Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
11 Tertuduh


__ADS_3

"Rafka, bangun!"


Arafka membuka mata, ketika merasa ada seseorang yang mengguncang pundaknya.


"Sudah shubuh," kata Adli. Ternyata dia yang baru saja membangunkan Arafka.


"Astaghfirloh." Pemuda tampan itu segera duduk dan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Kau ini, semalam pamit pulang. Tapi kok malah tidur di sini. Pasti istrimu gak mau ngebukain pintu ya," kelakar Adli, sambil tergelak sendiri.


Arafka menarik napasnya dan menatap sekitar. Ternyata dia memang tidur di gazebo, tempatnya semalam berbicara dengan Masayu.


Masayu? Kemana gadis itu? Rasa pusing yang begitu kuat, telah membuat Arafka pingsan semalam. Dan kemudian ia tak ingat apa-apa lagi. Tak tahu apa yang terjadi, apa yang dilakukan oleh Masayu terhadapnya.


Tiba-tiba saja, tepat waktu jam 9 pagi, Kyai Fadholi--pengasuh Al-Hasyimi cabang, yang sekakigus ayah Zaskia-- memanggilnya ke dhelem, atau rumah kediaman Kyai. Beliau memberitahukan adanya pengaduan dari Masayu, yang mengaku telah mendapatkan perbuatan tidak senonoh--yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan halal--oleh Arafka terhadap gadis tersebut di gazebo 2 studio alam Al-Badar.


Pemuda tampan itu kaget luar biasa atas semua pengakuan Masayu ini. Pasalnya ia tak merasa melakukan apa pun pada gadis itu. Tentu saja ia segera membela diri. Tapi Masayu ber-alibi, kalau Rafka melakukan semua itu dalam kondisi tidak sadar karena pengaruh minuman.


Rafka pun memberitahukan perihal minuman itu pada Kyai Fadholi, bahwa Masayu lah yang telah memberinya minuman yang sudah dimasukkan obat. Akhirnya, karena keduanya sama-sama keukeh dengan alibinya masing-masing, maka Kyai Fafholi memberi tenggat waktu selama tiga hari untuk mengajukan bukti, siapa yang salah dan siapa yang benar di antara mereka. Jika dalam jangka waktu itu, mereka tak bisa membuktikan apa-apa, Arafka dan Masayu harus menikah dan keluar dari pesantren.


Arafka terhenyak, tercekat dalam diam. Bukan karena terancam harus segera menikah dengan gadis yang tak diinginkan, yang membuatnya begitu terguncang. Tapi perbuatan keji yang telah dituduhkan Masayu terhadapnya itu benar-benar sangat mengguris hati. Pemuda tampan itu hanya bisa merintih dalam diam. "Ya Allah, benarkah aku telah mengotori diriku sendiri dengan perbuatan bejad itu? Sia-sialah usahaku selama ini untuk memperbaiki diri, jika pada akhirnya aku kau campakkan pada perbuatan nista seperti ini. Apakah ini hukuman atas semua dosa-dosaku di masa lalu? Ya Allah, ampunilah aku."


Pemuda itu juga tidak dapat tegak untuk tegas mengelak, karena ketika dia tidak sadarkan diri akibat minuman itu, harus ia akui, dalam kondisi tidak sadar, apa pun bisa terjadi. Mungkin memang seperti yang sudah dituduhkan oleh Masayu itu.


Dan seperti itu pula, pengakuannya pada Zaskia saat mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


"Saat itu, saya berada dalam kondisi tidak sadar penuh, yang harus diakui, bahwa hal apa pun bisa terjadi."


"Tapi, kalau perasaan Mas Rafka sendiri bagaimana?" tanya Zaskia, setelah ia sempat mengusap air mata atas cerita Arafka barusan. "Mm maksud saya, apa Mas Rafka yakin, bahwa peristiwa itu betul-betul terjadi?" lanjut Zaskia lagi.


"Betul Raf, keyakinan yang datang dari dasar hatimu," timpal Adli.


"Apa keyakinanku bisa diajukan sebagai bukti?" Rafka menatap Adli dengan perasaan miris. Karena menurutnya, dalam kasus yang tengah ia hadapi, yang dibutuhkan itu hanya bukti. Dan berbicara tentang keyakinan, itu hanya sebatas menceritakan. Sedangkan pengadilan itu butuh fakta, dan bukan hanya sekedar cerita.


"Mungkin tidak, Dik. Tapi setidaknya, keyakinan itu bisa membuatmu lebih percaya diri, bahwa Allah Yang Maha Memelihara kita, tak akan menghinakan kita dengan perbuatan nista, sedangkan kita selama ini menjaga diri dari hal tersebut." Azmi yang mengambil alih menjawab pertanyaan Rafka. Semua setuju dengan ucapannya tersebut, termasuk Arafka sendiri.


"Kalau saya, saya merasa sangat yakin, bahwa saya tidak melakukan apa-apa," ujar Arafka dengan mantap. "Sekali pun tidak akan ada orang yang percaya dengan saya. Saya tetap dengan keyakinan saya ini. Bahwa saya tidak melakukan seperti apa yang sudah dituduhkan oleh Masayu," lanjutnya dengan lebih kokoh lagi.


"Saya percaya," sahut Zaskia cepat. Karena jauh sebelum ia bicara dengan Arafka terkait semua ini, gadis itu sudah mengambil keputusan dalam hati untuk mempercayai Arafka dengan kebenarannya. Dan hal itu tercermin dari tatap mata gadis cantik tersebut.


"Terima kasih, Ning," ucap Arafka setulus hati.


Seraut wajah ayu hadir dari balik pintu, yang meminta semua perhatian teralih kepadanya. Termasuk juga Irfan Arafka Wafdan.


"Ning Zaskia," panggil Meidina lembut.


"Iya, Mbak Meidina." Zaskia menjawab dengan kelembutan yang sepadan.


"Saya mau sholat Ashar dulu ya," pamit gadis ayu itu pada Zaskia.


"Ooh iya, Mbak. Saya yang akan menemani mbak Davina."

__ADS_1


Madina mengangguk. "Permisi semua," ujar gadis ayu itu kepada semua yang lain, yang memang sama-sama menatap ke arahnya.


"Musholla di sebelah sana, Mbak," tunjuk Adli ke suatu arah, saat gadis ayu itu hendak berlalu.


"Oh iya, Terima kasih," jawab Meidina dengan senyum. Kendati pun ia sudah tahu di mana letak musholla di rumah sakit itu.


"Modus saja kamu, Adli. Dia pasti sudah tahu letak musholla di sini," ujar Nizam sambil tertawa kecil, begitu Meidina Shafa telah berlalu dan Zaskia Arifa pun sudah masuk kembali ke dalam ruangan Davina dirawat.


"Tapi, kan dengan itu, minimal saya dapat senyumannya," sahut Adli sambil cengengesan. Betapa tidak, senyuman Meidina meskipun hanya terlihat sekilas itu sangat indah dalam pandangan Adli. Dan ucapan teman karibnya itu pun, membuat Arafka ikut tersenyum.


"Sepertinya Ning Zaskia suka ya sama Dik Rafka," ujar Azmi tiba-tiba.


"Ee gak tau ya, Mas," sahut Rafka.


"Iya, dari cara bicara dan tatapannya, Dik Rafka pasti juga bisa merasa 'kan?"


Arafka hanya tersenyum kecil, tanpa mengelak atau pun mengiyakan. Padahal Azmi sangat ingin tahu bagaimana tanggapan pemuda tampan tersebut.


Begitu memang Irfan Arafka Wafdan, tiap kali disinggung tentang orang-orang yang menyukainya. Tak pernah ia memberikan komentar tentang rasa suka atau pun tidaknya. Bahkan juga terhadap seorang Masayu, yang nyata-nyata sering melakukan tindakan di luar batas untuk memberitahukan rasa sukanya. Arafka tak pernah mengatakan apa-apa. Teman-temannya baru tau kalau pemuda itu menolak Masayu adalah dari ucapannya sendiri pada waktu itu, ketika gadis tersebut hendak menabrakkan diri pada laju motornya, dan berakhir dengan Arafka menabrak tembok pagar aula.


Arafka memang termasuk tipe orang yang tak mudah untuk memperlihatkan rasa suka atau pun rasa bencinya pada orang lain. Dan hatinya juga sangat lembut, terbukti ketika air matanya jatuh berlinangan, saat menghadap Kyai pengasuh besar, mengadukan berat beban batin yang harus diterima, saat Masayu menuduhnya telah meniduri gadis tersebut, dan meminta pertanggung jawaban segera dalam ikatan pernikahan.


Bagaimanakah nasib tokoh idola Al-Hasyimi itu berikutnya?


Apa keputusan Syaikhona terhadap Arafka nantinya?

__ADS_1


NEXT


__ADS_2