Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
52 Tau Tapi Tidak Kenal


__ADS_3

"Davina." Tiba-tiba saja, Rafka sudah berdiri tak jauh di dekatnya dan menyebut namanya. Davina sempat terhenyak, pasalnya selama ini ia memanggil adik pada pemuda tampan itu. Tapi ternyata Rafka tak membalasnya dengan panggilan mbak. Pemuda itu hanya menyebut nama saja.


"Iya," sahut Davina setelah lepas dari keterkejutannya.


"Gak ada jadwal sekolah hari ini?"


"Saya sudah nitip absen ke Ning Zaskia, karena ingin nemenin Meidina selama dirawat di sini."


"Berarti akan tetap di sini ya."


"Iya, kenapa? Apa smean keberatan saya ada di sini?" tukas Davina dengan rasa yang tak enak hati. Pasalnya dari cara bertanya Rafka, pemuda itu seakan ingin memyuruh Davina pergi. Mungkin karena ia ingin bicara berdua saja dengan Meidina Shafa. Bahkan karena hal ini, Meidina juga ikut melihat pada pemuda itu dengan tatapan kurang nyaman.


"Justru saya mau pamit keluar sebentar, mau ke kampus," jawab pemuda itu, yang menepis semua pikiran buruk dalam benak Davina, maupun Meidina.


"Oo, mau kuliah?" tanya Davina sembari menghela napas.


"Hanya mau menyerahkan tugas saja ... nanti tolong sampaikan kalau ada mas Widad atau yang lain datang," katanya.


"Iya, tentu," sahut Davina sambil tersenyum tipis. Barulah saat itu, Rafka menatap pada Meidina yang juga tengah menatapnya, dan tersenyum. Tapi, Meidina tak membalasnya, gadis itu malah menunduk. Dan sepertinya Rafka juga tak butuh balasan, karena ia segera berlalu meraih tablet dan kontak mobil di atas meja. Lalu tubuh gagah itu pun melanting keluar dari ruangan seraya melihat jam tangan yang melingkari pergelangan. Nampak kalau ia sedang berpacu dengan waktu.


Setelah kepergiannya, baik Kanza Davina, maupun Meidina Shafa, tak ada yang saling bicara. Sampai,

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan, Din?" tanya Davina.


"Kau yang mikir apa?" Meidina membalik tanya.


"Aku? Terus terang aku memikirkan Irfan Arafka Wafdan," jawab Davina.


Atas jawaban itu, Meidina diam saja.


"Aku merasa, dari sejak peristiwa kemarin sampai saat ini, banyak sekali yang sudah ditunjukkan oleh Allah kepadamu tentang Rafka. Kalau bisa aku sebut demikian, Allah sepertinya sedang mengenalkanmu pada calon suamimu yang memang tidak kau kenal sebelumnya. Tau, tapi tidak kenal. Betul 'kan?" urai Davina, memberitahukan apa yang sudah menjadi buah pikirannya.


Tak ada tanggapan apa-apa dari Meidina. Gadis ayu itu hanya menatap saja. Tapi, Davina tau kalau sahabatnya itu memerhatikan semua ucapannya.


Meidina masih diam saja, hanya pandangannya tetap mengarah pada Davina dan tak beralih, menandakan bahwa ia masih memerhatikan segala apa yang sedang dan yang akan diucapkan oleh sahabatnya itu.


"Yang bikin aku kagum, saat ia mengatakan kalau kamu adalah pilihan Allah untuknya. Menurutku, kalimat itu mewakili banyak hal, serta mengandung makna yang dalam. Dia menempatkanmu di posisi yang begitu tinggi dan istimewa dalam hatinya, sebagai wanita pilihan untuknya. Meskipun dari kata-kata itu, kita tak bisa menyimpulkan bahwa ia sayang padamu, atau pun mencintaimu. Tapi yang pasti dia sangat menghargaimu."


Terlihat Meidina mengalihkan pandangan ke arah lain, setelah mendengat kalimat dari Davina ini.


"Iya, aku bisa salah dengan penilaianku ini, Meidina. Dan apa yang aku nilai ini memang hanya sebatas dari kata yang diucapkan oleh Rafka. Kata-kata yang memang masih perlu dibuktikan kebenarannya. Tapi, setidaknya apa yang ia lakukan di sini untukmu, adalah bukti bahwa ia cukup memiliki tanggung jawab. Bahasanya memang terbatas padamu. Tapi ia sangat memperhatikanmu, ia segera melakukan apa yang seharusnya dilakukan, bahkan untuk hal yang terkecil sekali pun, seperti membelikanmu baju ganti."


Davina sesaat menatap Meidina yang nampak anggun mengenakan baju yang diberikan Rafka padanya tadi pagi. Warna baju itu pas sekali di kulit Meidina. Sedangkan Meidina masih diam saja. Atas uraian yang sangat panjang lebar dari Davina, ia masih tak menanggapi apa-apa.

__ADS_1


"Bahkan untuk air yang kau minum saja. Ia tak mau aku beli dengan uangku. Tegas dia bilang, kalau kamu adalah tanggung jawabnya. Dan semalam, ada peristiwa kecil yang membuatku merasa kalah darinya. Saat kau minum, airnya di tercecer di dagu dan pipimu. Untuk membersihkannya, aku masih minta kertas tissu. Tapi Rafka sigap membersihkan dengan tangannya."


Meidina memang tidak tau pada hal apa yang telah diceritakan oleh Davina itu, karena gadis itu sedang dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar. Tapi, ia juga teringat pada peristiwa semalam, saat ia minta minum, dan air yang diminumnya berasa sangat pahit, hingga Meidina memuntahkannya dan itu malah mengenai baju Arafka. Meidina pun jadi tercenung, mengingat beberapa hal yang lain. Hingga saat Davina sudah mengakhiri ceritanya, gadis ayu itu masih terlihat diam saja.


"Meidina." Kanza Davina pun menegurnya.


"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan padaku, dengan semua penilaianmu itu, Davina," tukas Meidina.


"Meidina, jika aku ditanya apa aku setuju kau menikah dengan Rafka, jawabanku adalah tidak. Karena menurutku, dia itu tidak pantas denganmu. Tapi seperti yang kau katakan padaku beberapa hari yang lalu. Bahwa ada satu kekuatan yang berada di luar jangkauan kita, yang telah mengatur semuanya. Dan kita gak akan mampu untuk melawan kekuatan itu. Karena Dia Yang Maha Tahu dan Maha Berhak Untuk Menentukan apa yang pantas dan yang tidak untuk kita dapatkan. Maka Di sini, apa aku berhak untuk merasa tidak setuju? Jadi, aku hanya ingin menemanimu untuk menemukan celah yang indah dari apa yang sedang kau pandang buruk dan menakutkan. Karena aku tidak ingin kau menjalani hidup dengan keterpaksaan, Meidina. Aku tidak ingin kau menjalani hidup yang hampa."


Davina sejenak menghela napas setelah mengucapkan kalimatnya yang cukup panjang dan lebar itu, bahkan kini terlihat kalau sepasang matanya berkaca-kaca.


"Aku ingin kau dapat menjalani keputusanmu untuk menikah ini dengan niat yang benar. Agar semuanya bernilai ibadah di sisi Allah. Sehingga kau tidak mengorbankan perasaanmu dengan sia-sia," lanjut gadis manis itu dengan air mata jatuh. Dan tetes air mata kini juga terlihat di wajah ayu Meidina Shafa.


"Sebenarnya aku takut, Din untuk mengatakan hal ini dari dulu. Aku takut kau menganggapku sengaja mendorongmu untuk menerima pernikahanmu dengan senang hati demi kepentinganku pribadi ... sungguh aku ..."


"Tidak, Davina." Meidina dengan cepat memangkas ucapan Davina. "Aku tidak pernah mendugamu seburuk itu. Kau tidak perlu menguraikannya panjang lebar, aku mengerti semua maksudmu. Aku tau kau sangat tulus. Dan aku setuju degan pendapatmu, bahwa saat ini, tuhanku sedang mengenalkan Arafka padaku. Agar pandanganku tentangnya bisa berubah."


Davina tersenyum karena ternyata Meidina paham dengan semua maksudnya. Dan Meidina pun tersenyum, sebab sedikitpun tak ada praduga buruk di hatinya tentang Kanza Davina.


Saat Zaskia dan Nabila datang lagi ke rumah sakit siang itu. Meidina sedang tidur, karenanya mereka bicara lirih saja, agar tak mengganggu tidurnya Meidina Shafa.

__ADS_1


__ADS_2