
"Farah Adela?"
"Iya, benar, Ning," sahut Arafka.
"Dia bilang apa, Mas?" tanya Zaskia penuh rasa penasaran, dan hati yang mulai tak nyaman.
"Dia bilang, kalau dia tahu semua kejadian malam itu. Dia tahu kalau saya pingsan setelah minum juz yang diberikan oleh Masayu. Dan dia sempat merekam semua di ponselnya," terang Arafka, berdasarkan apa yang dikatakan oleh tamunya barusan.
"Itu bagus, itu bisa diajukan sebagai bukti," seloroh Nizam. Dan pasti yang lain juga berpendapat demikian. Namun, Azmi punya pemikiran lain.
"Apa dia jujur dengan ceritanya itu, Dek? Bagaimana dia bisa masuk ke studio alam pada jam seperti itu?" Dapat dipaham jika pemuda tampan itu meragukan. Karena memang kawasan studio alam Al-Badar itu steril dari semua santri Al-Hasyimi pusat atau cabang. Tarochlah Masayu bisa masuk, pada jam demikian itu karena gadis itu sengaja tidak keluar dari kawasan setelah menyaksikan acara harlah Al-Hasyimi pada malam itu.
Menurut pengakuannya, Masayu sengaja berpura-pura pulang lebih dulu ke cabang, sebelum acara usai, padahal sebenarnya ia bersembunyi sambil menunggu waktu yang tepat untuk menemui Arafka Wafdan. Di kawasan studio alam memang banyak space yang memungkinkan orang untuk melakukan persembunyian.
Jika Farah Adela itu, bisa berada di sana pada jam 2 dini hari, bukankah hal itu patut dipertanyakan. Dan akhirnya semua orang setuju dengan pola pikir Azmi Khalidi ini.
"Katanya, dia saat itu dapat tugas jaga malam di cabang. Dan ada santri yang melaporkan pada keamanan kalau Masayu tidak ada di wisma, dia curiga kalau Masayu masih ada di studio alam, makanya dia menyusul kesana," jelas Arafka, mengulang apa yang tadi diceritakan oleh Farah.
"Boleh juga alasannya. Tapi, apa dia mau memberikan bukti itu?" Lanjut Azmi.
"Iya, tapi tidak secara cuma-cuma."
"Dia mau berapa?" tanya Adli, karena yang ada dalam pikirannya saat ini kalau Farah itu menginginkan uang tebusan dari Arafka. Namun,
"Tidak dalam bentuk nominal."
"Lalu?" Dan hampir semua pun bertanya penasaran.
"Dia mau memberikan buktinya, asal saya janji untuk segera melamarnya," sahut Arafka.
"Yaa..." mereka hampir berdecak bersamaan.
"Ujung-ujungnya sama," kata Adli sambil terkekeh pelan.
"Gak enak juga jadi tokoh idola ya," celetuk Nabila, sambil tertawa. Ia yang dari semula hanya diam saja kini juga mengemukakan penilaiannya. Sedangkan Davina dan Madina terlihat diam saja, meski keduanya
Juga ikut memerhatikan semua pembicaraan mereka itu dengan seksama.
__ADS_1
Lain halnya dengan Zaskia, gadis cantik itu terlihat beberapa kali menahan napasnya. Ia jadi teringat dengan perbincangan singkatnya kemarin dengan Farah di aula Alhasyimi cabang.
-------------%%%---------
Saat itu, Zaskia baru saja mewakili sang ummi memberikan pengajian di kelas diniyah ibtidaiyyah tiga. Usai mengajar itu, putri bungsu kyai Fadholi tersebut mampir ke aula untuk sebuah keperluan. Saat di sana itulah ia mendengar suara Masayu mengatakan, "Minggir, calon istri Irfan Arafka Wafdan, mau lewat."
Terlihat Masayu melintas bersama dua orang teman dekatnya. Gadis itu tertawa lepas memperlihatkan kebahagiaan yang tiada beban. Selayaknya orang yang mengharap memeluk gunung, kini gunung itu sendiri yang mengecil dan rebah di pangkuan.
Melihat hal itu, Zaskia hanya menahan napas, guna menahan semua rasa kesal yang datang.
"Gayanya Masayu ya Ning, seolah-olah sudah ada di atas angin," celetuk seseorang yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya.
Zaskia menoleh. "Farah," sapanya.
Tak hirau dengan sapaan Zaskia, gadis yang bernama Farah Adela itu melanjutkan ucapannya. "Dia merasa menang, merasa benar, bisa mendapatkan Mas Rafka dengan jalan yang licik."
"Jalan yang licik, maksudnya?"
"Memfitnah, menjebak, apa itu bukan jalan yang licik namanya, Ning?" Lontar Farah dengan bersungut-sungut.
"Iya, lah Ning. Gak mungkin mas Rafka melakukan apa yang dituduhkan Masayu."
Zaskia tersenyum, mendapati kenyataan bahwa ternyata masih ada bahkan mungkin banyak yang percaya, kalau Arafka tidak sebagaimana kabar yang diberitakan. Namun senyum yang terbit di bibir ranum zaskia itu jadi pudar saat terdengar Farah mengatakan, "Masayu pikir dia sudah menang dalam kompetisi untuk mendapatkan mas Rafka? Tidak. Dia tidak akan pernah menang."
"Kompetisi? Apa maksudnya, kalian mengadakan kompetisi?" tanya Zaskia heran.
"Iya, para Fans garis keras mas Rafka di cabang, membuat kompetisi untuk mendapatkannya, Ning."
"Astaghfirloh." Zaskia sangat menyesalkan semua itu. Tak menyangka jika di antara santri yang mengidolakan Arafka sampai berbuat hal yang sejauh ini. Ini pesantren. Teriak Zaskia dalam hati. Sepertinya gadis itu harus segera melaporkan fenomena ini pada abahnya, agar tak terjadi apa yang di luar batas di sana.
"Dan Masayu menggunakan cara licik untuk mendapatkan Mas Rafka. Gak ada akhlak dia," maki Farah.
Zaskia cukup terkejut mendengarnya, dia tak menyangka kalau sudah seperti ini virus mengidolakan Arafka Wafdan di Alhasyimi cabang itu mewabah.
"Lihat saja ya, Ning. Masayu itu tidak akan pernah menang," kata Farah lagi.
"Kamu sangat yakin sekali, Farah," ujar Zaskia. Walaupun sebenarnya ia juga merasa senang jika Masayu kalah.
__ADS_1
"Iya, saya punya kartu truf untuk mengalahkannya, Ning. Besok 'kan ya batas waktu yang diberikan oleh kyai Fadholi untuk mas Rafka. Ning Zaskia lihat saja besok, siapa yang akan tampil jadi pemenang," kata Farah dengan penuh rasa percaya diri.
"Kartu Truf apa yang kamu maksud?"
Farah tak menjawab, dia hanya tersenyum dan segera berlalu dari samping Zaskia.
--------%%%---------
"Rupanya ini yang dimaksud kartu Truf oleh Farah, lihai dia," monolog Zaskia dalam hati, di akhir ingatan pada peristiwa perbincangannya kemarin dengan Farah Adela. Sedangkan tatapannya diam-diam berlabuh pada wajah tampan Irfan Arafka Wafdan.
"Rafka, kurasa tak ada salahnya kau terima tawaran dari Farah," ujar Adli, memecah keheningan yang sempat melanda.
"Mungkin ujung-ujungnya sama, bahwa kau harus menikah. Tapi bedanya, dengan Masayu kau menikah dengan menyandang aib, sedangkan dengan Farah, tidak," lanjut Adli, ada beberapa orang yang setuju dengan cara pikirnya ini.
"Iya, mungkin kau benar." Arafka terlihat mengangguk. "Tapi masalahnya, aku tidak ingin menikah dengan siapa pun di antara keduanya," lanjut pemuda itu dengan tegas.
Zaskia merasa senang mendengar jawaban ini. Gadis itu terlihat menarik napas lega.
"Tapi bagaimana kalau gak ada cara lain, Rafka. Mungkin memang takdirmu yang harus menikah di usia muda " Adli masih tetap bersikukuh dengan pemikirannya.
"Kau ini membuat kemungkinan yang lebih enak sedikit, kenapa," damprat Nizam, "kami saja yang lebih senior belum menikah, masa Dek Rafka sudah mau menikah duluan." Di ujung kalimatnya, Nizam jatuhnya curhat juga. Adli hanya terkekeh mendengarnya.
"Kalau memang jalannya udah kayak gitu, Mas. Coba masalah ini kita telaah bersama, semuanya berujung pada pernikahan. Mungkin memang dek Rafka itu harus segera menikah, biar tidak lagi diperebutkan." Azmi malah menyetujui pola pikir yang dikemukakan oleh Adli.
"Iya, Rafka. Gak ada salahnya kok menikah di usia muda," kata Adli pada temannya yang paling tampan itu.
"Iya memang gak ada salahnya, jika wanita yang akan dinikahi itu adalah wanita baik-baik," sahut Arafka.
"Artinya kau bersedia menikah muda, Rafka?" tanya Adli dengan terlonjak.
"Jangan mengalihkan masalah, Adli. Kau hanya membuatku tambah pusing," gerutu Arafka. Adli jadi tergelak.
"Saya bersedia membantu, Mas Rafka," ujar Zaskia tiba-tiba.
"Maksudnya, bersedia menikah dengan Rafka, Ning?" tanya Adli.
TET TOT
__ADS_1