Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
19 Santri Pemegang Rekor Tertinggi


__ADS_3

"Maksud Ning Zaskia, bersedia membantu untuk menikah dengan Rafka?"


Atas pertanyaan konyol dari Adli tersebut, Zaskia hanya mengibaskan tangannya. Karena untuk berkata tidak, ia juga tidak mau membohongi dirinya, bahwa menikah dengan Arafka itu sudah menjadi keinginan. Meski belum sampai menjadi tujuan.


Tapi, maksud Zaskia dalam hal ini adalah bukan masalah bersedia menikah atau tidak, Adli saja yang belum move on dari pembahasannya sendiri tentang pernikahan.


"Saya akan membantu Mas Rafka untuk mendapatkan rekaman Farah itu, agar bisa diajukan sebagai bukti," kata Zaskia.


"Bagaimana caranya, Ning?" tanya Zaskia cepat.


"Farah itu punya tugas di rumah abah, jadi saya akan usahakan untuk pinjam ponselnya, dan menyalin rekamannya," sahut Zaskia dengan sepenuh tekad.


"Tapi, waktumu hanya tinggal beberapa jam lagi," kata Nizam.


"Saya tau, saya akan usahakan sebelum dhuhur, rekaman itu sudah saya kirim ke Mas Rafka." Tampaknya tekad gadis itu sudah bulat untuk membantu pemuda yang diam-diam dipintanya dalam doa.


Nizam mengangguk setuju, diikuti Adli. Sedangkan Arafka hanya menatap saja pada wajah gadis cantik itu dengan netra beningnya. Lain lagi dengan Azmi, pemuda tampan itu terlihat menghela napas dengan beberapa pikiran yang berkecamuk dalam benak.


"Semoga kau berhasil, Ning." Madina menyemangati.


"Terima kasih, Mbak."


Setelah itu, dokter yang sedang mereka tunggu pun datang, setelah melakukan pemeriksaan, dan sedikit memberikan pesan tentang kesehatan, sang dokter memberikan resep obat yang memang dinantikan. Setelah semua selesai, mereka semua pun kembali ke yayasan.


🌺🌺🌺


Sidang putusan "Tak Resmi" itu digelar di rumah kediaman kyai Fadholi, di Alhasyimi cabang, tepat sekitar jam dua siang. Semua pihak-pihak terkait telah hadir di sana, termasuk putri Kyai Fadholi sendiri--Zaskia Arifa.


Gadis cantik itu tak hentinya menatap Masayu, yang cahaya pijar matanya mengalahi sinar bulan kala purnama. Betapa tidak, Masayu sudah bisa memastikan bahwa pada hari ini, babak baru dalam kehidupannya akan segera dimulai. Cepat atau lambat, dia akan menyandang status baru sebagai nyonya Irfan Arafka Wafdan. Seorang pria muda rupawan, yang sekian pesonanya telah membuat Masayu begitu tertawan.

__ADS_1


Bukankah merupakan satu kebahagiaan yang tak terlukiskan bila bisa bersanding dengan sosok yang amat dicinta dan didambakan. Ah, rasanya dengan itu, semua tujuan sudah didapatkan. Bahkan kalau boleh sesumbar, ingin rasanya mengatakan pada Tuhan. "Setelah bisa hidup bersama dengan orang yang kucintai, apalagi yang harus kupinta darimu, Oh Tuhan"


Memang bagi sebagian orang, mendapatkan apa yang diinginkan menjadi sebuah harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Mereka tak segan untuk melakukan apa pun, mengorbankan siapa pun, bahkan termasuk harga dirinya sendiri. Dan cara yang ditempuhnya pun, dengan memilih jalan pintas, yang tak pantas, asal cepat dapat. Mereka enggan memilih jalan yang sesuai, karena dianggap lambat, dan bahkan cenderung ketinggalan.


Demikianlah lebih kurang yang ada dalam pikiran Zaskia Ariva ketika menatap Masayu.


Masayu yang terlalu asyik dan terlena dengan keputusan yang diambilnya.


Masayu yang terlalu yakin akan segera memanen buah yang sudah ditanamnya. Tanpa ia evaluasi diri, dengan cara apa ia menanam. Jenis bibit apa yang ia semaikan. Dan merk pupuk apa yang ia taburkan. Gadis itu baru merasa kalau sudah ada yang keliru dengan cara-caranya, ketika Irfan Arafka Wafdan yang datang membawa laptop itu, memutar sebuah rekaman video dari kamera phone yang memuat tentang semua peristiwa di malam kejadian.


Video yang berdurasi 7 menit 46 detik itu memang tak menghasilkan kwalitas suara yang cukup terang. namun kwalitas gambarnya cukup jelas.


Dalam video itu sudah cukup bercerita dengan gamblang, apa saja peristiwa yang terjadi malam itu di studio alam Al-Badar.


Dimulai dengan pembicaraan yang terjadi antara Arafka dan Masayu di dekat gazebo, hingga Masayu berlutut dan menangis. Selanjutnya mereka berdua pindah ke dalam gazebo di mana Masayu menyuguhkan sebuah minuman yang menurut pengakuannya sudah dicampuri dengan obat.


Sejenak Masayu seperti tak tahu harus berbuat apa. Ia bingung melihat reaksi minuman yang telah diberikannya pada Arafka. Namun, kemudian ia pun memandangi wajah tampan nan rupawan Arafka. Bahkan saat berikutnya ia berani menyentuh wajah itu dengan tangannya. Tak lama kemudian, dari jauh terlihat ada beberapa petugas jaga malam, bagian keamanan yayasan yang melakukan penyisiran kawasan studio alam Al-Badar, setelah acara pementasan barusan.


Masayu jadi terlihat kelabakan, kebingungan, yang diakhirinya dengan bersembunyi dan mengendap-endap pergi.


Hanya itu yang terjadi. Tak ada apa-apa lagi. Tak terbukti adanya perbuatan tak senonoh yang sudah dituduhkan oleh Masayu pada Irfan Arafka Wafdan.


Yang ada, dan yang terlihat sekarang adalah wajah Masayu yang tertunduk lunglai. Tak hanya itu, wajah yang semula terlihat bersinar dan berpijar, kini pucat pasi dan tak mampu untuk mendongak sama sekali.


Kyai Fadholi menatap salah satu santri yang selama ini sudah menorehkan rekor paling tinggi dalam hal melanggar peraturan pesantren itu. "Masayu. Yang terjadi sebenarnya itu, yang ada dalam rekaman yang dibawa oleh Mas Rafka, atau yang kamu laporkan padaku tiga hari yang lalu?" Nada tanya Kyai Fadholi terkesan pelan, tapi setiap kata penuh dengan penekanan.


"Ee ... Aa.. ee..." Hanya itu yang keluar dari mulut Masayu. Tidak dalam sebentuk kata, apalagi kalimat. Lalu apa yang bisa dipahami dari jawaban Masayu pada Kyai Fadholi itu.


"Masayu." Sekali lagi Kyai Fadholi mengingatkan santrinya yang adalah pemegang rekor tertinggi itu, sebagai isyarat Mengingatkan, agar Masayu segera menjawab apa yang ditanyakan dengan jawaban yang benar serta bisa dipaham.

__ADS_1


"I-iya." Kini Satu kata yang diucapkan Masayu. Tapi belum bisa dipaham maknanya.


"Iya, apanya?" Kyai Fadholi terlihat sabar menyikapi Masayu, padahal dapat dilihat dalam tatapan beliau ada kilatan kemarahan yang sedang berusaha dipendam.


"Iya benar." Masayu menambah lagi satu kata. Caranya ini membuat beberapa orang yang ikut hadir di sana menjadi kesal dan geregetan.


"Masayu, apa kau bisa menjawab dengan lebih jelas dan lengkap, seperti saat kau melapor pada Kyai perihal mas Rafka tiga hari lalu." Bu Nyai Fadholi akhirnya turut bersuara, setelah sekian lama beliau hanya menyimak dari tempatnya duduk. Pasti beliau juga salah satu dari yang mulai tidak sabar menghadapi Masayu.


"I-iya. Da-dalam rekaman itu benar." Akhirnya Masayu mengucapkan juga sebuah kalimat yang bisa dipahami maknanya.


"Jadi video itu yang benar?" tanya Kyai Fadholi untuk lebih menegaskan.


"Iya,"


"Lalu yang kau laporkan padaku?"


"Itu salah," sahut Masayu.


"Artinya saat itu, kau hanya memfitnah mas Rafka?" Lontar kyai Fadholi untuk lebih menegaskan.


"I-iya, Kyai." Dan Masayu langsung menunduk serta tak berani terdongak lagi.


"Ustadz Fadil." Kyai Fadholi langsung memanggil ustadz kepercayaannya yang saat itu memang ikut hadir juga.


"Dhalem, Kyai."


"Antarkan Masayu pada orang tuanya. Sampaikan salamku, bahwa kami sudah tidak mampu untuk terus mendidik Masayu di Alhasyimi."


Itu adalah sanksi paling berat di Alhasyimi. Untuk santri yang terlalu banyak melakukan pelanggaran, atau melakukan kesalahan yang tak bisa lagi ditolerir, maka sanksinya adalah dikembalikan pada orang tua, serta dicoret namanya dari daftar santri Al-Hasyimi.

__ADS_1


__ADS_2