
"Saya bersedia untuk menikah, menjadi istri, dan menjadi bagian hidup Irfan Arafka Wafdan." Meidina memilih kalimat yang sama sebagai jawaban, dari kalimat yang digunakan oleh syaikhona sebagai pertanyaan. Di sana seolah ingin menunjukkan bahwa tak ada satu pun dari kalimat itu yang tak disetujui oleh Meidina Shafa. Bahwa dia tak hanya bersedia menjadi seorang istri, tapi juga menjadi bagian dari hidup Arafka.
Kemudian.
"Alhamdulillahirobbil'alamin."
Serentak kalimat syukur menggema di dalam ruangan itu, kalimat syukur yang terucap dari segenap yang ada di dalam ruangan. Dari semuanya, tanpa terkecuali. Meski pun ada sebagian dari mereka yang hanya mengucapkannya di dalam hati. Dan di bagian ini, mungkin adalah syaikhona dan bu nyai. Karena beliau berdua hanya terlihat saling pandang, dan saling melempar senyuman. Jelas, dari interaksi singkat yang terlihat, kalau keduanya sama-sama merasa senang dan bahagia dengan jawaban dari Meidina Shafa.
Dan ada juga, yang kendati pun juga mengucapkan syukur, namun dalam hati belum sepenuhnya percaya. Dan di bagian ini adalah Kanza Davina. Ia masih perlu beberapa waktu untuk meyakini apa yang didengarnya, kalau hal ini memang merupakan jawaban dari Meidina Shafa.
Davina bahkan masih mempertanyakan dalam dirinya, atas hal apa, Meidina menjawab demikian, ikhlaskah dia dengan jawabannya? Jujurkah dia dengan sepenuh hatinya? Tapi, terlepas dari segala hal apapun yang menjadi dasar Meidina memberikan jawaban, doa terbaik ia sematkan di dasar hatinya yang paling dalam, untuk sang sahabat tersayang.
Semoga engkau menemukan kenyamanan dan kebahagiaan dalam jawabanmu itu, sahabatku.
Sementara Irfan Arafka Wafdan. Pemuda itu terlihat langsung menunduk saat mendengar jawaban dari Meidina. Sepasang matanya terkatup rapat. Entah apa yang dia rasakan atas semua hal itu. Karena darinya juga tak terdengar lantunan kalimat syukur sebagaimana yang lain. Juga tak terlihat helaan napas lega seperti tadi. Seperti saat syaikhona bertanya kepada Meidina. Ia hanya diam dan tetap berada dalam posisi menunduk itu dalam waktu yang cukup lama. Tak ada yang bisa menebak, apa yang tengah pemuda tampan itu rasakan sekarang. Hanya dia sendiri dan Tuhannya saja yang tau dengan pasti.
"Alhamdulillah, Nak." Syaikhona mengucapkan hal itu sambil menyematkan senyuman lembut. "Aku yakin, kau bisa bertanggung jawab, atas apa yang telah kau putuskan," lanjut beliau.
"Amin ya Rabb," sahut Meidina dengan sepenuh hatinya. Teriring tekad dan harap, agar ia mampu, atau diberikan kemampuan untuk bisa mempertanggungjawabkan keputusannya, terhadap dirinya sendiri, dan terhadap tuhannya.
Sedangkan nyai Syarifah merangkul gadis ayu itu, dan mencium keningnya dengan sayang. Subhanallah, Meidina langsung meneteskan air mata karena hal ini. Jelas, dari sikap bu nyai tersebut kalau beliau berdua sangat bahagia dengan apa yang menjadi jawaban Meidina Shafa.
__ADS_1
Selanjutnya, syaikhona menoleh pada Arafka yang masih tetap berdiri dengan diam di sampingnya.
"Rafka."
"Dhalem, Aba."
"Sudah waktunya. Aku harus memberitahukan semuanya. Karena sekarang kau sudah akan menikah. Dan bukan lagi seorang santri." Dawuh kyai pengasuh itu membuat Arafka terkejut, dan segera terdiam. Untuk beberapa waktu ia belum bisa memberikan jawaban.
"Sudah tiga tahun aku memenuhi syarat darimu, Nak. Tiga tahun selama kau menjadi santri di Alhasyimi," lanjut kyai, saat dilihatnya pemuda tampan itu masih diam. Hal mana membuat mereka yang mendengar jadi terheran. Masing-masing pun bertanya-tanya dalam diam.
Apa sebenarnya yang dimaksud oleh Syaikhona dengan kata "syarat" itu. Syarat yang diajukan oleh Arafka pada syaikhona. Bukan syaikhona yang meminta syarat itu pada Arafka. Syarat apa, dan untuk apa. Apa ini kaitannya dengan perjodohan Arafka dengan Meidina Shafa?
"Apa kau mengijinkan? Karena calon istrimu juga harus tahu yang sebenarnya, Nak, sebelum kalian menikah." Demikian lagi kata Syaikhona. Beliau sedikit tak hanya minta ijin pada Arafka untuk menyampaikan sesuatu yang sepertinya masih rahasia itu, tapi dalam kalimat beliau juga terkesan membujuk pemuda itu agar bersedia.
Dan akhirnya Arafka mengangguk, seraya berkata, "Terserah, Aba dan ummi saja."
Terlihat kyai dan bu nyai saling pandang dan saling melemparkan senyuman sumringah. Menandakan kalau persetujuan Arafka itu adalah hal yang sangat mereka tunggu. Dan yang membuat mereka begitu senang dan bahagia.
Terlihat syaikhona diam sesaat, tatapan beliau tampak lurus. Sepertinya beliau masih memilih kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang selama ini sudah disimpan dan dirahasiakan. Dan beliau juga memohon kepada Allah, dalam sejumput doa di hati paling dalam, agar semuanya menjadi kebaikan. Selanjutnya dengan samar beliau mengucap basmalah, sebelum kemudian berkata pada Meidina Shafa. " Nak. Tunanganmu ini." Beliau memegang tangan Arafka. "Calon suami mu ini," kata syaikhona lagi dengan penuh penekanan. Dari cara beliau ini kian menunjukkan kalau rahasia yang tersimpan itu adalah terkait Arafka dan Meidina.
Dengan tetap memegang tangan Arafka, kyai pengasuh melanjutkan ucapannya. "Dia ini sebenarnya, adalah anakku sendiri. Dia adalah darah dagingku sendiri.
__ADS_1
Irfan Arafka Wafdan ini, adalah putra bungsuku."
Demikian, KH Abdullah Umar Hasyim, pengasuh besar Alhasyimi itu mengatakan dengan jelas dan tegas, yang mana di antara semua yang mendengar, tidak mungkin ada yang tidak paham. Dan faktanya, mereka semua yang mendengar memang langsung paham. Dan kepahaman itu mendatangkan kekagetan yang teramat sangat besar. Mereka sangat kaget, bahkan dalam jeda waktu yang cukup lama. Hingga seakan waktu terhenti, karena terungkapnya fakta yang memang tak pernah mereka duga. Jika saja, bukan kyai pengasuh sendiri yang mengatakannya, mereka semua pasti akan mengingkarinya.
"Benarkah?" Dan hanya Meidina Shafa yang berani melafadzkan tanya. Sedang yang lain, hanya bisa terdiam dalam keterkejutan mereka.
"Iya, Nak. Itu benar," jawab Nyai Syarifah seraya tersenyum senang, sepertinya apa yang diungkap oleh kyai barusan, bagi beliau adalah hal yang sangat membahagiakan.
Meidina terdiam, terlihat masih tak yakin, hingga lalu ia terdongak menatap pada Arafka, di saat yang bersamaan pemuda tampan itu juga melabuhkan pandangan kepada Meidina. Arafka mengangguk pasti. Meidina pun menunduk dan tak merasa tak perlu untuk bertanya lagi. Jawaban Arafka atas tatap tanya darinya itu sudah tak bisa diragukan lagi.
Dan sebenarnya, apa yang perlu diragukan dalam pengakuan Syaikhona. Beliau itu seorang sholih yang senantiasa bersikap hati-hati dalam kesehariannya. Berkata jujur sudah dilazimkan, berkata benar sudah menjadi tuntunan. Apalagi untuk hal besar seperti ini. Hal yang sangat mustahil bila beliau menjadikan ini hanya sebagai permainan.
Maka jelas bisa dinilai, kalau apa yang telah disampaikan beliau tentang Arafka, yang adalah putra kandung beliau sendiri, dan bukan hanya sekedar santri yang diakui sebagai anak sendiri, itu pasti benar adanya. Dilihat dari cara penyampaian yang sangat hati-hati, bahkan masih minta ijin pada Arafka sebelumnya, menunjukkan bahwa beliau tidak hanya sekedar main-main saja.
Apalagi jika dilihat dari kasih sayang syaikhona dan nyai Syarifah pada pemuda itu, dari cara memanggil, berbicara, memperlakukan, yang kesemuanya menunjukkan kedekatan yang tak biasa. Bahkan Kasih sayang beliau juga diberikan pada Meidina selaku calon istri Arafka. Semua itu adalah kepantasan, jika ternyata, gitaris melodi Albadar yang tampan itu adalah putra kandung kyai pengasuh sendiri.
Pantas pula, hampir seluruh keluarga masyayikh Alhasyimi datang menjenguk Meidina. Pantas, mereka semua menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang luar biasa pada calon istri Arafka itu. Dan pantas saja dari jajaran keluarga masyayikh itu tak ada satupun yang memanggil nama Arafka tanpa embel-embel "Nak" sebelumnya.
Cuma yang menjadi pertanyaan, kenapa fakta Arafka yang adalah putera bungsu Syaikhona itu tidak ada yang tahu? Bahkan di kalangan santri senior seperti ustadz Fadil dan ustadz Widad juga tidak tahu tentang hal ini. Mereka cuma mengetahui kalau syaikhona hanya punya dua orang putera. Satu putri bernama ning Karimah, dan satu putra bernama Mas Ahmad Izzatil Fanani. Tak pernah disebut-sebut nama Irfan Arafka Wafdan sebagai putra bungsu syaikhona.
Kenyataannya juga, Arafka baru masuk Alhasyimi sebagai santri tiga tahun yang lalu. Dan tadi siang juga terungkap dari Zaini Dahlan, kalau orang tua Arafka bernama pak Himawan, seorang pengusaha kaya raya. Dan ibunya bernama Dian Maulidia. Keduanya meninggal dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun lampau.
__ADS_1
Bagaimana sebenarnya?
NEXT YA