Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
77 Boleh Saya Hapus Air Matanya


__ADS_3

"Jika Allah telah berkehendak kau menikah dengan Meidina Shafa, itu berarti Allah telah mengukur semuanya. Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Yang harus kau lakukan sekarang adalah belajar ikhlas, Nak. Ikhlas pada apa yang sudah menjadi pemberian Allah. Kemudian kokohkan niatmu untuk ibadah. Maka Allah yang menjamin kecukupan untukmu."


Demikian penjelasan syaikhona, dan kemudian beliau diam untuk memberi waktu kepada putranya mencermati apa yang telah beliau sampaikan barusan. Hingga kemudian,


"Maafkan saya, Aba, Saya sudah suudzon pada Allah dan keputusannya," ucap Arafka dengan kepala tertunduk dan rasa bersalah yang demikian kuat memeluk jiwanya. Tak butuh waktu lama bagi pemuda tampan itu untuk bisa menemukan kebenaran di kedalaman hatinya. Karena pintu hidayah memang telah dibuka, dari doa sujud syaikhona untuk sang putra.


Kyai Abdullah Umar menepuk-nepuk pundak pemuda tampan itu dengan sayang. "Sekarang aba mau tanya, Nak, apa kau bersedia unutk menikah, untuk menjadi suami dan untuk menjadi bagian hidup dari Meidina Shafa, ikhlas karena allah semata?" Demikian pertanyaan dari syaikhona. Ternyata sebelum beliau menanyakan hal seperti itu tadi pada Meidina Shafa, terlebih dahulu beliau telah bertanya kepada putranya sendiri, Irfan Arafka Wafdan.


"saya bersedia, Aba." Demikian jawab Rafka dengan mantap dan tanpa keraguan di dalamnya. "Dan isyaallah saya ikhlas karena Allah," imbuhnya lagi, seraya memohon kekuatan pada Allah agar diberi kemampun untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah menjadi keputusannya.


"Tegaklah engkau dengan keputusanmu itu dengan sepenuh hatimu, Nak. ber-istikomahlah, dan jangan pernah goyah, jangan pernah lengah, untuk terus berjalan di jalan yang diridhoi oleh-Nya. Allah adalah penolongmu."


Dengan mendapatkan doa dan dukungan yang luar biasa dari kedua orang tuanya, Arafka pun mendapatkan kemantapan yang luar biasa pula untuk menjalani semuanya. Hilang sudah rasa tak percaya diri, ketika hati telah memilih untuk berserah dan bersandar pada kekuatan Ilahi. Dan setelah melihat kalau putranya itu telah mendapatkan keyakinan dan kemantapan,


"Aba lalu mengajak saya ke masjid raya Al hasyimi, untuk ..." Arafka segera memangkas ceritanya, karena terdengar suara isak tangis Meidina Shafa. yang sedari semula gadis itu hanya diam dengan bertetes air mata tanpa suara, tapi kini terlihat pundaknya sampi terguncang karna menahan tangis, dan suara isakannya pun terdengar keluar. pasti tangis yang luar biasa itu terjadi akibat telah terjadi guncangan yang luar biasa pula di dalam jiwanya, setelah mendengar ihwal pertunangannya dengan Arafka dari cerita pemuda tampan itu sendiri.


Dan sebenarnya bukan hnaya Meidina Shafa saja yang menangis saat mendengar semuanya, bahkan juga semua gadis yang ada di sana turut meneteskan air mata. Sangat terasa, sangat tampak dan sangat jelas, bagaimana Irfan Arafka Wafdan itu sebenarnya, dalam pandangan mereka semua. Bukan lagi pemikiran apalagi nafsu yang menjadi landasan keputusan dan sikapnya, menyetujui menikah. Tapi karena ingin patuh pada apa yang menjadi kehendak Allah, ingin patuh pada aturannya, yang mana tujuan dari semuanya adalah karena ia ngin menjadi hamba-Nya yang sholih dan takwa. Dan dalam menjalankan semua hal tersebut, hati lah yang menjadi pimpinannya.


Padahal seyogyanya ia berhak menolak keputusan abahnya untuk segera menikah. Usianya masih muda, ia masih berhak untuk menikmati masa mudanya. Akan tetapi pemuda itu segera menyetujui setelah tahu kalau semua itu adalah petunjuk dari Allah kepadanya.


Dan sebenarnya ia pun berhak untuk memilih calon pendamping hidupnya sendiri yang sesuai dengan standarisasinya. karena ia tergolong seseorang dengan kehidupan yang sangat mapan, wajahnya tampan rupawan, hartanya banyak bukan hanya hitungan miliaran, nasabnya mulia, ia adalah keturunan ulama yang terkenal dengan keshalihan. agamanya kuat kendati masih baru meniti, namun benar kata Azmi tadi, sekali terbangun ia tetap terjaga, waspada, serta tegak menjalankan perintah agamanya.

__ADS_1


Arafka itu banyak memiliki keistimewaan-keistimewaan di usianya yang masih muda, namun ia tidak serta merta hanya menuruti logikanya saja. pemuda itu memilih menerima wanita yang diilhamkan oleh Allah melalui abanya, karena ingin patuh pada kehendak tuhannya. Tentu saja yang diharapkan adalah kebaikan di sisi Allah, bukan yang lainnya. pantas saja ketika tadi sore Meidina berkata kepadanya, "Jangan terelalu baik kepada saya. Saya takut tidak bisa membalasnya."


Dan dengan sangat tenang dia menjawab, "biar saja Allah yang membalasnya."


karena ternyata dari awal, hanya Allah yang menjadi landasan dalam setiap keputusan. Sehingga tidak ada hal apa pun yang mampu menggelisahkan jiwanya. Ketika jiwa itu telah rela dengan seluruh kehendak tuhannya.


Maka bagaimana Meidina tak akan menangis dengan kebenaran yang kini terungkap tentang Arafka, calon suami yang sempat ia tolak kehadirannya, karena dianggap bukan calon imam yang tepat. Ternyata, banyak hal tentang pemuda itu yang justru berada di luar jangkauannya. terutama tentang pertunangan mereka, yang ternyata bukan semata-mata hanya berlandaskan rasa, cinta dan pemikiran semata. Lebih dari itu, adalah karena niat patuh kepada khaliqnya. tidak salah jika disebutkan kalau Arafka mengikat dirinya dengan Meidina Shafa berdasarkan ikrarnya kepada tuhan. lalu bagaimana dengan gadis itu sendiri saat menolak Arafka, apa yang menjadi landasan sikapnya, karena allah, atau karena ego dari perasaan semata.


Meidina Shafa sendiri yang lebih tahu, dan yang lebih bisa untuk menjawab pertanyaan itu. di mana kini ia terlihat tak mampu menahan isak akibat tangisan yang sangat kuat. Semua menatap gadis itu dalam diam dan berbagai macam pemikiran. Kanza Davina menghampiri sahabatnya tersebut dan memeluknya seraya mengusap-usap pundaknya. Namun, tangis Meidina tak juga reda.


Irfan Arafka Wafdan akhirnya bangkit dari duduknya dan segera menghampiri mana kala dilihatnya calon istrinya tersebut tak mampu menetralisir perasaannya sendiri untuk keluar dari tangisan yang kian menggelayut. Pemuda itu duduk di tepi ranjang di depan Meidina, bahasanya mengalir dengan lembut, selembut tatpannya pada gadis itu. "Apakah yang saya ceritakan ini, membuat kamu merasa tidak nyaman?"


"Lalu, kenapa kamu menangis?"


Meidina mendongak menatap wajah Arafka sesaat, lalu kembali menunduk seraya berkata, "Tidak apa-apa." Namun jelas bahwa ia tidak jujur. Ada hal besar yang tengah mengguncang jiwanya, dan itu terlihat jelas oleh ssmuanya. namun, bila kini ia berkata tidak apa-apa, pasti karena saat ini gadis ayu itu belum mampu atau belum sanggup untuk bercerita.


Arafka tersenyum lembut menatapnya seraya berkata, "ya sudah, saya tidak akan bercerita apa-apa lagi."


Meidina Shafa terhenyak mendengarnya dan segera bertanya, "Apa masih ada hal yang harus saya ketahui?"


"Iya. Memang masih ada satu hal yang harus kamu ketahui," sahut Arafka.

__ADS_1


"Tapi, saya tidak akan memberitahukanmu di sini, di hadapan teman-teman jika kamu tidak bersedia," lanjutnya lagi.


"Tidak apa-apa, ceritakan saja. Semua teman-teman yang ada di sini sudah tahu bagaimana saya," kata Meidina dengan nada pasti.


"Jadi benar tidak apa-apa?"


"Iya."


"Tapi janji tidak akan menangis lagi?"


"Insyaallah," Jawab Meidina sambil menunduk.


Arafka sejenak masih menatapnya dan, "Boleh saya hapus air matanya?"


Meidina tak menjawab, ia hanya kian menunduk. Dan gadis itu membiarkan saja saat ujung jemari Arafka mengusap titik air di wajahnya. Sekali lagi pemuda tampan itu menunjukkan kesungguhan hatinya untuk menjalani kehidupan bersama dengan Meidina. Dan memang dari awal, pemuda itu sudah menunjukkan kesungguhan, dari sejak memutuskan Meidina untuk dirawat inap di rumah sakit.


Bahkan tadi sehabis sholat Maghrib, ustad Widad dan ustadz Fadil sempat mempertanyakan hal tersebut, karena mereka tahu kalau ada pria lain dalam hati Meidina. Sedangkan Arafka sudah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai calon suami kepada gadis itu. Dan pemuda itu menjawabnya dengan tenang, bahwa segala hal yang di luar batas jangkauannya telah ia serahkan kepada Sang Penguasa Badan.


Berserah yang dimaksud di sini bukan hanya terdiam. Atas hal apa pun yang terhadi nanti, diam. Bukan seperti itu yang dimaksudkan. Tapi, kata berserah itu ada, setelah diawali dengan usaha dan berdoa, baru setelahnya berserah. Karena setelah kita berusaha dan berdoa, selanjutnya adalah bagian kinerja Allah saja, apakah usaha dan doa itu akan diijabah, atau tidak. Lebih kurang, berserah seperti itulah yang dimaksud oleh Arafka. Bukan kata berserah yang konotasinya mengarah pada kata terserah, yang mendekati putus asa.


Dan setelah dilihatnya Meidina tampak tenang dan tak lagi menangis, pemuda itu kembali duduk di tempatnya semula untuk melanjutkan ceritanya. Karena apa yang akan ia beritahukan selanjutnya adalah titik poin, yang harus diketahui oleh Meidina Shafa.

__ADS_1


__ADS_2