Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
82 Jatuh Cinta Saja Tidak Cukup


__ADS_3

"Hal ini beda dengan saya ... Sebenarnya orang tua saya sudah menunjuk seorang gadis untuk menjadi pendamping saya, tapi ketika perasaan saya memilih, saya lebih mengedepankan untuk memenangkan perasaan saya, tanpa mencari tahu, apakah Allah meridhoinya atau tidak. Dalam hal ini saya bukan hanya lalai kepada Allah, tapi saya juga telah menyakiti perasaan gadis yang sudah dijodohkan dengan saya. Semua yang tejadi ini adalah teguran dari Allah untuk saya. Dan Mas Rafka yang telah membangunkan jiwa saya."


Ra Fattan dengan jujur menceritakan dan mengakui semuanya, tanpa merasa malu atau gengsi. Karena bagi jiwa yang terbangun untuk senantiasa patuh pada jalan ilahi, kesalahan bukan sesuatu yang harus ditutupi, tapi diinsyafi.


Demikian akhirnya, dua orang pemuda itu sama-sama memilih untuk meniti jalan yang diridhoi ilahi.


Dan di akhir pembicaraan itu, Ra Fattan mengajukan tanya pada Arafka.


"Boleh saya tanya sesuatu, Mas Rafka?"


"Silakan, Mas Fattan."


"Apakah Mas Rafka mencintai calon istri, Anda sekarang?"


Meskipun Ra Fattan menanyakan hal itu dengan disertai senyum, tapi jujur, ada rasa tak nyaman juga yang hinggap di hatinya, meski sesaat, meski kecil. Namun, ia segera kembalikan semuanya pada Sang Penguasa Takdir. Bahkan kendati pun besar ukuran rasa yang tak nyaman itu, tetap harus segera dikembalikan.


"Tidak sulit untuk jatuh cinta pada Meidina Shafa, dia wanita yang memesona dan memiliki cukup banyak keistimewaan," jawab Arafka sambil tersenyum. "Dan ketika mencintainya itu menjadi wajib bagi saya, adalah kelalaian besar jika saya tidak memenuhi jiwa saya hanya dengan mencintainya saja," lanjut pemuda tampan itu kemudian.


Arafka membalut rasa yang ada padanya dengan titik abu-abu. Seperti ia tak ingin rasa itu diketahui secara umum dulu. Tapi dari kalimat itu dapat dirarik satu kesimpulan. Bahwa mencintai Meidina, bagi Arafka itu wajib hukumnya.

__ADS_1


Lalu, apakah bedanya, cinta karena cinta, dengan cinta karena kewajiban?


Faham dengan maksud jawaban yang berlindung di balik tatanan bahasa puitis itu, Ra Fattan tersenyum. Tak ada lagi pertanyaan.


Begitu pun dengan ustadz Fadil dan ustadz Widad yang juga tersenyum, saat Arafka telah mengakhiri ceritanya. Cerita pertemuannya dengan Rayyan Ali Fattan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Banyak sekali pelajaran dan pemahaman yang mereka dapat dari kisah bertemunya dua orang pemuda tampan yang sama-sama memiliki keterikatan dengan Meidina Shafa itu. Yang dari semua pemahaman tersebut bermuara pada satu kesimpulan, bahwa: jatuh cinta saja tidak cukup untuk menjadi alasan menjatuhkan pilihan pada seseorang untuk mengarungi bahtera bersama yang disebut rumah tangga. Tapi, harus ada ridho allah di dalamnya. Dan itu adalah pondasi yang paling utama.


Dan selain itu, mereka juga mengagumi keindahan pribadi Rayyan Ali fattan dan Irfan Arafka Wafdan. Mereka punya keistimewaan yang tak bisa dinafikan, sama-sama tampan, sama-sama bernasab mulia, keturunan orang sholih yang memimpin sebuah pondok pesantren, tempat pendididikan berbasis keislaman yang cukup kental. sama-sama memiliki kecerdasan yang sempurna dan seimbang, dengan kriteria kecerdasan yang sempat disebutkan dalam bab sebelumnya. dan sama-sama memiliki keterkaitan dngan Meidina Shafa.


Sejatinya, Meidina Shafa tidak perlu memilih, karena dia sudah dipilihkan oleh Sang Penentu Kehidupan. Hanya memang pilihan itu tidak diucapkan secara gamlang, karena Meidina selaku wayang dari lakon yang diperankan juga diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Maka apakah yang akan menjadi pilihan gadis ayu itu sekarang?


Arafka kini terlihat menatap Meidina yang masih setia dengan diamnya, dan setia dengan bulir-bulir air mata di wajahnya. "sudah dari sejak beberapa waktu sebelumnya, saya ingin memberitahukan semua ini sama kamu. Ternyata, Allah belum memberi saya waktu. Dan rupanya kesempatan itu baru ada sekarang, walau pun saya rasa, ini juga bukan saat yang cukup tepat, karena kamu juga lagi sakit. tapi, qadarullah, di waktu yang sangat singkat, banyak hal yang sudah terungkap, yang saya percaya bahwa semua ini tak lepas dari kinerja-Nya." Pemuda tampan itu sejenak terlihat menarik napas tanpa melepasjan tatap dari Meidina yang masih setia menunduk dan enggan teerdongak.


"Maksud saya menceritakan semua ini, adalah seperti apa yang saya katakan tadi siang sama kamu, bahwa tidak ada siapa pun yang dapat memaksa kamu, Ning Adin. Hidupmu adalah milikmu." arafka mengulai ucapannya tadi siang. ucapan yang telah membuat Midina mennagis. Ia pun menyematkan penggilannya "Ning" pada calon istrinya itu.


"Meskipun saya sudah merasa yakin dengan ikatan kita ini sebagai sebuah jalan yang diridhoi oleh Allah, bahkan merupakan kehendak-Nya. tapi, saya tak dapat memaka kamu untuk setuju dengan saya, jka kamu tidak memiliki keyakinan yang sama seperti saya. Maka saya harap, kamu bisa memberi waktu pada dirimu sendiri untuk mendapatkan petunjuk yang pasti juga dalam hatimu. Istikharah, Ning."

__ADS_1


Tergetar hati Meidina dengan ucapan itu, terasa berguncang segenap komponen jiwanya dalam rasa malu dan haru yang merengkuh erat kalbu. Bahkan air mata tak dapat mewakili apa yang ia rasa, apalagi kata.


"Memang waktunya sudah dekat, tiga hari lagi, saat yang ditentukan pada kita untuk melaksanakan akad. tapi jangan kecil hati, Ning, bila Allah sudah berkehendak, jangankan dalam waktu selama tiga hari, tiga menit sekali pun keadaan pasti bisa berubah. Kamu pasti paham maksud saya."


Meidina tetap menunduk, dan tetap enggan mendongak, namun terlihat jelas kalau ia mengangguk, pertanda mengerti.


"Dan karena saat ini, kamu adalah calon istri saya, serta dihadapan kedua orang tua saya, kamu sudah menyatakan bersedia untuk menikah dengan saya, maka izinkan saya untuk menunjukkn kesungguhan saya. Selebihnya itu, biar takdir Allah saja yang akan menjadi landasan langkah kita.


Karena tanpa adanya Takdir, tidak akan bisa terwujud. Tidak akan pernah cukup kendati selalu meminta dalam setiap sujud. Dan tidak akan pernah cukup meski selalu melangitkan nama dalam setiap tahajud."


Subhanallah, Arafka.


Ternyata pemuda itu sudah melangkah jauh ke depan, meninggalkan teman-temannya, dari segi pemahaman ruhaniah. Posisinya sebagai putra syaikhona telah begitu kokoh dengan keteguhan hati yang ada padanya. Mereka merasa malu karena baru menyadari ini sekarang, baru tahu siapa dan bagaimana pemuda yang akrab mereka panggil adik itu sebenarnya.


Arafka bangkit dari duduknya dan berkata pada Meidina. "Istirahat ya, Ning Adin. Ini sudah larut. Berhentilah menangis. Saya harap besok, kesehatanmu sudah jauh lebih baik dari saat ini. Dan saya harap juga, semua akan kembali baik-baik saja."


Tanpa menunggu jawaban dari Meidina pemuda itu segera berlalu hendak keluar dari kamar itu dengan diikuti oleh semua teman-temannya yang lain. Namun, baru tiga langkah, ia berhenti, karena terdengar ucapan Meidina.


"Terima kasih, Mas Rafka."

__ADS_1


__ADS_2