Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
22 Mencintai Tanpa Syarat Itu Lebih Mulia


__ADS_3

Untuk beberapa jenak, Zaskia masih terlihat diam saja. Terlalu keras serangan kata yang ia terima dari Farah, karena telah mengungkap satu rahasia di depan sang empunya.


"Farah, jangan terlalu kasar begitu." Nabila memperingatkan Farah. Karena cara bicara dan sikap Farah terlihat begitu arogan untuk ukuran seorang santri. Terlebih, Zaskia adalah putri Kyai Fadholi, pengasuh Alhasyimi cabang, tempat Farah mengabdi sebagai santri.


Dalam kasus Farah ini kita mungkin bisa memetik pelajaran, bahwa ketika seseorang itu dikuasai oleh amarah, ia cenderung tak akan mengindahkan rambu-rambu dan batasan yang ada.


"Mbak Nabila jangan ikut campur! Ini hanya antara saya dengan Ning Zaskia," tolak Farah. Atas peringatan Nabila.


"Memang benar. Tapi semua bisa dibicarakan baik-baik. Gak usah terlalu kasar begitu. Ning Zaskia juga gak salah." Azmi ikut menjawab ucapan Farah dan memberikan pembelaannya untuk Zaskia.


"Kenapa bisa dianggap gak salah?" tanya Farah. Karena menurut gadis itu, Zaskia sudah mengambil rekaman itu dari ponselnya tanpa ijin. Jelas itu kesalahan.


"Ning Zaskia melakukan cara itu karena ingin menyelamatkan Dek Rafka dari fitnah. Apa itu salah?"


"Iya, memang benar mas Azmi, tapi itu jika ning Zaskia melakukannya dengan niat yang ikhkas. Bukan karena ada interest pribadi di dalamnya," tukas Farah masih dengan tatap mata berapi-api.


"Aku ikhlas," sahut Zaskia dengan suara bergetar. Karena sudah ada satu titik bening yang menggelinding di wajahnya yang cantik. "Iya, aku akui. Kalau aku memang suka pada mas Rafka. Tapi sejauh ini aku berusaha menyimpan derap perasaanku sampai Allah merestui. Apa yang aku lakukan hanya semata-mata ingin membantu mas Rafka, bukan untuk mencari-cari kesempatan agar bisa mendapatkan hatinya. Karena aku tahu, mas Rafka bukan orang yang mudah tersentuh. Dia tak akan memberikan cinta hanya karena rasa terima kasih," lanjut Zaskia lagi, meski tak semua kalimatnya itu terucap dengan suara yang tegas, bahkan ada kalanya suara itu timbul tenggelam. Karena ia berusaha membangun ketegaran di atas jiwanya yang bergolak.


Nabila mengusap-usap lembut pundak Zaskia untuk memberinya kekuatan. Sedangkan Farah yang sudah dikuasai oleh amarah, ia tak bisa lagi melihat adanya kebenaran dalam ucapan Zaskia Arifa.


"Heleh ..." Gadis itu masih ngeyel, dan sepertinya ia juga masih punya stok kata-kata kasar lagi yang ingin diucapkan. Tapi,


"Sudah cukup, Farah. Kamu itu sudah terlalu kasar." Ucapan tegas itu datang dari Irfan Arafka Wafdan. Pemuda yang menjadi objek pembicaraan, yang dalam beberapa saat hanya memilih diam itu, kini tampil untuk menengahi. Dan ucapannya yang tegas tersebut, langsung membuat Farah merasa tersudut.


"Mas Rafka membelanya ya?"


"Aku tidak membela siapa pun, Farah. Justru aku merasa sangat berterima kasih kepada kalian berdua. Aku berterima kasih pada Ning Zaskia yang telah membantuku mendapatkan bukti, sehingga aku terbebas dari segala tuduhan. Dan aku sangat berterima kasih kepadamu yang telah merekam semua peristiwa malam itu, sehingga rekaman itu bisa menjadi bukti. Hanya saja, aku tidak setuju dengan caramu, Farah."


"Apapun cara yang kami lakukan, Mas. Semua itu berdasar di atas perasaan yang sama. Yaitu rasa cinta kepadamu. Mas Rafka harus bisa menghargai itu," tuntut Farah.

__ADS_1


"Kalau pun semua ini memang berdasar cinta seperti yang kau katakan, maka aku lebih menghargai perasaan ning Zaskia yang bisa mencintai tanpa syarat. Itu menurutku lebih mulya," sahut Arafka dengan tegas.


Ucapan Arafka itu membuat Azmi diam-diam menghela napas. Sedangkan Nabila dan Nizam terlihat saling pandang, dan saling tersenyum senang. Ning zaskia sendiri langsung menunduk dalam, terasa ada angin sejuk yang menghembus ke dasar jiwanya, dan menciptakan rasa damai. Terdengar sangat indah sekali kalimat dari Arafka itu dirasakan.


Lalu Farah? Gadis itu diam. Ucapan Arafka barusan bak tamparan keras yang merejamnya dengan rasa sakit yang begitu kuat.


"Oh begitu ya, Mas Rafka. Begitu ya," ucapnya tak terima. Suaranya bergetar, sepasang matanya berkaca-kaca. Tak ada lagi sikap kasar yang ia tunjukkan dari semula. Semua keangkuhannya juga tanggal setelah mendengar ucapan Arafka. Ternyata hanya pemuda tampan itu yang bisa menumpulkan kekasaran Farah.


Benarlah sebuah ucapan, bahwa orang yang paling bisa menyakiti kita, adalah orang yang kita cinta. Demikian lebih kurang apa yang dirasakan oleh Farah terhadap Arafka saat ini.


"Assalamualaikum."


Hening yang sempat melanda mereka semua terpecahkan dengan suara salam. Ternyata telah hadir seorang di tengah mereka yang tidak disadari kedatangannya. Seorang pemuda santri berwajah bersih, mengenakan kain sarung dan koko yang sama-sama berwarna putih.


"Ustadz Rahman?" Semua jadi heran dengan kedatangan ustadz Rahman ini. Dia adalah ustadz kepercayaan Sayikhona. Dia yang selalu mendampingi kemana pun Sayikhona pergi, dalam hal urusan pesantren. Maka bisa dipastikan di mana ada ustadz Rahman, pasti dia membawa pesan dari pengasuh besar.


"Syaikhona?" Tak hanya Arafka,,semua menjadi terkejut saat Ustadz Rahman menyebut pengasuh besar Al-Hasyimi itu.


"Iya, beliau di sana," tunjuk Rahman keluar gerbang. Kini mereka semakin kaget lagi saat melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rahman dengan ibu jarinya. Sebuah isyarat penunjuk dengan kesopanan tinggi.


Di jalan depan gerbang studio alam yang terbuka lebar itu terdapat sebuah mobil Club Car atau yang sering dikenal dengan sebutan mobil golf atau Golf Cart. Jenis mobil ini biasa digunakan di lapangan golf. Atau biasa juga digunakan oleh orang penting untuk mengitari suatu area. Demikian juga dengan pengasuh besar Alhasyimi, beliau juga sering menggunakan Golf Cart ini untuk mengitari lokasi pesantren dari pusat sampai ke cabang yang memiliki luas sampai berhektar-hektar.


Melihat sesosok agung mengenakan baju putih di mobil itu, Arafka tak hanya bergegas menghampiri, pemuda tampan itu bahkan sampai berlari, karena tak ingin membuat Sayikhona terlalu lama menanti.


Melihat Syaikhona ada di sana, wajah Zaskia langsung terlihat pucat. Sedangkan Azmi dan Nizam jadi saling pandang tegang. Apalagi Farah, perasaan gadis itu mulai kebat-kebit tak karuan. Mereka semua sama-sama merasa kawatir, karena sudah pasti kalau pengasuh besar Alhasyimi tersebut mengetahui keributan kecil mereka barusan. Entah apa yang akan diputuskan oleh beliau terkait hal ini. Apalagi beliau sekarang memanggil Arafka, dan terlihat masih berkata-kata pada santri kesayangannya itu, sebelum kemudian membawa pemuda tampan itu pergi dengan Golf Cart tersebut.


"Kau pergilah. Kau seharusnya tak boleh ada di sini," kata Azmi pada Farah. Gadis itu segera berlari keluar dari gerbang.


Zaskia menoleh pada Nabila dengan tatapan cemas. "Insyaallah gak akan terjadi apa-apa, Ning," kata Nabila berusaha membesarkan hati Zaskia yang sangat terlihat sekali kalau ia merasa kawatir. Kalau Syaikhona akan menegur kesalahannya melalui Kyai Fadholi--abahnya.

__ADS_1


"Amin," sahut gadis itu lirih.


"Ayok kita lanjut ke aula, Ning," ajak Nabila. Zaskia mengangguk. Tak ada lagi semangat yang tadi sempat terlihat berpijar.


"Ning Zaskia." Azmi menahan langkah gadis itu yang sudah terayun di samping Nabila. "Semoga perasaanmu pada dik Rafka, direstui Allah," ujar pemuda tampan itu dengan senyum tulus.


"Amiin, Mas Azmi, sa-saya ..." zaskia jadi terlihat gugup karena ucapan pemuda tersebut.


"Cinta itu indah, dan caramu mencintai, semakin mengindahkan cinta itu sendiri. Tak perlu malu, hanya karena perasaan cintamu diketahui. Semoga dengan itu, akan semakin banyak yang mendoakan Ning Zaskia," ujar pemuda itu lagi, masih disertai dengan senyum yang tulus.


"Terima kasih, Mas Azmi."


Dan setelah mendapatkan anggukan dari sang empunya nama, Zaskia dan Nabila segera pergi. Sepeninggal keduanya, Azmi terlihat menghela napasnya.


"Kenapa?" Tanya Nizam.


"Rasanya lega setelah mengucapkan semua ini," kata Azmi sambil tersenyum memandangi kepergian Zaskia.


"Seperti ada sesuatu nih," Nizam mengangkat sebelah alisnya, seperti seseorang yang sedang mendapat sebuah penemuan yang luar biasa.


Azmi hanya tersenyum.


"Kenapa hanya dipendam?"


"Ada kalanya rasa itu diungkapkan, ada kalanya, hanya untuk dipendam. Dan ada kalanya juga dibawa dalam sebentuk permohonan kepada Tuhan," sahut Azmi puitis.


"Dan kau ada di bagian yang mana, Azmi?"


"Di bagian yang tak kusebutkan. Yakni Diikhlaskan saja," putus Azmi sambil segera mengayun langkah. Nizam pun segera menyusulnya.

__ADS_1


__ADS_2