Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
74 Mencintai Wanita Halal


__ADS_3

Arafka pun memraktekkan apa yang diajarkan oleh syaikhona itu, awalnya sangat sulit dan terasa berat, tapi karena sering berlatih dan dibimbing langsung pula oleh kyai, serta di bawah pengawasan yang secara ketat, akhirnya pemuda itu pun bisa dan mulai terbiasa.


Pantas saja, dalam pemikiran mereka semua, Arafka itu setiap kali tampil bersama Albadar, dia nampak cuek pada hal yang lain, dia hanya seakan sedang sendiri saja, hanya ada dirinya dan gitarnya. kalau pun dia tersenyum, senyum itu seolah hanya ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia tak hirau dengan jerit histeris yang memanggil-manggil namanya, tak peduli dengan jepretan kamera yang mengarah kepadanya. ia terlihat sangat menikmati setiap petikan gitarnya. dan semua yang terlihat darinya ketika sedang perform itu, nampak begitu indah dan memesona.


Rupanya karena saat itu ia mengfungsikan hatinya, sehingga tak perlu banyak gaya yang harus dilakukan--seperti umumnya gaya seorang gitaris kebanyakan--sudah banyak yang merasa jatuh hati. karena hanya dengan hati, akan dapat sampai pada hati pula.


Apalagi Arafka memang paket komplit, wajahnya yang tampan, senyumnya yang menawan, postur tubuhnya yang tinggi dengan bobot yang seimbang, stylishnya yang selalu serasi, apalagi dengan petikan gitarnya yang kokoh, menjadikannya tampil sebagai sosok yang digandrungi, terutama oleh jajaran santri-santri putri Alhasyimi. Banyak yang suka padanya, banyak yang mengidolakannya, bahkan juga baynak yang jatuh cinta padanya. banyak pula tingkah polah mereka yang berusaha untuk merebut perhatian sang tokoh idola.


Namun sungguh tak dinyana, Arafka tetap bergeming, tak sedikit pun ia terlihat tergoda atau pun terpesona. bahkan teman-temannya sendiri cukup mengherankan keteguhan sikapnya ini. Termasuk juga saat itu, di mana Nizam Ali bertanya untuk yang kesekian kali. "Apa yang ada dalam pikiran, Mas Rafka, kenapa sedikit pun tidak terlihat tergoda, padahal ada-ada saja tingkah mereka untuk mendapatkan perhatian, jennengan, Mas."


"Saya ini manusia biasa, Mas. Dan saya juga lelaki normal, bukan saya tidak pernah tergoda, dan bukan hati saya tidak pernah tersentuh. saya hanya berusaha untuk tetap lurus dengan apa yang saya yakini, setelah saya mengetahui aturannya dalam syariat islam," jawab pemuda itu jujur.


Memang telah lewat masanya, waktu hura-hura dan semaunya saja. Waktu dimana ia Menjalin hubungan dengan wanaita di luar konteks kehalalan. dan setelah ia mengetahui aturan dalam hal tersebut menurut syariat islam, ia pun bertekad untuk tidak akan pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun sebelum halal.


Arafka bertekad hanya akan mencintai wanita yang halal saja untuknya, yang diridhoi oleh Allah dan dishahkan oleh hukum agama dan negara. dan karena dirasanya untuk menuju ke arah itu masih cukup panjang, maka ia menepis dengn kuat rasa demi rasa yang mungkin menghampirinya. Dan pemuda itu juga beusaha untuk terus istikomah dalam hal ini, tentu saja ia pun mendapatkan dukungan dari kyai.

__ADS_1


"Jadi mas rafka telah berketetapan hati, hanya akan mencintai wanita yang, Jennengan nikahi?" tanya ustadz Widad setelah mendengar uraian pemuda tampan itu.


"Iya," jawab Rafka mantap.


Secara serempak, dan tanpa dikomando mereka semua menatap pada Meidina Shafa. gadis itu masih tetap duduk bersandar seperti semula, kepalanya masih tetap tertunduk, dan air mata sesekali masih menetes di wajahnya. Belum ada kata apalagi kalimat yang terucap darinya. Dari sejak semula ia masih diam, dan tetap diam. tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikirannya, terlebih apa yang ada dalam hatinya. Namun setiap yang melihat ke arahnya, sudah punya pemikiran tersendiri tentang Meidina.


Masihkah ada yang kau ragukan dari Irfan Arafka Wafdan? Tidakkah kau kini merasa kalau dia adalah pria yang istimewa, pribadinya, sifatnya, dan terlebih lagi nasabnya. Akankah kau akan tetap membanding-bandingkannya, dan menimbang-nimbang antara dia dengan Rayan Ali Fattan? Mungkin hatimu belum bisa terallih dari cintamu, tapi tidakkah hati itu sudah terketuk dengan ketulusan dan kebaikan tunanganmu?


Kau mendapatkan Rayyan Ali Fattan sebagai pria yang mencintaimu dengan cara yang baik. Dan kau pun mendapatkan Irfan Arafka Wafdan yang memenuhimu dengan tanggung jawab yang baik. jika Rayyan Ali Fattan mengikat dirinya padamu berdasarkan perasaan, yaitu cinta. Maka Irfan Arafka Wafdan mengikat dirinya kepadamu berdasarkan ikrarnya kepada tuhan. Masihkah kau akan merasa bingung untuk menentukan pilihan?


"Mas Rafka, boleh saya bertanya?" Ustadz Widad memecah hening sesaat itu dengan pertanyaannya. Rafka mengangguk.


"Terkait ungkapan Mas Rafka barusan, kalau hanya akan mencintai wanita yang halal untuk jenengan. Apakah itu berarti jennengan menyukai seorang wanita, lalu memilihnya untuk dinikahi? atau menikahi seorang wanita, lalu mencintainya? Untuk yang pertama kami semua setuju, tapi kalau untuk yang kedua ... bukankah perasaan cinta itu tidak bisa diarahkan?"


"Menurut saya cinta itu adalah tanggung jawab," jawab Arafka sambil tersenyum. Terlihat mereka semua diam, karena merasa belum paham. "Apa sebenarnya, Mas widad ingin bertanya, ikhwal saya bertunangan?" tebak Arafka dengan tetap mengambangkan senyuman.

__ADS_1


"Sebenarnya, iya, Mas." Ustad Widad juga tersenyum. "Kami memang penasaran, karena waktu itu mas Rafka belum menjawab dengan gamlang kepada kami," imbuhnya.


"Iya, kami ingin tahu, kalau Mas Rafka tidak keberatan," timpal Nizam ali.


"Apa jika saya menceritakannya di sini, tunangan saya tidak akan tersinggung?" Arafka menjawab dengan pertanyaan yang tidak mengarah. Namun, jelas di sana kalau ia meminta persetujuan dari Meidina Shafa sebelum bercerita. Dari hal ini saja sudah jelas, kalau ia sangat menghargai calon istrinya itu. Hal mana membuat hampir semuanya menatap Meidina untuk meminta persetujuan gadis ayu itu.


"Saya tidak tersinggung. Saya juga ingin tau" kata gadis itu dengan suara lirih. Tentu saja gadis itu ingin tahu, jangankan dia yang memang adalah tokohnya, yang lain saja juga merasa sangat penasaran, mengapa tiba-tiba gadis itu yang dipilih oleh syaikhona untuk mendampingi sang putra bungsu. Apakah ini memang merupakan inisiatif dari kyai pengasuh sendiri, atau atas permintaan dari Arafka.


"Sebagian teman-teman di Albadar dan di STAI memang sering membicarakan tentang Meidina Shafa dan keistimewaan yang ada padanya, dengan kekaguman dan tentu rasa suka." Arafka memilih kalimat itu sebagai awal dari kisah yang akan ia ceritakan.


"Iya, benar," sahut Nizam Ali dengan sepenuh semangat. "tapi seingat saya, Mas Rafka tidak pernah ikut andil dalam pembicaraan itu," lanjut nizam yang diangguki setuju oleh Azmi.


"Iya benar," sahut Rafka tegas. "Tapi bukan seperti yang dituduhkan oleh Adli dulu, kalau sebenarnya diam-diam saya juga suka, lalu saya mempergunakan kedekatan saya dengan aba untuk mendapatkannya." Semua pasti masih ingat dengan ucapan Adli beberapa waktu yang lalu pada Arafka di gazebo dua dekat mushalla As-surur, yang di mana saat itu juga ada Meidina Shafa dan teman-temannya. "Mas Fadil dan Mas Azmi juga mengatakan, kalau mas Nizam itu kalah start dari saya. Saya langsung finish, mungkin karena dibackingi oleh seseorang. tidak seperti itu ceritanya, Mas."


maka terbantahlah sudah semua dugaan bahwa memang Irfan Arafka Wafdan yang meminta pada Syaikhona untuk meminang Meidina Shafa, dari apa yang diucapkannya barusan. lalu, bagaimana sebenarnya yang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2