
Menyadari kalau masalahnya telah terselesaikan dan tercerahkan, yang dilakukan oleh Irfan Arafka Wafdan pertama kali adalah bersyukur pada Dzat yang telah memberinya kehidupan. Yang Telah Memberikan Pertolongan atas segala ketakmampuan yang sempat hinggap di detik-detik Akhir menjelang putusan.
Hal kedua yang dilakukan oleh Arafka kemudian, adalah sowan pada Syaikhona K.h Abdulllah Umar Hasyim, pengasuh besar pesantren Alhasyimi.
Bagi Arafka, Syaikhona adalah tokoh sentral dalam hidupnya, penyampai kesan dan pesan ilahi terhadapnya. Beliau seumpama lentera dalam kehidupan Arafka, yang menerangi lorong gelap berduri yang selama ini telah dijalaninya.
Bersimpuh di hadapan Syaikhona, dengan kepala menunduk, hati penuh merendah, dan mendengarkan dengan seksama, setiap apa yang diucapkan, bahkan dalam sekecil-kecilnya perkataan, semua itu membuat hati Arafka merasa tenang. Nyaman dan damai.
Seperti pula saat ini, dimana pemuda tampan itu duduk di hadapan beliau dengan sikap penuh santun, dan siap untuk mendengarkan setiap wejangan yang akan diberikan. Karena memang setiap kali sowan, pengasuh besar Alhasyimi itu selalu memberinya wejangan singkat, hanya dalam beberapa patah kata yang selalu diingat oleh Arafka dan berusaha diamalkan dalam kehidupan sehari-harinya.
"Peliharah Sholat, bagaimana pun ia akan tetap menjadi pengendali moral seseorang." Demikian nasihat sang pengasuh besar pada Arafka saat itu.
Nasihat dari Syaikhona ini, tak hanya dimaknai pada kalimat mentahnya saja oleh Arafka. Tapi selalu ditelaah dengan penalaran dari banyak pendapat yang sudah ahli di bidangnya. Baik itu yang tercantum dalam kitab-kitab rujukan di Alhasyimi, atau yang merupakan pendapat secara lisan dari para tenaga pengajar Alhasyimi, di bidangnya tersendiri. Dan hasil dari setiap pengayaan materi itu, ia terapkan dalam kehidupannya sendiri.
Biasanya, setelah memberikan wejangan singkat, pengasuh besar Alhasyimi itu akan memersilakan santri keasayangannya tersebut untuk kembali ke wisma pondok, atau ke rumahnya sendiri yang hanya berjarak 2 Km dari Alhasyimi pusat. Apa yang disampaikan beliau pada Arafka adalah bentuk pendidikan langsung dan juga khusus dari Syaikhona. Ini adalah salah satu keistimewaan pemuda itu yang mungkin tidak dimiliki dan tidak diketahui oleh santri Alhasyimi yang lainnya. Terkecuali teman-teman dekat Arafka sendiri.
Dan atas kedekatannya dengan pengasuh besar tersebut tak membuat Arafka tinggi hati. Ia malah semakin merendah, merasa sebagai santri yang paling tidak tahu apa-apa dan harus banyak belajar dalam berbagai hal.
Saat Arafka mencium tangan Syaikhona, tiba-tiba saja beliau bertanya. "Berapa usiamu sekarang, Nak?"
"Dua puluh empat tahun," sahut Arafka santun.
Menurut sebagian santri Alhasyimi, pemuda tampan itu masih berusia 20 tahun. Hal itu dilihat dari wajahnya yang baby face dan tingkatan semester di STAI Alhasyimi, dimana ia tercatat sebagai mahasiswa di sana. Tapi, itulah sebenarnya usia Arafka. Dan di balik semuanya, pasti ada cerita.
Dengan jawaban Arafka atas pertanyaan dari Syiakhona itu, beliau tersenyum seraya mengangguk. Dan selanjutnya beliau tak mengucapkan apa-apa. Tapi, Arafka tahu, kalau selalu ada makna di setiap perkataan Sayikhona, dan selau ada maksud di balik setiap tanya. Lalu apa maksud pengasuh besar Alhasyimi itu bertanya masalah usia? Wallahu a'lamu. Arafka tidak mau menerka-nerka, apalagi terhadap seorang guru yang sangat ia hormati sepenuh jiwa.
Dan setelah dua hal dilakukan oleh Arafka sebagai bentuk syukur atas terungkapnya kebenaran dari apa yang dituduhkan oleh Masayu kepadanya. Kini, saatnya ia melakukan hal yang ketiga, yaitu berterima kasih pada seseorang yang sudah berjasa besar membantunya terlepas dalam masalah ini.
🌺🌺🌺🌺
Kabar tentang sidang di kediaman Kyai Fadholi tadi sore itu pun menyebar. Tak hanya di kalangan santri Alhasyimi cabang, tapi santri Alhasyimi pusat pun juga mendengar kabar. Maka peristiwa sidang itu pun menjadi trending topic no satu di Alhasyimi, per hari ini.
Peristiwa itu menjadi topik perbincangan yang paling banyak dibicarakan di kalangan santri.
__ADS_1
"Ya Allah, tega sekali Masayu sampai memfitnah sekeji itu," ujar salah satu santri yang duduk di teras aula malam ini.
"Kalau hati sudah terpikat dan terjerat dengan cinta, memang cenderung bisa melakukan apa pun untuk mendapatkannya. Sekali pun dengan cara yang tidak diperbolehkan," sahut teman yang duduk tak jauh darinya.
"Itu namanya ambisi, bukan cinta. Karena cinta tidak seperti itu. Cinta itu tidak menyakiti," sahut yang satunya lagi.
Dan ucapan ini ditanggapi dengan cara yang berbeda oleh teman yang satunya lagi. "Ya maklum lah, Masayu itu tergila-gila pada siapa, Arafka Wafdan gitu, lihat wajah dan penampilannya aja udah bikin ngiler."
"Bener, dan tau gak, apa yang bikin Masayu tambah keblinger sampai menghalalkan segala cara?"
"Apa?" Hampir semua bertanya dengan rasa penasaran.
"Katanya, Arafka itu anaknya seorang pengusaha. Perusahaannya banyak. Bahkan katanya lagi, studio alam Albadar itu milik dia, tapi dihibahkan atas nama pesantren."
"Haa?" Mereka berseru takjub untuk sebuah kabar yang masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Kabar yang masih berkisar antara katanya dan katanya.
Tapi, mari kita lanjutkan saja mendengarkan pembicaraan beberapa santri putri ini.
"Aku juga dengar kalau dia anak orang kaya. Dan yang aku dengar itu orang tuanya tinggal di Bali, tapi mereka sudah meninggal."
Pembicaraan mereka sepertinya masih akan terus berlanjut, namun seorang di antara mereka yang tak ikut andil dalam pembicaraan tersebut, ikut buka suara.
"Teman-teman, terlepas dari siapa dan bagaimana Irfan Arafka Wafdan itu, serta seberapa pun tingginya keinginan untuk mendapatkan cintanya, memfitnah itu adalah cara yang tak akan pernah dibenarkan oleh agama, dan tak akan pernah diridhoi oleh kita semua."
"Iya, benar." Dan semua menyetujui ucapan itu.
Tak hanya di kalangan santri Alhasyimi saja, siswi kulliyatul muallimin tingkat 3 juga sedikit mengisi perbincangan dengan topik sidang tadi siang.
Sementara Davina yang sedang duduk bersandar di depan jendela yang terbuka, nampak ia sedang membuka-buka buku Ensiklopedia islam yang sedang dipangkunya. Sesekali ia membaca, dan sesekali pula tatapannya melayang menembus malam, menuju langit bertabur bintang, dan sepotong bulan di atas awan.
"Baca, apa melamun?" tegur Nabila Alia seraya duduk di sampingnya.
"Iya, membaca, lah," jawab Davina.
__ADS_1
"Baca yang di sini." Nabila menunjuk buku ensiklopedi dengan penampilan yang sangat exlusive itu. "Atau baca yang di sana" Nabila menunjuk ke langit malam.
"Kedua-duanya," sahut Davina.
"Memang bisa?"
"Bisa. Yang satu dibaca dengan hati. Dan yang satu dengan pikiran."
"Wahh kreatif ya. Biasanya yang ada di fikiran itu karena ada di hati. Tapi, ini kok objeknya beda. Gampang mendua nih," ledek Nabila dengan nada bercanda.
"Gak lah, urusan hati hanya satu. Sekarang dan selamanya," sahut Davina dengan mantap.
"Wauu." Davina berseru takjub. "Siapa sih pria beruntung itu, yang telah kau titipi kesetiaan sampai mati?"
"Ada, deh." Davina tergelak.
"Ada di sini juga?" Nabila terlihat sangat penasaran.
"Ada di tempat jauh."
"Luar negeri?" tebak Nabila.
"Mungkin." Davina malah memberi teka-teki.
"Kayak Madina dong, suka menjalin kasih jarak jauh. Namanya juga sahabat, seleranya sama."
Davina jadi terdiam karena ucapan itu. Wajahnya langsung terlihat sendu yang sesaat terlihat oleh Nabila. Namun, gadis manis yang cerdas itu, yang pintar beradaptasi dan ahli dalam hal sosialisasi itu, dapat dengan mudah mentralisir perasaannya. Ia lalu memberikan senyum yang sebaik mungkin, lalu segera alihkan pembicaraan pada buku yang tengah ia baca.
"Banyak sekali pengetahuan baru yang bisa diperoleh dari buku ini. Tentang makamnya Sayyidina Ali yang menurut sebagian orang belum diketemukan, ternyata di sini tertulis kalau ada di An-Najaf. Dan juga tentang Sayyidina khusain yang dikhianati oleh istrinya. Dan masih banyak lagi."
"Iya. Dan buku ini cukup mahal lho untuk ukuran kantong kita," jawab Nabila dan ia malah menitik beratkan pada harga buku.
"Beruntung sekali ya," kata Davina, tanpa menjelaskan lebih lanjut siapa yang beruntung. Tapi, Nabila paham kalau yang dimaksud itu adalah Madina. Sebab buku Ensiklopedi yang sekarang ia pegang itu memang punya Madina Shafa yang dikirimi oleh Ra Fattan langsung dari Mesir.
__ADS_1
"Ra Fattan pasti sangat sayang pada Madina ya," ujar Nabila.
"Pastinya. Rasa sayang yang sudah disimpan sekian lama, tapi baru bisa diungkapkan." Davina mengatakan hal itu sambil menunduk membuka-buka buku di pangkuannya. Dan sekali lagi Nabila dapat melihat ekspresi sendu di wajah temannya itu.