
Dua hari di Jogja Mala berperan sebagai asisten dadakan dari seorang Galih Aarav yang disibukkan dengan banyak kegiatan dan pekerjaan. Begitu tiba di Jogja mereka dijemput sopir perusahaan cabang dan langsung diantarkan ke hotel. Di hotel hanya untuk berganti pakaian karena mereka akan langsung menghadiri acara sebuah perusahaan relasi yang sedang mengadakan aniversary perusahaan mereka. Begitu sampai di hotel malam sudah larut yang langsung di manfaatkan oleh Galih dan Mala untuk istirahat, karena besok pagi-pagi sekali mereka akan mengunjungi lokasi proyek yang bermasalah yang harus segera Galih tangani.
Tidak ada waktu untuk bersenang-senang sedikitpun, hanya meeting, bertemu klien, rapat dan kembali pulang ke hotel hanya untuk tidur dan istirahat. Tapi tidak untuk hari ini, Galih akan membayar lelah Mala dua hari yang lalu dengan memajakan istrinya. Setelah subuh Galih membiarkan Mala untuk tidur kembali. Galih tahu dua malam ini waktu tidur istrinya terganggu karena jadwal pekerjaan yang padat.
Membiarkan Mala yang kembali terlelap Galih menyibukan diri dengan pekerjaannya. Terlalu serius dengan pekerjaan, Galih tidak menyadari kalau Mala sudah membuka matanya dan memperhatikan sang suami yang serius di depan laptop. Mala tidak dapat membohongi matanya, kalau pria yang dia lihat saat ini memiliki ketampanan diatas rata. Pria yang menyatakan cintanya berkali-kali itu tidak pernah menuntut balasan cinta darinya, seketika Mala merasakan ada yang sakit dihatinya.
Mungkinkah Galih juga merasakan hal yang sama yang diarasakan saat ini? Mala berbalik membelakangi Galih dan kembali menutup matanya, bukan ingin kembali tidur tapi ingin melupakan kejadian dua hari yang lalu.
Flash back
Mala diantar Galih pulang ke kediaman mereka untuk mempersiapakan keperluan yang akan dibutuhkan olehnya dan Galih, sementara suaminya itu langsung meluncur keperusahaan untuk mengambil berkas-berkas yang di perlukan selama di Jogja.
Entah mengapa pagi ini Mala merindukan mie ayam langanannya yang biasa mangkal di sekolah tempat dulu dia menuntut ilmu saat masih sekolah dasar. Sekolah swasta favorit yang letaknya tidak jauh dari kediamannya saat ini.
Dengan menggunakan sepeda motor milik satpam yang bekerja di kediamannya, Mala meluncur kesekolah tersebut dan kini dia berhenti tepat di depan penjual mie ayam. Mala merasakan kepuasan saat dia bisa kembali menikmati mie ayam yang penuh kenangan. Dulu dia suka menikmati mie ayam ini bersama sang ayah saat ayahnya yang sibuk itu sesekali memyempatkan diri menjemputnya di sekolah.
"Anak papa mau makan apa?"
Deg. Mala mengenal suara itu. Suara lembut yang penuh perhatian setiap bicara dengannya. Menghilangkan rasa penasaranya Mala mengalihkan pandangannya kebelakang, dimana sumber suara itu terdengar.
"Kak Abi" gumam Mala pelan tapi masih terdengar oleh Abi yang berada tepat di belakang Mala.
"Papa?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya dan mendapat perhatian dari Abi yang mendengarnya.
"Mala" sapa Abi saat dia berbalik dan menemukan Mala yang duduk di belakangnya.
"Dia putra Kak Abi?"
Abi menjawab pertanyaan Mala dengan diam. Ada sesuatu yang menusuk di hatinya saat Mala mengartikan kediaman Abi itu adalah membenarkan pertanyaanya. Laki-laki itu tampak tidak siap dengan pertemuan mereka seperti ini.
__ADS_1
"Pa, tadi bu guru bilang besok papa sama mama harus hadir di sekolah melihat Gio lomba mewarnai" anak laki-laki bernama Gio itu mengalihkan pandangan Abi dari Mala yang menatapnya penuh tanya.
"Iya sayang, besok papa sama mama akan menemani kamu lomba"
Jawab Abi apa pada Gio membuat Mala kembali merasakan sakit di hatinya. Hancur, saat menyadari cintanya sejak dulu memang bertepuk sebelah tangan. Perhatian yang dulu biasa Abi berikan padanya hanyalah perhatian yang sama seperti perhatian yang Abi berikan pada Tias. Perhatian seorang kakak pada adiknya.
"Mala, kakak bisa menjelaskannya padamu" ucap Abi mengejar Mala yang ingin kembali menaiki sepeda motor pinjamannya.
"Keluarga tidak ada yang tahu?" tanya Mala. Abi mengangguk membenarkan.
"Kenapa?" tanya Mala lirih. Sesakit apapun yang kini dia rasakan, dia harus terlihat kuat dihadapan seorang Abi. Tidak ajan ada lagi gadis manja yang meminta perhatian dari seorang Abi yang dulu sering dia lakukan.
"Kakak akan ceritakan tapi tidak disini" jawab Abi lalu meraih tangangan Mala dengan kedua tangannya, kebiasaan yang dulu sering Abi lakukan padanya dan berhenti saat Abi memperdalam ilmu agama.
"Kakak mohon, kamu jangan membenci kakak" ucap Abi tanpa ada niat melepaskan tangan Mala yang dia genggam sampai wanita yang dicintainya ini menjawab.
Mala tidak akan membenci seorang Abi, karena itu tidak akan pernah cukup untuk menghilangkan laki-laki itu dari hatinya. Bukan membenci yang dia butuhkan saat ini, tapi melupakan, melupakan semua perhatian dan kasih sayang yang pernah Abi berikan padanya. Menganggap itu tidak pernah ada, sebab hanya dia yang merasakan perasaan yang berlebih dari semua perhatian yang Abi berikan.
"Terima kasih" Abi melepaskan genggamannya yang kini beralih menangkup wajah Mala lalu mencium kening wanita yang ada disudut tedalam hatinya.
Dulu Mala akan bahagia bila Abi mengecup keningnya, hatinya yang berdebar akan berbunga-bunga setelahnya. Tapi tidak kali ini, rasa itu hilang. Tidak ada debar yang dulu Mala rasakan, yang kini dia rasakan adalah kecupan perpisahan yang seharusnya sejak dulu dia fahami.
"Selamat tinggal Kak Abi" Mala mengatakan apa yang dia rasakan membuat Abi kembali menahan Mala yang hendak berlalu.
"Jangan ucapkan perpisahan" sanggah Abi ucapan Mala.
"Apa dia Saras?" bukan membalas apa yang Abi katakan, Mala malah memberi pertanyaan.
Abi kembali diam menjawab petanyaan Mala, dia tidak heran jika Mala mengenal Saras, kemarin Zoyapun mengenal Saras. Entah bagaimana mereka saling kenal? Tapi Abi tidak menyukai hal ini. Dia tidak bisa mengiyakan pertanyaan Mala begitu saja, karena rasa sakit yang dia rasakan bila mengiyakan hal itu dihadapan orang yang dicintainya.
__ADS_1
Mala melepaskan pegangan tangan Abi lalu berlalu dari hadapan laki-laki yang masih terpaku di tempatnya. Dia tidak akan melihat kebelakang lagi yang hanya akan membuatnya kembali mengenang masa lalu. Kini dia harus menatap kedepan, masa depannya yang baru. Masa depannya bersama seorang Galih Aarav suaminya.
Mala merasakan pelukan tangan yang beberapa bulan terakhir ini selalu memeluknya. Galih memeluk Mala dari belakang, dia ingin membangunkan Mala untuk mengajaknya sarapan.
"Sayang bangun dulu, kita sarapan" bisik Galih sambil menciumi pucuk kepala Mala.
Mala meneteskan air mata tanpa Galih ketahui. Dia merasa berdosa, selama ini sering menyakiti Galih dengan mengabaikan pernyataan cinta laki-laki itu. Tidak, Mala tidak akan lagi mengabaikan jika nanti Galih kembali mengucapkan isi hatinya, dia akan membalas cinta itu. Bukan karena Abi yang tidak mencintainya, tapi karena memang dia sudah jatuh cinta pada suaminya dan Mala terlambat menyadarinya.
Seorang wanita mendekati Galih, dia adalah putri dari pemilik perusahaan yang sedang merayakan anniversary dimana dia dan Galih hadir disana. Saat itu Mala sedang berbincang dengan teman sekolahnya yang kebetulan juga hadir disana. Mala melihat wanita itu tiba-tiba saja merangkul tangan suaminya, namun Galih segera melepaskan rangkulan tangan wanita itu. Walau begitu tetap saja Mala merasakan sakit dihatinya, dengan seenaknya wanita itu mengklaim suaminya dengan meranggkul lengannya. Saat itulah Mala menyadari dia tidak suka ada wanita lain didekat Galih. Dia cemburu, Galih ada milikinya, suaminya.
Untung saja kecemburuannya tidak berlangsung lama, karena Galih segera menghampirinya lalu menggengam erat tangannya. Menunjukkan pada banyak orang bahwa dialah wanita yang ada disisinya. Terlebih lagi kecemburuan itu berbalik pada wanita yang tadi merangkul tangan Galih saat suaminya itu memperkenalkan Mala sebagai istrinya.
Berlahan Mala menghapus jejak air matanya lalu berbalik menghadap Galih dan tersenyum.
"Morning hubby" sapaan Mala melukiskan senyum diwajah Galih.
Panggilan sayang yang diucapkan istrinya itulah yang membuat Galih bahagia. Sedikit apapun perubahan sikap Mala padanya selalu menghadirkan kebahagiaan bagi Galih, apa lagi panggilan sayang yang disematkan Mala padanya tentu saja dia merasakan kebahagiannya akan menjadi berkali-kali lipat, karena ini perubahan yang besar yang Galih rasakan.
"Morning to my love" balas Galih dengan memberi kecupan dibibir istrinya.
"Mau sarapan apa sayang?" Galih bertanya sambil memainkan rambut istrinya yang berantakan tapi tetap terlihat cantik.
"Gudeg boleh?" tanya Mala. Galih tersenyum.
"Kita cari gudeg"
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1