BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Salah Menduga


__ADS_3

Tari baru saja menyelesaikan makan siangnya yang sedikit terlambat saat menerima telepon dari Leo.


"Kalian menghilang kemana?" tanya Tari dengan nada kesalnya, begitu tahu yang menghubunginya adalah Leo.


Tari sempat mencari Galih sang bos yang tiba-tiba saja menghilang dari ruangannya, begitu juga dengan Leo sang asisten yang ikut menghilang. Sementara dia butuh mereka berdua untuk menyelesaikan satu pekerjaan lagi.


"Ke rumah sakit" jawab Leo.


"Apa? Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Tari beruntun.


"Mala. Dia mengalami kecelakaan. Seseorang sepertinya sengaja menabraknya" jawab Leo.


"Kalian dirumah sakit mana?"


"Harapan"


"Gue nyusul kesana" ucap Tari, namun mendapat sangahan dari Leo.


"Lo urus perusahaan aja. Dan sekarang tolongin gue cari ukuran pakaian yang pas buat zoya"


"Untuk apa? Lo jangan macam-macam ya Leo" ancam Tari yang tidak mengerti maksud dan tujuan Leo.


"Lo jangan negative thingking dong. Pakaian Zoya kotor terkena darah dari Mala, dia butuh pakaian ganti. Gue nggak tahu ukuranya, makanya gue tanya lo. Soalnya lo kenal dia"


Tari terdiam mendengar penjelasan Leo, lalu tertawa setelah dia menyadari sesuatu. Sejak kapan asisten Galih itu peduli dengan seorang wanita, sampai-sampai memperhatikan pakaiannya dan rela membelikan yang baru.


"Maaf, gue nggak tahu" ucap Tari masih dengan sisa tawanya.


Setelah memberi arahan pada Leo masalah pakaian untuk Zoya, Tari langsung kembali keperusahaan seperti yang disarankan Leo padanya. Baru akan masuk ke dalam mobil seseorang memanggilnya.


"Mbak Tari" Widya memanggil Tari.


"Hai Wid. Apa kabar?" jawab dan tanya Tari.


"Alhamdulillah baik, Mbak. Mbak Tari gimana kabarnya?" Widya balik bertanya pada Tari setelah menjawab pertanyaan wanita hamil itu.


"Baik" jawab Tari sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.


"Apa kalian sudah dapat kabar kalau sekarang Mala di rumah sakit?"


"Mala? Dia kenapa?" tanya Widya terkejut.


"Leo baru saja mengabarkan kalau dia kecelakaan dan sepertinya sengaja di tabrak seseorang"


"APA" Widya tanpa sadar berteriak.


Penjelasan Tari membuat Widya kembali terkejut begitupun dengan Rafi, mereka langsung memutuskan untuk mengunjungi sepupu kesayangan Widya itu di rumah sakit.

__ADS_1


"Pak Leo, terima kasih pakaiannya" ucap Zoya disela perjalanan mereka menuju tempat dimana pelaku yang menabrak Mala di tahan orang-orang kepercayaan Galih.


"Hemm" Leo hanya menjawab dengan deheman.


"Itu biar kamu nyaman memakai pakaian yang bersih" lanjut Leo ucapannya, setelah merasa bersalah hanya menjawab singkat pertanyaan Zoya.


Mereka hanya berdua di kendaraan milik Galih. Sementara Ardi ikut bersama orang kepercayaan Galih, sehingga dia dan Zoya terpisah.


"Saya malah tidak sadar kalau pakain saya kotor" jawab Zoya yang mendapat senyuman dari Leo yang hampir tidak telihat.


"Pak"


"Zoy"


Zoya dan Leo memanggil bersamaan. Keduanya sama-sama tersenyum, kali ini senyum Leo terlihat jelas dimata Zoya.


"Kamu duluan" ucap Leo mempersilakan Zoya untuk bicara lebih dulu.


"Nggak jadi deh, Bapak aja"


"Kamu sudah tidak magang di perusahan Andromega, jadi tidak perlu memanggil saya dengan panggilan formal"


"Sudah terbiasa Pak, sulit mengantinya."


Zoya asal bicara, sebenarnya dia gugup hanya berdua Leo. Laki-laki ini terkenal dingin dengan yang namanya wanita, tentu saja Zoya menjadi takut salah bicara atau bersikap tidak sopan. Tapi tadi Leo tersenyum, baru kali ini dia melihat laki-laki itu tersenyum.


"Nanti juga akan terbiasa dengan panggilan baru." ucap Leo membuat Zoya menarik lamunan dari pikirannya sendiri.


"Terserah apa saja, asal jangan bapak, om atau eyang. Saya tidak setua itu"


Zoya tertawa mendengar jawaban Leo, tidak disangka pria dingin itu ternyata bisa bercanda. Tanpa Zoya sadar, tawanya kembali membuat asisten Galih itu menyunggingkan senyum.


"Aku panggil abang saja ya, Pak" akhirnya Zoya mengalah mencoba mengganti panggilannya pada Leo.


Leo mengangguk setuju. "Abang. Tidak terlalu buruk." jawabnya.


Sementara itu Abi tidak menyangka kalau pelaku yang menabrak Mala adalah ibu tirinya yang mengunakan kendaraan milik Saras. Tadinya Abi mengira dan sangat yakin jika pelakunya itu adalah Saras, istrinya. Tapi ternyata diluar dugaan, wanita kejam yang tega mengusir dia dan ibunya itulah yang melakukan semuanya.


Tidak jauh berbeda dengan Abi, Tias juga sama terkejut. Diapun sama mengira Saraslah pelakunya, terlebih dia sangat tahu jika istri kakaknya itu membenci Mala, karena cemburu.


Lalu apa tujuan wanita itu menabrak Mala? Tidak ada masalah antara mereka sebelumnya, bahkan Mala tidak pernah kenal dengan istri muda ayah Abi itu. Tias mencoba berpikir keras untuk menemukan jawabanya.


Abi dan Tias sengaja belum menampakkan diri dihadapan wanita itu, mereka hanya memperhatikan dan melihat dari jauh. Keduanya menunggu Galih dan Arfan untuk bertindak.


Eyang Retno baru saja akan meninggalkan ruang keluarga setelah merasa lelah, cukup lama dia berbincang bersama Alan dan Alya yang mengunjunginya dikediaman papa Andro.


Sudah tiga hari ini eyang Retno menginap di rumah papa Andro. Begitu mendengar kabar tentang penangkapan mama Vina, eyang Retno syok. Bukan karena memikirkan nasib mama Vina yang memang tidak pernah disetujuinya menikah dengan papa Andro, melainkan penyebab kematian Sandra menantu kesayanganya. Penyakit darah tingginya kambuh, membuat eyang Retno tidak bisa segera menggunjungi putranya.

__ADS_1


Belum juga berdiri dari tempat duduknya, Alan menerima telepon dari seseorang yang mebawa berita tidak baik. Apa lagi kalau bukan berita tentang kecelakaan yang dialami Mala. Adalah Tari sebagai sumber informasinya.


"Siapa yang kecelakaan?" tanya eyang Retno setelah dia menyimak pembicaraan Alan.


"Mala, Yang. Dia tertabrak mobil"


"Bagaimana bisa" ucap eyang Retno tidak percaya. Tadi pagi Mala pamit padanya akan bertemu dan makan siang bersama sahabat-sahabatnya.


"Menurut Tari, seseorang sengaja menabraknya"


Eyang Retno menggelengkan kepala mendengar ucapan Alan, Mala tidak mungkin memiliki musuh. Dia yakin jika semua karena orang yang iri pada menantunya itu.


"Antar Eyang ke rumah sakit sekarang, Al" perintah eyang Retno yang tidak bisa dibantah oleh Alan.


"Bagaimana keadaan cucu menantuku?" tanya eyang Retno begitu dia tiba diruang rawat inap Mala.


"Dia masih tidur, dokter sengaja memberinya obat tidur karena Mala mengeluh pusing jika membuka matanya." jelas bunda Sarah yang masih setia menemani putrinya.


"Dimana Galih?"


"Dia sedang menemui orang yang menabrak Mala"


"Siapa yang berani mencelakai cucu menantuku!" ucap eyang Retno dengan nada marah.


Baru saja bunda Sarah akan menjawab kalau dia belum tahu siapa pelaku dan apa motif dan tujuan si pelaku, papa Andro datang dan menjawab pertanyaan eyang Retno.


"Dia Winarsih, Bu"


"Winarsih" beo eyang Retno. Nama itu bukan nama yang asing baginya, akhir-akhir ini dia kembali mengingat masa lalu, masa dimana almarhum suaminya ditusuk dari belakang oleh sahabatnya.


"Winarsih putri pertama, Prayogo?" tanya eyang Retno untuk meyakinkan lagi.


Papa Andro mengangguk membenarkan, "Iya, Wina putri pertama om Prayogo dan Vina adalah adiknya Wina"


"Mas Andro tahu dari mana?" Bunda Sarah yang bertanya.


"Setelah Leo mengabari, saya langsung mencari tahu orang-orang yang berusaha mencelakai keluarga kita"


"Dan saya menemukan kebenaran ini. Dia memiliki dua orang putri, salah satunya adalah Kiara yang pernah menjalin hubungan dengan Galih dan..." papa Andro tidak meneruskan ucapannya, dia hanya melirik pada Alan.


Alan yang mengerti maksud dari pamannya hanya diam sambil mencerna apa sebenarnya yang terjadi.


"Apa selama ini mereka sebenarnya sudah memasang aksi untuk membalas dendam?" tanya Alan begitu menyadari apa yang terjadi.


"Sepertinya begitu, wanita itu ingin menghancurkan keluarga kita, membalaskan dendam ayahnya. Dia memanfatkan adik dan putrinya untuk masuk kedalam keluarga kita" jawab papa Andro pertanyaan Alan.


Alan kembali merutuki kebodohannya, mengapa mereka terlambat mengetahui semua ini.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2