Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
37 Karena Cincin Pertunangan


__ADS_3

"Aku ingin komplain padamu tentang Meidina." Adli mengatakan hal itu dengan raut wajah yang terlihat sangat serius sekali. Arafka diam menanti, kiranya hal apa yang akan diucapkan oleh sahabatnya itu. Sedangan Meidina, saat mendengar namanya disebut, ia merasa terpanggil untuk memerhatikan Adli.


"Kau kan tau, Rafka. Aku yang naksir dia sejak pandangan pertama. Aku sepakat dengan mas Nizam untuk bersaing mendapatkan hatinya. Kau kan tidak ikut-ikutan dalam hal ini. Kenapa sekarang kau Main serobot gitu, Rafka?" tandas Adli dengan raut wajah serius. kadar keseriusannya tak berkurang dari saat pertama ia datang.


Sedangkan Nizam, tak menyanggah sedikit pun ucapan Adli itu. Fadil dan Widad malah terlihat saling melempar senyum, sepertinya mereka memang sengaja menanti jawaban Arafka atas tudingan dari Adli itu. Namun, pemuda tampan itu masih terlihat diam, dan masih terlihat tenang.


"Pasti secara diam-diam kau pun menyukai Meidina Shafa, tapi karena sainganmu banyak, kau kawatir tidak akan menang. Lalu kau mempergunakan kedekatanmu dengan Syaikhona untuk mendapatkannya. Iya 'kan Rafka," tuding Adli dengan tatapan tajam pada Arafka. pemuda itu seperti diliputi oleh kemarahan besar, sampai ia tak memedulikan ada siapa saja yang ada di gazebo dua itu.


"Sembarangan," sahut Arafka datar, dan tak disertai dengan keseriusan saat mengatakan. Rupanya pemuda itu mempunyai kepribadian yang tenang, tak mudah terpancing, tidak gampang emosi. Terbukti saat mendapat tudingan demikian dari Adli, seharusnya ia segera membela diri, demi untuk menjaga citra diri, apalagi di tempat itu juga ada sang calon istri. tapi dia malah terlihat cukup santai, dan tidak gusar.


Arafka yang bersikap tenang. Adli malah menjadi berang.


"Aku tidak terima, Rafka."


"Lantas kau mau apa, Adli?" tanya Rafka masih dengan nada tenang.


"Setidaknya kasih aku kesempatan untuk mendekatinya dulu, kalau memang aku gak bisa, baru aku nyatakan kamu menang,"


"Oh gitu ya." Rafka masih menanggapi santai.


"Iya," sahut Adli mantap.


"Itu." Arafka memberi isyarat pada Meidina Shafa yang duduk paling pinggir dan itu tepat di samping kiri Adli, hanya jarak sekitar dua meter saja. Saat Adli menoleh, pemuda itu langsung terlihat kaget, tak menyangka, kalau gadis yang sedang diributkan itu ternyata ada juga di sana. Adli jadi salah tingkah.


"AW AW AW." Azmi dan Nizam sama-sama tertawa gelak-gelak. Ekspresi Adli yang terlihat bingung tak tahu harus bagaimana, itu terlihat sangat lucu sekali. Di tambah dengan wajahnya yang memerah, membuat beberapa dari mereka ikut tertawa.


"Ayo Adli, mau bilang apa kamu sekarang?" ledek Azmi sambil tak bisa menghentikan tawa.


"Emm itu, anu Mbak. barusan itu cuman becandaan kami saja kok. Jangan diambil hati ya," ucap Adli pada Meidina seraya mencuri tatap pada Arafka dengan menampilkan wajah kesal. "Oh ya, saya mau ngucapin selamat ya, Mbak Meidina atas pertunangannya dengan Rafka" tambah Adli lagi. Sepertinya saat ini ia mulai bisa menguasai situasi.


Satu-satunya orang yang terlihat kaget dengan ucapan dari Adli ini adalah Fitria. Karena memang di antara mereka semua, hanya dia saja yang tidak tahu perihal itu. Sedangkan Meidina Shafa, hanya tersenyum saja dengan ucapan Adli itu, senyum penuh misteri, yang tak satu pun mampu memberi arti.


"Aku sama Rafka itu berteman akrab, Mbak. Dia itu selain ganteng, orangnya juga sangat baik," kata Adli sambil tersenyum. "Tapi bila suatu saat dia nyakitin mbak Meidina, bilang saja padaku, biar aku yang jotos dia," imbuhnya seraya menatap penuh ancaman pada Arafka. pemuda tampan itu hanya tersenyum kecil menanggapi celotehan sang teman pada Meidina Shafa. Sementara yang lain malah menyoraki ucapan Adli barusan.


"Sekali lagi, selamat ya, semoga kalian jadi jodoh dunia akhirat." Adli mengakhiri pidato tak resminya itu dengan ucapan doa. Semuanya serempak mengucap amiin atas doa tersebut. Kecuali Arafka dan Meidina. Keduanya kompak diam saja. Padahal mereka adalah subjek dari doa tulus yang diberikan oleh Adli.


"Saya permisi dulu semuanya," pamit Adli dan gegas memutar tumitnya untuk segera pergi.

__ADS_1


"Mau kemana, Adli? Duduk saja dulu, ini masih hujan," kata Fadil menyilakan.


"Gak usah, Ustad," tolak Adli, namun dalam jarak dua langkah, ia kembali berhenti dan berbicara pada Arafka. "Rafka, aku tunggu di aula." Adli kemudian teruskan langkah meninggalkan gazebo itu dengan tergesa.


"Dia masih mau bikin perhitungan, Dek," kata Nizam Ali dengan sisa tawanya. Arafka juga tertawa singkat, dan segera bangkit seraya meraih kontak motornya di atas meja.


"Lho Dek Rafka mau kemana?" tanya Widad heran.


"Saya mau pergi dulu, Mas."


"Ini masih hujan lho." Ustad pengajar KM itu memperingatkan.


"Tidak apa-apa, ini sudah mulai reda."


"Mau memenuhi undangan Adli ya, Dek?"' tebak Nizam.


"Tidak, Mas. Saya mau menemui syaikhona."


Dan untuk satu alasan yang disebut oleh Rafka tersebut, mereka tak bisa lagi menahan pemuda itu untuk tak pergi. Usai bersalaman pada semua seniornya, Arafka juga berpamit pada jajaran gadis berkerudung itu dengan ucapannya, "saya duluan ya, semuanya." Dan saat mengucapkan hal itu, pandangannya tidak terpaku pada satu arah tertentu. Selanjutnya si tampan itupun segera berlalu. Namun, baru beberapa langkah, ustadz Fadil memanggilnya.


"Dek, nanti malam kita latihan, bisa hadir?"


"Datang beneran ya, pembicaraan kita belum selesai, Dik," timpal Nizam. Arafka hanya mengangguk singkat. Dan kembali ingin teruskan langkah. Namun,


"Cincinnya bagus sekali, Dek Rafka," kata Fadil lagi.


"Cincin apa, Mas?"


"Itu." Fadil memberi isyarat pada Meidina. Barulah saat itu Arafka menatap pada gadis ayu itu, bersamaan dengan Meidina yang juga tengah melihat ke arahnya. Sesaat mereka saling menatap. Namun, tak ada isyarat yang bisa ditangkap.


"Beli di mana? Aku ingin juga buat calonku nanti," kata Fadil. Dia malah ikut-ikutan Fitria yang sangat penasaran pada cincin yang dipakai Meidina.


"Interen saja ya, Mas. Nanti," sahut Arafka dan segera teruskan langkah. Atas jawaban pemuda itu pada Fadil, berarti fix kalau cincin bagus yang dipakai oleh Meidina itu adalah cincin pertunangan mereka.


"Dari belakang saja, sudah keliatan ya, kalau Mas Rafka itu ganteng," celetuk Fitria.


"Ehmm." Nabila memperingatkan sambil memberi isyarat pada Meidina.

__ADS_1


Fitria segera ketawa. "Maaf ya, Din. Aku hanya bercanda saja kok. Jadi inisial MA di cincinmu itu adalah Meidina Arafka ya."


Meidina tak menjawab apa-apa, karena memang ucapan Fitria itu tidak butuh jawaban, semua yang di sana sudah tahu kalau hal itu memang benar.


"Fitria. Jangan sampai hal ini tersebar ya. Berita ini masih bersifat rahasia. Kamu tau sendiri, fans dek Rafka di sini banyak sekali. Jadi, usahakan hal ini jangan sampai menyebar, sampai nanti mereka menikah," ujar ustad Fadil mengingatkan.


"Iya, Ustad saya paham. Saya juga salah satu fansnya mas Rafka, tapi hanya sebatas ngefans saja, gak sampai tergila-gila," kata Fitria diiring tawa. "Meidina." Fitria menoel pundak Meidina Shafa.


"Kamu mimpi apa sih, Din. Bisa jadi tunangannya mas Rafka."


"Ah." Meidina mengibaskan tangannya. "Sepertinya kita sudah bisa kembali ke wisma sekarang ya," ujarnya pada yang lain. Dan semua pun menyetujui hal itu.


🌺🌺🌺🌺


Akhirnya semua lembar soal ujian itupun berakhir diselesaikannya, meski harus terlambat hampir setengah jam dari durasi waktu biasanya. Terlihat titik keringat hampir memenuhi wajahnya. Seperti ia baru saja berpikir keras dan terkesan memaksa. Sangat mengherankan jika seorang Zaskia Ariva menduduki nomor urut terakhir saat mengumpulkan lembar soal ujian itu. Padahal ia sangat cerdas, otaknya cemerlang, cukup mustahil bila soal-soal ujian itu merumitkanya. Kecuali jika ada hal lain yang telah merampas konsentrasinya, hingga waktu berlalu begitu saja.


Dan memang itulah faktanya. Waktu berjalan sekitar lima belas menit, ketika ia telah berhasil merampungkan separuh dari soal-soal ujian itu. Namun, kemudian pandangannya tertuju ke arah Meidina Shafa yang duduk tak jauh di samping agak ke depan dari dirinya. Gadis ayu itu mengerjakan soal ujian seraya menopangkan tangan di kening. Dan adalah cincin permata yang melingkari jari manisnya itu, terlihat memancarkan cahaya tiga warna ketika beradu dengan pantulan sinar matahari, cukup menyilaukan mata. Apalagi ketika tangan Meidina bergerak, dua buah huruf terpancar jelas dari cincinnya. Maka terbersitlah pikiran dalam diri Zaskia Ariva.


Jika saja aku yang memakai cincin itu.


Sebuah pikiran yang segera merampasnya menuju hayal dan angan panjang, yang kemudian membentur dinding kenyataan. Ia serasa terhempas membentur tebing curam, sakit terasakan. Bahkan tulang-tulangnya bak remuk dan tak menyisakan kekuatan.


Ya Allah.


Zaskia menangis dalam diam. Menangis tanpa suara dan isakan. Walhasil, soal-soal ujiannya pun terbengkalai. Karena ia masih butuh waktu cukup lama untuk menetralisir perasaan.


Ada dua fakta yang terjadi di sini.


Pertama, dari sisi Zaskia. Keinginannya yang tak tercapai untuk bisa memakai cincin pengikat dari Arafka, telah membuatnya begitu kecewa dan terluka.


Kedua, fakta dari sisi Meidina Shafa, yang kenyataannya malah berbanding terbalik dengan Zaskia. Meidina justru menangis karena tidak ingin memakai cincin mahal tersebut. Tapi, air mata ibundanyalah yang meluluhkan hatinya, dan membuat gadis itu merelakan cincin indah tersebut melingkar di jari manisnya.


Peristiwa itu terjadi keesokan hari setelah syaikhona menyatakan pertunangannya dengan Arafka di masjid raya Alhasyimi, orang tuanya datang menemuinya ke Alhasyimi cabang satu. Seperti biasa, mereka bertemu di wisma tamu. Saat itu, Meidina Shafa banyak diam. Ia hanya sesekali ikut tersenyum ketika baik ayah maupun ibunya bercerita tentang suka cita yang mereka rasakan, ketika rumah kediaman mereka yang sangat sederhana itu kedatangan tamu agung, ulama Sholih sekaliber KH Abdullah Umar Hasyim. Mereka yakin kalau kedatangan beliau beserta para kyai yang lain akan membawa berkah tersendiri bagi keluarga pak Ibrahim dan Bu Salma, kedua orang tua Meidina Shafa.


Dan ternyata keyakinan mereka benar. Beliau yang datang bertandang ternyata membawa lamaran yang tidak pernah mereka sangka. Hal mana membuat sepasang suami istri itu sangat berbahagia karenanya. Oleh sebab itu, mereka segera menerima lamaran tersebut, meskipun belum tahu pada sosok pemuda yang akan menjadi menantu.


Karena mereka berpatokan bahwa seorang alim allamah dengan status ulama tak akan sembarangan dalam mengajukan seseorang. Apalagi di antara sekian ribu santri, bila ada satu yang demikian diperhatikan, bahkan sampai dalam urusan memilih pasangan, pasti karena santri tersebut memiliki keistimewaan. Dan syaikhona pun tak akan sembarangan memilihkan pasangan untuk santri yang diistimewakannya itu. Dalam hal ini adalah Meidina dan Arafka tentunya. Karenanya kedua orang tua gadis ayu itu sangat merasa bahagia. Dan serasa mendapatkan berkah yang tak terduga.

__ADS_1


Meidina tak menafikan anggapan mereka. Alasan mereka itu juga bukan alasan yang salah. Akan tetapi, gadis ayu itu merasa kalau pemuda yang membawa lamaran untuknya, sama sekali tak pantas untuk bersanding dengannya. Karena hal itulah, Meidina segera berkata, setelah sekian lama ia diam saja. "Tapi, Ibu." Gadis itu terlihat sejenak menahan napas. "Bapak dan ibu kan masih belum tahu pada Arafka," lanjutnya dengan suara pelan.


__ADS_2