Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
91 Kangen Calon Istri


__ADS_3

"Tapi saya yakin, kalau Mas Rafka itu sayang dan cinta pada Ning Meidina," kata ustadz Fadil, pemuda itu lalu berpaling pada Arafka dan bertanya, "Mohon maaf, Mas, apa keyakinan saya ini benar?"


"Iya," jawab pemuda tampan itu dengan pasti.


"Sejak kapan?" tanya fadil lagi, entah karena ia merasa penasaran, atau justru karena ingin menguatkan apa yang sudah menjadi dasar keyakinan dan penilaiannya tentang hal ini.


"Sejak saya menerima dia sebagai calon pendamping hidup saya." jawaban dari Arafka itu membuat semua yanng mendengarnya jadi salilng pandang dengan senyum. Sedangkan Meidina terlihat menunduk dengan perasaan yang damai dan sejuk.


"Dan saya pun melihat kalau ning Meidina itu sekarang juga sayang dan cinta pada mas Rafka," kata ustadz fadil lagi, hal mana membuat gadis ayu itu terdongak menatap ke arah ustadz senior Albadar itu.


"Mungkin sekarang kau belum menyadarinya, Ning. saya menilai begini adalah dari apa yang telah saya dengar barusan, saat kau menyampaikan rasa percaya yang sngat dalam itu terhadap mas Rafka di hadapan teman-temanmu. Tidak mungkin seseorang itu bisa punya kepercayaan yang sedemikian dalam terhadap orang yang akan mendampingi hidupnya, kalau tidak ada rasa cinta dan sayang di dalam dirinya."


Hening setelah apa yang diucapkan oleh ustadz fadil. Mungkin karena semua orang sedang mencermati ucapan itu, dan menganalisanya dalam masing-masing pemikiran.


"Iniah yang dinamakan takdir, hal yang awalnya dianggap tidak mungkin, tapi kalau sudah ditakdirkan oleh Allah, maka Allah yang akan merubah semuanya. Contohnya ning Meidina, maaf sebelumnya ya, Ning, kalau dillihat dari perasaanmu yang begitu dalam pada Ra Fattan, rasanya tak mungkin perasaan itu akan hilang dan tergantikan. Tapi, balik lagi, siapa yang meletakkan rasa cinta itu di dalam hati, dan siapa yang Maha Menguasai hati. JIka ia sudah berkehendak, maka hal apa yang tidak akan mungkin terjadi?"


Masih tetap hening setelah mendengar penjabaran yang lebih jelas lagi dari ustadz fadil ini. Tapi secara pasti, mereka semua memahami dan mulai menyetujui, bahkan termasuk Meidina Shafa sendiri, walau dalam relung hati gadis itu, masih ada tanda tanya yang masih membutuhkan jawaban pasti.


Mengenai ucapan Fadil, itu adalah hal yang tak bisa dibantah lagi, bahwa jika Allah sudah berkehendak, hal apa yang tidak mungkin untuk terjadi. Maka seyogyanya, setiap muslim dan muslimah yang berpasangan, tidak perlu kawatir, tidak akan bisa mencintai pasangannya, jika dalam jalannya memilih pasangan itu mengikuti petunjuk dari allah, dan mereka mampu berpasrah dengan sepenuh hati. karena ketika kita berpasrah, maka Allah yang akan mencukupi semuanya. Seperti Arafka dan Meidina Shafa, bagaimana hebatnya kinerja ilahi yang telah membalik keadaan dan suasana hati sedemikian derajat, hanya dalam waktu yang singkat.


🌺🌺🌺🌺


Itulah sebuah fakta yang dijabarkan oleh ustadz Fadil, dan sepertinya kini Meidina harus mengakui kebenarannya. Karena ia tak menafikan apa yang diucapkan oleh teman-temannya, kalau selama dua hari ini, tak melihat sosok tampan Arafka, bahkan tak mendengar nama pemuda tampan itu disebut, ada rasa rindu yang mengusik di dalam da-da.


"Tulis surat, Ning, biar nanti aku yang akan menyampaikan ke Mas Rafka," kata Nabila menawarkan jasa.


"Memang yakin bisa ketemu mas Rafka?" tanya Davina. "Ini lho, calon istrinya sendiri tidak bisa ketemu, apalagi kamu," tambahnya lagi, yang membuat Nabila hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Apa mas rafka sedang menjalani riyadhoh sebelum akad ya," celetuk Zaskia penuh tanya.


"kalau pun itu benar, Ning, sekarang kan hari H, riyadhohnya pasti sudah selesai," sahut Nabila.


"Benar juga, kalau begitu telepon saja, Ning Adin," usul Zaskia.

__ADS_1


"saya gak tau nomornya, Ning," ujar Meidina.


"saya ada nomornya mas Rafka, saya sempat menyimpannya dulu ..." Zaskia kaget sendiri dengan ucapannya ini, ia bahkan segera memangkas ucapannya dengan cepat, dan menatap Meidina dengan tatapan yang tak nyaman. "I-itu, Ning, dulu, wak-waktu saya membantunya mendapatkan bukti rekaman dari Farah, saya lupa belum menghapus nomornya." Dan Zaskia segera meraih ponsel untuk mendelet nomor Arafka.


"Kenapa mau dihapus, Ning?" Meidina menatap lembut putri kyai Fadholi itu. "kalian kan masih kerabat, penting untuk saling tahu pada nomor ponsel masing-masing jika se-waktu-waktu dibutuhkan untuk berkomunikasi," lanjut gadis ayu itu lembut.


Zaskia terlihat menghela napas, seiring rasa lega yag menyeruak dalam da-da. "saya hanya kawatir kalau ..." lagi-lagi zaskia tak dapat melanjutkan ucapannya.


"Saya gak berpikiran apa-apa, kok,Ning. kalau mau membicarakan masa lalu, semua tahu saya juga punya, dan itu masih basah. tapi, saat kita memutuskan untuk hidup bersama seseorang, semua masa lalu itu akan menjadi pelajaran, bahkan juga tidak untuk dikenang. "


"Iya, Ning saya juga bertekad demikian ..." Zaskia pun berucap dengan senyum. "Tadi cuman ingin bantu, biar Ning Adin bisa menuntaskan rasa kangen," kata gadis cantik itu lagi.


"Iya, gimana caranya, ya." Nabila terlihat serius berpikir.


"Sudah, gak usah memikirkan hal itu. Nanti juga pasti ketemu," kata Meidina dengan senyum berbinar bahagia.


"Ciyee." Ketiga temannya itu pun semangat menyoraki. Sayangnya, euforia kebahagiaan mereka harus berakhir saat ada ketukan di pintu kamar.


"Ning, ka'dintoh abdhinah." Terdengar suara dari depan pintu.


Itu suara Nisa--mbak dhelem yang biasa menemani Meidina--gadis ayu itu segera beringsut untuk membuka pintu. Namun yang terpampang di depan wajahnya kini bukan Nisa, atau pun gadis berkerudung yang lain, tapi seraut wajah tampan rupawan, yang memberinya senyuman menawan.


"Mas ..." Meidina hampir tak percaya melihat penampakan tampan itu di depan mata.


"Assalamualaikum," sapa Arafka dengan salam.


"Waalaikumsalam warahmatulloh." Meidina menjawab dan lalu menunduk.


"Jangan menunduk, saya hanya ingin menatap wajahmu, sebentar," kata Arafka lembut.


Meidina terdongak, senyum indah Rafka menyambut tatap mata gadis ayu itu. Ada debar lembut terasa dalam da-da, membuat gadis ayu itu salah tingkah. Namun dengan segera ia mengajukan satu pertanyaan, demi untuk menutupi rasa gugup yang sebenarnya susah untuk disembunyikan.


"Ba-barusan saya dengar suara Nisa, tapi kok yang datang ..."

__ADS_1


"Itu." Arafka menunjuk meja kecil tak jauh di depan sana, ada seorang Nisa yang berdiri di dekat meja tersebut dengan kepala menunduk.


"Apa ini kunjungan ilegal, Mas?" tanya Meidina. Ia paham kalau mas Rafka yang yang sudah menyuruh Nisa mengetuk pintu untuk dirinya. Dari hal itu, bisa saja pemuda tampan itu mencuri waktu dan mencuri kesempatan untuk bisa bertemu dengan calon istrinya.


"Saya gak pernah bicara dengan mbak dhelem, atau santri putri yang lain, kecuali darurat, Ning," jawab Rafka sambil tersenyum.


"Lalu?"


"Saya minta izin pada aba untuk bertemu dengan mu, di sini. Jadi, Ini bukan kunjungan ilegal," kata Rafka lagi.


"Mohon ma'af, Mas." Meidina terlihat tak nyaman dengan itu semua.


"Gak papa, saya tahu kamu ingin hati-hati, dan terlebih saya."


Meidina mengangguk. Ia tak lagi sangsi kalau mas Rafka itu seorang yang selalu mengedepankan etika dalam setiap kesempatan. Denyut jantung Meidina terasa dahsyat lagi, kala Arafka memindai wajah ayunya dengan tatapan tanpa henti. Dan seperti barusan, gadis itu pun segera mencari topik pembicaraan, agar debur jantungnya yang bak genderang perang tak terdengar hingga keluar.


"Ajunan tadi pamit gimana pada syaikhona untuk menemui saya, Mas?"


"Berpamitan dengan jujur pada aba, untuk menemui kamu sebentar, karena saya kangen calon istri."


Dan kali ini, runtuh sudah pertahanan Meidina yang ingin menutup-nutupi debar-debar tak menentu dalam dadanya. Kalimat dari mas Rafka sukses membuat gadis itu menunduk dengan rona merah yang menghiasi kedua pipinya. Dan untuk sejenak ia bahkan tak bisa mendongakkan wajah. Hawa panas terasa menyelimuti tubuhnya, terutama di area wajah. Pemandangan seperti ini yang terlihat dari sang calon istri justru membuat pemuda tampan itu memandangnya betah. Hingga,


"Waktunya habis," kata Arafka, yang membuat Meidina menatapnya. "Saya cuma pamit selama lima menit kemari, saya harus amanah dengan ucapan saya sendiri," kata pemuda tampan itu lagi.


"Iya, Mas." Meidina mengangguk, ia sangat mendukung sikap konsisten dan konsekuen yang ditunjukkan oleh mas Rafka itu.


"Satu pertanyaan, Ning. Ikhlaskah untuk akad nikah kita nanti?"


"Iya, Mas. Insyaallah karena Allah."


"Alhamdulillah. Saya pamit ya, Assalamualaikum." Meidina masih memandangi pemuda itu yang sudah melangkah menjauh. Gadis ayu itu baru tersadar saat Nisa menghampiri.


"Ning, ajunan dipanggil bu nyai."

__ADS_1


"Iya, Mbak Nisa, makasih."


__ADS_2