
Hari ini Mala,Tias, Zoya dan Ardi mengakhiri masa magang mereka di perusahaan Andromega. Saat ini Mala sedang berpamitan pada Tari, berterima kasih dan juga meminta maaf pada sepupu suaminya itu.
"Mala minta maaf ya mbak, jika selama Mala menemani Mbak Tari, ada perkataan atau sikap Mala yang membuat Mbak Tari sedih, marah atau sakit hati."
Tari memeluk Mala, empat bulan dia mengenal istri sepupunya ini, sudah cukup baginya untuk mengetahui bagaimana baiknya hati seorang Mala.
"Tidak ada satupun kata dan sikap kamu yang buat Mbak Tari sedih atau marah. Mbak yang harusnya minta maaf, sering ngerepotin kamu."
"Itu udah tugas Mala jadi asisten Mbak Tari."
"Boleh ikut peluk nggak?" Zoya yang bertanya begitu melihat Mala dan Tari sedang berpelukan.
"Sini, peluk" ajak Tari pada Zoya sambil merentangkan tangan.
Zoya sebagai sahabat Mala ikut dekat dengan Tari, begitupun Tias. Terlebih lagi sahabatnya itu sudah kembali seperti yang Zoya kenal saat SMA, penuh canda dan tawa. Tias juga tidak pernah lagi menghilang tanpa kabar, melihat itu Mala dan Zoya kembali tersenyum senang.
Hari ini Mala, Zoya dan Tias, berencana akan ke salon langanan mereka, untuk memanjakan diri. Setelah beberapa bulan terakhir ini mereka sibuk dan tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Untuk itu Zoya naik ke ruang sekertaris, tujuannya membantu Mala meminta injin pada Galih. Jangan tanyakan kemana Tias? Sejak pulang dari Jogja, Tias sudah tidak ingin lagi menampakkan wajahnya di hadapan Galih. Sadarkah Tias jika selama ini dia. salah? Zoya dan Ardi yang sering membicarakan perubahan sikap Tias tersebut, dan berharap sahabat mereka itu benar-benar menyadari kesalahannya. Bukan karena ingin merencanakan sesuatu yang baru, tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dalam benak Tias sesungguhnya.
"Sayang." Suara Galih mengurai pelukan Tari pada Mala dan Zoya.
"Mas, Mala baru aja mau keruangan Mas Galih" jelas Mala pada Galih, menanggapai panggilan suaminya begitu melihat laki-laki itu sudah ada didekat mereka.
"Ada perlu apa?" tanya Galih sambil mendekati istrinya.
"Mau ijin ke salon sama Zoya dan Tias. Boleh?" jawab dan tanya Mala.
"Kita harus pulang sekarang" ucapan Galih merupakan sebuah perintah bagi Mala. Beberapa hari terakhir ini suaminya itu tidak mau menerima penolakan, Mala sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Galih bersikap seperti itu. Tapi biarpun begitu, Galih tidak mengurangi perhatiannya pada Mala.
"Kesalonya besok aja" Galih bicara pada Zoya yang langsung mendapat anggukan dari sahabat istrinya itu.
"Kalian bisa pergi seharian, mau kesalon atau belanja, silakan. Saya akan pegangkan kartu untuk kalian bersenang-senang." lanjut Galih ucapannya.
"Pak bos serius?" tanya Zoya kegirangan. Dia sudah membayangkan akan mengeksekusi satu tas merk ternama yang baru launching yang dia inginkan beberapa hari ini.
"Apa saya terlihat bercanda?" Galih balik bertanya. Zoya langsung menggeleng, sementara Mala dan Tari hanya bisa tersenyum melihat Zoya yang kegirangan karena akan ditraktir belanja oleh bos Andromega.
__ADS_1
"Kalau begitu kita kesalon besok aja, La" Zoya memberi tahu Mala yang diangguki oleh sahabatnya itu.
"Mbak Tari, Mala pulang duluan" ucap Mala pada Tari yang juga mendapat anggukan dari wanita yang sedang hamil itu.
Di dalam mobil, baik Galih dan Mala tidak ada yang bicara. Sampai Mala menyadari, arah laju kendaraan yang dikendarai sopir bukan menuju ke kediaman mereka.
"Kita mau kemana, Hubby?"
Bukan menjawab, Galih malah menekan tombol penyekat antara kursi kemudi dan kursi penumpang belakang, lalu menarik Mala untuk duduk di pangkuannya. Sejak tadi dia sudah berusaha menahan diri untuk tidak mencium istrinya. Hari ini Galih sedikit merasa lebih lelah dari hari biasanya. Jika saja Mama Vina tidak memaksanya untuk menghadiri acara yang menurut Galih tidak penting ini bersama Mala, Galih lebih memilih untuk langsung pulang dan menikmati tidur sambil memeluk istrinya yang sudah seperti candu untuknya.
"Hubby" lirih Mala begitu sudah duduk di pangkuan suaminya.
"Kangen" ucap Galih, sambil mengusap wajah istrinya.
Satu hari ini, Galih disibukkan dengan menemui beberapa klien yang datang ke kantor dan juga rapat dengan beberapa pimpinan cabang, sementara Mala sibuk membantu Tari menyiapkan berkas-berkas yang di perlukan Galih, sehingga suaminya itu hanya di temani Leo sang asisten. Mala baru menyadari, perubahan sikap Galih yang tidak ingin dibantah, karena pria itu mencari perhatiannya. Mengapa dia baru menyadarinya sekarang?
Cup. Mala mengecup cepat bibir suaminya. Apa yang dilakukan istrinya membuat Galih melukiskan senyum diwajahnya, dia suka, Mala sudah mulai berani mengawali. Tidak ingin membuang kesempatan, Galih melu mat bibir istrinya yang sejak tadi sudah menggoda.
"Huby kita mau kemana?" tanya Mala lagi setelah Galih melepaskan pangutan mereka.
"Ayo turun." ajak Galih, begitu mobil yang membawa mereka berhenti.
Sebuah butik ternama milik sahabat Bunda Sarah, itulah kemana Galih membawa Mala. Dengan banyak pertanyaan dibenaknya, Mala mengikuti langkah Galih yang menggenggam erat tangannya.
"Silakan masuk." Sapa pelayan saat Galih dan Mala masuk kedalam butik tersebut.
"Halo cantiknya tante makin cantik aja nih" Sapa tante Weny begitu melihat pasangan suami istri yang dikenalnya masuk ke ruang VIP.
"Apa kabar Tante?" Sapa Mala begitu dia mencium punggung tangan sahabat bundanya itu.
"Kabar baik pastinya, apa lagi setelah melihat kalian berdua" jawab Tante Weny sambil menggoda Mala.
"Kamu terlihat berisi, sayang. Kamu hamil?" ucap dan tanya Tante Weny.
Galih mencoba memperhatikan Mala, benar saja istrinya terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Galih berharap apa yang di ucapkan Tante Weny itu benar, hanya saja saat menyadari hubungan mereka baru terjadi selama dua minggu ini, Galih mengubur harapannya.
__ADS_1
"Belum Tante" jawab Mala.
"Tidak apa-apa sayang, Sebentar ya, Tante ambilkan dulu gaun rancangan kamu"
"Rancangan aku?" tanya Mala heran.
Mala memang sudah biasa merancang sendiri pakaian yang ingin dikenakkannya untuk acara tertentu. Tante Weny orang yang biasa Mala serahkan rancangannya lalu mewujudkan apa yang dituangkan Mala pada goresan tangannya. Tapi Mala merasa dia belum menyerahkan goresan tangannya yang terakhir.
Tante Weny tersenyum. "Tanyakan saja sama suami kamu"
Mendengar itu, Mala mengalihkan pandangannya pada Galih yang tersenyum lebar. Sudah dapat di tebak, jika semua ini ulah suaminya. Tapi bagaimana Galih bisa tahu? Siapa lagi kalau bukan Bunda Sarah yang menjadi sumber informasi Galih selama ini.
Galih mengajak Mala menuju kediaman orang tuanya, dimana Mama Vina sudah menunggu sejak tadi.
"Mama kira kalian tidak akan datang" ucap mama Vina menyambut kedatangan putra dan menantunya.
"Bagaimana kabar kalian?" lanjut mama Vina pertanyaanya.
"Alhamdulillhah baik, Ma" Mala yang menjawab setelah dia mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Mala, kamu terlihat berisi. Kamu hamil, Nduk?" tanya Mama Vina.
Sudah dua kali, sore ini Mala ditanyakan apa sedang hamil? Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan dari Mala.
"Kamu belum periksa?" tanya Mama Vina lagi.
"Belum Ma, nanti kalau menantu Mama ini hamil, orang pertama yang aku kabari itu, Mama" Galih yang menjawab membantu istrinya.
"Kalau begitu, istrimu jangan dibuat lelah. Atau kalian pergi bulan madu. Mau kemana? Nanti Mama yang urus" tawaran yang Mama Vina berikan sangat menggoda.
"Bagaimana?"
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1