BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Pergi Selamanya


__ADS_3

Mendengar suara Ardi yang bertanya pada dokter Erick, membuat Mala mengurai pelukannya dari Galih.


"Bagaimana kondisi Tias, Dok?" tanya Ardi.


"Maafkan saya" jawab dokter Erick.


"Maaf..." dokter Erick terisak. "Saya gagal, saya tidak bisa meyelamatkan, Tias" lanjut laki-laki itu sambil menitikkan air matanya.


Tias sudah pergi untuk selamanya, itulah yang disampaikan dokter Erick pada semuanya. Bukan hanya Mala, Zoya dan Ardi yang terpukul atas kepergian Tias. Dokter Erickpun merasakan hal yang sama, dia meraaa gagal sebagai dokter, tidak bisa menyelamatkan Tias, gadis yang membuat Erick kembali jatuh cinta dan kini, cintanya kembali pergi, pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Usaha Erick untuk mengembalikan kesadaran Tias berhasil, tapi dia tahu jika Tias sudah tidak bisa bertahan. Tias menitipkan beberapa pesan padanya, lalu Erick membimbing Tias mengucap syahadat selagi ada waktu, sebelum wanita itu pergi untuk selamanya.


Tangannya menggengam erat jemari Tias sambil menuntun Tias yang mengikuti setiap ucapannya. Tias pergi setelah kalimat terakhirnya usai, wajahnya yang merah mulai memutih tapi senyum dibibir itu tidak hilang. Tias pergi dengan damai.


"Sayang" panggil Galih begitu Mala jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukannya.


Galih segera mengangkat tubuh istrinya untuk dibawa keruangan pria itu, diikuti Tari, Zoya dan Leo. Galih membaringkan Mala diatas sofa, istrinya pasti sangat terpukul mendengar kepergian Tias sehingga dia tidak sadarkan diri.


Galih terus mencoba menyadarkan Mala dari pingsannya, dia memberi minyak kayuh putih di hindung Mala. Tapi usahanya belum berhasil, Galih berdiri lalu meminta Zoya untuk menjaga Mala.


"La, sadar dong, La" ucap Zoya sambil menggoyangkan tubuh Mala yang tak kunjung sadar.


Usaha Zoya tidak sia-sia, sahabatnya itu membuka matanya.


"Lo jangan buat gue sedih juga, La. Cukup Tias aja yang gue tangisi hari ini" ucap Zoya mengeluarkan keluhannya.


"Maaf" ucap Mala, dia tidak bermaksud membuat Zoya sedih.


"Mas" panggil Mala begitu melihat sosok Galih yang membawakannya segelas air.


"Iya sayang, apa yang kamu rasakan?" tanya Galih sambil mengelus kepala Mala.


Mala menggeleng, dia tidak merasakan apa-apa. Hanya belum percaya jika Tias sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Mengingat itu, Mala kembali meneteskan air matanya.


"Zoy" panggil Mala.


Zoya ikut menangis, dia juga terpukul dengan kepergian Tias. Keduanya berpelukan sambil menagis. Galih, Leo dan Tari yang ada disana hanya bisa memandangi keduanya dalam diam.

__ADS_1


Ardi tidak bisa menahan air matanya, sejak Tias meminta maaf lalu memejamkan matanya mata Ardi sudah berkaca-kaca.


Tanpa Ardi sadari, sejak awal dia menerima panggilan video ada seseorang yang terus memperhatikannya. Dia adalah Lela, salah satu pendidik di pesantren tempat Ardi menuntut ilmu.


" Kematian adalah sesuatu yang pasti, setiap manusia akan meninggalkan dunia ini cepat atau lambat."


Suara Lela mengejutkan Ardi, dia langsung mengusap air matanya. Tidak ingin wanita yang banyak membantunya dalam memahami ilmu agama ini melihat kesedihannya.


"Maaf, saya tidak sengaja mendengar percakapan anda dan teman-teman, Anda." ucap Lela lagi.


"Tidak apa-apa bersedih, itu sudah sifat manusia yang memiliki perasaan, asal jangan berlarut- larut. Akan lebih baik lagi, jika kita mendoakan kepergiannya agar di terima yang Maha Kuasa dan di tempatkan di surga."


Lela pamit pada Ardi setelah laki-laki itu menjawab dengan anggukan.


Ardi kembali melihat benda pipih yang ada ditangannya. Sambungannya dengan Erick sudah terputus setelah laki-laki itu memberitahu kepergian Tias.


Tapi tidak dengan Zoya, dia masih terhubung dan bisa melihat Mala yang jatuh pingsan dipelukan Galih. Ardi memahami apa yang Mala rasakan, sahabatnya itu pasti jauh lebih sedih dari pada dia dan Zoya. Mengingat sudah hampir sepuluh tahun kebersamaan Mala dan Tias.


Ardi menemui pimpinan pesantren untuk meminta ijin kembali ke kota. Dia ingin menghadiri pemakaman Tias, mengantarkan sahabatnya itu untuk yang terakhir kali.


Terlintas dimata Ardi dosa yang pernah dia lakukan bersama Tias, membuat Ardi kembali menitikan air mata.


"Saya permisi, Kyai" pamit Lela pada pimpinan pesantren.


Lela tahu tujian Ardi menemui Kyai mereka, pemuda itu pasti akan meminta ijin untuk ke kota.


"Maaf, Kyai. Saya minta ijin pulang ke kota untuk beberapa hari." ucap Ardi memberi tahu Kyai Abdulah.


"Pulang lah, Nak. Mengikuti pemakaman adalah satu dari lima hak Muslim atas Muslim yang lain. Rasulullah SAW menegaskan hukum sunnah dalam mengantarkan jenazah sekaligus menggotong keranda jenazah itu." jawab Kyai Abdulah.


"Lela tadi memberi tahu saya, jika kamu sedang berduka" lanjut Kyai Abdulah menjelaskan dari mana di tahu jika Ardi menghadapnya untuk meminta ijin pulang karena ingin menghadiri pemakaman sahabatnya.


"Setelah sholat dzuhur, kita kirim doa untuk sahabatmu itu, bersama para santri, Nak Ardi"


"Terima kasih, Kyai." jawab Ardi. Doalah yang memang Tias butuhkan. Ardi berharap dengan doa yang di panjatkan kyai Abdulah beserta para santri bisa membantu menghapus dosa Tias selama hidup di dunia.


Vivi yang tidak menemukan siapapun di ruangnya dan Tari dikejutkan oleh seseorang.

__ADS_1


"Kamu terlalu lambat bergerak"


Vivi tahu, itu suara orang yang membantunya bisa di terima menjadi asisten sekertaris di perusahaan Andromega, posisi yang sangat memungkinkan untuk mendekati Galih. Laki-laki dihadapannya ini salah satu anak buah dari Mr.X, orang yang mempekerjakannya untuk menggoda Galih. Selain Vivi yang memang tertarik dengan Galih, dia juga membutuhkan uang yang ditawarkan Mr.X.


"Dia bukan laki-laki yang mudah di taklukan, Anda pasti tahu itu" jawab Vivi membela diri.


"Sudah saya katakan, gunakan cara cepat. Mr.X tidak mau menungguh lebih lama lagi" ucap laki-laki itu lalu berlalu dari hadapan Vivi.


Vivi menghembuskan nafas kasar sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi. Laki-laki itu benar, Vivi harus menggunakan cara yang disarankan oleh Mr.X. Jika tidak sisa pembayaran yang jumlahnya lumayan besar akan melayang dari tangannya.


Erick dan papa Tias segera mengurus kepulangan jenazah Tias ke tanah air. Kesibukan keduanya itu di manfaatkan seorang wanita paruh baya untuk menemani Tias.


Membuka kain yang menutupi wajah Tias, wanita itu menatap sedih wajah Tias yang pucat. Bibir gadis itu terlihat menyunggingkan senyum dimatanya. Terbayang percakapan terakhir mereka dua hari yang lalu.


Setelah sekian tahun berpisah, mereka dipertemukan dalam keadan yang tidak baik. Tias yang tergeletak lemah hanya bisa menangis dan wanita itu terus menggumamkan kata maaf.


"Terima kasih" ucap Tias disela isak tangisnya.


"Terima kasih sudah mau menjadi pendonor untuk saya."


"Maafkan ibu, Nak." hanya kata itu yang bisa wanita itu ucapkan pada Tias.


Banyak kata yang ingin dia sampaikan, tapi mulutnya seakan tekunci untuk mengatakan semuanya. Penyesalan dan kesalahan yang tidak bisa dia sendiri maafkan, bagaimana Tias bisa memafkannya?


"Ini sudah kewajiban ibu untuk membantumu kembali sehat, Nak" ucap wanita itu pada akhirnya.


"Maafkan ibu yang tidak ada disisimu selama ini"


Tias diam, selama ini satu doa yang terus dia panjatkan, dia ingin bertemu ibu yang melahirkanya sebelum dia mengakhiri hidupnya. Kini sang ibu ada di hadapannya, yang akan menjadi pendonor untuknya.


"Bisakah aku memelukmu untuk terakhir kalinya, Ibu?" tanya Tias.


Sang ibu menuruti keinginan Tias, dia memeluk erat putrinya. Hal yang sangat dia inginkan jika bertemu Tias, dan kini putrinya sendiri yang meminta. Tentu ibu Tias tidak akan melewatkan kebahagiaan ini.


"Terima kasih sudah melahirkan aku ke dunia ini" ucap Tias pelan pada sang Ibu, setelah ibunya melepaskan pelukan mereka.


Satu kelegaan yang Tias rasakan, kini dia siap seandainya dia tidak dijinkan untuk hidup lebih lama lagi. Tias menyungingkan senyum, senyum yang kini terbayang oleh sang ibu dijasad yang terbujur kaku.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagi...


__ADS_2