
Zaini Dahlan, demikian pria baya tampan itu menyebut namanya. Jelas dari penampilannya kalau dia adalah orang yang berada. Mungkin bisa juga disebut sebagai orang kaya raya, meski pria yang dikenalkan sebagai ayah Arafka itu tak menyebut secara detail tentang bagaimana dirinya. Setidaknya setiap pribadi yang ada di sana, dapat menyebutnya sebagai orang kaya, yang punya badan usaha, entah berupa apa.
Maka kini terjawab sudah tanda tanya Nizam tadi, perihal Arafka yang punya lebih dari satu mobil. Pasti itu karena dia mendapatkan suport ekonomi dari orang tuanya.
"Ayah Dahlan!" Arafka datang memasuki ruangan, dan ia terkejuut mendapati siapa yang ada di sana sekarang.
"Rafka." Memyadari kedatangan sang putra, Zaini Dahlan segera menyambutnya dengan pelukan hangat
"Jadi ...?" Rafka menatap pria yang berdiri dekat di depannya itu, dengan tatap tanya.
"Iya, saat aku meneleponmu tadi, aku memang sedang dalam perjalanan kemari," sahut Dahlan yang sangat paham apa arti tatapan Arafka kepadanya.
"Aku pikir kamu yang sakit, Rafka." Zaini Dahlan menepuk pundak Arafka lembut.
Arafka hanya menggeleng singkat, seraya menata ke arah Meidina Shafa sekejap.
Lelaki muda yang menemani Zaini Dahlan pun maju. "Selamat siang, Pak Rafka," sapanya seraya sedikit membungkukkan kepala dan dua pundaknya.
"Siang," sahut Rafka, terlihat berusaha mengenali.
"Saya Renaldi, Pak. Yang seminggu lalu ditugaskan ke Bali, terkait pabrik yang terbakar," ujar lelaki itu mengenalkan diri.
__ADS_1
"Oh iya, Terima kasih, Mas Reinaldi." Arafka berkata dengan ramah, setelah bisa mengingat siapa lelaki di depannya.
"Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya, Pak," jawab lelaki itu dengan raut wajah terlihat tanpa beban,.
"Kau dari mana saja, Rafka?" tanya Zaini Dahlan, seraya menatap wajah tampan Arafka, tampak pijar-pijar kerinduan, terbias dari tatap matanya.
"Dari kampus,"
"Jadi, kau mempercepat masa kuliahmu di sana?"
"Iya, Ayah."
"Jangan terlalu memforsir diri, Nak. Kau sudah kuliah di dua tempat sekaligus, sekarang kau masih ingin mempercepat yang PTN. Semua itu pasti butuh tenaga extra." Zaini Dahlan terlihat menatap kawatir pada Arafka, sebagaimana fitrahnya orang tua terhadap anak.
Irfan Arafka Wafdan yang ternyata sudah berusia dua puluh empat tahun. Padahal selama ini, mereka tahunya kalau prmuda itu masih berusia dua puluh tahun. Ternyata itu bukan fakta yang sebenarnya. Kebenarannya adalah, pemuda itu hanya satu tahun lebih muda dari Meidina Shafa. Padahal salah satu faktor yang membuat Meidina merasa enggan dengan perjodohan ini, adalah karena usia mereka yang terpaut jauh sekali. Dan kenyataannya tidak seperti ini.
"Ayah doakan kau sukses, Rafka. Semoga semuanya sesuai dengan keinginanmu. Dan ayah tetap menunggu keputusanmu." Zaini Dahlan, sekali lagi menepuk pundak Arafka.
"Maaf, Ayah ..." Arafka memangkas sendiri ucapannya dengan segera.
"Ayah akan menunggu, Nak. Tapi tolong beritau, berapa lama aku harus menunggu."
__ADS_1
"Saya tidak bisa memberikan kepastian, Ayah," sahut Arafka dengan suara melemah.
"Apa tidak bisa dalam sebentuk usaha, Nak. Berusaha agar hal itu menjadi pasti." Zaini Dahlan terlihat menatap putranya dengan tatap penuh harap. Entah hal apa yang mereka bicarakan, tentang apa dan bagaimana. Hanya yang tampak jelas, adalah harapan Zaini Dahlan pada Arafka, yang sepertinya tak segera bisa dipenuhi oleh pemuda tampan itu.
"InsyaAllah." Arafka mrmberi jawaban demikian. Yang bisa dimaknai dengan pemahaman yang beragam. Bisa jadi, Rafka tak sanggup untuk memenuhi harapan, tapi tak sampai hati untuk mematahkan harapan, atau bisa jadi itu adalah satu kesepakatan, bahwa ia bersedia untuk berusaha, dan memenuhi keinginan. Tapi yang pasti, Zaini Dahlan menanamkan harap atas sebuah jawaban, yang kendati pun tak menghasilkan sebuah kejelasan.
"Jangan terlalu lama, Rafka. Aku sudah tidak muda lagi. Setidaknya sebelum aku berpulang, aku sudah bisa menyerahkan semua amanah kepada yang berhak."
Arafka hanya mengangguk, dan tak menyertai kata apa pun sebagai tanggapan. Padahal suasana sudah tersulap jadi hening, saat Zaini Dahlan mengemukakan sebuah pembicaraan yang tak menyertakan penjelasan.
"Kenapa, kau tidak memberitahuku, Nak. Kalau sudah punya calon istri? Kupikir yang sakit itu kamu, ternyata tunanganmu." Zaini Dahlan telah merubah haluan pembicaraan. Tapi, topik yang ia ajukan kali ini, sudah bisa dipaham apa maksudnya. Namun, yang tidak mereka paham, adalah tindakan Arafka yang tak memberitahukan kepada ayahnya, perihal pertunangannya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dilihat dari interaksi Zaini Dahlan dan Arafka, sepertinya mereka baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikawatirkan tentang keduanya. Tapi kenapa untuk sebuah peristiwa besar seperti ini, Arafka malah tak memberitahukan ayahnya sama sekali. Memang, untuk seorang lelaki, ketika ia memutuskan untuk menikah, ia tak perlu adanya wali nikah, beda dengan seorang perempuan. Namun, setidaknya, memberitahu orang tua sangat dianggap penting, karena restu dan doa mereka, terbukti ampuh untuk mengantar anak-anaknya hingga ke gerbang surga.
Lalu, apakah restu orang tua itu tidak penting bagi seorang Arafka?
Kini, berbagai tanda tanya pun menggelagut dalam tiap benak, atas apa yang menjadi alasan Arafka dalam bertindak. Dan sepertinya saat itu, bukan hnaya Zaini Dahlan, tapi juga semua yang ada di sana, sama-sama menanti apa yang akan menjadi jawaban Arafka.
Belum terjawab tanda tanya dalam tiap masing-masing diri, tentang pembicaraan Arafka dan ayahnya yang tak menunjukkan makna yang sebenarnya, kini ditambah lagi dengan fakta yang tersaji saat ini.
__ADS_1
Ada apa dengan Arafka, di balik keputusannya?