
"Ning Zaskia, yakin?"
"Tentang apa, Mbak?"
Nabila memberi isyarat pada Azmi yang sedang bicara berdua Nizam di depan pintu ruangan yang terbuka lebar.
"InsyaAllah," jawab Zaskia.
"Karena ?"
"Insyaallah karena Allah, Mbak. Semoga dituntun dan diberi kekuatan untuk bisa demikian." Zaskia menjawab itu sambil tersenyum, terlihat dari tatapannya tak ada beban.
"Alhamdulillah. Aku hanya kawatir, Ning." Nabila merasa lega, setelah melihat dan mendengar semuanya langsung dari mulut Zaskia. Awalnya ia sempat sangsi, karena melihat bagaimana kuat dan tingginya perasaan Zaskia untuk Arafka. Mungkin fakta tentang pemuda itu telah membuat gadis cantik tersebut berubah pikiran. Tapi, dengan langsung memutuskan untuk menerima orang lain, itu juga tak sepenuhnya bisa dibenarkan. Setidaknya, dalam setiap tujuan ibadah, niat yang baik harus dikedepankan. Menikah, adalah ibadah, jika itu dilaksanakan hanya karena ingin menghindari sesuatu, atau ingin lari dari sesuatu, maka ini sangat tak bisa dijadikan alasan.
Hal itu menurut pemikiran dan penilaian Nabila, saat ia bersama Davina mendengar sendiri keputusan Zaskia untuk menerima Azmi. Sebagai teman yang dilengkapi dengan rasa persaudaraan yang kental, Nabila merasa wajib untuk memastikan. Dan setelah ia menerima jawaban demikian, maka rasa lega yang kemudian ia dapatkan.
"Dari sejak Mas Rafka bertunangan, saya sudah berniat untuk melupakan perasaan saya, Mbak," kata Zaskia. Ia paham betul apa maksud dari pertanyaan Nabila.
"Saya memohon kepada Allah, agar diberi kekuatan untuk itu," lanjut Zaskia lagi.
Perkara menuntaskan perasaan yang telah bersemayam, memang tak bisa disamakan dengan menuntaskan sebuah pekerjaan. Tak hanya dibutuhkan, tangan yang trampil, ketepatan waktu dan skill yang mumpuni. Tapi, harus ada kekuatan penyerta yang punya peranan tak kasat mata, yaitu mengalihkan rasa yang ada dan membuangnya, atau memindahkan haluan pada yang lainnya.
Dan hal itu, bukan hal yang bisa dilakukan oleh manusia, tapi oleh Sang Penguasa Hati, yang Berkuasa dan Berkehendak menitipkan rasa cinta dalam tiap masing-masing hati yang terpilih. Dia Yang Kinerjanya Tak Bisa Diragukan.
"Setiap sesuatu yang disandarkan kepada Allah, maka Allah yang akan mencukupi," gumam Nabila.
"Benar sekali, Mbak. Maha Suci Allah," puji Zaskia. Pujian untuk kebesaran tuhannya.
"Aku hanya copas pada cerita mas Rafka semalam, Ning. Itu dawuhnya syaikhona yang diceritakan pada kita semalam," kata Nabila cepat.
"Aku juga ingat, Mbak." Zaskia tertawa renyah. Ini memang faktanya. Dari apa yang diceritakan dengan sangat lengkap oleh Rafka perihal pertunangannya dengan Meidina, mereka semua tak hanya memahami satu hal, tapi banyak hal. Pun bertambah pengetahuan dan pemahaman. Itu yang disebut Ibrah, atau makna ringkasnya mengambil pelajaran.
Catatan:
Ibrah menurut istilah, adalah suatu upaya untuk mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain atau peristiwa yang terjadi di masa lampau. Ibrah sendiri banyak terdapat di dalam kitab suci Alquran, yang cukup banyak memuat kisah-kisah masa lampau dari umat terdahulu, baik yang patuh pada hukum Allah, mau pun yang ingkar. Tujuannya adalah untuk dijadikan pelajaran.
Arti Ibrah menurut islam:
Ibrah merupakan suatu kondisi yang memungkinkan orang sampai dari pengetahuan yang konkrit pada pengetahuan yang abstrak, dalam bentuk pengamatan dan tafakkur, yang menghantarkan manusia untuk mengetahui intisari suatu perkara dengan cara disaksikan, diperhatikan, diinduksi, ditimbang-timbang, diukur dan diputuskan oleh manusia.
Diinduksi adalah: penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan khusus untuk diperlakukan secara umum.
Kembali ke cerita.
"Yang sebenarnya, Mas Azmi juga melakukan hal yang sama," kata Zaskia setengah berbisik sambil mencuri pandang pada Azmi yang berada di luar sana. Bertepatan saat itu, pemuda tampan yang berperan sebagai vocalis di Albadar itu juga tengah menatap ke arahnya. Tatap mereka beradu, senyum mereka bertemu, dalam sekian detik waktu.
__ADS_1
"Ini aku yang gak tau harus bagaimana," celetuk Nabila.
Zaskia langsung tersenyum mengalihkan tatapannya.
"Berada di antara dua orang yang sedang jatuh cinta itu, jadi sosok tak kasat mata," lanjut Nabila sambil mesem.
"Jatuh cinta, Mbak? Kami? Aku sama mas Azmi?" Zaskia terlihat heran.
"Iya. Aku menilai itu dari cara tatapan kalian. Di sana sama-sama saling tersirat kekaguman, saling memuji keindahan," urai Nabila, dan memang hal itu yang ada dalam pikirannya saat melihat cara Azmi dan Zaskia saling memandang barusan.
"Kagum, memang iya, Mbak," ujar Zaskia. "Kalau cinta, mungkin belum," lanjutnya lagi.
"Ning, ada yang bilang, kalau mencintai itu, adalah mengagumi dengan hati. Sedangkan mengagumi, itu adalah mencintai dengan pikiran. Jarak di antara keduanya, bisa ditempuh dalam waktu sekian kilo meter, kalau secara logika. Tapi secara perasaan, jaraknya tak lebih tebal dari kulit ari saja. Sedangkan cinta, itu adalah soal rasa, bukan tentang logika."
"Bisa jadi." Zaskia berkata dengan nada gamang.
Padahal apa yang dikatakan Nabila itu adalah sesuatu yang tak bisa dipungkiri. Sebelum kalimat itu ada, telah lebih dulu terjadi fakta yang tak bisa dipungkiri kebenarannya. Pelakunya adalah para pencinta yang masuk dalam kategori, perlahan-lahan cinta. Kategori ini beda tipis dengan istilah cinta karena terbiasa, beda tipis juga dengan cinta pada pandangan pertama.
"Coba ceritakan apa yang belum tuntas, Ning!"
"Apa, Mbak?'
"Tadi Ning Zaskia bilang apa tentang Mas Azmi."
"Kalimat itu tadi, setiap sesuatu yang disandarkan pada Allah, maka Allah yang akan mencukupi. Jadi sebenarnya mas Azmi memang menjalani itu dari dulu."
"Bukan, Mbak. Kemarin, mas Ali Fadhlan yang cerita."
"Gimana ceritanya? Kok mas Ali Fadhlan bisa tahu?" Nabila sampai menggeser tempat duduknya untuk kian mendekat pada Zaskia karena teramat antusias dengan berita itu.
Zaskia pun bercerita. 🌺🌺🌺
Ali Fadhlan adalah kakak kandung Zaskia. Kemarin, saat pamit pulang sebentar dari rumah sakit, karena diminta oleh umminya yang sedang ada acara keluar, kakaknya yang baru datang dari pesantren di daerah Lirboyo itu bertanya.
"Dari mana, Dek?"
"Dari rumah sakit, Mas. Menemani mbak Meidina, dia sedang dirawat."
Dengan jawaban dari Zaskia itu Ali Fadhlan hanya terlihat mengangguk saja.
"Mbak Meidina di KM, Mas. Yang dulu, Mas Ali pernah suka," ungkap Zaskia sambil tertawa renyah.
Awal Meidina Masuk menjadi siswi KM, kakak kandung Zaskia itu memang sempat terpesona, dan terbersit niat serius pada gadis ayu tersebut, namun pada saat istikharah, petunjuk yang datang malah kurang bagus. Kemudian Ali Fadhlan malah saling suka dengan putra kyai Hamdi Umar, yang merupakan teman main sejak kecil. Dan dua keluarga sama-sama tak keberatan dengan hal tersebut.
Ali Fadhlan hanya tersenyum saat sang adik mengungkap hal itu.
__ADS_1
"Mbak Meidina sekarang sudah bertunangan, Mas," tutur Zaskia.
"Iya, tunangannya Mas Rafka ya," sahut Ali Fadhlan.
"Kok mas Ali tau?" Zaskia menatap penuh tanya pada kakaknya itu.
"Tau Dari Ummi."
"Ooh, tapi kok memanggil 'mas' pada Mas Rafka, harusnya adik, 'kan mas Ali lebih tua," protes Zaskia lagi. Pada saat pembicaraan ini terjadi, Zaskia belum tahu kalau Arafka itu putranya Syaikhona. Sedangkan Ali mungkin sudah mengetahuinya, karena itulah dia memanggil Mas, pertanda rasa ta'dziem.
"Diantar siapa, Dek?" Mengabaikan ucapan Zaskia, Ali bertanya hal lain pada adiknya itu.
"Mas azmi," sahut Zaskia pendek.
"Azmi Khalidi?" Ali Fadhlan bertanya dengan sedikit terlonjak.
"Iya, Memang ada Azmi yang lain."
"Kok bisa diantar Azmi?" Ali Fadhlan menatap adik cantiknya itu dengan tatapan memicing.
"Aba yang menitahkan," sahut Zaskia.
"Aba? Ini kok malah makin mencurigakan." Ali Fadhlan bahkan sampai merubah posisi duduknya.
"Apanya yang mencurigakan, Mas. Seperti sedang menyelidiki kasus misteri saja," gerutu Zaskia. Ali Fadhlan diam, tatapannya memindai wajah Zaskia seperti sedang menganalisa.
"Jadi ceritanya, syaikhona lebih dulu yang memerintahkan mas Azmi untuk mengantarkan aku dari Alhasyimi pusat kemari. Beliau lalu menitip salam pada aba, melalui Mas Azmi." Zaskia pun menuturkan awal mula ceritanya, Azmi ditugaskan mengantar jemput Zaskia.
"Tapi kami gak pernah berdua kok mas. Mas Azmi. selalu ajak teman, atau supir sini yang ikut," lanjut Zaskia lagi. Demi dilihatnya sang kakak terbengong dengan keterangannya.
"Sebuah isyarat," ucap Ali Fadhlan kemudian.
"Isyarat apa?" Zaskia yang semula bercerita seraya membuka-buka buku di tangannya, sekarang jadi mengalihkan perhatiannya dari buku tersebut dan menatap pada sang kakak.
"Isyarat dari syaikhona untuk aba, bahwa Azmi itu, pria yang baik untukmu."
"Kok pembicaraan, Mas Ali langsung ke arah sana ya." Tanya Zaskia dengan nada sedikit protes.
"Memang kamu tidak tau, Dek, kalau Azmi itu suka padamu?" Ali Fadhlan menatap adiknya itu dengan tatapan serius.
"Dan memangnya, Mas Ali tau hal itu?" Zaskia malah balik tanya.
"Tau," jawab Ali mantap.
"Tau dari siapa?"
__ADS_1
"Dari Azmi sendiri."
"haah?!"