Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
78 Tidak Menerima Dan Juga Tidak Menolak


__ADS_3

Cerita dari Arafka selanjutnya adalah, diawali dari masjid raya Alhasyimi malam itu, malam di mana Meidina meraih gelar juara pertama, dan malam juga dimana kyai Abdullah Umar memberitahukan perihal pertunangan itu kepadanya, dengan disaksikan oleh teman-teman Meidina dan juga teman-teman Arafka.


Sebenarnya pada malam itulah, syaikhona ingin memberitahukan siapa Arafka pada mereka semua, terutama pada Meidina Shafa yang telah ditahbiskan sebagai calon istrinya. Akan tetapi Arafka melarangnya, dengan alasan yang dapat diterima dan dibenarkan.


Menurut Arafka, jika Meidina tahu bahwa yang meminang dirinya adalah putra bungsu syaikhona, maka menerima pinangan itu menjadi wajib, meski sebenarnya tidak diinginkan. Dan menolaknya seperti menjadi dosa, meski sebenarnya itu yang diputuskan.


Sedangkan bagi Rafka, dia ingin gadis yang dipinangnya itu bisa menerima atau pun menolak dengan alasan yang datang dari dalam hatinya sendiri, bukan dari sesuatu yang berada di luar dari itu.


Dan kenyataan yang terjadi di masjid raya Alhasyimi malam itu, seperti yang sudah diketahui bersama, Meidina Shafa tidak dengan tegas menerima atau pun menolak.


"Saat itu saya merasa bahwa ada hal yang sangat memberatkan dalam hatimu. Saya sadar, bahwa kamu tidak menerima dan juga tidak menolak."


Kali ini, Rafka hanya mengarahkan pembicaraan pada Medina Shafa saja. Karena seperti yang barusan ia katakan, bahwa apa yang akan diceritakannya saat ini, adalah bagian terpenting yang di mana, Meidina Shafa harus mengetahuinya.


Mendengar ucapan itu, Meidina langsung tertunduk. Dan meski ia telah berjanji untuk tidak akan menangis, tapi air matanya langsung luruh begitu saja. Padahal Arafka juga baru memulai cerita.


"Saya tau, bahwa kamu terpaksa. Dan hal ini sangat memberatkan bagi saya," ucap Arafka lagi, yang dimana membuat Meidina tak berani untuk menatapnya sama sekali.


Arafka tak hanya diam saja dengan hal yang memberatkan hatinya itu, ia segera menyampaikannya kepada syaikhona. Dan kyai menyarankan agar putranya tersebut mengokohkan niatnya dulu dengan bermunajah pada Allah.


"Tidaklah seseorang itu mengaku pasrah atau ikhlas, atau menerima pemberian dari-Nya, melainkan seseorang itu pasti akan diujinya. Seperti yang terjadi padamu saat ini. Keterpaksaan Meidina itu adalah ujian bagimu, dari Allah."

__ADS_1


Arafka menunduk, setiap kata demi kata ia resapi dengan sempurna berikut makna yang terkandung di dalamnya.


"Jangan goyah, Nak. Mintalah kekuatan pada Allah." Syaikhona mengusap lembut pundak sang putra sambil tersenyum.


Mengikuti anjuran abahnya, Rafka fokus bermunajah selama dua hari tiga malam, di rumahnya sendiri, dengan mematikan segala akses komunikasi. Sehingga tak ada satu pun dari teman-temannya yang dapat menghubungi. Kecuali kyai Mushtofa Tamimi yang waktu itu khusus menjemputnya untuk bertemu dengan orang tua Meidina Shafa, yang datang ke cabang.


Selebihnya itu, tak ada siapa pun yang ia biarkan untuk mencampuri urusannya, sekali pun berupa nasihat baik dari abahnya. Rafka ingin menemukan semua kekokohan hati itu secara murni dari dalam dirinya sendiri.


Dan alhamdulillah, apa yang ia minta itu pun didapatkannya.


Siang itu, ia mendapat telepon dari Azmi yang memintanya datang ke yayasan. Bertepatan dengan itu, ia memang ingin sowan pada abahnya di dhelem. Rafka pun bertemu dengan teman-temannya dulu, di gazebo dua dekat mushalla Assurur, waktu hujan. Dan ternyata di gazebo itu juga ia bertemu dengan Meidina Shafa dan teman-temannya.


(Pembaca pasti masih ingat pada bab ini)


Setelah dari gazebo itu, Rafka segera menemui syaikhona dan menyampaikan segala apa yang kini sudah menjadi kemantapan hatinya. Ia bertekad untuk menjalani semuanya dengan sebenar-benarnya hanya karena Allah, dan segala apa yang berada di luar jangkauannya, seperti calon istrinya menyukainya atau tidak, ia bersandar penuh pada kehendak Allah. Ia akan berjalan menurut se-kehendak Allah saja.


Syaikhona nampak sangat senang dengan apa yang sudah menjadi tekad dan kemantapan putranya itu. Ternyata dalam waktu yang tak begitu lama, hanya sekitar tiga setengah tahun ia mulai mendidik putra bungsunya tersebut, Rafka telah bertransformasi menjadi pemuda yng memiliki keteguhan hati, dan kekokohan jiwa sebagai seorang muslim yang pasrah akan jalan yang diberikan oleh Allah. Kyai Abdullah Umar pun bersujud syukur karenanya.


Benar apa yang dikatakan oleh ustadz Fadil tadi, bahwa menjadi putra orang sholih adalah takdir yang luar biasa. Karena doa dan sujud dari kedua orang tuanya senantiasa mengalir untuk sang putra. Doa dari orang-orang yang sudah mengenal tuhannya, ibarat melesat dan lebih cepat sampai. Walaupun Allah telah menjamin akan mengijabah setiap doa, namun memang ada kriteria doa-doa yang istimewa tentunya. yakni doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang bertakwa, seperti kyai Abdullah Umar Hasyim, salah satunya.


Maka tak butuh waktu lama bagi putranya yaitu Arafka untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, karena cahaya petunjuk itu memang telah tersedia di dalam dirinya.

__ADS_1


Dan sebenarnya hal ini juga berlaku untuk semua manusia, bukan karena dia putra orang shalih atau tidak. Karena dalam setiap manusia sudah disiapkan perangkat yang lengkap untuk bisa dekat dengan sang penciptanya. Hanya memang tak banyak manusia yang bisa untuk menggunakan perangkat yang telah disediakan itu, karena ketidakmampuan mereka untuk memfungsikan hatinya. Sedangkan perangkat lengkap tersebut hanya bisa dijalankan dengan hati. Bisa jadi karena kurangnya informasi, kurang mawas diri, dan kurangnya menimba ilmu untuk bisa memahami.


Fenomena zaman sekarang ini, menimba ilmu hanya dimaksudkan agar dapat gelar akademik yang tinggi, untuk selanjutnya bisa mendapatkan lapangan pekerjaan yang mudah dan sesuai dengan yang diminati. Ilmu hanya ditakar untuk kesuksesan duniawi, bukan untuk bisa tahu pada siapa yang telah membuatnya ada di dunia ini. Jika sikap seperti ini yang lebih dikedepankan, maka jangan salahkan jika tak bisa memanfaatkan perangkap lengkap yang sudah disediakan oleh Allah dalam tiap-tiap jiwa.


Sedangkan bagi orang-orang sholih yang bertakwa, mereka terbiasa berjalan dengan hatinya untuk menuju tuhannya. Maka lebih mudah bagi mereka untuk mengoperasikan perangkat kesempurnaan yang telah tersedia dalam dirinya. Sehingga mereka menjadi insan yang lebih istimewa dari pada manusia-manusia lainnya.


Kesimpulannya adalah, untuk mencapai predikat "takwa" bukan hanya karena menjadi anaknya kyai saja. Tapi, siapapun, di manapun, bisa menjadi takwa dengan cara memfungsikan hatinya. Sebab hati adalah tempat kebenaran ilahi. Anak orang sholih sekali pun, belum tentu akan menjadi orang shalih juga kalau tidak mawas diri, serta belajar taqaarub pada ilahi.


Akan tetapi biasanya, orang-orang tua yang shalih dan bertakwa, akan senantiasa membimbing, mengarahkan dan menuntun putranya, dari sebelum dilahirkan ke dunia, melalui sujud dan doa-doa mereka, seperti kyai Abdullah Umar terhadap putra-putrinya, salah satunya adalah Irfan Arafka Wafdan. Maka menielmalah putra-putra tersebut sebagai orang yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.


kemballi ke cerita.


"Nak, apa kemarin kau mengikuti kuliah umum juga?" tanya kyai pada Arafka setelah bersujud syukur atas keberhasilan putranya.


"Iya, Aba."


"Kau ingat pada salah satu pendamping nara sumber, dia alumni Alhasyimi, sekarang sedang menempuh S2 di Al-Azhar."


"Apakah yang bernama Rayyan Ali Fattan, Aba?"


"Iya, Nak. Dia itu putranya kyai Muhajir, pengasuh pondok pesantren Darul-Uum di Jember. Tak jauh dari kediaman calon mertuamu. Aba menugaskannya untuk menggantikan pak Irham, dosen STAI, sementara ia sedang dirawat," tutur kyai pengasuh. Dan Arafka menyimak semua penuturan abahnya itu dengan seksama.

__ADS_1


"Kau temuilah dia! berkomunikasilah dengannya perihal pertunanganmu dengan Meidina Shafa," titah syaikhona.


"Baik, Aba." Tanpa banyak bertanya, dan tanpa banyak berpikir, Arafka mematuhi perintah Syaikhona.


__ADS_2