
"Apa kakakmu sudah menelepon, Nak?" tanya syaikhona pada Arafka.
"Sudah tadi, Aba, insyaallah, besok mas Izzat akan tiba di Alhaysimi," sahut Rafka. Mas Izzat yang di maksud adalah putra kedua syaikhona, calon pewaris Alhasyimi.
"Mbakmu juga akan tiba besok, Nak. Mereka akan berkumpul untuk menghadiri acara pernikahanmu. aku harap Meidina juga akan segera sehat." Bu nyai Syarifah mengusap punggung tangan Meidina dengan lembut.
"Insyaallah, aamiin," ujar Syaikhona yang juga diikuti oleh semuanya.
Terlihat kemudian syaikhona menghela napas panjang seraya berusaha selonjorkan kedua kakinya akibat penat.
"Sebaiknya Aba segera beristirahat. Aba pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh," ujar Arafka yang melihat hal itu dengan seksama.
"Iya, Nak, kau benar, aku memang merasa sedikit pusing. Tapi aku harus menuntaskan kewajibanku," kata kyai pengasuh pada putranya itu.
"Tunangan saya sudah membaik, Aba, insyaallah besok sudah bisa pulang ke yayasan."
"Iya, tapi tunggu instruksi dari dokter dulu, Nak." Terlihat Arafka mengangguk.
"Kalau begitu aku akan pulang dulu untuk istirahat," lanjut syaikhona.
"Mohon ijn, Aba, saya mau nginap di sini untuk menemani mantu kita," kata bu nyai pada syaikhona.
"Umi juga butuh istirahat, ummi juga lelah sebagaimana, Aba," sahut Irfan dengan cepat.
"tapi, Nak ..."
"Umi jangan kawatir, teman-temannya di sini ini, bukan hanya sekedar berteman, tapi juga sebagai saudara. Mereka semua menjaga dan menyayangi Meidina dengan baik," lanjut Arafka.
__ADS_1
"Alhamdulillah," sambut kyai dan bu nyai secara beramaan. Bu nyai kemudian menoleh pada Davina, Nabila dan Zaskia. "terima kasih ya, nduk semua," ucap beliau dengan lembut.
Ketiganya pun menjawab serempak dengan santun. "inggih, Bu Nyai."
"Zaskia sudah pamit sama uminya, kalau mau nginap di sini?" tanya bu nyai lagi pada Zaskia.
"Sudah, Bibi."
"Ya sudah, kami pamit dulu." Bu Nyai Syarifah sejenak merangkul Meidina dan memberinya wanti-wanti untuk jaga kesehatan. Semua pun mengantar syaikhona dan bu nyai hingga keluar pintu kamar. Sedangkan Irfan Arafka Wafdan terus mengantar aba dan uminya itu hingga masuk ke mobil.
Dalam ruangan rawat Meidina itu. Mendadak suasana menjadi hening, semua diam, semua seakan tidak tahu harus berkata apa, setelah fakta tentang siapa sebenarnya Irfan Arafka Wafdan itu terungkap. Meidina masih duduk terpekur dengan posisi semula, kepalanya tertunduk dalam. Di dalam benaknya berjibun berbagai macam pemikiran, yang tidak bisa dibahasakan. Zaskia pun tertunduk di kasur penjaga pasien dengan diam terpekur. Nabila dan Davina sama-sama berdiri terpaku di tepi ranjang tempat tidur Meidina Shafa.
Azmi dan Nizam sama-sama berdiri menyandar di tembok ruangan dengan pandangan menerawang. Ustad Fadil menghela napas panjang seraya mengusap wajah dan duduk menghempaskan tubuhnya ke sofa di samping ustadz Widad yang terdiam. "Ya Allah, Ya Rabbi." ia berseru di akhir pemikirannya, akan semua kebenaran yang baru saja terungkap.
"Dek Rafka, teman kita, yang selama ini begitu dekat dengan kita, yang begitu santun terhadap kita, yang selama ini kita panggil adik, ternyata adalah putra syaikhona, guru kita," ucapnya lirih dengan pandangan terus menerawang.
"Iya, dia yang begitu menghormati kita sebagai seniornya. Padahal seharusnya kita lah yang harus menghormatinya," lanjut ustadz Widad.
Di lain tempat, "Berarti mas Rafka itu kerabat saya, jadi selama ini saya menyukai kerabat saya sendiri." Zaskia bergumam lirih.
"Kita sudah sangat salah menilai tentangnya selama ini, ya," ujar Nabila. Davina mengangguk dengan air mata jatuh.
Azmi terlihat mengusap wajahnya berkali-kali. Nizam ali terdengar menghela napas berkali-kali.
Jika seperti itu yang dirasakan oleh mereka yang ada di sana, yang adalah teman-teman Arafka selama ini. Maka apakah yang dirasakan oleh Meidina, sebagai calon istri pemuda itu.
Terlihat pintu dibuka dari luar. Irfan Arafka Wafdan yang tampan itu memasuki ruangan dengan kepala menunduk melihat pada jam tangan. Penanda waktu saat itu sudah menunjukkan angka 21-15. Sudah waktunya untuk beristirahat. Melihat hadirnya, secara serempak, Azmi dan Nizam, serta ustad Fadil dan Ustadz Widad menghampiri dan sama-sama memanggil. "Mas Rafka."
__ADS_1
Mas, adalah panggilan kehormatan untuk para putra kyai di Alhasyimi, dari putra-putra yang masih kecil, sampai yang sudah menikah dan belum berputra.
Pemuda tampan itu segera menghentikan langkah dan menatap mereka semua dengan pandangan heran.
"Ada apa, ini?"
"Maafkan kami, Mas Rafka. Maafkan kami untuk semuanya selama ini," kata ustadz Fadil dengan menundukkan pandangan.
"Pasti selama ini kami sudah banyak melakukan kesalahan dan kelancangan. Maafkan kami," timpal ustadz Widad.
"Apalagi saya." Azmi dan Nizam berucap hampir bersamaan.
Melihat itu semua, Arafka menghela napas. Pandangannya menyapu semua seniornya itu yang kini berdiri menunduk dengan sopan di hadapannya, sebagaimana akhlak santri pada sang kyai.
"Mas Widad, Mas Fadil, Mas Azmi dan Mas Nizam." Arafka sengaja menyebut nama mereka satu persatu dengan penuh penekanan, untuk menunjukkan bahwa apa yang bakal ia sampaikan, penting untuk diingat secara berkesinambungan.
"Saya ini tetap Irfan Arafka Wafdan yang dulu, yang kalian kenal dari dulu."
"Iya, kami tau," sahut Fadil. "Tapi, Mas Rafka adalah putra guru kami. Bagi kami, segala yang berkaitan dengan guru, adalah juga guru kami, apalagi putranya. Kami bertawassul pada Allah lewat guru kami. Kami menuju pada Allah, lewat guru kami. Jika kami tak menghargai segala apa yang berkaitan dengan jalan kami menuju Allah, berarti kami melakukan kesalahan besar pada Allah," lanjut ustadz Senior itu memberikan penjelasan.
"Mungkin itu benar, Mas Fadil. Tapi, saya juga faham satu hal. Dulu, saya juga bangga menjadi anak pak Himawan, seorang pengusaha kaya raya yang sukses. Akan tetapi belum tentu saya akan menjadi pengusaha yang sukses juga kalau saya tidak belajar, dan tidak punya skil dalam hal itu, sekalipun saya adalah anaknya."
Terlihat semuanya saling pandang dengan ucapan dari Arafka itu.
"Dan saya juga sangat bangga, menjadi putra dari Kyai Abdullah Umar Hasyim, seorang tokoh ulama yang sholih, yang memimpin ribuan santri, ysng sangat berwibawa dan disegani. Tapi, apa ada yang bisa menjamin, bahwa saya akan menjadi seperti beliau, sekali pun saya adalah putranya? Apakah keshalihan, kemuliaan dan kekaromahan itu diturunkan atau diwariskan? Tidak "kan Mas?" Arafka menatap telak semua seniornya itu, hal mana kini terlihat mereka semua saling pandang.
"Aba memang sosok yang diyakini dekat dengan Allah, yang karena itu beliau memperoleh keistimewaan yang kita semua mengakuinya. Tapi saya tidak akan serta merta menjadi seperti itu kalau saya tidak belajar taqarrub pada Allah. Itu pun masih belum terjamin untuk sama seperti beliau," lanjut pemuda tampan itu lagi.
__ADS_1
Semua masih terdiam. Diam dalam kekaguman atas cara pandang pemuda itu yang sama sekali tak ingin dihormati hanya karena dia anaknya kyai.
"Mungkin kalau mas Izzat, dan putra-putranya kyai yang lain, mereka pantas mendapatkan penghormatan seperti yang kalian maksudkan. Karena mereka terlahir dan dibesarkan dalam didikan agama yang sangat kuat. Mereka belajar sejak kecil, meneladani keshalihan orang tuanya sejak kecil. Sedangkan saya tidak. Saya bahkan tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa apa-apa. Jika kalian mau menghormati saya, hanya karena saya putranya aba, saya malu pada diri saya sendiri."