Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
13 Ujian Atau Hukuman?


__ADS_3

Dik gimana, sudah sowan pada Syaikhona, terkait masalah ini?" tanya Azmi. Hal ini juga menjadi pertanyaan Nizam dan Adli. Mereka ingin tahu apa keputusan pengasuh besar tentang masalah yang sedang dihadapi oleh Arafka.


"Sudah, semalam."


"Lalu apa tanggapan beliau?" tanya Adli cepat.


"Tidak ada, beliau cuma membacakan surat Al-Baqarah ayat terakhir sampai tiga kali," sahut Rafka.


ا من الر سو ل...


Azmi langsung membaca ayat terakhir surat Al-Baqarah tersebut.


"Bukan, Mas," ralat Arafka. "Tapi dari ayat لا يكللف الله نفسا الا وسعها لها ما كسبت و عليها ما ا كتسبت..." pemuda itu juga melantunkan penggalan ayat yang dibacakan oleh Syaikhona semalam untuknya.


"Saya merasa itu sebuah pemberitahuan yang jelas dari syaikhona, tentang apa yang sedang kau alami sekarang, Dek. Bahwa itu adalah ujian," kata Nizam. Ia memutuskan demikian karena ayat tersebut, lebih kurang mengandung arti demikian.


Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kelapangan/kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.


Selanjutnya, ayat tersebut berupa tuntunan doa yang luar biasa kandungan artinya.


"Benar, ujian yang kita diterima oleh seseorang, yang tidak akan melebihi batas kemampuan orang tersebut," timpal Azmi dengan sangat yakin sekali.


"Alhamdulillah, Mas. Semoga benar begitu," sahut Rafka. Pemuda itu sendiri setelah mempelajari makna dari ayat tersebut, ia mengalami pergolakan yang panjang dalam perasaannya. Silih berganti pemahaman demi pemahaman ia dapat di dasar jiwanya. Dan justru pemahaman itu saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya.


Pada ayat yang berbunyi, لها ما كسبت و عليها ما كتسبت artinya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya. Dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. Pada ayat itu Arafka merasa bahwa beban berat yang dipikulnya saat ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.


Dulu, sebelum masuk menjadi santri di Al-Hasyimi, ia hanyalah sesorang yang buta akan nilai-nilai agama. Hidup semaunya, yang penting suka, salah dan benar tak jadi masalah. Banyak hal yang merupakan larangan dalam hukum agama, dilakukannya. Sehingga ia merasa kalau peristiwa Masayu ini adalah bukan ujian, tapi justru hukuman dari semua keburukannya di masa lalu.


Terlebih ketika sampai pada penggalan ayat yang merupakan tuntunan doa.


ربنا لا تو ء خزنا ان نسينا او ا خطا ء نا...

__ADS_1


Artinya: Ya Allah, jangan kau hukum aku, jika aku salah atau lupa.


Sampai pada ayat ini, seakan makin menegaskan kalau semuanya adalah hukuman. Dengan tanpa disengaja ia telah tercebur dalam kubangan dosa. Jiwanya menjerit, terasa sakit, jika memang demikian faktanya.


Akan tetapi ketika sampai pada ayat,


ربنا لا تحملنا ما لا طا قة لنا به...


Arti ayatnya adalah: Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami, apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Sampai akhir ayat, Rafka merasa kalau apa yang dialaminya saat ini adalah ujian berat yang hampir tidak sanggup ditanggungnya. Sebuah ujian, bukan hukuman. Ujian bagi kesabaran dan kekokohan hatinya untuk memperbaiki diri dan kembali pada jalan Allah. Dan Hal ini bertentangan dengan pemahamannya yang pertama.


Di antara dua pemahaman yang saling bertentangan itu, Arafka terkapar dalam kegelisahan yang panjang. Tercampak dalam kebingungan dan kebimbangan yang belum mendapatkan titik terang. Namun, kemudian, sebuah kepasrahan lahir dari hatinya yang paling dalam, teriring doa dan permohonan.


Ya Allah, jika aku salah, ampunilah kesalahanku, maafkanlah aku. Berikan aku kekuatan untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku. Namun, jika aku benar, tenagailah aku untuk bangkit dan meraih kebenaran itu.


Apapun yang terjadi, semua adalah kehendakMu. Salah atau pun benar, Engkau Yang Maha Tahu. Dan aku mohon ampun kepadaMu.


Setelah semalaman tak dapat memejamkan mata, pemuda tampan itu tersungkur kelelahan usai sholat shubuh.


"Tidak ada, Mas. Hanya itu."


"Pasrahkan ya semuanya, insyaallah segera dapat jawaban," ujar Azmi menguatkan.


"Aminn. Terima kasih, Mas."


Dalam pembicaraan lirih ke empat pemuda itu, ada seseorang yang diam-diam memerhatikan dan ikut mendengarkan, hingga kini rasa lega ia dapatkan, dan doa-doa juga ia lantunkan. Agar pemuda yang namanya secara diam-diam dilangitkan dalam doa itu segera mendapat pertolongan dan pencerahan dari masalah yang tengah menimpa sekarang. Karena hal tersebut, ia sampai menyisih dari perbincangan dua orang temannya yang duduk bersama, Nabila dan Madina. Hingga sebuah panggilan telepon di ponsel Madina mengakhiri lamunan Zaskia, dan juga membatasi perbincangan sang empunya dengan Nabila.


"Dari Kairo ya?" tanya Nabila pada Madina saat gadis itu melihat lcd ponsel dan nampak tersenyum.


Madina mengangguk dan ia pamit pada dua orang temannya untuk menyisih lebih dulu, guna mengangkat telepon dari Ra Fattan itu.


Assalamualaikum.

__ADS_1


Suara yang sangat indah dan merdu--menurut Meidina--kini memenuhi ruang dengarnya.


"Waalaikumsalam," jawab Meidina. Dan bibirnya langsung menyunggingkan senyuman.


"Kaif haal?" tanya Ra Fattan dalam bahasa arab. Yang artinya bagaimana kabarmu.


"Alhamdulillah, baik. Jennengan, Ra?" Meidina balik tanya.


"Berkat doamu, saya juga baik-baik saja."


"Ee." Madina kembali tersenyum. Senyum yang tak kan pernah dilihat oleh Ra Fattan. "Gak biasanya jennengan telepon jam segini, Ra?" tanya gadis itu, karena biasanya putra Kyai Muhajir itu meneleponnya menjelang waktu tahajjud, sekaligus membangunkan dan mengingatkan Madina untuk melaksanakan sholat di sepertiga malam.


"Iya, saya sudah merasa tidak sabar untuk mendengar suaramu," sahut Ra Fattan, dan jawaban ini membuat Meidina mengemas kebahagiaan dalam hati.


Rayyan Ali Fattan, yang dikenalnya sebagai sosok pendiam, komunikasinya selalu terbatas, pandangannya pun tak pernah terarah bila beraudiensi dengan non mahramnya. Kewibaan pemuda itu hampir menyamai abahnya. Dia sangat disegani di Darul Ulum sana.


Ternyata di balik kewibaan sikap yang dibangunnya, ia pintar menyenangkan wanita yang sudah dipilih dengan hatinya, dengan tutur kata lembut dan rangkaian bahasa yang indah, tiap kali mereka berkomunikasi lewat sambungan.


"Kamu benar-benar baik saja, Meidina?" tanya Ra Fattan lagi.


"Iya, Ra. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja belakangan ini, saya merasa kawatir tiap kali ingat kepadamu."


Ya Allah.


Diam-diam Madina mengusap dadanya. Mungkinkah keresahannya belakangan ini dirasakan pula oleh Ra Fattan? Padahal mereka saling berjauhan. Ataukah Ini yang disebut dengan ikatan batin? Saling merasakan meski tidak saling diungkapkan.


"Saya baik-baik saja, Ra," kata Meidina pelan. Jujurkah gadis itu dengan jawabannya. Memang ia baik-baik saja, tak ada yang perlu dikawatirkan. Hanya saja, ia tak bisa menganggap biasa saja beberapa hal yang baru ditemukannya tentang Davina. Bukan hanya perkara saat Davina membaca pesan dari Ra Fattan yang membuatnya menangis dan berakhir dengan dirawat di rumah sakit karena ditabrak.


Tapi juga ada satu fakta yang diungkap oleh Nabila saat keduanya dalam perjalanan pulang dari perpustakaan Al-Hasyimi pusat ke wisma--sementara--mereka di studio alam Al-Badar.

__ADS_1


Next.


__ADS_2