Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
83 Diam Pertanda Setuju


__ADS_3

Pagi yang cerah.


Senyum terbit di bibirnya yang merekah. Senyum untuk petugas medis yang memeriksanya pagi ini. Meidina benar-benar sudah terlihat lebih baik dari pada kemarin. Saat para petugas itu pergi, Davina mendekati sahabatnya tersebut yang memilih duduk di sofa penunggu pasien, dengan alasan jenuh. Nabila dan Davina pun menuruti kemauannya, karena hanya ada mereka berdua saja di dalam ruangan. Ning Zaskia pergi untuk membeli camilan, sedangkan para pria yang diyakini belum beranjak sejak semalam, mereka memilih menunggu di kursi yang ada di depan kamar


"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Davina.


"Aku sudah sembuh, sudah baikan," jawab Meidina, suaranya terdengar semangat, tapi raut wajahnya tak menunjukkan demikian.


"Alhamdulillah," ucap Davina.


"Tapi, kenapa kau lebih banyak diam dari tadi, apa yang kau pikirkan? Berceritalah pada kami," timpal Nabila


Meidina terlihat diam dan menghela napasnya. Namun, hanya sebatas itu, tak ada jawab dari bibir mungilnya tersebut.


"Apa ini tentang mas Rafka?" Tebak Nabila kemudian.


Meidina diam, tak mengelak dan tak mengiyakan, namun sejurus kemudian, sepasang matanya terlihat berkaca-kaca. Davina dan Nabila saling pandang.


"Aku ingin pulang sekarang ke yayasan. Rasanya, aku sudah sembuh, dan badanku sudah merasa enakan." Gadis ayu itu malah berkata hal lain, bukannya menjawab apa yang menjadi pertanyaan. Kalimat itu pun diucapkan dengan sedikit terbata-bata, seakan sambil menahan sesak di dalam dada. Dan menahan jatuhnya air mata.


Nabila dan Davina saling pandang, mereka paham, kalau banyak fakta yang telah memukul mental. Banyak hal tak terduga yang terjadi secara berturut-turut sejak kemarin malam. Semua hal itu, bagi mereka berdua saja sudah sangat terasa mengejutkan, apalagi bagi Meidina Shafa yang merupakan objek dari semua tujuan. Gadis itu pasti terkejut, kaget, dan mungkin juga terpukul. Wajar jika sampai kini ia masih banyak terdiam, dan sisi kelemahan jiwanya yang masih sering ia tampakkan, berupa tangisan.


Andai saja, Meidina mau terbuka dan membicarakan, beban jiwanya mungkin tak akan se-berat sekarang. Dua orang temannya itu juga akan selalu siap mendengarkan. Serta yang terpenting, apa yang menjadi keresahan hati Meidina, tak akan pernah mereka jadikan sebagai bahan olokan.


Akan tetapi, mereka juga paham, kalau sampai saat ini, Meidina masih memilih diam. Masalah perasaan memang susah-susah gampang. Terkadang dengan dibicarakan pun tak dapat mengurangi beban. Karenanya sebagian orang lebih memilih diam sebagai tindakan. Salah satunya mungkin, adalah Meidina Shafa sekarang.


"Aku akan sampaikan pada mas Rafka," kata Davina. Hanya pemuda itu yang punya hak memutuskan, apakah Meidina bisa pulang atau tidak sekarang. Sedangkan kalau menurut instruksi dokter barusan, gadis itu dianjurkan untuk menginap lagi barang semalam, agar kesehatannya pulih total.


"Apa kau ingin keluar ruangan untuk menghirup udara segar, Ning? Atau sekedar ngobrol-ngobrol ringan di luar ruangan?" tanya Nabila menawarkan.


Meidina menatap sahabatnya itu dengan tercengang, mungkin karena Nabila yang merubah panggilan. Meskipun tak sepenuhnya setuju, tapi untuk kali ini, ia tak ingin mempermasalahkan. Tubuh dan jiwanya ingin istirahat dari beberapa hal yang memungkinkan menjadi beban. "Tidak," jawab Meidina kemudian. "Kalau kalian ingin keluar, gak papa, aku di sini saja," imbuhnya lagi

__ADS_1


"Baiklah, kalau kau ingin sendiri, kami keluar dulu ya," kata Nabila sambil memberi isyarat pada Davina untuk keluar bersama.


"Kalau ada apa-apa, panggil kami," ujar Davina yang melangkah mengikuti Nabila untuk keluar dari ruangan rawat itu.


Di luar ruangan itu sendiri, terlihat Zaskia yang baru datang dengan menenteng tas kresek besar berisi macam-macam makanan ringan, yang ingin ia nikmati bersama teman-temannya di dalam. Azmi melangkah tak jauh di sampingnya seraya menscrol layar ponsel di tangan, pemuda itu memang pergi mengantarkan Zaskia yang ingin belanja di super market seberang jalan.


"Itu untuk kami, Ning?" Nizam menunjuk isi tas plastik di tangan putri kyai Fadholi itu.


"Sebagian kecil," sahut Zaskia.


"Sebagian besarnya?" tanya Nizam lagi.


"Untuk teman-teman saya di dalam," sahutnya sambil tertawa ringan.


"Berarti, Azmi pun gak kebagian juga," timpal ustadz Fadil.


"Bagian saya yang paling besar, Ustadz," celetuk Azmi.


"Apa itu?" Zaskia dan Nizam pun hampir berbarengan bertanya.


"Mas Rafka, boleh saya bicara?" Kata Zaskia ke arah pemuda itu.


"Iya, ada apa, Ning?" Tanyanya.


"Mas Rafka tidak ingin memanggil saya adik, kita kan masih kerabat?" Zaskia bertanya dengan senyum, seperti tak ada lagi kesan canggung akibat menanggung beban rasa yang terpendam seperti beberapa saat yang lalu.


Arafka tersenyum ke arah gadis cantik itu. Memang apa yang diucapkan oleh Zaskia barusan itu benar. Kyai Fadholi memang adalah saudara sepupu kyai Abdullah Umar Hasyim, ayahanda Arafka.


"Saya minta maaf, Mas Rafka. Selama ini saya telah salah. Salah menempatkan perasaan," kata gadis cantik itu sejurus kemudian dengan wajah tertunduk.


"Semua sudah berlalu 'kan?" Jawaban Arafka berupa sebentuk pertanyaan yang mendapatkan anggukan pasti dari Zaskia Ariva.

__ADS_1


"Iya, Mas."


"Lalu untuk apa diingat lagi? Pertanyaannya sekarang, kapan aku akan memanggil adik ipar pada Mas Azmi?"


"Ee." Ditanya demikian, sejenak Zaskia terlihat salah tingkah. "Kalau untuk hal itu, tanya pada mas Azmi langsung, Mas Rafka," ujarnya kemudian, seraya melirik Vocalis tampan Albadar yang berdiri di sampingnya itu.


"Itu sebuah kode," celetuk Nizam.


"Bagaimana, Mas Azmi?" Tanya Rafka cepat.


"Saya 'kan harus mendapat persetujuan dari Ning Zaskia dulu, sebelum bicara pada kyai Fadholi," jawab Azmi. Ia melemparkan balik umpan yang dilempar oleh Zaskia terhadapnya. Cerdas juga cara Azmi ingin memperoleh jawaban dari gadis itu. Jawaban dari banyak isyarat yang telah ia tunjukkan sejauh ini. Ia yakin tanpa dibicarakan sscara lugas pun, putri kyai Fadholi itu pasti sudah paham, apa makna dari setiap isyarat yang selama ini ia berikan.


"Ayo, apa jawaban Ning Zaskia sekarang?" Nizam berperan untuk semakin memperjelas hubungan keduanya sekarang. Supaya segera dijelaskan, jangan lagi ada penundaan.


Zaskia terlihat diam. Untuk beberapa jenak masih diam. Saat itulah terlihat Davina dan Nabila keluar dari ruangan dan menghampiri mereka semua.


"Loh kok malah diam," kata ustadz Fadil pada Zaskia yang masih tetap diam. Sedangkan Azmi merasakan panas dingin menjalar ke seluruh badan, harap-harap cemas menantikan jawaban.


"Harus dijawab ya?" Zaskia malah balik tanya.


"Iya." Semua menjawab serempak, kecuali Rafka dan Azmi yang sama-sama diam.


"Katanya, Assukutu yadullu ala na'am," kata gadis itu dalam sebentuk kata perumpamaan, namun maknanya sudah sangat paham. Lebih kurang arti dari kalimat berbahasa arab yang diucapkan oleh Zaskia barusan adalah, diam itu pertanda setuju. Pantas saja jika kemudian, mereka serempak mengucapkan kalimat syukur.


"Alhamdulillah."


Azmi sendiri terlihat menunduk, menggemakan selaksa syukur dalam jiwanya yang terdalam. Akhirnya segala harapan yang ia semai dalam doa, serta yang selalu berusaha untuk diikhlaskan, sekarang sudah mendapatkan restu dari-Nya, Sang Maha Cinta, dengan adanya persetujuan dari Zaskia Ariva.


Zaskia sendiri segera hendak pergi, setelah menitipkan kalimatnya ini. Tapi, dengan cepat Azmi menahan tangan gadis cantik itu. "Ning, matur nuwwun sanget," kata Azmi dengan tulus. Zaskia mengangguk, sesaat Azmi masih memandang wajah cantik yang sudah dikaguminya sejak pandangan pertama itu.


"Eit, belum halal," celetuk ustadz Fadil sambil memberi isyarat pada tangan Azmi yang menggenggam lembut tangan ning Zaskia. Keduanya serempak saling melepaskan, dan kompak juga saling berbalik badan. Hal mana membuat hadirnya tawa renyah dari teman-teman mereka yang lain. Untunglah pada saat itu Zaskia segera menemukan bahan pengalihan untuk dibicarakan, saat melihat Nabila dan Davina, sehingga ia terhindar dari rasa malu yang berkepanjangan.

__ADS_1


"Mbak Davina dan Mbak Nabila kok keluar? Mbak Meidina sendirian di dalam?"


"Iya, ada hal yang perlu kami sampaikan pada mas Rafka," sahut Nabila.


__ADS_2