
Di akhir acara Mala baru bisa melihat Tias dan Ardi, keduanya memberi selamat pada Mala dan Galih. Namun ada sesuatu yang membuat Mala heran, Tias tidak seperti biasanya. Tias malam ini bukan Tias yang Mala kenal, begitupun Ardi. Keduanya memang menentang pernikahan Mala dan Galih, tapi Mala sudah menjelaskan pada mereka walau Mala berbohong tentang kontraknya.
"Apa mereka kecewa?" batin Mala sambil menyisir rambutnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Galih begitu menyadari Mala yang tampak melamun.
Mala dan Galih sudah berada dikamar hotel yang disiapkan untuk mereka menikmati malam pertama. Jika pernikahan normal, Mala pasti akan merasa bahagia dengan mawar merah yang berbentuk hati yang menghiasi tempat tidur mereka. Masalahnya pernikahann mereka bukan pernikahan normal.
"Tidak memikirkan apa-apa" jawab Mala berbohong.
Galih tahu Mala berbohong tapi dia tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dia harus menjaga sikapnya agar Mala bisa dekat dengannya.
"Ayo tidur, ini sudah malam. Kamu pasti lelah, sejak pagi sampai malam tanpa sempat istirahat" ucap Galih mencoba memberi perhatiannya.
"Kita tidur satu tempat?" tanya Mala. Tidak ada sofa dikamar ini agar mereka bisa tidur terpisah.
"Mau bagaimana lagi" jawab Galih membuat Mala mendesah.
"Apa aku perlu pesan satu kamar lagi?" tanya Galih.
"Ingin membuat semua orang curiga?" Mala balik bertanya sambil berjalan menuju tempat tidur.
Ini kamar hotel, sehingga tidak ada guling yang bisa dia gunakan untuk memberi batas wilayah mereka tidur. Dengan sangat terpaksa Mala harus berbagi tempat tidur dengan Galih dalam satu selimut.
"Jangan coba-coba untuk melakukan hal-hal yang aneh-aneh" ucap Mala memberi ancaman pada Galih.
Galih hanya tersenyum menghadapi ancaman Mala, kalau saja tidak terikat kontrak bodoh tersebut, tentu dia sudah bisa merengkuh tubuh istrinya dan... Galih menghentikan pikiran gilanya. Dia harus bersabar sambil mencari cara agar Mala luluh dan mencintainya.
Mala membuka matanya, dia terkejut saat sadar tangannya yang memeluk Galih, seakan tubuh gagah milik suaminya adalah guling. Mala ingin menarik tanganya, belum sempat dia menarik tangannya Galih menggerakkan tubuhnya menghadap Mala dan tangan kekarnya merengkuh tubuh Mala membuat mereka saling berpelukan.
Mala bisa menatap wajah tampan suaminya. Mala tidak bisa membohongi matanya kalau Galih memiliki wajah yang tampan. Entah mengapa dia tidak tergoda dengan wajah tampan Galih, atau mungkin karena pertemuan pertama mereka yang membuat Mala ilfiil?
Galih mengeratkan pelukannya membuat Mala semakin menempel dengan tubuh suaminya.
__ADS_1
"Dia pikir gue guling apa ya" omel Mala dalam hati.
Entah sadar atau terbawa mimpi, Galih menyentuhkan bibirnya pada bibir milik Mala membuat gadis itu menegang. Pasalnya ini adalah pengalaman pertamanya sedekat ini dengan laki-laki dan Galih dengan seenaknya mencium bibirnya tanpa dosa. Memang tidak berdosa karena mereka halal.
Mala berusaha menjauhkan wajahnya agar terlepas dari bibr Galih yang tak mau lepas menempel dibibirnya. Bukan menjauh Galih malah semakin menautkan bibir mereka. Dengan mata terpejam, Galih melu mat bibir tipis milik istrinya. Mala yang baru pertama kali merasakan yang namanya ber cium an hanya bisa memejamkan mata dan menikmati setiap sentuhan Galih.
Mala tidak berani membuka matanya walaupun dia sudah tidak lagi merasakn sentuhan Galih. Dia mencoba menetralkan degup jantungnya.
Galih membuka matanya sedikit, hanya ingin melihat Mala sedang melihatnya atau tidak. Ternyata istrinya memejamkan mata membuat Galih kembali menautkan bibirnya, kali ini dia akan membuat Mala membalas ciumannya.
Ya, sejak Mala terbangun Galih pura-pura tidur agar bisa memeluk Mala, dia juga yang menarik tangan Mala agar terlihat memeluk tububnya saat Mala tertidur dengan pulas. Licik, ya Galih selicik itu untuk merasakan pelukan sang istri yang berlanjut pada tautan bibir mereka.
Seperti yang Galih inginkan, kali ini Mala membalas ciumannya membuat gairah kelelakiannya membangunkan burung dalam sangkar. Galih segera menghentikan aksinya sebelum dia bertindak lebih jauh lagi.
"Terima kasih Mala sayang" ucap Galih pelan tapi bisa di dengar Mala.
"Aku mencintaimu" lanjutnya, membuat Mala semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Cinta? Benarkah dia mencintaiku?" tanya Mala dalam hatinya tanpa berani membuka mata karena dia tidak ingin melihat wajah Galih.
Mala menjauh begitu Galih melepaskan pelukannya, dia berbalik membelakangi Galih dengan perasaan yang tidak menentu. Dia masih memikirkan ucapan Galih, benarkah pria itu mencintainya sampai terbawa mimpi? Tapi mengapa dia seperti melakukannya dengan sadar?
Galih melirik Mala yang membelakanginya, dia menyungingkan senyum lalu kembali berbalik menghadap Mala dan memeluk istrinya dari belakang. Tidak ada reaksi terkejut dari Mala, sepertinya istrinya itu sudah terlelap. Galih mengecup pucuk kepala Mala lalu memejamkan matanya menyusul istrinya pergi ke alam mimpi. Keduanya terlelap dengan Galih yang memeluk erat istrinya dari belakang.
Mala membuka mata saat alarm yang dia atur di smartphonenya berbunyi, tanganya mencoba mencari-cari sumber suara untuk menghentikan suaranya. Mala berhasil menghentikan suara berisik dari alarm. Sudah jadi kebiasaanya begitu selesai mematikan alarm Mala segera bangkit untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Begitu terkejutnya Mala saat dia akan bangun ada tangan kekar yang memeluk tubuhnya. Berlahan Mala mencoba melepaskan tangan itu, tapi gagal karena Galih semakin mengeratkan pelukannnya.
"Mas" Mala memanggil Galih sambil memukul tangan pria itu.
"Lima menit lagi sayang" jawab Galih tanpa membuka matanya.
"Mas Galih kalau masih mau tidur silakan, tapi jauhkan tangannya. Aku mau mandi, mau sholat" Mala kembali memukul tangan Galih yang masih betah memeluk dirinya.
__ADS_1
"Mandi bareng" bisik Galih. Satu detik kemudian.
"Aww, sakit sayang" Galih menarik tangannya yang digigit Mala.
"Salah siapa minta yang aneh-aneh" jawab Mala sambil berjalan kekamar mandi.
Galih tersenyum, rasa sakit karena gigitan Mala tak sebanding dengan kebahagiaannya hari ini. Ingatannya kembali disaat mereka saling berpangutan, dia akan terus mencari cara agar Mala jatuh cinta padanya.
Dikamar mandi Mala menepuk keningnya karena dia lupa membawa pakaian ganti, mau minta tolong Galih dia merasa gengsi. Mau tidak mau Mala terpaksa keluar dari kamar mandi dengan menggunaan jubah mandi.
Mala membuka pintu kamar mandi, dia mencoba megintip dimana keberadaan Galih. Mala tersenyum saat tahu Galih masih ditempatnya semula.
"Syukurlah dia tidur lagi" ucap Mala sambil berjalan keluar dari kamar mandi.
Mala membongkar kopernya dan mencari pakaian yang ingin dia gunakan. Selesai mengambil pakaiannya Mala berdiri dan berbalik hendak kembali masuk kekamar mandi.
"Mas" teriak Mala terkejut karena Galih sudah berdiri dihadapannya.
"Kenapa?" tanya Galih pura-pura tidak mengerti dengan kemarahan Mala.
Mala tidak menjawab pertanyaan Galih, dia berjalan kembali masuk kekamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang.
"Lama-lama bisa sakit jantung" keluh Mala.
"Pantas saja Mbak Tari bilang dia pria yang menyebalkan, karena dia memang menyebalkan" rutuk Mala sambil memakai pakaiannya.
Mala tersenyum dia menemukan panggilan khusus untuk pria yang baru satu hari jadi suaminya.
"Suami meyebalkan" gumam Mala lalu tersenyum puas.
Galih menatap heran pada Mala yang senyum-senyum sendiri saat keluar dari kamar mandi. Sementara Mala pura-pura tidak melihat Galih dan melanjutkan aktifitasanya untuk beribadah.
"Kalau dia bersikap menyebalkan, aku juga bisa lebih menyebalkan" gumam Mala begitu Galih hilang dibalik pintu kamar mandi.
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...