Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
38 Dua Fakta Yang Berbanding Terbalik


__ADS_3

"Tapi, Bu." Setelah sekian lama hanya diam saja, akhirnya Meidina Shafa mengeluarkan suaranya juga. Dan terlihat ia sejenak menghela napas. "Tapi Bapak dan Ibu 'kan masih belum tau pada Arafka," lanjutnya dengan suara pelan.


"Kenapa, Ndok. Apa tunanganmu itu cacat?" tanya pak Ibrahim menanggapi ucapan putrinya.


"Tidak, Pak. Dia utuh dan tidak cacat," sahut Meidina.


"Lalu, kenapa?"


"Dia gak sepadan dengan saya," kata Meidina seraya menunduk.


"Maksudmu?" tanya Bu Salma.


"Dia itu lebih muda dari saya, Bu. Pantasnya saya tuh memanggil adik padanya," ungkap Meidina dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.


"Jadi hanya masalah usia, Ndok. Bukan soal akidah, bukan soal syariat kan?" Lontar pak Ibrahim dengan penuh penekanan.


"Tapi, Pak ..."


"Ndok." Sang ibu segera memangkas ucapan Meidina. "Bukankah dalam hal memilih pasangan hidup itu yang penting imannya dan kemampuannya untuk menjadi pemimpin?"


"Benar, Bu. Tapi saya menginginkan pendamping hidup yang sudah lebih dewasa dari saya, karena dia akan menjadi imam saya," sahut Meidina dengan air mata jatuh.


"Meidina apa kau bisa menjamin, kalau lelaki yang sudah lebih tua darimu, itu akan lebih dewasa? Dan apa kau yakin, kalau pemuda yang lebih muda darimu, tidak akan bisa menjadi imam buatmu?" Sang ayah menimpali dengan pertanyaan yang sistematik. Yang sukses membuat Meidina tak bisa menjawab lagi. Karena ia memang tak bisa menjamin akan hal itu.


Gadis ayu itu tertunduk. Sepertinya saat ini, ia memang sudah ada dalam posisi yang tak mampu berbuat apa. Tak punya daya dan upaya. Dalam pada itulah, terdengar ucapan salam.


Kyai Mustofa Tamimi hadir di wisma tamu itu, bersama seorang pemuda tampan, yang ketika melihatnya saja, Meidina langsung menarik napas pelan. Kedua orang tua Meidina yang sudah mengenal Kyai Musthofa Tamimi--ketika beliau menemani kyai pengasuh--segera bangkit menyambut, yang membuat Meidina Shafa pun ikut berdiri dari duduknya dengan tetap menunduk. Usai saling bersalaman,


"Pak Ibrahim, Bu Salma, ini nak Rafka, menantunya smean." Kyai Mustofa Tamimi memperkenalkan pemuda yang datang bersamanya.


Serempak kedua orang tua Meidina menatap pada Arafka. Wajahnya yang rupawan, bersih seakan bersinar karena air wudhu, sorot matanya yang tajam, postur tubuhnya tinggi tegap, penampilannya yang menawan, dengan pemilihan warna baju dan kain sarung yang sepadan. Kopyah yang menutupi kepalanya pun terpakai rapi. Ia tersenyum ramah, lalu bersalaman pada kedua orang tua Meidina dengan mencium tangan.


Dan saat tiba pada giliran Meidina. Pemuda itu menangkupkan kedua tangan di depan dada, hal mana mendapat balasan yang serupa dari tunangannya itu. Selanjutnya kyai Mustofa Tamimi menyilakan semuanya untuk kembali duduk.


Lebih kurang tiga puluh menit mereka duduk bersama, saling beramah tamah, dalam perbincangan yang akrab dan santun. Hanya Meidina saja yang terlihat pasif serta diam seribu bahasa. Sementara Arafka, ia mengikuti semua pembicaraan tersebut dalam batas-batas kesopanannya. Walhasil, sepasang calon mertuanya itu pun merasa suka dan langsung akrab dengan Arafka. Apalagi sang calon menantu, tanpa canggung langsung menyebut ayah dan ibu pada kedua orang tua Meidina Shafa.


Sebelum pamit dari tempat itu, saat kyai Mustofa telah saling bersalaman dengan pak Ibrahim, Arafka memberikan sebuah kotak kecil berbentuk bunga pada Meidina Shafa. Gadis ayu itu sempat kaget dan tak segera menerima.


"Ambillah, Ndok. Dan dipakai ya!" titah lembut kyai Musthofa Tamimi. Hal mana membuat Meidina segera menerima kotak perhiasan itu dari tangan Arafka.


Selepas kepergian kyai Musthofa Tamimi dan Arafka dari tempat itu, nampak pak Ibrahim dan Bu Salma saling melemparkan senyum. "Aku langsung merasa suka pada calon mantu kita, Bu. Aku yakin ia tak hanya akan menjadi suami yang baik untuk Meidina, tapi juga akan menjadi anak yang baik untuk kita," kata pak Ibrahim dengan senyum penuh harap dan penuh bangga.


Meidina menunduk. Pupus sudah harapannya untuk meyakinkan ayah dan ibunya, tentang ketidakpantasannya bersanding dengan Arafka. Karena kesan pertama dari pertemuan mereka langsung menghasilkan rasa suka dalam diri kedua orang tua Meidina Shafa pada calon menantunya.


"Apa itu isinya, Nak?" tanya Bu Salma, sambil menatap kotak perhiasan di tangan putrinya.


"Cincin, Bu," jawab Meidina dengan raut wajah lesu. Sebenarnya cincin itu sangat bagus, sangat mewah, dan terlihat sangat mahal. Jika saja tidak dalam rangka begini, Meidina pasti sangat suka pada cincin itu. Tapi, sekarang ia telah mati rasa, segala yang terlihat mewah dan indah tak mampu membuatnya terpesona.

__ADS_1


"Pakai, Nak!" titah ayahnya.


"Gak usah, Pak. Nanti. Saja," tolak Meidina sambil terus menunduk.


"Kenapa?"


"Malu, dilihat teman-teman."


"Kenapa malu? Apa cincinnya didapat dari mencuri,"'tukas Pak Ibrahim. Meidina langsung menunduk dalam dengan sepasang mata bekaca-kaca.


"Kamu sudah dewasa, Nak. Sudah tahu mana yang baik dan tidak. Terserah kamu, kalau dengan bersikap seperti ini, kamu anggap baik, teruskan," lanjut Pak Ibrahim.


Bu Salma segera mengusap pundak putrinya pelan. "Pakai Din, ibu mohon. Jangan sampai bapakmu marah," ucap wanita itu dengan Suara bergetar, menahan isakan. "Ibu tahu perasaanmu, Nak. Tapi cobalah untuk ikhlas dan menerima. Bagaimana pun takdir Allah itu yang lebih baik untuk kita," lanjutnya lagi dengan air mata jatuh.


Dapat dipaham Jika Bu Salma berkata demikian, karena kepada sang ibu, Meidina sudah bercerita perihal Ra Fattan.


Kini gadis ayu itu hanya bisa mengangguk patuh dan memasang cincin mahal tersebut di jarinya.


Dua fakta yang berbanding terbalik bukan, antara Zaskia Ariva Dan Meidina Shafa. Dua sisi penilaian terhadap satu objek yang sama. Yang satu, menyukuri adanya, bahkan sangat diharap dan didamba. Yang satu merasakan pedih akan keberadaannya, bahkan sangat ingin keluar dari suasananya. Siapa yang salah dalam hal ini, tentang apa yang mereka rasa. Dan siapa pula yang benar?


Pada dasarnya mereka hanya wayang, yang sedang memerankan lakon dari sebuah cerita, pembuat skenarionya, adalah Sang Maha Kuasa. Mereka mendapatkan peran yang beragam, sesuai dengan yang sudah ditentukan.


Tujuan dari setiap peran, adalah menyelesaikan cerita sampai selesai. Salah atau benar itu hanya jalan mereka untuk melaksanakan peran. Peran yang akan membawa mereka pada kebesaran kuasa Sang Maha Rahman.


Maka biarkan saja Meidina dan Zaskia menjalankan perannya masing-masing, dengan melalui prosesnya secara alami. Karena memang setiap manusia, tak serta Merta akan menjadi matang dan dewasa, serta dapat dengan bijak dalam menyikapi hidupnya. Mereka butuh proses untuk menuju ke sana.


Saat Zaskia melangkah keluar meninggalkan ruangan, dengan kepala tertunduk, tiba-tiba saja,


"Mas Azmi kok ada di sini?" Zaskia terlihat kaget. Padahal Azmi sudah lebih setengah jam menunggunya di sana.


"Saya memang menunggu Ning Zaskia di sini," sahut Azmi.


"Menunggu saya?" Zaskia terlihat heran.


"Iya, saya tadi ketemu dengan kyai Fadholi di pusat. Beliau berpesan untuk mengantarmu pulang ke cabang, jika ujian sudah selesai."


Zaskia terdiam dengan perasaan berdesir. Ia sangat paham jika abanya berpesan demikian pada vocalist tampan Albadar itu, pasti karena ada sesuatu. Tapi apa? Zaskia bertanya dalam diamnya.


"Ning," tegur Azmi. Karena melihat Zaskia masih diam saja.


"Iya, Mas. Ujian memang sudah selesai. Tapi saya masih ada rapat BES sama teman-teman."


"Baiklah, saya akan tunggu."


"Mungkin agak lama, Mas."


"Gak apa-apa, Ning."

__ADS_1


"Ee, Maaf, Mas. Kalau titah aba sudah merepotkan smean," ucap Zaskia dengan perasaan tak nyaman.


"Tidak sama sekali, Ning," sahut Azmi seraya tersenyum. Tatapannya lembut memaku wajah Zaskia sesaat, sebelum pemuda itu segera beranjak.


Agenda rapat BES kali ini adalah, rencana pembukuan semua kajian yang rutin mereka lakukan seminggu sekali, tentunya dengan menambah beberapa referensi dari ustadz, dosen, juga kyai. Tujuannya agar sumber keilmuan dari materi yang mereka sajikan makin luas dan memadai.


Buku itu nantinya akan dicetak dan dipatenkan sebagai karya siswi kulliyatul muallimin angkatan tahun ketiga ini. Karena mereka semua sama-sama ingin meninggalkan sejarah di bidang kependidikan KM, sebelum mereka menamatkan pelajaran dan meninggalkan Alhasyimi.


Untuk hal itu, mereka mulai mengumpulkan materi pembukuan, yang setiap materi didiskusikan bersama. Jika ada beberapa hal yang dirasa penjabarannya kurang luas, dan masih memerlukan tambahan referensi dari yang ahli di bidangnya, mereka tunda dulu semuanya, untuk kemudian membagi tugas pada siapa saja mereka akan meminta pengayaan materi itu.


(Pengayaan materi, adalah istilah sementara yang dipakai oleh siswi2 KM tersebut)


Karena hal itulah mereka terlihat sibuk, hingga waktu berlalu tanpa terasa. "Ning Zaskia, gak papa, kalau kau ingin pulang lebih dulu,'" kata Nabila disela-sela kesibukannya.


"Kenapa, Mbak? tanya Zaskia heran, mengingat pekerjaan mereka masih banyak, tapi kenapa malah disuruh pulang duluan.


"Ning Zaskia 'kan sudah ditunggu," kata Nabila sambil tersenyum.


"Kok mbak Nabila tau?"


Nabila dan Davina hanya saling pandang, lalu saling senyum.


"Mas Azmi itu disuruh aba, Mbak,"'kata Zaskia pelan.


"Itu artinya, kyai Fadholi percaya pada mas Azmi untuk menjagamu, Ning," sahut Nabila.


"Maksud, Mbak? Saya kok merasa ada maksud lain di balik ucapan itu ya," tukas Zaskia dengan raut wajah mulai tak nyaman.


"Kita husnudzon kok Ning," timpal Davina.


"Maksudnya?" Zaskia semakin dibuat tak nyaman dengan ucapan itu.


"Sepertinya memang syaikhona yang memberi isyarat pertama, ketika beliau menitahkan mas Azmi untuk mengantarkanmu malam itu, Ning," urai Nabila, mengungkap apa yang menjadi ihwal. Penilaiannya.


"Ah, Wallahu a'lamu, Mbak. Saya gak ada kepikiran ke arah sana," tepis Zaskia seraya menunduk. Tiba-tiba saja hadir seraut wajah tampan di cermin matanya. Wajah yang namanya masih ada di hati sampai saat ini. Tapi, Ah.


Zaskia membangunkan dirinya dengan cepat. Dia sudah berpunya, bisiknya dalam hati. Dan karena pemikiran itu, ia jadi menatap ke arah Meidina yang terlihat khusyu dengan catatan-catatannya. Ternyata, faktanya tidaklah demikian.


"Mbak Meidina kenapa menangis?" tanya Zaskia lembut. Hal mana membuat Davina dan Nabila jadi ikut menatap ke arah ketua BES itu. Dan memang benar, Meidina tak khusyu dengan catatannya, tapi dia khusyu dengan pemikirannya sendiri, dan bulir-bulir air mata yang membasahi wajahnya.


🌺🌺🌺


Hai teman-teman. Masih ada di sini kan?.Semoga saja. Aku sangat berharap untuk itu. Sekarang sudah Menjelang tahun baru ya..apa agenda kalian di pergantian tahun ini?


Kalau teman-teman tanya, apa keinginanku di tahun yang akan datang. Aku hanya ingin kalian tetap setia dan semakin cinta pada tulisanku. tetap mendukung dan mensuport dengan rajin like, komen, gift juga dan vote seikhlasnya..hihi..


Semoga di tahun depan, persaudraan kita semakin erat ya, meski hanya berjumpa lewat tulisan..tapi keberadaan kalian, adalah hal yang sangat luar biasa dalam kiprahku di NT yang terkadang kebijakan sistemnya membingungkan..hihi..

__ADS_1


Semoga bab berikut tetap dinanti ya..


Love u all


__ADS_2