Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
87 Melupakan Ra Fattan Wajib Hukumnya


__ADS_3

Setelah diputuskan kalau Meidina benar-benar bisa pulang hari ini, mereka pun berkemas. Meidina yang melihat hal itu tak tinggal diam, ia bergegas turun dari ranjang untuk ikut membantu. Namun ketiga teman-temannya segera mencegah. "Ning mau apa? duduk saja tidak usah ikut membantu." Nabila segera membimbing gadis ayu itu untuk kembali ke ranjangnya.


"jangan panggil aku Ning ya, aku risih banget, panggil biasa saja, lagi pula aku juga bukan siapa-siapa," kata Meidina.


"Perihal ini kan sudah dibahas semalam. Bukan hanya terhadap mas Rafka, tapi terhadapmu juga," ujar Nabila dengan senyum.


"Tapi aku ini kan teman kalian, sama dengan kalian," ucap Meidina lagi.


"Iya, dan kita akan tetap berteman selamanya." Davina merangkul Meidina dan Nabila, juga Zaskia.


"tak hanya berteman, tapi kita semua bersaudara, Mbak," kata Zaskia. dan mereka kembali saling berangkulan penuh syukur, penuh haru. tiba-tiba saja terdengar telepon berbunyi. Suara nyaring pertanda panggilan masuk itu berasal dari ponsel milik Davina yang diletakkan di atas kulkas. gadis manis itu bergegas hendak mengangkat teleponnya. Namun kala ia tahu siapa yang telah meneleponnya, niatnya jadi urung. Ia meletakkan ponselnya itu lagi dan meneruskan pekerjaannya kembali.


"Kok gak diangkat?" tanya Nabila.


"Gak apa-apa, biar kelar dulu beres-beresnya," sahut Davina. Selang satu menit kemudian ponsel itu kembali berdering, dan kembali Davina mengabaikannya saja. namun, Nabila segera meraih ponsel tersebut dan melihat nama si penelepon.


"Dari Ra Fattan," katanya.


"Angkat saja, Mbak," usul Zaskia.


"Jangan!" Davina segera mencegah. Namun terlambat, Nabila telah mengangkat telepon tersebut dan berdiri menyisih.


"Hallo, Assalamualaikum, saya Nabila Ra Fattan, saya temannya Davina," kata gadis itu dengan bahasa yang lancar. Davina segera hendak merampas ponselnya dari tangan Nabila, namun Zaskia menghalang-halanginya.


"Davina masih sibuk Ra Fattan, kalau ada pesan, sampaikan saja, nanti saya beritahukan," kata Nabila lagi. Davina terlihat menahan napasnya pelan dengan ulah temannya itu. Lebih-lebih kemudian Nabila berkata, "Sebaiknya Davina dijemput saja ke rumah sakit, karena sebentar lagi kami semua akan pulang. Takutnya, dia gak kebagian tumpangan." Nabila terlihat menahan tawa saat berkata demikian, sedangkan Zaskia sudah menutup mulutnya karena tawa yang hampir meledak keluar.


Terlihat Davina menatap kesal pada Nabila yang telah mengakhiri berteleponan dengan Ra Fattan itu. "Apa-apan sih kamu, Nabila," protesnya.


"Loh, aku meminta Ra Fattan menjemputmu itu demi kamu juga," kata Nabila dengan tanpa rasa berdosa.

__ADS_1


'Maksudnya apa, coba?"


"Di luar hanya ada dua mobil, dan itu gak muat untuk kita semua. Ning Adin semobil sama mas Rafka, kita semua kalau ikut di mobilnya ning Zaskia pasti gak akan muat 'kan?"


"Tapi mas Nizam bawa mobil yayasan," kata Davina.


"Iya, tapi masa Mbak Davina mau semobil berdua dengan Mas Nizam, itu bahaya," celetuk ning Zaskia.


"Aku bisa naik taksi," kata Davina.


"Itu lebih bahaya lagi, kamu pasti paham lah maksud kami," ujar Nabila.


"Iya, tapi jangan gitu dong, aku gak enak." Davina memang memerlihatkan raut wajah yang tak nyaman. Entah di bagian mananya ia merasa tak nyaman dengan semua ini.


"Tidak nyaman, kenapa, davina?" tanya Meidina Shafa, setelah dari tadi ia hanya diam saja memerhatikan ketiga orang temannya itu.


'Davina, aku mau bicara denganmu, satu hal yang sangat penting," kata gadis ayu itu, setelah beberapa jenak, tak ada jawaban secara verbal yang bisa diberikan oleh Davina kepadanya.


"Iya," jawab Davina dengan hati yang kian merasa tak nyaman saja. Bahkan gadis manis itu segera menundukkan kepalanya.


"Apa Ning Adin mau bicara berdua saja dengan Davina?" tanya Nabila.


'Tidak, aku ingin kalian juga tahu," sahut Meidina. Sedianya, Nabila dan Zaskia ingin keluar dari ruangan kalau memang, Meidina ingin bicara lebih pribadi dengan Davina. Namun, karena jawaban tersebut, mereka pun memutuskan untuk tetap diam tak beranjak.


"Hari ini dan saat ini, aku sudah merasa sangat mantap dengan keputusanku untuk menikah," kata Meidina Shafa kemudian. Hal mana membuat Davina yang awalnya menunduk, saat sahabatnya itu mengatakan ada yang ingin dibicarakan, kini terlihat mengangkat wajahnya dan menatap Meidina seakan mencari kesungguhan di balik apa yang dikatakan gadis ayu itu barusan.


"Dan sebelum hari inj, adalah benar yang seperti yang kalian katakan, kalau aku terpaksa menerima untuk dipertunangkan, hanya karena ingin menghindari masalah di antara kita bertiga. Antara kau, aku, dan Ra Fattan. Aku sampai jatuh sakit, dan harus masuk rumah sakit, juga karena hal itu."


Ketika Meidina mengucapkan kalimat itu, ketiga temannya itu jadi sama-sama menunduk.

__ADS_1


"Saat itu. Ketika kalian semua menyemangati aku, dan mengatakan untuk membantuku mempersiapkan pernikahan yang memang sudah dekat, aku sangat shok, selama ini dengan sengaja aku telah mengabaikan semuanya. Aku menyibukkan diri dengan se-sibuk-sibuknya. Dan aku baru terbangun, bahwa ada satu kenyataan yang harus aku hadapi. Yang membuatku benar-benar merasa terpukul. Lebih-lebih ketika Nabila mengatakan, bahwa pernikahan itu, bukan hanya ikrar di antara dua orang, tapi juga ikrar dengan tuhan yang harus dipertanggungjawabkan. Aku mulai sangat takut. Takut dengan keputusanku sendiri."


Meidina sesaat masih menarik napasnya dalam-dalam, terasakan ada sesuatu yang menyumbat di tenggorokan, ketika suaranya terasa berat, dan ketika ada segumpalan awan hitam mengembun pada sepasang matanya, yang sudah hendak menerjang keluar.


"Saat itu aku sadar, kalau aku tidak boleh main-main dengan keputusan untuk menikah. Tapi, kalian tau sendiri, saat itu aku tidak tahu bagaimana calon suamiku. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Sehingga aku tak yakin, aku akan bisa hidup bersamanya. Ketakutan ini, dan kebingungan ini membuat pertahanan jiwa dan pisikku runtuh."


Sampai pada untaian kalimat ini, Meidina tak mampu legi menahan air mata yang telah mendobrak keluar dari netranya yang sayu. Davina pun terlihat menunduk dengan menghapus air mata pilu.


Selanjutnya, terlihat Meidina menatap sahabatnya itu dengan tatapan terarah.


"Jadi, salah, jika kau menyangka aku jatuh sakit karena terpisah dari orang yang aku cintai, Davina. Aku memang kecewa, aku memang sedih. Tapi rasa bersalahku kepadamu, jauh lebih besar dari pada semua kekecewaanku. Bahkan aku sangat menyesal, karena tanpa sengaja, aku telah menjadi orang ketiga di antara kamu dan Ra Fattan."


Meidina sejenak kembali diam, saat melihat Davina yang juga mulai terisak oleh tangis yang kuat.


"Dan yang terjadi adalah sebaliknya 'kan Davina. Kau yang selalu merasa bersalah kepadaku, sampai kau selalu merasa tak nyaman, ketika disebut-sebut nama Ra Fattan. Kau selalu merasa telah melukai aku, karena telah menyebabkan kami terpisah. Padahal yang sebenarnya adalah, aku akan menikah atau tidak, aku sudah punya tunangan atau tidak, melupakan Ra Fattan dalam hidupku itu, wajib hukumnya."


Zaskia dan Nabila sontak saling pandang mendengar ucapan tegas yang keluar dari Meidina Shafa itu. Sementara gadis ayu itu sendiri menatap Davina dengan pandangan kokoh, yang mengisyaratkan bahwa ia benar-benar dengan apa yang ia ucapkan.


"Aku wajib untuk melupakannya, seberapa pun tinggi dan besarnya harapan ku untuk bersama Ra Fattan, Karena dia calon suami sahabatku, dia pria yang dicintai oleh sahabatku. Selama ini aku yang salah, yang telah hadir menjadi benalu di antara kalian bertiga," tandas Meidina lagi dengan penuh penekanan. Tekanan karena rasa yang tak nyaman terhadap posisi yang telah ia tempati sendiri sebagai orang ketiga.


"Tidak seperti itu, Meidina. Kau tak tau apa-apa waktu itu. Jadi kau gak salah. Dan Ra Fattan juga gak tau apa-apa tentang perasaanku. Di sini aku yang salah," sahut Davina dengan cepat. Ia tidak terima saat Meidina menyalahkan dirinya dengan begitu rupa.


"Dengan menempatkan diriku pada posisi tidak bersalah, kau semakin mengkerdilkan diriku, Davina."


"Maksudku bukan seperti itu, Din." Davina jadi kian terisak.


"Faktanya adalah, Ra Fattan itu calon suamimu, kau mencintainya. Aku yang sudah hadir menjadi pengganggu. Jadi berhenti merasa bersalah padaku. Berhenti menganggapku lemah karena harus berpisah dengan Ra Fattan. Bukan itu, Davina. Bukan itu yang aku tangisi selama ini. Tapi karena aku takut untuk melangkah bersama orang yang tidak aku kenal. Sementara aku harus mempertanggungjawabkan keputusanku di hadapan Allah."


"Jadi, yang lebih memberatkanmu selama ini adalah pernikahanmu?" Tanya Nabila beberapa jenak kemudian.

__ADS_1


__ADS_2