BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
I Love You


__ADS_3

Hari ini Mala sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tentu saja kabar ini disambut Mala dengan baik, dia bosan diperlakukan sebagai orang sakit selama dua hari ini. Galih melarangnya untuk melakukan ini dan itu. Suaminya itu yang mengambil alih, dia yang akan melakukan semua untuk Mala.


"Ayo sayang" ajak Galih begitu mereka sampai di kediaman mereka. Laki-laki itu sudah siap dengan posisi akan menggendong istrinya.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas" tolak Mala.


Galih tidak menghiraukan penolakan Mala, dia tetap dengan keinginanya diawal untuk membawa masuk istrinya kedalam rumah dalam gendongannya. Mala tidak bisa lagi menolak jika Galih sudah seperti ini. Bukankah Mala juga menyukainya?


"Kalian berdua ini membuat Eyang malu" ucap eyang Retno melihat kemesran Galih dan Mala.


Tanpa disangka, di kediaman mereka sudah ada bunda Sarah dan eyang Retno yang menyambut. Senyum bunda Sarah seketika mengembang melihat kemesraan anak dan menantunya, sungguh bersyukur perjodohan ini telah melahirkan cinta dikeduanya.


"Mas, turunkan aku di sofa saja" pinta Mala. Dia bosan selalu berbaring di tempat tidur.


"Bagaimana, apa sudah merasa lebih baik, Nduk?" tanya eyang Retno pada Mala begitu Galih sudah selesai menurunkan istrinya di sofa.


"Sudah Yang, Mala sudah tidak pusing lagi"


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan meminta bantuan suamimu" Eyang Retno melirik Galih yang memamerkan gigi putihnya.


"Ingat Le! Istri hamil itu harus dijaga, jangan dibuat sedih" nasehat eyang Retno untuk Galih yang langsung mendapat anggukan dari laki-laki itu.


"Tidak perlu Eyang ingatkan" jawab Galih yang langsung merangkul Mala dan mengecupi pucuk kepala istrinya.


"Mas" ucap Mala yang merasa tidak enak Galih melakukannya di depan eyang Retno. Bukan berhenti, Galih berpindah mencium pipi istrinya.


Drett... Drett. Ponsel Galih bergetar. Dia sengaja mensenyapkan panggilan ponselnya.


"Ada apa?" tanya Galih.


Satu jam lagi Zoya harus mengantikan Dito di kelas. Dosennya itu memberitahukan sejak kemarin, laki-laki itu ada urusan lain yang harus diselesaikan hari ini. Berulang kali dia melirik benda yang melingkar di tangannya, sejak tadi tidak ada taxi yang lewat. Sementara kendaran online yang biasa dia gunakan sedang mengadakan demo sehingga dia tidak bisa menggunakan aplikasi tersebut.


"Butuh tumpangan?"


Zoya mendongakkan kepalanya kearah suara yang beberapa hari ini sering didengarnya. Benar saja, Leo sudah berdiri disisinya.


"Bang Leo kok bisa ada disini?" tanya Zoya heran.


"Kebetulan saya baru selesai bertemu klien di cafe seberang." Tunjuk Leo dimana kendaraannya terparkir.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Leo begitu mereka sudah duduk dikendaraan milik laki-laki itu. Mengingat waktunya yang sempit membuat Zoya akhirnya menerima tawaran Leo.


"Kampus"


Tidak menunggu lama Leo segera melajukan kendaraannya. Suasana didalam mobil hening, tidak ada satupun dari mereka berdua yang memulai pembicaraan. Zoya yang biasanya banyak bicara memilih untuk diam, terlintas pertanyaan dibenaknya, mengapa akhir-akhir ini dia selalu bertemu Leo? Orang yang tidak pernah masuk dalam daftar yang bisa dekat dengannya. Sementara, laki-laki yang selama ini dia harapkan semakin hari semakin jauh meskipun mereka terikat satu pekerjaan.


Leo binggung harus memulai dari mana? Dia bukan pria yang pandai bicara dengan lawan jenis. Tangannya menyentuh tombol power untuk menyalakan musik. Terdengar intro dari lagu milik Andmesh.


Keduanya tanpa di komando mengikuti alunan suara sang penyanyi. Leo melirik Zoya yang tersenyum padanya.


"Terimalah lagu ini. Dari orang biasa. Tapi cinta ku padamu luar biasa. Aku tak punya bunga. Aku tak punya harta. Yang kupunya hanyalah hati yang setia. Yang kupunya hanyalah hati yang setia.Terimalah cintaku yang luar biasa tulus padamu" ucap keduanya bersamaan.


"Ternyata kamu pintar bernyanyi" Puji Leo setelah mereka mengakhiri menyanyikan lagu cinta luar biasa.


"Suara Abang juga bagus" Zoya balik memuji.


Entah perasaan apa ini, Zoya merasa hangat bersama Leo. Laki-laki ini memang pendiam, tapi dia merasa lebih nyaman.


"Terima kasih tumpangannya Bang." ucap Zoya begitu kendaraan Leo sudah berhenti tepat didepan gedung fakultas ekonomi.


"Zoy" panggil Leo saat gadis itu akan turun dari kendarannya.


"Nanti Abang jemput" ucapnya.


"Temani Abang makan siang" pinta Leo akhirnya.


Zoya masih ingin menolak, tapi itu sangat tidak sopan. Leo sangat baik padanya, bahkan di tengah kesibukannya laki-laki ini menyempatkan diri mau memberikan tumpangan padanya sampai ke kampus. Zoya akhirnya mengangguk yang langsung menghadirkan senyum di wajah Leo.


"Jam berapa kamu selesai?"


"Jam satu"


"Abang jemput jam satu"


Galih tertawa mendengar cerita Leo, bagaimana bisa sahabatnya itu sekaku itu pada wanita yang disukainya. Galih memang dingin, tapi dia akan menghangat pada wanita yang dicintainya. Untung saja ada musik yang bisa mencairkan suasana.


"Ada apa Mas?" tanya Mala begitu Galih mengakhiri panggilan teleponnya.


Sejak tadi dia bertanya-tanya, heran mendengar suaminya tertawa. Mereka tinggal berdua duduk di sofa ruang tengah, bunda Sarah sudah pergi dari sana menemani eyang Retno yang ingin istirahat di kamar.

__ADS_1


"Kamu tahu sayang, Leo sekarang sedang melakukan pendekatan dengan Zoya"


"Mas serius?" tanya Mala tidak percaya.


"Tadi Leo yang telepon, dia baru saja selesai mengantar Zoya ke kampus."


"Semoga saja bang Leo berhasil" gumam Mala yang masih bisa didengar Galih.


"Kenapa?"


"Sejak awal kuliah, Zoya itu sudah suka dengan pak Dito"


"Sementara Dito sukanya sama kamu" sahut Galih. Mala menoleh pada suaminya.


"Tidak perlu ditanya Mas tahu dari mana" lanjut Galih ucapannya.


Mala menarik nafas panjang, itu sudah lama berlalu. Bahkan Mala berkali-kali menolak dosen pembimbingnya itu.


"Mas mencari tahu banyak hal tentang kamu. Pasti banyak hal yang terjadi selama kita terpisah, dan Mas ingin tahu apa saja yang terjadi sama kamu"


"Termasuk tentang Dito yang punya rasa sama kamu dan juga..."


Galih menghentikan ucapannya, dia menatap Mala yang penasaran dengan kelanjutan ucapan Galih.


"Kamu yang menolak dia berkali-kali"


Galih tertawa kecil, sebenarnya dia ingin menyebut nama Abi, tapi ini bukan waktu yang tepat. Bukankah mereka hanya saling menyukai dan tidak pernah ada hubungan antara keduanya. Galih sebenarnya tidak ingin mengungkit masa lalu Mala, terlebih lagi sudah ada buah hati yang akan hadir di kehidupan mereka berdua.


"Maaf" ucap Galih yang merasa bersalah.


"Sayang, rasa ini sudah ada sejak dulu. Hanya saja, jarak dan waktu membuat kita kehilangan"


"Mas mencintaimu sejak dulu" bisik Galih lembut di telinga Mala.


Mala berbalik menghadap Galih, dia tersenyum pada suaminya. "Mala tahu, Mala juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, Mala yang dulu tidak faham apa itu cinta"


Kata-kata yang keluar dari mulut Mala membuat Galih jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada Mala.


"I love You"

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2