Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
63 Teman Rasa Saudara


__ADS_3

"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Nabila saat terlihat Meidina membuka mata.


"Aku sudah merasa baik sekarang," jawab gadis itu bahkan dengan disertai seulas senyuman.


"Lahir dan batin?" tanya Nabila lebih lanjut.


"Iya, Alhamdulillah."


"Syukurlah.' Nabila tersenyum lega. "Tadi kami sengaja meninggalkanmu sendirian karena Arafka bilang kalau kau memang butuh waktu untuk sendiri. Dan dia juga bilang kalau Allah yang akan menjagamu," urai Nabila kemudian.


Sesaat Meidina terdiam, tatapannya lalu mengarah pada jajaran kaum adam yang duduk di seat sofa itu. Di sana hanya ada ustadz Widad dan ustadz Fadil, juga ada Nizam. Tapi, tidak ada Arafka di sana. "Dimana dia?" tanya Meidina.


"Rafka?"


"Iya."


"Dia tadi pamit pulang sebantar, katanya ada hal yang ingin dia ambil di rumahnya. Kenapa kau menanyakannya, tumben," tukas Nabila dengan tatapan curiga.


"Kalau dia datang lagi, tolong bilang aku minta maaf," kata Meidina.


"Maaf untuk?"


"Untuk semua hal yang berada di luar kendaliku," sahut Meidina dengan tatapan teduhnya.


"Maksudnya?" Nabila tentu tidak paham apa yang di maksud oleh Meidina Shafa itu. Sayangnya belum sempat gadis itu menjawab, terdengar ucapan salam dari pintu ruang perawatan yang terbuka, salam yang mengawali kedatangan Zaskia bersama Davina, yang diekori oleh Azmi di belakangnya.


"Kalian datang bersamaan?" tanya Nabila.

__ADS_1


"Kami ketemu di parkiran, kalau mbak Davina di antarkan Ra Fattan," sahut Zaskia jujur bedasar apa yang ia lihat barusan. Namun kejujurannya itu justru membuat Davina merasa tidak enak hati, terlihat dari raut wajahnya yang nampak berubah.


Apalagi kemudian, Nabila malah justru meledeknya, "Wahh diantar Ra Fattan, sepertinya ada sesuatu, nih."


"sesuatu apa, kami hanya ..." Dan Davina tak dapat lagi untuk melanjutkan ucapannya sendiri, manakala tatap matanya bertemu dengan tatapan Meidina Shafa, kiranya reaksi apa yang akan diberikan oleh gadis ayu itu padanya. Ternyata,


"Bibi sudah pulang?" tanya Meidina sambil tersenyum lembut.


"Iya, Din baru saja," sahut Davina.


"Terima kasih ya, untuk kalian semua." Meidina mengatakan hal itu seraya menatap ketiga orang temannya yang tetap setia menjaga dan menemani Meidina dari sejak masuk di rawat di rumah sakit ini mulai kemarin sore. Ya, memang baru dua puluh empat jam lebih gadis itu berada di rumah sakit ini, di ruang rawat kelas elit ini, tapi terasa sudah cukup lama sekali, karena memang kisahnya dimuat dalam banyak bab, sebab banyak peristiwa yang terjadi, yang perlu dikulik dan dikupas selama gadis ayu itu ada di sini.


Adalah waktu yang cukup singkat bukan, untuk sebuah hati bisa berubah, hanya dalam jarak waktu dua puluh empat jam lebih atau lebih tepatnya, memasuki waktu dua puluh enam jam, saat ini. Masih sangat wajar jika perasaanya masih labil, kendati pun ia paham bahwa semua yang terjadi ini adalah skenario ilahi yag tak dapat dinafikan. Ibarat seseorang yang sedang melewati perjalanan untuk menuju ke puncak impian, itulah Meidina Shafa saat ini. Ada lelah, ada sakit, ada perih, ada tangis. Namun satu yang pasti, dia tidak pernah ingin lari dari jalanan yang sudah ditempuhnya saat ini, ia juga terus mencari, dimanakah jalan teduh dari lintasan yang tengah ia lewati, yang saat ini masih terasa sangat panas dan gerah sekali.


Meidina juga sangat menyadari, bahwa tak ada jalan yang sepanjang lintasannya terus dinaungi oleh pohon rindang, sehingga hanya keteduhan yang akan di dapatkan. Pasti ada kalanya juga jalan itu tertimpa panas, tertimpa hujan. Juga tak ada jalan yang lurus dan datar. Pasti adakalanya juga ada tanjakan, dan ada tikungan. Dan pasti juga dengan berbagai rasa yang ada saat melaluinya. Itulah Meidina Shafa.


"Mohon maaf ya, aku sudah banyak merepotkan," katanya lagi.


"Siapa yang merasa direpotkan? kamu Davina?" Nabila melempar tanya pada davina.


"tidak." Davina menggeleng tegas.


"Ning Zaskia mungkin?" lanjut tanya Nabila.


"Tidak sama sekali," sahut zaskia cepat.


"Nah, Din, di antara kami tidak ada yang merasa direpotkan. Lalu kamu itu merasa tidak nyaman sama siapa?" lontar Nabila pada gadis ayu itu yang membuat Meidina tersenyum.

__ADS_1


"Kami semua itu sayang sama, Mbak. Jadi gak usah merasa gak enak ya," kata Zaskia yang kian menambah senyum di wajah Meidina semakin merekah. Sayangnya euforia keharuan di antara ke-empat gadis cantik itu harus berakhir karena kehadiran seorang pemuda tampan ke tempat tersebut, yang langsung mengucap salam dan segera duduk bergabung dengan teman-temannya yang lain, tak sedikit pun netra tajamnya itu berlabuh pada jajaran gadis berkerudung di bagian sana, tidak walau hanya sekedar lirikan saja. Mungkin dia kecewa, mungkin dia marah, atau banyak mungkin yang lainnya. Demikian yang sempat terbersit dalam maya pikir Meidina, hingga gadis ayu itu tersamar menghela napasnya.


"Dek Rafka!" Nabila memanggilnya. Pemuda tak menjawab terkecuali hanya menolehkan wajahnya. "Ini Meidina ingin bicara katanya, Dek." Usai memberitahukan demikian pada Arafka, Nabaila segera berbisik kepada Meidina, "Kau sampaikan sendiri permintaan maafmu pada calon suamimu ya, salah satu akhlak meminta maaf itu, disampaikan sendiri. Bukan hanya berpesan lewat lain orang." Dan selanjutnya Nabila menyisih, diikuti pula oleh Zaskia dan Davina, karena Arafka yang terlihat menghampiri.


Ia memilih berdiri dalam jarak dua langkah dari tempat tidur Meidina Shafa, tatapannya mengarah pada wajah ayu di depannya dan tersenyum. "Iya." Hanya itu kata tanyanya.


Meidina menggeleng pelan. Terasa berat sekali hanya untuk mengucap maaf, bukan karena tidak ingin mengakui sebuah kesalahan. Tapi, tatap mata Arafka, dan berikut senyumnya, membuat gadis itu tak mampu untuk menyampaikan apa yang sudah terniat dalam hati sebelumnya.


Melihat hal itu, Arafka yang lebih dulu berinisiatif untuk bertanya, "Apa ada keluhan? ada yang terasa sakit?"


"Tidak ada," sahut Meidina singkat disertai menggeleng pelan. "Saya hanya ingin minta maaf saja, sudah banyak merepotkan, dan mungkin juga sudah membuat tidak nyaman," kata gadis itu lirih, seakan tak ingin kalau apa yang diucapkan ini akan di dengar oleh mereka yang lain.


Padahal tanpa sepengetahuan keduanya, mereka semua sudah berdiri menjauh, bahkan ada yang memilih di luar ruangan saja. Semua itu atas isyarat dari ustadz Fadil yang merasa perlu untuk memberi kesempan pada kedua pasangan ini untuk saling bicara. Setidaknya, di rumah sakit inilah kesempatan mereka berdua ada, karena bila di yayasan, kesempatan seperti ini tidak akan pernah ada, sebab ada peraturan pesantren yang tidak boleh dilanggar. Sebenarnya di mana pun peraturan itu tetap ada, bahwa setiap pribadi harus membatasi diri dengan sesuatu yang belum sepenuhnya bernama hak. Tapi jika di tempat ini, hal itu akan lebih fleksibel.


Arafka tersenyum lembut menatap Meidina. "Selama dasar dari setiap tindakanmu, itu berasal dari hatimu, saya tidak punya hak untuk merasa tidak nyaman, ataupun merasa tidak terima."


Terlihat Meidina menghela napas mendengar ucapan Arafka itu.


"Kamu tenang saja, semua tentang ini sudah saya serahkan pada Kehendak terbaik Sang Pemilik Takdir, jadi apa pun yang terjadi, insyaallah saya tidak akan sakit hati. Yang saya inginkan saat ini, kamu segera sehat kembali, itu saja," kata Arafka lagi, lembut ucapannya tapi disampaikan dengan sangat tegas. Menunjukkan kalau pemuda ini adalah pribadi yang sudah mantap dan matang dalam jalan hidup yang sudah dipilih.


"Terima kasih ya, saya pasti akan segera sembuh," ucap Meidina dan ia menyertakan senyum dalam ucapannya itu.


"Alhamdulillah, saya tunggu itu," sambut Arafka.


Sayangnya dan sayangnya lagi, pembicaraan merek harus terjeda, karena masuknya petugas konsumsi ruangan rawat VVip itu, membawa menu makan malam untuk pasien dengan menu yang sudah memenuhi standart gizi dan vitamin yang harus dikonsumsi oleh pasien sesuai dengan keluhan sakitnya.


Arafka terlebih dahulu melempar senyum sebelum memilih kembali ke tempat duduknya tadi, karena memang pembicaraan keduanya sudah selesai. Terasa singkat, bahkan sangat singkat. Memang tak perlu banyak, yang penting mengandung makna. Demikian mungkin prinsip yang dianut oleh pemuda tampan itu. Sebelum menjauh, tak lupa ia memberi isyarat agar Meidina menyantap hidangannya.

__ADS_1


__ADS_2