
Sekarang Galih tahu apa yang menyebabkan Tias berbuat seperti itu, dan juga mengetahui Ardi yang mencintai Mala. Dia harus waspada dan berjaga-jaga dengan apa yang akan Tias lakukan untuk memisahkan dia dan Mala.
Seperti yang diucapkan Ardi, Galih bisa melihat kalau sosok Abiansyah pria yang memegang teguh ajaran agamanya. Dia mengagumi istrinya tapi tidak berani menatapnya dalam waktu lama, tidak ada sentuhan fisik yang dilakukan pria itu sedikit membuat Galih merasa lega.
Zoya yang lebih banyak mendominasi pembicaraan dengan Abi tanpa rasa curiga kalau pertemuan ini direncanakan Tias untuk menghancurkan rumah tangga sahabatnya.
"Ibu bos diam aja" Ardi menyela Zoya yang asik bercerita, membuat yang lain memperhatikan Mala.
Bukan tanpa maksud Ardi menyela, dia hanya menghalangi Mala agar tidak meminum minumannya. Tias merencanakan sesuatu yang diluar batas dan Ardi yang akan melindungi orang yang dicintainya. Ardi ingin sekali menyingkirkan minuman yang ada dihadapan Mala, hanya saja Tias terus memperhatikan.
"Kamu kenapa La?" Abi yang bertanya membuat Mala menghentikan niatnya untuk meneguk minuman yang disuguhkan Tias untuknya.
"Tidak apa-apa kok kak, Ardi aja yang rese" jawab Mala sambil mendelik ke arah Ardi.
"Bukan rese, orang lo nya diem aja. Udah kangen sama pak bos ya?" goda Ardi. Mala tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Hemm" suara deheman seseorang menyela percakapan mereka.
"Eh pak bos, baru juga dibicarain. Tuh bu bos udah kangen katanya" Galih tersenyum mendengar ucapan Ardi.
Pria itu mencintai Mala tapi rela membiarkan orang yang dicintainya dimiliki orang lain. Galih menghargai Ardi dengan sikapnya yang gentle, bahkan dia mengakui dia sendiri tidak bisa sebaik Ardi.
Galih duduk disamping Mala dan meraih tangan istrinya untuk digenggam sambil memberikan senyum dan tatapan teduh, tatapan yang sering membuat Mala merasa bersalah belum bisa mencintai pria itu.
"Mas Galih sudah selesai pertemuannya?" tanya Mala yang heran suaminya sudah ada disini.
Galih memang berjanji akan menjemput Mala saat pulang, karena itu Mala memberi tahu alamat dimana dia akan berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Tapi tidak secepat ini, terlebih lagi saat ini ada Abi, dia masih ingin menatap lebih lama lagi cinta pertamanya.
__ADS_1
"Pertemuannya dibatalkan" jawab Galih. Mala tidak curiga kalau Galih berbohong, dia hanya mengangguk mengerti.
"Oh iya, kenalin mas. Ini Kak Abi, kakaknya Tias. Kak Abi, ini Mas Galih suami Mala" ucap Mala pada Abi dan Galih.
Keduanya berjabat tangan sambil menyebutkan nama mereka sendiri-sendiri. Tanpa Mala percaya, Galih dan Abi bisa langsung bercakap-cakap banyak hal, mereka bahkan terlihat sangat akrab. Tanpa Mala ketahui kalau Galih sebelumnya sudah mencari informasi tentang sosok Abi, sehingga dia mencari topik yang bisa membuat seorang Abi bicara banyak. Itu juga yang biasa Galih lakukan pada rekan bisnisnya, mencari tahu tentang mereka sehingga dia bisa menentukan layak tidaknya mereka bekerja sama.
Tias tidak siap dengan kehadiran Galih sore ini, tentu saja karena apa yang dia rencanakan akan berantakan semua. Dengan sigap Tias mengambi minuman yang ada di hadapan Mala. Biarlah kali ini rencana yang dibuatnya gagal, tapi dia tetap akan melakukannya lagi di lain waktu.
"Minumannya udah dingin, gue suruh abah tuker yang baru ya, nggak enak kalau dingin. Sekalian bikinin buat Pak Galih juga" ucapan Tias mencari alasan agar bisa menyingkirkan minuman yang sudah dia siapkan khusus untuk Mala.
"Tidak perlu, saya mau mengajak Mala pulang sekarang" jawab Galih.
"Aku minum aja Yas, dingin nggak apa-apa, dari pada mubazir" Ujar Mala yang langsung mengulurkan tangannya.
"Eitss, benar kata Tias klo dingin nggak enak. Udah nanti gue yang minum biar nggak mubazir tapi nanti gue panasin dulu." bujuk Ardi untuk kembali mencegah Mala agar tidak meminumnya.
Galih berdiri diikuti Mala, karena suaminya itu tidak melepaskan genggaman tagannya sedikitpun, bahkan sesekali Galih semakin mengeratkan gengamannya.
Sampai dirumah Galih tidak lagi membahas pertemuan Mala dan sahabat-sahabatnya, setelah tadi dalam perjalanan pulang Galih meminta Mala untuk berhati-hati dengan Tias yang tentu saja mendapat protes dari Mala.
Galih tidak bisa menyalakan Mala yang tidak terima, tapi Galih juga tidak bisa menjelaskan alasannya. Karena itu dia memilih untuk diam.dan tidak membahasnya lagi.
"Sayang" panggil Galih agar Mala mendekat.
Pasalnya istrinya itu masih marah dan mengatur jarak antara mereka. Saat ini keduanya sudah di tempat tidur dan biasanya Mala mengijinkan Galih yang memeluknya dari belakang. Tapi kali ini Mala lebih memilih untuk menjauh.
"Nanti jatuh kalau terlalu pinggir" bujuk Galih.
__ADS_1
Mala tidak merespon, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Mala masih tidak percaya Galih sangat menentang kedekatannya dengan Tias, Mengapa hanya Tias? Itu yang jadi tanda tanya besar bagi Mala. Bahkan Ardi yang jelas-jelas seorang pria yang seharusnya lebih pantas untuk tidak terlalu dekat dengan Mala tapi tidak dipermasalahkan Galih.
Kecurigaan Mala adalah Galih tahu tentang perasaannya pada Abi, karena itu Galih jadi tidak menyukai Tias. Tapi siapa yang memberi tahu suaminya? Itu yang Mala pikirkan saat ini. Tidak ada satupun yang tahu isi hatinya yang jatuh pada Abi bahkan laki-laki yang dia cintai itu sendiri.
"Tias" gumam Mala dalam hati. Sahabatnya itu pernah bertanya padanya apa dia menyukai kakaknya itu. Tapi Mala tidak menjawab apapun saat itu.
"Yang, Mas minta maaf. Mas tidak akan melarang kamu untuk dekat dengan Tias lagi" permintaan maaf Galih kali ini mengalihkan antensi Mala pada pria yang tengah menatapnya.
Malah tersentak terkejut, saat menemukan wajah Galih tepat dihadapannya. Tanpa Mala sadari Galih sudah duduk di lantai dengan dua kakinya ditekuk agar bisa sejajar dengan Mala.
"Mas Galih ngapain, bikin kaget aja" seru Mala dengan wajah yang masih terlihat terkejut. Galih terkekeh melihat wajah istrinya yang tampak menggemaskan.
"Kamu mikirin apa sih yang?" tanya Galih sambil mengelus kepala Mala.
Satu kelemahan Mala yang diketahui Galih, kalau istrinya sangat suka di elus kepalanya. Itu adalah kebiasaan yang dulu sering dilakukan sang ayah pada Mala, itu juga yang membuat Mala jatuh cinta pada seorang Abi, pria itu sering mengelus kepalanya, bahkan setiap kali mereka bertemu sebelum Abi berubah seperti sekarang ini.
"Mas minta maaf, karena permintaan mas kamu jadi ngelamun seperti ini" ucap Galih tulus.
"Mas hanya tidak ingin kamu terluka dan sakit hati" lanjut Galih ucapannya dalam hati.
"Sana geser ketengah, terlalu pinggir nanti jatuh"
Menuruti ucapan Galih, Mala menggeser tubuhnya menjauhi pinggiran tempat tidur. Semudah itu dia patuh bila sudah disenangkan hatinya. Galih berdiri dan kembali naik ke tempat tidur, dia memberanikan diri memeluk Mala dari belakang. Istrinya tidak bisa tidur jika tidak ada guling dan sebagai gantinya dengan pelukan. Beruntung sekali Galih mendapatkan ibu mertua yang mau menceritakan kebiasaan istrinya.
Sementara itu dikediaman Tias, Abi hanya bisa berdiam diri di kamarnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia tahu Tias dan Ardi sedang penyatuan, apa lagi yang akan adiknya itu lakukan bila ada laki-laki yang datang menemaninya tidur kalau bukan untuk bersenang-senang. Abi sangat tahu seperti apa Tias, sayangnya dia tidak bisa bertindak apapun walau sekedar nasihat. Statusnya memang seorang kakak, tapi hanya kakak tiri, dan Tias tidak suka Abi ikut campur dengan urusannya, terlebih lagi Tias tahu rahasianya.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagia...