
Penanda waktu sudah menuju angka 8 lewat, Meidina belum menyentuh makanannya, karena masih merasa kenyang setelah banyak minum air mineral barusan. Belum ada satupun dari mereka yang beranjak hendak meninggalkan ruangan, meski barusan ustad Fadil sudah berpamitan bersama Nizam hendak kembali ke Alhasyimi. Mereka masih terlibat perbincangan tentang Al-Badar yang dalam beberapa waktu ke depan akan mengeluarkan Album baru dalam rangka menyambut datangnya bulan ramadhan.
"Assalamualaikum." Terdengar ucapan salam dari arah pintu ruangan yang memang dibiarkan terbuka, bersama munculnya ustadz Rahman dan ustadz Ghufron. Dua orang ustadz kepercayaan syaikhona itu tersenyum kepada mereka semua, namun mereka tidak masuk apalagi duduk, mereka justru hanya berdiri saling berhadapan di depan pintu, seperti tengah menanti kedatangan seseorang atau sesuatu.
Semua yang ada di sana sudah mafhum pada kedua orang ustadz kepercayaan syaikhona ini, yang mana tiap kedatangan mereka pasti selalu ada kaitannya dengan pengasuh besar YPPI Al hasyimi, apalagi dengan cara keduanya berdiri yang saling berhadapan seperti menanti hadirnya seseorang yang akan lewat di hadapan. Melihat hal ini, mereka semua yang ada di sana segera serempak berdiri. Dan tatkala melihat semua yang duduk di sofa itu berdiri, Zaskia dan Nabila serta Davina yang semula duduk di dekat Meidina juga ikut berdiri.
Dan benar saja, dengan tanpa terduga, Kyai Abdullah Umar Hasyim--pengasuh besar Al hasyimi--hadir di ruangan itu, beliau bahkan bersama dengan bu Nyai Syarifah yang melangkah tepat di samping syaikhona. Melihat kehadiran beliau, semuanya pun serempak menghampiri dan menyalami beliau secara berganti-ganti.
Arafka berdiri paling belakang, ia membiarkan para seniornya itu dulu untuk menyalami syaikhona. Hingga tiba pada gilirannya, pemuda itu tak hanya menyalami syaikhona tapi juga terhadap nyai Syarifah. istri syaikhona itu langsung berkata kepada Rafka, "Abamu baru saja datang, Nak. Beliau langsung mengajak kemari setelah di beritahu."
Memang dikabarkan kalau selama dua hari ini kyai pengasuh sedang bepergian ke Serang-Banten, menemui salah satu kerabat beliau yang adalah pengasuh pondok pesantren terkemuka di sana. Nyai Syarifah memberitahukan hal tersebut pada Arafka dengan menggunakan kata 'Abamu' yang menandakan kalau kedekatan Rafka bukan hanya dengan Syikhona tapi juga dengan bu nyai Syarifah. Dan dari kata 'Aba' yang disebutkan oleh istri kyai pengasuh itu, menandakan betapa beliau berdua itu sudah menganggap Arafka bagaikan putranya sendiri. Demikian pasti yang dipikirkan oleh mereka semua.
"Kenapa idak istirahat dulu?" Demikian sahut Arafka, meski ia ucapkan dengan suara pelan, dan kepala menunduk karena begitu sungkan untuk menatap wajah yang sangat ia hormati itu, tapi perkataan Arafka barusan menandakan kalau ia mempertanyakan, kenapa syaikhona langsung datang dan tidak istirahat lebih dulu setelah dari perjalanan.
Bukankah itu menandakan kalau pengasuh besar Al hasyimi itu begitu perhatian kepadanya, sehingga beliau langsung rawuh ke rumah sakit walaupun masih dalam kondisi yang sangat lelah, setelah perjalanan jauh itu. Seharusnya Rafka senang dan bersyukur dengan hal itu, bukannya malah terlihat menyesalkan begitu.
"Gak apa-apa, Nak." Kyai pengasuh ,malah mengusap-usap pundak si tampan ini degan lembut. bahkan, "Di mana tunanganmu?" tanya beliau, bukan karena tidak tahu atau tidak melihat pada Meidina Shafa, tapi lebih pada sebuah isyarat, agar pemuda itu mengkuti beliau untuk mendekat ke ranjang rumah sakit yang ditiduri oleh Meidina.
__ADS_1
Saat kyai dan bu nyai menghampiri Meidina yang sedang duduk menyandar pada kepala ranjang rumah sakit yang berkasur sangat empuk, gadis ayu itu terlihat gugup. Ia tak menyangka sama sekali, bakal dikunjungi oleh pengasuh besar Alhasyimi beserta nyai. Namun gadis itu segera bersalaman dengan hormat pada Nyai Syarifah. Selanjutnya bu Nyai duduk di tepi ranjang itu, mengambil posisi yang sangat dekat dengan Meidina. Sedangkan Kyai duduk di kursi samping ranjang yang diambilkan oleh Arafka barusan.
"Mulai kapan kamu sakit, Nak?" demikian tanya syikhona seraya menatap pada gadis itu dalam-dalam, seakan sedang menilai atau menelaah gadis yang ada di depannya itu. Beliau juga menyebut Meidina dengan kata 'Nak' sama seperti terhadap Arafka.
"Sampun dua hari yang lalu," sahut Meidina dengan kepala yang enggan untuk mendongak. jangankan Meidina Shafa yang memang berhadapan langsung dengan kyai, yang tak akan berani untuk mendongak, semua yang lain saja, yang ada di sana, juga sama-sama berdiri dengan menunduk sembari melipat tangan sopan, dan tak berani mengangkat wajah sama sekali, sebagaimana akhlak yang diterapkan oleh para santri pada sosok kyainya, utamanya di pesantren salaf (terkhusus di daerah Jember, tanah kelahiran penulis. kalau di daerah lain, kurang tahu pasti)
Memang benar, sudah dua hari Meidina sakit di wisma, tapi menolak untuk di bawa ke dokter, ia hanya minum obat yang dijual secara umum saja di Kopontren yayasan. Kalau saja pada waktu menghadiri undangan kyai Sholih dan Nyai Wardah, ia tidak bertemu dengan rombongan Al-Badar, yang di mana ada Arafka, ia pun pasti juga tetap menolak untuk dibawa ke dokter. Karena merasa hanya panas dan pusing biasa.
Padahal ternyata sakitnya itu cukup serius, panasnya sangat tinggi sampai tiba pada tahap step. Untunglah tunangannya sigap, memutuskan untuk dirawat. Jika tidak, mungkin perkembangannya tak akan secepat ini. Ditambah lagi dengan fasilitas perawatan dengan kelas terbaik, maka lebih dari dua puluh empat jam, keadaannya sudah berangsur membaik sekiar 60 % seperti sekarang.
Hal tersebut dijelaskan secara rinci oleh ustadz Widad kepada syaikhona dan Nyai Syarifah, selaku dia yang mengetahui semua kejadiannya. Dan ustadz Widad juga yang memohon perijinan Meidina dirawat pada pihak yayasan maupun sekretariat kulliyatul-muallimin. Sementara baik Meidina Shafa maupun Arafka sama-sama diam saja di saat ustdaz Widad memberikan semua penjelasan itu secara lengkap dan dengan bahasa yang santun. Karena memang itulah hal yang sebenarnya terjadi. Di samping itu ustadz Widad juga takut dianggap menyalahi aturan yayasan di hadapan Syaikhona pengasuh besar.
Bu nya Syarifah mengusap-usap tangan gadis ayu itu seraya bertanya, "Sekarang bagaimana keadaanmu, Nak?"
"Sudah cukup baik."
"Masih pusing?"
__ADS_1
"Iya, sedikit."
"Kalau panasnya bagaimana?"
"Sudah tidak lagi."
"Alhamdulillah. tapi, itu makanannya kenapa belum dimakan?" Bu nyai menunjuk menu makan malam Meidina Shafa yang memang belum disentuh sama sekali. Meidina hanya tersenyum, tidak tau harus menjawab apa.
"Makan ya, Nak. biar kesehatanmu cepat pulih, makanan ini sudah memenuhi standart gizi dan vitamin yang kau butuhkan." Nyai Syarifah segera hendak mengambil makanan yang tertututup dengan steril itu, tapi Nabila dengan cepat, mengambilkannya dan menyerahkan dengan sopan.
"Makan ya, Nak, biar umi suapi," kata bu Nyai dan segera membuka tutup makanan di tangannya. Meidina Shafa nampak terhenyak, bahkan begitu pula dengan yang lain. bukan saja karena bu nyai yang kasokan atau berkenan untuk menyuapi Meidin Shafa, tapi karena beliau menyebut dirinya sendiri dengan kata 'Umi' yang berarti mengarahkan Meidina untuk memanggilnya demikian.
"Iya, Nak, umimu benar, sebaiknya kamu makan dulu." Dan Syaikhona juga ikut menegaskan hal itu dengan dawuhnya.
Selanjutnya mereka semua melihat betapa lembut dan penuh kasihnya bu nyai menyuapi Meidina Shafa, bak seorang ibu terhadap putri kandungnya. Semunya pun memiliki penilaiannya masing-masing atas hal itu, yang semuanya bermuara pada satu hal yang sama, yaitu betapa kasihnya syaikhona dan Nyai Syarifah pada Rafka, bak putranya sendiri, sehigga Meidina Shafa yang menjadi calon istri Rafka pun turut mendapatkan kasih sayang itu. Sungguh beruntungnya mereka berdua. Demikianlah yang mereka rasakan.
Bahkan sebagian dari mereka ada yang menatap ke arah Arafka yang berdiri di dekat syaikhona itu, termasuk Zaskia ariva. Ia ingin tahu bagaimana reaksi pemuda tampan itu atas hal tersebut. Yang Pastinya ia merasa senang dan bangga.
__ADS_1
Ternyata, wajah tampan Rafka tak memerlihatkan kebahagiaan dan kebanggan berlebih seperti yang mereka duga. raut wajah itu terlihat biasa saja, ia hanya menatap semua itu dengan diamnya, dengan wajahnya yang tetap tampak tenang, tak meriakkan kekagetan dan kebahagiaan. Dan hal itu cukup mengherankan. Namun untuk saat ini, tak ada yang berani mempertanyakan. Sementara Meidina Shafa sendiri meskipun awalnya ia nampak canggung, tapi akhirnya ia pun menerima semua itu dengan senang hati, sebagai sebuah anugerah. Anugerah dari Allah untuknya.
Next ya