
Suasana hening setelah sempat terdengar lirih bacaan Hamdalah dari Syaikhona. Semua diam menanti, kiranya hal apakah yang akan menjadi titah dari pengasuh besar Alhasyimi itu.
Saat berikutnya, KH Abdullah Umar Hasyim menatap ke jajaran gadis berkerudung yang duduk tak jauh di samping kiri.
"Yang mana, yang bernama Madina Shafa?"
Beliau bertanya dengan suara pelan, namun sangat jelas terdengar.
Sang empunya nama terdongak. Ia seperti tak siap, saat khitob pembicaraan kyai pangasuh itu adalah dirinya. Di samping itu ia juga heran dengan pertanyaan itu, mengingat beliau sendiri yang telah memberikan penghargaan kepadanya sebagai pemenang lomba hampir satu jam yang lalu. Keterdiaman Meidina atas rasa herannya itu, membuat ketiga rekannya memberi isyarat mengingatkan.
"Ee Dhalem." Meidina menjawab dengan bahasa yang santun walau dengan suara yang hampir tak kedengaran.
"Dapat juara satu barusan?" Itu kata tanya dari Syaikhona. Sebuah pertanyaan yang terucap bukan karena ketidaktahuan. Tapi sepertinya lebih pada sebuah isyarat, bahwa apa yang akan di sampaikan ada kaitannya dengan kemenangan yang diraih oleh Meidina Shafa.
"Inggih," sahut Meidina sopan.
"Pindah ke sini duduknya!" titah Syaikhona seraya menunjuk tempat yang lebih dekat dengan beliau.
Kembali Meidina Shafa kaget dengan hal ini hingga tak segera merespons titah dari syaikhona itu. Ustadz Rahman segera bangkit mempersilakan gadis yang terlihat masih ragu itu untuk berpindah duduk ke tempat yang lebih dekat dengan syaikhona, seperti permintaan beliau barusan pada Meidina.
Saat itulah, Zaskia terdongak mencuri pandang pada Arafka yang duduk sangat dekat dengan syaikhona. Dan ternyata pemuda tampan itu sedang melabuhkan tatapan sepenuhnya pada Meidina yang kini telah berpindah duduk lebih dekat dengan syaikhona.
"Alhamdulillah, banyak bersyukur, Nak. Banyak bersyukur," tuntun kyai pengasuh pada gadis ayu di dekatnya itu.
Meidina mengangguk dan segera melafadzkan syukur dalam kalbu diserta dengan rasa haru. Pasalnya kata "nak" yang digunakan oleh kyai pengasuh ke arahnya itu, sungguh terasa sangat menyejukkan jiwa.
Sejenak beliau tak berkata apa-apa lagi. Dan yang lain pun diam menanti. Mereka kini memahami, bahwa mungkin ada hal penting yang akan disampaikan oleh beliau terhadap Meidina. Mengingat gadis itulah yang dipanggil untuk mendekat. Lalu hal apakah itu. Suasana hening sesaat itu membuka kesempatan buat mereka untuk mulai berspekulasi, sebelum kemudian Syaikhona menglarifikasi setiap dugaan mereka dengan ucapan beliau yang tegas dan hati-hati.
"Kemarin, bersama kyai Fadholi dan kyai Mushtofa ..." Beliau memangkas ucapannya Sejenak untuk menunjuk dengan isyarat tangan pada kyai Mushtofa Tamimi, yang terlihat mengangguk sopan. "Kami pergi silaturrahim pada Kyai Muhajir di Darul-Ulum Jember," lanjut beliau.
Mendengar hal itu, nampak Davina terdongak mencuri pandang pada Meidina yang tetap menunduk.
__ADS_1
"Dengan diantar oleh Kyai Muhajir, kami bersilaturrahim ke rumah orang tua Madina Shafa," kata beliau lagi. Semua kalimat yang diucapkan oleh beliau itu tidaklah tertuju pada satu orang, melainkan kepada semua yang ada di sana. Namun, kini hampir semua pandangan yang hadir tertuju pada Meidina Shafa, menyusul apa yang disampaikan oleh syaikhona barusan.
Mereka semua hampir satu dalam pertanyaan. Kiranya ada apakah beliau yang mulia sudi berkunjung ke rumah Meidina Shafa? Untuk orang mulia sekaliber kyai pengasuh besar yang memiliki ribuan santri seperti beliau, bisa dipastikan kalau dalam setiap tindakan, ada makna yang terpendam, pun setiap kunjungan, ada maksud yang tersimpan. Lalu apa?
Sedangkan Meidina sendiri, ia memilih jalan aman. Dari pada menebak-nebak dan bertanya-tanya, ia anggap kunjungan kyai pengasuh ke rumahnya itu sebagai anugerah besar yang patut disyukuri. Beliau yang mulia berkenan mengunjungi gubugnya yang kecil dan terpencil dengan tipe 3S pula (sangat sederhana sekali). Ia hanya berharap, dirinya dan keluarganya akan mendapat berkah, dari kunjungan kyai yang dipercaya sebagai orang yang dekat dengan tuhannya.
"Madina Shafa." Dan kali ini, KH Abdullah Umar Hasyim hanya mengarahkan pembicaraan pada Meidina saja.
"Dhalem." Meidina menjawab santun.
"Kedatanganku ke rumahmu, di samping untuk silaturrahim, kami juga bermaksud menyampaikan khitbah untukmu."
Meidina Shafa merasakan napasnya bagai tersumbat mendengat kalimat yang hanya ditujukan kepadanya itu. Dan mendadak tubuhnya seperti gemetar, detak jantungnya terasa kian cepat dan tak beraturan. Sesaat kemudian keringat dingin pun bercucuran.
Khitbah, kalimat berbahasa arab yang mempunyai arti pinangan, atau lamaran. Semua pasti sudah paham dengan hal tersebut. Hingga kini tampak mereka saling pandang heran, dan saling tanya dalam diam.
Kanza Davina bahkan terdongak, memberanikan diri menatap pada Syaikhona. Sekedar mencari keyakinan di balik apa yang telah disampaikan oleh beliau itu, apakah benar atau tidak. Namun, Davina tak menemukan apa-apa selain rasa takdzim ketika melihat wajah tenang itu, yang seperti memancarkan cahaya keagungan yang menyilaukan. Gadis manis itu pun kembali menunduk.
Maka, untuk siapakah kyai pengasuh besar meminang Meidina Shafa?
Dimulai dari Kyai Muhajir, sudah jelas disebutkan oleh syaikhona barusan kalau beliau adalah sebagai pengantar saja ke rumah Meidina, di samping jarak rumah Meidina yang tak terlalu jauh dari pesantren Darul-Ulum, gadis ayu itu juga sebagai pengajar di pesantren milik kyai Muhajir tersebut. Jadi sudah bisa dipastikan kalau khitbah itu tidak dalam lingkup keluarga kyai Muhajir. (Padahal putra kyai Muhajir, Rayyan Ali Fattan, saat ini ada janji kasih dengan Meidina Shafa)
Kyai yang kedua adalah kyai Fadholi, pemangku Alhasyimi cabang. Beliau mempunyai seorang putera, Ahmad Ali Fadhlan, dan seorang putri, Zaskia Ariva, teman Meidina sendiri di KM.
Putra kyai Fadholi itu memang masih sendiri dan belum punya istri.
Akan Tapi kalau memang pinangan untuk Meidina itu buat Ali Fadlan, seharusnya sebagai adik, Zaskia tahu akan hal tersebut. Malah Kenyataan yang Zaskia ketahui, kalau kakaknya itu sudah ada janji kasih dengan putri Kyai Hamdi Umar--adiknya kyai Pengasuh besar--yang mana hal tersebut sudah dimafhumi oleh seluruh keluarga. Mereka hanya sedang menunggu putra dan putri mereka itu lulus S2 dulu, sebelum melaju ke jenjang akad nikah.
Jadi, sudah bisa dipastikan kalau pinangan itu tidak dalam lingkup keluarga kyai Fadholi.
Ketiga, kyai Musthofa Tamimi. Beliau malah tidak dikaruniai anak laki-laki. Ketiga putri-putri beliau adalah gadis-gadis cantik yang tumbuh berkiprah menjadi putri-putri berprestasi di dalam lingkup pendidikan di Alhasyimi.
__ADS_1
Apalagi Syaikhona sendiri, Kyai Abdullah Umar Hasyim. Putri pertama beliau Ning Karimah, sudah menikah dengan seorang kyai muda yang memiliki pesantren besar di Madura. Dan Ning Karimah menjadi seorang First lady di sana.
Putra kedua syaikhona yang diketahui sebagai putra terakhir adalah Ahmad Izzatil Fanani, putra mahkota Alhasyimi itu sudah menikah dengan putri gurunya di Makkah, sekitar satu tahun yang lalu, dan sekarang pasangan muda tersebut masih tinggal di sana, untuk memperdalam ilmu bersama-sama.
Maka, tak ada celah untuk berspekulasi jika pinangan itu adalah untuk keluarga para kyai yang datang berkunjung ke rumah Meidina. Kecuali bila dengan sedikit miris berpikir bila khitbah pada Meidina itu adalah untuk diri salah satu kyai yang hadir. Tapi, rasanya dugaan ini, seperti terlalu dipaksakan. Karena di seluruh kalangan keluarga para masyayikh Alhasyimi tak ada yang taaddud Zauji, atau beristri lebih dari satu.
Apalagi syaikhona sendiri yang sepertinya enggan untuk membicarakan hukum halal bersyarat dalam islam itu.
Lalu, untuk siapakah pinangan tersebut?
Diamnya syaikhona setelah menyampaikan kata khitbah itu, seakan sengaja membiarkan semua yang hadir untuk berspekulasi dan ber-opini dengan diri sendiri. Dalam pada itu, beliau tak mengarahkan tatapan pada siapa pun, sementara tasbih kecil di tangannya tetap bergerak-gerak tiada henti. Ketegangan pun makin menjadi.
Sementara Meidina Shafa, rasanya seluruh tubuhnya sudah bermandi keringat dingin dari tadi. Namun ia tetap memilih diam menanti. Menanti apa yang akan disampaikan oleh Syaikhona setelah ini. Ia terus mencoba untuk tenang, kendati detak jantungnya bak sebuah bahan peledak aktif yang sebentar lagi akan mengguncang semua yang ada.
"Ndok Meidina." Kali ini kyai pengasuh memanggil gadis ayu itu dengan sebutan lebih akrab, bak seorang ayah pada anak, yang mematikan anggapan kalau kemungkinan lamaran itu adalah untuk beliau sendiri atau pun kedua kyai yang lain.
"Aku mengkhitbah kamu, buat anakku, Irfan Arafka Wafdan."
Sangat jelas kalimat itu. Sangat mantap diucapkan oleh Syaikhona. Tegas, meski tanpa penekanan kata. Kalimat yang merupakan kekuatan besar yang mampu menarik kepala Meidina untuk terdongak, dan menatap wajah agung sang kyai sepuh itu bagai tak percaya. Namun beliau tak mengulangi kalimatnya lagi, untuk meyakinkan Meidina dan semua yang sudah mendengarnya. Mereka semua yang kembali dibuat terkejut yang luar biasa.
Ustdaz Widad dan ustadz Fadil setelah sempat saling tatap heran, mereka lalu sama-sama mengalihkan pandangan Arafka yang duduk tak jauh dari Syaikhona.
Pemuda berparas rupawan itu nampak tenang dalam diam. Tak ada ekspresi apapun yang dapat terbaca darinya. Tak ada perubahan pada paras wajahnya dari sejak pertama ia datang. Pemuda itu seperti sudah siap untuk mendengar berita ini, sehingga tak tampak ada kekagetan. Hal itu terlihat dari tatapannya yang lurus dan tak mengarah pada siapa-siapa.
Sedangkan Kanza Davina, ia sampai mencengkram tangan Nabila karena begitu tak percaya dan terkesima atas apa yang sudah didengarnya. Bahkan gadis itu sampai menyalahkan pendengarannya sendiri yang seolah-olah tak mampu lagi berfungsi dengan baik. Gadis itu merasa salah dengar, dan salah dengar.
Nabila juga tak kalah kagetnya, ia sampai berkali-kali menatap uztadz Widad dengan isyarat minta penjelasan. Tapi yang ditatap juga merasakan keterkejutan yang sama dan juga merasa tak tahu apa-apa.
Lain halnya dengan Zaskia Ariva, gadis itu
Sudah mafhum dengan titah kyai pengasuh yang ssngat dihormatinya. Baginya semua sudah jelas. Kyai Abdulloh Umar Hasyim dalam memberi keputusan, tak pernah mengulang kalimatnya dua kali. Namun, tak ada siapa pun yang dapat merubah setiap keputusan yang ia buat.
__ADS_1
Air mata Zaskia pun jatuh berlinang, manakala menyadari ini yang terjadi. Ini akhir dari pengharapannya terhadap pemilik wajah tampan yang namanya selalu ia langitkan. Ini akhir dari setiap doa dalam sebentuk pinta untuk Irfan Arafka Wafdan.
Rasa perih tiba-tiba dirasakan oleh gadis itu hingga rasanya menusuk tulang. Namun, dengan sekuat tenaga, ia berusaha untuk kuasai dirinya. Berusaha tetap tenang walau rasanya seperti ditusuk ribuan pisau.