Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
45 Memberi Lebih Dari Yang Diinginkan


__ADS_3

Usai mengumpulkan lembar-lembar soal ujian di hari terakhir ini, Meidina menelungkupkan kepalanya ke atas bangku, seraya menekan-nekannya beberapa kali.


"Mbak." Zaskia menyentuh lembut pundaknya. "Mbak gak apa-apa?" tanyanya.


"Gak apa-apa, Ning," sahutnya dengan mencoba tersenyum.


"Sebaiknya kau tidak usah ikut ya, Din ke rumahnya nyai Wardah. Kau istirahat saja, badanmu panas sekali," kata Davina setelah meraba kening Meidina. Panas tinggi.


"Aku maunya begitu, tapi gak enak sama beliau kalau aku tidak datang," jawab Meidina


Nyai Wardah, istrinya kyai Sholih, beliau hari ini punya hajatan menikahkan putri sulungnya. Dan Nyai Wardah datang sendiri ke KM untuk mengundang mereka berempat. Oleh sebab itulah mengapa Meidina merasa tidak enak, jika tidak menghadiri undangan beliau.


"Bagaimana kalau kita antar kamu sekarang berobat ke rumah sakit pesantren?" Nabila mengusulkan.


"Iya, Mbak. Mumpung saya bawa mobil," timpal Zaskia.


"Gak usah, aku udah minum obat tadi," tolak Meidina.


"Meidina. Kamu harus sehat, harus banyak istirahat. Bukan saja karena kegiatan pasca ujian ini akan semakin padat, tapi karena pernikahanmu, sudah tinggal seminggu lagi," kata Nabila pelan. Namun, sepelan apa pun Nabila mengucapkan, Meidina tetap kaget mendengarnya.


Gadis ayu itu terlihat terkejut, ia seperti baru disadarkan akan sesuatu yang selama ini memang sengaja diabaikannya.


Ah, ternyata waktunya sudah kian dekat. Meidina menghela napas kuat. Dan kemudian mereka dapat melihat, jatuhnya bulir-bulir air mata di wajah Meidina Shafa.


"Maaf kalau kalimat ini udah bikin kamu gak nyaman. Tapi, hal itu kan adalah satu kenyataan yang pasti akan kamu jalankan, Meidina." Nabila mengusap lembut pundak Meidina yang tertunduk.


"Di sini kami ingin menyemangati kamu, kami ingin membantumu untuk melakukan persiapan menuju saat itu," lanjut Nabila lagi.


"Apanya yang perlu disiapkan," tandas Meidina. Davina langsung tertunduk dalam. Pun dengan Zaskia yang kepalanya juga segera terkulai.


"Kami paham dengan perasaanmu. Kami mengerti, Meidina. Tapi pernikahan itu bukan hanya sekedar ikrar antara dua orang, ataupu dua keluarga. Tapi juga ikrar dengan Tuhan. Yang pastinya kita akan dimintai pertanggung jawaban dengan ikrar itu." Masih Nabila yang mengatakan hal itu. Sedangkan Davina dan Zaskia, mereka tak akan pernah lunya nyali untuk berkata demikian pada Meidina Shafa. Pasalnya, mereka ada dalam pusaran masalah. Masalah yang bermuara pada rasa.


"Aku minta maaf, bila ucapanku ini membuatmu sedih." Sekali lagi Nabila meminta maaf, karena mendengar setiap kata-katanya, Air mata Meidina terlihat mengucur dengan deras.


"Terima kasih sudah mengingatkan aku, tentang suatu hal yang memang sengaja aku lupakan." Meidina mengatakan hal itu dengan suara yang tersendat, akibat beban jiwa yang terlalu berat. "Tapi biarlah hal ini menjadi PR ku saja. Karena saat ini, aku juga gak tahu harus gimana," lanjutnya dengan susah payah. Selanjutnya Meidina menatap tiga orang temannya itu dengan seksama.


"Doakan aku ya, agar aku bisa melihat, bahwa semua yang dilutuskan oleh tuhanku untukku, itu indah."


🌺🌺🌺🌺


Zaskia bergegas menuju ke mobil, ia harus pulang dulu ke rumahnya di Alhasyimi cabang, sebelum menghadiri undangan Nyai Wardah bersama teman-temannya sekitar satu jam lagi. Dan gadis cantik itu kaget melihat seorang pemuda tampan yang sedang berdiri menyandar pada mobil jenis MVP tersebut.


"Mas Azmi?"


"Sudah mau pulang, Ning?"

__ADS_1


"Iya, kok Mas Azmi ada di sini?"


"Abamu menelepon saya, untuk mengantarkanmu pulang," sahut Azmi.


"Lho, Mas Azmi kan ada acara dengan Albadar?" tanya Zaskia heran.


"Iya, setelah mengantarmu pulang. Saya akan menyusul teman-teman."


"Kenapa Mas Azmi tidak bilang ke abah, kalau ada acara, saya kan bisa pulang sendiri," protes Zaskia.


Pulang sendiri yang dimaksud Zaskia adalah pulang diantar supir seperti biasa. Dan kalau pun ia pulang diantar oleh Azmi, mereka tak hanya berdua saja. Ada supir pribadi keluarga kyai Fadholi yang selalu menemani.


"Ini amanah, Ning," sahut Azmi.


"Tapi saya gak suka merepotkan orang lain. Lain kali kalau aba meminta Mas Azmi untuk mengantar jemput saya, Mas Azmi tolak saja."


"Ning, saya hanya ingin melihatmu selalu baik-baik saja. Dan ini bukan hanya sekadar amanah dari abahmu. Tapi, dari dalam hati saya sendiri," sahut Azmi dengan tegas.


Zaskia tak menjawab, tapi ia segera masuk ke dalam mobil dengan bergegas. Selama perjalanan gadis cantik itu diam seribu bahasa. Yang ada dalam maya pikirannya adalah air mata Meidina Shafa barusan, serta kata-kata Nabila Alia. Seakan video rekaman yang selalu diputar ulang.


Tiba-tiba saja mobil bdrhenti. Padahal belum sampai ke tujuan.


"Kenapa berhenti, Mas?"


"Hapus air matanya!" Azmi menyodorkan sekotak tissu. Meski dengan rasa risih dan tidak nyaman, Zaskia menerimanya, dan mengusap air matanya.


"Gak apa-apa, Mas," sahut Zaskia.


"Memang baik menyimpan keresahan hanya untuk diri sendiri, lalu diadukan pada Allah. Tapi gak ada salahnya juga bercerita kepada orang yang dipercaya, karena terkadang, jawaban Allah, ada pada pendapat orang yang kita percaya."


Mendengar ucapan Azmi itu, timbul niat Zaskia untuk bercerita. Tapi, ada satu sisi di hatinya yang tidak terima.


"Kenapa saya harus percaya pada Mas azmi?"


"Engkau dan Tuhanmu yang lebih tahu jawabannya, Ning," sahut Azmi. Dan dari hal ini tumbang sudah semua keraguan dalam diri Zaskia.


"Menurut Mas Azmi, mas Rafka akan menjadi suami yang baik untuk mbak Meidina?" tanya Zaskia.


"Insyaallah, Iya," sahut Azmi.


"Kenapa Mas Azmi yakin?"


"Karena dek Rafka itu pemimpin yang baik untuk dirinya sendiri, maka otomatis dia akan jadi pemimpin yang baik untuk istrinya nanti," jawab Azmi dengan nada pasti.


"Apa mas Rafka menyayangi mbak Meidina?" tanya Zaskia lagi. Sebenarnya, rasa hatinya menggemuruh saat bertanya hal ini. Ia takut dan kawatir akan hal apa yang bakal menjadi jawaban dari Azmi setelah ini.

__ADS_1


"kalau hal itu, saya kurang tahu," jawab Azmi.


"Kenapa?" Zaskia terlihat cukup kecewa dengan jawaban itu. Karena ia sudah berharap akan bisa mendapatkan jawaban yang pasti. Berupa kata iya atau tidak. Walau dengan itu, tak akan membalik keadaan yang sudah terjadi. "Kenapa, Mas Azmi tidak tahu, bukannya kalian teman dekat."


"Dek Rafka itu type orang yang tidak mudah memperlihatkan rasa suka atau pun rasa bencinya pada orang lain, sekalipun itu terhadap teman-temannya sendiri. Dan setahu saya, Dek Rafka tidak pernah berbicara tentang Meidina Shafa, baik sebelum atau pun sesudah menjadi tunangannya. Jadi di antara kami tidak ada yang tau, bagaimana perasaanya pada Meidina," terang Azmi dengan cukup jelas, seraya sedikit menatap pada Zaskia, sementara dalam batinnya bergejolak.


Jadi hal ini yang kau pikirkan, Ning Zaskia. Yang kau pikirkan bahkan dengan air mata.


"Tadi mbak Meidina menangis karena saat pernikahannya sudah dekat," tutur Zaskia dengan suara lirih. Sebenarnya kalimat itu hanya pengalihan saja, dari hal apa yang sebenarnya dia rasa. Di mana ia melihat sebuah permainan hidup yang terbalik. Entah apa rahasia yang ingin disampaikan oleh Allah atas hal itu semua.


"Itu karena dia tak kenal bagaimana calon suaminya. Mungkin sebenarnya, dek Rafka juga merasakan kegalauan yang sama, cuma dia lebih tawakal," ujar Azmi menanggapi apa yang dituturkan oleh Zaskia baru-baru ini.


"Apa itu berarti, menurut? Mas Azmi, mas Rafka lebih baik dari mbak Meidina dalam menghadapi situasi ini?"


"Tidak. Saya tidak ingin mengatakan siapa yang lebih baik di antara mereka. Meidina saat ini memang sedang mengalami satu polemik yang rumit. Yang sebenarnya semua itu berasal dari cara pandangnya sendiri serta keyakinannya tentang pasangan hidup dan pernikahan," urai Azmi.


"Apa ini sedang membicarakan kriteria calon pendamping, Mas? Bukankah setiap orang itu berhak punya imam impian, dan pernikahan idaman?" Zaskia melancarkan protes, karena ia sendiri juga punya kriteria pasangan yang diinginkan.


"Iya, benar. Setiap orang punya hak. Dan hak Patent itu ada di tangan Allah. Dalam setiap peristiwa itu ada ibrah, Ning. Ada pelajaran yang harus kita petik. Seperti dalam kasus Meidina misal, ia hanya butuh waktu untuk memahami, bahwa kasih sayang Allah itu, tidak hanya terletak pada apa yang kita sukai ..."


Tak sabar untuk menunggu penjelasan yang lebih lengkap dari Azmi, Zaskia segera memangkas ucapan pemuda itu dengan pertanyaannya. Di samping itu ia mulai merasa sangat tertarik bicara dengan pemuda itu. Pemuda yang selama ini dianggapnya biasa saja, ternyata punya pemahaman yang cukup dalam, dan cukup bijak dalam menyikapi keadaan. "Maksud, Mas Azmi?"


"Allah sedang mengajarkannya sesuatu yang selama ini belum diketahuinya. Allah sedang memberitahukan pada Meidina, bentuk-bentuk kasih sayangNya yang lain, selain yang memang sudah disadarinya. Seperti pula terhadapmu, Ning Zaskia."


"Saya ..?"


"Jika kamu bisa bersama dengan orang yang memang sangat kamu inginkan, kamu hanya akan bersyukur. Tapi jika kebersamaanmu itu ternyata dengan orang yang tidak kau harapkan, Ning Zaskia akan belajar sabar, kemudia tawakkal, dan selanjutnya ikhlas. Saat itulah cakrawala pengetahuan akan dibukanya untukmu, tentang hidupmu, tentang kekuasaanNya. Dan tidak ada situasi yang lebih mulia dan lebih indah bagi seseorang, melebihi saat ia merasa dekat dengan Tuhannya."


Zaskia terdiam, tatapannya menerawang, apa yang diucapkan Azmi dengan jelas dan cukup panjang barusan, sangat mengena di perasaan. Hingga ia tak mampu untuk mengeluarkan ucapan. Apalagi saat Azmi menambahkan keterangan. "Itu artinya Allah ingin memberimu lebih dari apa yang kau inginkan."


Gadis cantik itu jadi tertunduk lama, seperti sedang memaknai semuanya. Hingga lalu terdengar dering panggilan di ponsel Azmi.


"Ya, Nizam." Azmi mengangkat telepon yang rupanya dari Nizam itu. Dan sesaat ia diam mendengarkan ucapan Nizam. Kemudian, "oo sudah mulai, iya sebentar lagi aku nyampek."


Zaskia terdongak mendengar hal itu.


"Albadar sudah tampil ya, Mas?"


"Iya "


"Ayo jalan lagi, Mas. Antarkan saya ke rumah!"


"Ning Zaskia sudah baik-baik saja?"


"Iya, insyaAllah."

__ADS_1


Azmi segera memberi isyarat pada supir yang duduk di jalannya untuk segera melajukan mobilnya kembali.


__ADS_2