
"Meidina, kamu tidak tanya, kenapa saya ada di sini sekarang?"
"Ee, mohon maaf Ra." Meidina berucap sopan. Dan gadis itu juga tak berani menebak, kenapa Ra Fattan datang. Karenanya setelah mengucap kata maaf, gadis itu kembali diam.
"Saya datang untuk menyaksikan kamu menerima penghargaan," ucap pemuda tampan itu, yang membuat Meidina tersentak. Bagaimana pemuda tampan itu bisa tahu kalau Meidina bakal jadi pemenang. Padahal ia ada berada jauh di sana. Di luar benua.
Dan melihat keterkejutan Meidina itu, Ra Fattan tertawa singkat. "Saya merasa yakin kalau kamu bakal menang. Sebuah keyakinan yang tak bisa dinafikan. Tapi, kedatangan saya kesini tidak untuk mendahului Allah, dengan ketentuannya." Kalimat ini ia ucapkan untuk meralat kalimatnya yang awal. Yang ia ucapkan dengan maksud bercanda untuk Meidina Shafa.
Meidina terssnyum, karena ia paham apa maksud Ra Fattan. Meski ia yakin kalau orang tersayangnya akan jadi pemenang. Tidak serta merta ia mendahului Tuhan dengan keputusan yang telah ditetapkan.
Lalu karena apakah, Ra Fattan tiba-tiba datang ke Al-Hasyimi?
"Saya mendampingi guru saya untuk mengisi kuliah umum, di sini besok."
"Alhamdulillah," ucap Meidina senang.
"Suatu anugerah," lanjut Ra Fattan. Karena tiba-tiba saja dia yang terpilih untuk mendampingi sang guru besar ke Al-Hasyimi, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Bukankah ini sebuah anugerah? Karena di sana ia bukan hanya bisa sowan pada Syaikhona, dan bertemu dengan teman-temannya. Terlebih lagi bisa bertemu dengan seseorang yang diharap sebagai tulang rusuknya, yaitu Meidina Shafa. Sengaja ia tak memberitahukan pada gadis itu sebagai kejutan terindah.
Hadir seorang pemuda sebaya Rayyan Ali Fattan ke tempat itu, dan dengan raut tergesa dia segera mengatakan, "Ali Fattan, Yattashilu bika Almu'allimu Al'ana fii Manziili adziem."
Dia berbicara dengan bahasa arab.
Rayyan Ali Fattan mengangguk sigap. "Syukron, Tamam."
"Maa dzaa Taf'alu huna bil wuruudi?" lanjut tanya rekan Ra Fattan yang sama-sama datang dari Mesir mendampingi sang guru besar itu.
"Athliqu asysyauqi lisyahsin Asbaha Syi'rii," sahut Ra Fattan sambil tersenyum dan sedikit mencuri tatap pada Meidina Shafa. Gadis ayu itu langsung menunduk dengan wajah merah.
"Ayyu Waahidin Minhum?" tanya Teman Ra Fattan itu setelah sebelumnya sempat menunjukkan ekspresi kagetnya.
"Lahaa husnul Wajhi, yurooniyu alkawakibi," jawab Ra Fattan lagi.
"Subhanallah," seloroh temannya itu, mendengar pujian tinggi yang diungkap Ra Fattan untuk sang kekasih hati. Pemuda tampan itu kemudian pamit dengan isyarat singkat, yang segera diikuti oleh temannya tersebut.
Sungguh indah pujian yang diberikan oleh Ra Fattan untuk Meidina Shafa. Yang menandakan betapa indah pula posisi gadis itu di dalam hatinya.
__ADS_1
Percakapan Rayyan ali Fattan dengan temannya itu bila diterjemahkan, lebih kurang artinya demikian.
"Ali Fattan, guru memanggilmu sekarang di dhelem kyai."
"Baiklah, terima kasih."
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, bersama bunga-bunga ini?" Itu pertanyaan teman Ra Fattan, setelah ia menyampaikan kepentingan.
"Aku sedang melepas rindu dengan seseorang yang selama ini sudah menjadi bait-bait syairku." Begitu jawaban Ra Fattan sambil mencuri tatap pada Meidina Shafa.
"Yang mana?" tanya temannya penasaran. Karena di sana ada empat orang gadis cantik yang sama-sama memesonakan mata.
Dan jawaban Ra Fattan adalah, "Dia Yang kecantikan wajahnya menyaingi bintang-bintang."
Maka temannya itupun memuji Allah atas pujian Ra Fattan untuk Meidina tersebut.
Dan tak hanya dia. Nabila, Davina dan Zaskia juga sempat saling tatap dan saling senyum dengan perumpamaan indah yang diberikan oleh Ra Fattan untuk yang tersayang.
Sementara Meidina, sepeninggalan Ra Fattan bersama temannya itu, ia masih menatap ke satu arah yang telah menelan tubuh gagah Ra Fattan dengan jarak, hingga menghalangi pandangan. Terasa ada yang hilang, terasa ada yang patah dalam dirinya. Entah apa. Hingga ia masih diam dan enggan beralih pandangan. Davina juga diam. Keduanya seakan sama-sama terbang di jalur yang berbeda, yang melahirkan anggapan, kalau kehadiran putra mahkota Darul-Ulum itu, sama-sama telah mengukir kesan di hati keduanya, kesan yang berbeda. Tapi, sama dalamnya.
Semuanya menyambut dengan senyum ajakan Davina, termasuk Meidina Shafa, dapat mereka bayangkan betapa indahnya perjalanan, dengan dipayungi cahaya rembulan.
Setiba di gerbang besar Alhasyimi pusat, yang di kanan kirinya terdapat pos jaga, langkah mereka dicegat oleh seoarang lelaki berkopyah putih, yang nampak santun dengan ucapan salamnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warohmatullahi." Mereka menjawab serempak. Lalu berdiri sigap, seakan siap menerima titah. Bagaimana tidak, lelaki yang menghampiri mereka saat ini adalah ustadz Rahman, ustadz kepercayaan pengasuh besar Alhasyimi.
Seperti yang sudah diketahui bersama, setiap kedatangan ustadz Rahman secara formal, pasti ada kaitannya dengan titah syaikhona.
Dan benar saja, ustadz Rahman langsung berkata. "Ditimbali Syaikhona di Masjid raya, sekarang."
Ke-empat gadis cantik itu masih diam dan saling pandang. Karena seorang pengasuh besar, tiba-tiba saja berkenan memanggil mereka, yang dalam tanda kutip santri putri, pasti semuanya jadi heran dan masih saling mempertanyakan. Bahkan Zaskia masih menanyakan, untuk lebih memastikan. "Ee kami ...?"
"Iya, jennengan semua. Mari silakan." Ustadz Rahman mengajak sambil memberi isyarat tangan. Dia lalu berjalan di depan untuk memandu keempat siswi KM yang bersprestai itu untuk mengikutinya.
__ADS_1
Gerbang besar Alhasyimi memang pas berseberangan dengan gerbang masjid raya, yang hanya dibatasi oleh jalan umum saja.
Masjid raya Alhasyimi berdiri anggun dan megah, di tengah-tengah halaman yang luas. Begitu besarnya bangunan masjid itu, mengitari halamannya menuju samping masjid, membuat sepasang kaki cukup merasa pegal. Hal itu pun dirasakan oleh empat gadis tersebut. Karena memang ustadz Rahman membawa mereka ke bagian samping kanan masjid raya, yang terdapat tuju pintu di sana.
Tepat di pintu no 2 dari depan, sudah terdapat beberapa orang yang duduk di sana. Dan kabar baiknya, orang-orang itu sudah dikenal oleh Meidina dan kawan-kawannya. Dari ujung kanan, adalah ustadz Fadil, senior dan salah satu penanggung jawab Al Badar. Kemudian ustdaz Widad, tenaga pengajar di KM dan Ma Alhasyimi.
Dan agak ke depan dari keduanya, duduk KH Musthofa Tamimi, ketua pengurus pesantren. Dan di samping beliau, ada dua orang teman ustadz Rahman, orang-orang kepercayaan Sayikhona juga.
Kemudian agak ke samping dari keduanya, ada Azmi Khalidi dan Nizam Ali. Mereka semua duduk bersila dengan sopan, menampilkan kesan yang begitu formal, hal mana membuat ke empat gadis itu masih bertanya-tanya dalam hati, dan masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Silakan." Ustadz Rahman kembali memersilakan dengan isyarat tangan. Sebuah tata cara yang menujukkan tingkat kesopanan. Mereka dipersilakan duduk di bagian yang memang sudah disediakan.
Nabila sempat mencuri tatap pada ustdaz Widad, lelaki itu tersenyum menjawab tatap mata sang tunangan. Hal mana membuat Nabila merasa sedikit lega. Karena pasti, dia dan teman-temannya sudah merasa tegang melihat siapa saja yang ada di sana sekarang.
Mereka semua duduk, dengan menundukkan pandangan. Sama-sama menanti titah apa yang akan didapatkan dari pengasuh besar. Sementara dalam tiap diri, mulai berkecamuk aneka macam pemikiran. Bahkan juga ada rasa tegang.
Seperti Zaskia, dalam diamnya, hatinya merasa tegang, pikirannya tak menentu. Dalam dirinya terus bertanya-tanya, dan terbersit rasa takut juga. Membuatnya merasa akan ada peristiwa yang mungkin membuatnya tidak nyaman.
Lain halnya dengan Kanza Davina, gadis yang selalu berusaha untuk menyikapi sesuatu dengan tenang, sekalipun untuk hal yang paling menyakitkan itu, nampak berkali menghela napasnya. Ia sedang berusaha mencari celah untuk berpikir dan berprasangka positif saja. Gadis itu menganggap, akan ada kejutan lagi dengan dipanggilnya mereka oleh Syaikhona. Setelah kejutan pertama dengan dipilihnya Meidina Shafa sebagai juara, dan kejutan kedua dengan hadirnya Ra Fattan secara tiba-tiba.
"Semoga ini adalah kejutan ketiga yang menyenangkan di malam ini." Ia berbisik dengan harap dalam hati.
Lain pula dengan Meidina. Belum ada pikiran apa pun berupa kemungkinan-kemungkinan yang terlintas dalam benaknya. Gadis ayu itu masih belum tuntas memaknai semua hal yang ia dapat malam ini, dari mulai penobatannya sebagai juara, ditambah lagi pertemuan dengan orang tercinta, yang diketahui ada di luar negeri sana, tiba-tiba hadir di depan mata. Masih belum tuntas ia memaknai semua rasa, tiba-tiba datang titah, kalau mereka semua dipanggil oleh Syaikhona. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Suasana hening. Hening karena tak ada satupun di sana yang mau buka suara, hingga sekitar lima menit kemudian, ustad Rahman memberi isyarat, yang membuat mereka semua berdiri dengan serempak. Sebagai bentuk memberi hormat. Dari arah pintu dua masjid raya tersebut hadir pengasuh besar Alhasyimi. Beliau melangkah pelan seraya berpegangan pada lengan seorang pemuda tampan rupawan, Irfan Arafka Wafdan, yang melangkah jarak satu langkah di belakang beliau.
Kh Abdullah Umar Hasyim, pengasuh besar Alhasyimi itu memberi isyarat pada mereka semua yang berdiri untuk menyambut kehadirannya, untuk segera duduk kembali. Dan beliau pun mengambil posisi duduk sambil tetap berpegangan pada lengan Rafka, selanjutnya pemuda tampan itu hendak beringsut untuk duduk bersama teman-temannya. Akan tetapi,
"Duduklah di sini, Nak." Kyai pengasuh memberi isyarat pada pemuda itu untuk duduk di sampingnya. Arafka patuh, ia duduk di samping syaikhona namun agak belakang, tidak tepat berdampingan, ini adalah salah satu akhlak santri pada kyainya.
Apakah, yang akan menjadi titah syaikhona pada mereka semua? Apa itu kaitan dengan peristiwa pertengkaran Zaskia dan
Farah tentang Rafka, yang dipergoki beliau beberapa hari yang lalu? Ataukah tentang hal lain?
Next episode saja.
__ADS_1