam dalam benaknya. Gadis cantik itu tak hanya merasa puas dengan semua jawaban yang diberikan oleh Kyai Abdullah Umar, tapi ia juga berjanji untuk mengikuti semua aturan itu dengan patuh, karena kini sudah jelas baginya, bahwa aturan dalam islam terutama bagi perempuan adalah sebagai bentuk perlindungan, bukan untuk mengekang.


Kyai Umar Hasyim kemudian meminta Dian untuk melaksanakan janjinya, yaitu menikah dengan seseorang yang mampu memberikan jawaban yang ia butuhkan, dalam hal ini adalah Kyai Abdulloh Umar Hasyim, tentunya.


Gadis itu pun tak bisa mengelak, dan tak mampu menolak. Apalagi ke-shalihan kyai Abdullah, berikut ketampanannya sudah memesona hati Dian dari sejak melihat pertama.


Kyai Abdulloh Umar yang tidak tahu menahu adanya perjanjian seperti itu antara abanya dan Dian Maulidia merasa sangat terkejut, dan tak bisa menerima kesepakatan tersebut.


Next..

__ADS_1


Jempolnya ya kakak...jangan lupa..


komennya juga ya...


__ADS_2