
Karena mengikuti instruksi petugas medis yang hanya memperbolehkan satu orang saja untuk berada dalam ruang UGD itu, maka hanya Davina saja yang menemani Meidina. Sementara yang lain menunggu di luar ruangan.
"Waktu Maghrib tinggal lima belas menit lagi," kata ustadz Widad.
"Ning zaskia, sebaiknya segera telephone ke dhalem, biar kyai dan bu nyai tidak cemas!" Azmi memberi saran pada Zaskia yang terlihat diam saja dengan kepala menunduk. Atas ucapan dari Azmi tersebut, Zaskia mengangguk dan segera berdiri menyisih dari teman-temannya yang lain untuk mengabari uminya terkait peristiwa ini hingga ia terlambat tiba kembali di kediaman.
"Sepertinya ada sesuatu deh, perhatian banget," celetuk Nizam.
"Bukan sepertinya, tapi memang ada sesuatu," timpal ustadz Widad.
"Hanya mengikuti kata hati, masa salah," retoris Azmi dalam sebentuk tanya.
"Gak ada yang salah kalau masalah hati, hanya sepertinya kau memerlukan cukup perjuangan untuk mengalihkan haluan hatinya," tukas ustad Widad.
"Tawakkal 'alallah, Mas. Semua yang kuharap dan kuingin, sudah sepenuhnya ku ajukan ke hadapan Allah," kata Azmi mantap.
"MasyaAllah, Tabaarokallah, Mas Azmi," seloroh Nabila dalam sebentuk doa.
"Aminn Ya Rabb." Semua mengamini, hanya Arafka yang terlihat diam saja, tatapannya mengarah pada pintu ruang UGD, yang masih terus tertutup rapat saja dari tadi.
"Kenapa pemeriksaannya lama sekali ya," kata Zaskia yang sudah kembali bergabung dengan semuanya, usai menelepon barusan. Dan apa yang ditanyakan oleh gadis itu, merupakan pertanyaan dari mereka semua. Terhitung sekitar dua puluh menit sudah mereka menunggu di luar, dan belum ada pemberitahuan apa-apa terkait pemeriksaan Meidina Shafa di dalam. Hingga sesaat kemudian, pintu ruangan terbuka, Davina muncul dari dalam sana.
"Bagimana?" Zaskia dan Nabila bertanya hampir bersamaan.
"Dokter ingin bicara dengan keluarganya Meidina. Saya sudah bilang kalau saya ini sahabatnya, tapi kata dokter ingin bicara dengan keluarga dekat pasien," terang gadis itu tanpa menatap pada salah satu objek tertentu. Karena memang di antara mereka semua saat itu, tidak ada keluarga dekat Meidina Shafa.
"Saya yang akan temui dokter," putus Rafka. Dan tanpa tunggu jawaban dari yang lain, pemuda itu segera bangkit dan masuk ke dalam ruangan. Semua tak ada yang terlihat keberatan dengan keputusannya itu, karena memang pada saat ini dan di sini, memang hanya dia yang punya pertalian dekat dengan Meidina Shafa, yaitu sebagain calon suaminya.
__ADS_1
Dan sepeninggalan Arafka semua pun bangkit, ikut melihat ke dalam kaca ruangan yang lebar. Terlihat dokter--usai memeriksa Meidina yang terbaring dengan muka pucat serta sepasang mata yang terkatup rapat--langsung berbicara dengan Arafka. Sejurus kemudian tampak Arafka menyentuh tangan Meidina beberapa saat dan kemudian menyentuh keningnya. Dan setelahnya, terlihat ia mengagguk setuju pada dokter.
Detik berikutnya, dokter tersebut dengan di bantu seorang perawat memasangkan slang infus pada Meidina, saat itulah baru terlihat gadis ayu itu merintih kesakitan, padahal dari tadi ia hanya diam seakan orang yang sedang pingsan.
"Harus diopname ya, Dek?" tanya ustad Widad saat Arafka keluar dari ruangan.
"Iya, panas badannya sangat tinggi, tensi darahnya turun. Dan dokter juga bilang kalau dia mengalami dehidrasi," sahut Arafka.
Nabila dan Davina jadi saling pandang dengan tatap mata prihatin, lalu sama-sama menghela napas panjang.
"Kasian mbak Meidina." Zaskia menyuarakan bentuk keprihatinannya dalam sebentuk kata.
"Gak papa, Ning. Ini semua demi kebaikannya," timpal Azmi. Dan semua juga pasti setuju dengan ucapan dari pemuda ini.
"Tolong belikan air mineral, dan usahakan agar dia minum," kata Arafka sambil menyerahkan lembar uang seratus ribuan pada Davina.
"Gak usah, Dek. Saya ada uang," tolak Davina, dan hendak mengambil uangnya sendiri untuk membeli air mineral buat Meidina tersebut. Namun,
"Ee." Davina jadi terkecat. Dan sesaat kemudian ia tersenyum seraya mengangguk.
"Saya mau ke bagian administrasi dulu," ujar pemuda tampan itu dan segera berlalu. Ada beberapa pasang mata yang memandangi kepergiannya. Ada beberapa pikiran dari mereka yang lalu segera berkelana. Mengingat pada peristiwa sekitar satu jam sebelumnya. Saat Amira menahan langkah Arafka yang hendak mengambil mobil dengan pertanyaannya.
------%%%%%--------
"Tunggu, Mas Rafka!"
Setelah melalui pergolakan panjang dalam dirinya, antara tetap diam saja, dengan artian melewatkan kesempatan emas untuk bisa bicara dengan sang tokoh idola yang kini sudah ada di depan mata, atau segera beraksi apapun resikonya nanti. Akhirnya Amira memilih pilihan yang kedua. Ia mantapkan hati untuk memanggil pemuda tampan yang saat itu tergesa hendak pergi.
__ADS_1
Dan berhasil, karena mendapat panggilan dari Amira ini, Arafka menghentikan langkahnya.
"Boleh tanya sesuatu, Mas?"
Arafka tak segera menjawab, ia hanya menatap saja pada gadis yang memanggilnya itu.
"Saya, Amira. Dari Annur."
"Iya, mau tanya apa?" Arafka menatap gadis cantik itu datar. Amira memang memiliki kecantikan yang menonjol di antara teman-temannya yang lain.
"Apa benar, Mas Rafka sudah punya tunangan?"
"Iya, benar," sahut Rafka tegas. Ia menjawab tanpa perlu berpikir sejenak. Seakan jawaban itu memang sudah tertanam dalam benak.
Amira terdiam. Sebenarnya, untuk mendengar jawaban seperti ini, ia sudah menyiapkan diri dari tadi. Tepatnya dari sejak ia mendengar ucapan Arafka sendiri tadi pada kyai Tamim. Tapi, saat jawaban yang sama ia dapatkan saat ini, tak urung ia masih merasa kaget lagi, dan tak segera bisa berkata apa-apa kini. Hingga terlihat Arafka hendak maneruskan langkahnya kembali. Tapi tentu saja Amira tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Karena apa, Mas Rafka memilih bertunangan dengannya? Karena kecantikannya, karena kecerdasannya, atau karena hal lain?" Bagi Amira, wanita yang telah bergelar sebagai tunangan Arafka itu, adalah wanita yang sangat beruntung sekali. Dan ia ingin tahu, apa sebabnya wanita tersebut mendapatkan keberuntungan begini, yakni dipilih oleh Arafka sebagai calon istri.
Atas pertanyaan dari Amira itu, Arafka menggeleng pelan, "Bukan karena keduanya, tapi, Karena dia yang sudah dipilihkan oleh Allah untukku," sahut Arafka. Sebuah kalimat yang universal, dan memiliki arti luas juga dalam.
Sekarang, setelah Arafka memberikan jawaban demikian, Masihkah ada bantahan atau pun ketidakpahaman dari Amira, atas pertanyaannya? Ataukah masih bakal ada pertanyaan susulan seperti sebelumnya?
Ternyata tak ada definisi dan tak ada deskripsi tentang seorang wanita yang akan dipilih oleh Arafka sebagai calon istri. Hanya satu yang menjadi alasan jatuhnya sebuah pilihan, yaitu restu dari Sang Maha Rahman.
Amira kini terlihat diam, begitupun dengan yang lain, mereka juga diam, sepertinya jawaban dari Arafka barusan adalah senjata yang sekalipun tak serupa dengan senapan yang mematikan, tapi nyatanya berfungsi untuk membungkam setiap sanggahan, atau pun datangnya pertanyaan susulan. Bahkan yang ada kemudian, mereka dituntut untuk memahami lebih dalam.
Ketika Arafka menganggap kalau Meidina adalah pilihan Allah untuknya, sepertinya sudah tidak perlu lagi ada kata tanya. Kenapa dan bagaimana. Bagi yang mampu memahami secara paripurna, mereka pasti paham, kalau jawaban ini sudah mencakup semua kata tanya yang sudah diucapkan, sedang diucapkan, dan yang akan diucapkan.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Meidina Shafa? Apa tanggapannya , atau bagaimana perasaannya saat tahu kalau Arafka menahbiskan dirinya sebagai pilihan Allah untuk pemuda tampan tersebut.
Meidina Shafa pasti belum memikirkan apa-apa, atau pun merasa bagaimana. Karena saat ini, panas badannya semakin tinggi, kepalanya serasa berdenyut sekali, kian lama kian menjadi. Hingga saat dalam mobil yang membawanya ke rumah sakit itu ia tak bicara sama sekali. Sepasang matanya juga tetap terpejam dari tadi. Dan puncaknya, gadis ayu itu harus diopname karena demamnya yang semakin menjadi.