BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
40. Menikahi Saya


__ADS_3

"Sayang" panggil Galih pada Mala yang sedang membantu memasangkan kancing kemejanya.


"Hari ini mau kerumah sakit lagi?" tanya Galih. Malah menggeleng.


"Kenapa?"


"Sudah ada kak Abi yang menjaga Tias. Hari ini juga Mala dan Zoya harus ke kampus" jawab dan jelas Mala.


Wajah Galih melukiskan senyum lalu mengecup bibir istrinya. Ada perasaan lega, karena Mala tidak seperti yang dia pikirkan. Istrinya itu tahu batasan seorang istri dan juga menghormatinya sebagai suami.


Galih bisa sedikit bernafas lega mengingat musibah yang sedang dialami Tias, sakitnya sahabat istrinya itu membuatnya berhenti mengejar dan mengganggu Galih. Tapi Galih juga tidak bisa diam melihat istrinya yang sedih dengan sakit yang dialami Tias. Tidak hanya itu, perhatian istrinya pasti akan terbagi antara dirinya dan Tias. Galih tidak suka itu, dia ingin Mala hanya memperhatikan dirinya.


Bukan hanya itu yang jadi pemikiran Galih, dia berandai tentang istrinya yang mungkin akan sering ke rumah sakit untuk ikut menjaga Tias, dengan begitu Mala akan sering bertemu Abi, dan Galih juga tidak suka itu. Bagaimanapun Mala sekarang adalah istrinya, dia akan berusaha agar hati istrinya tidak berpaling kembali pada sosok seorang Abi.


Semalam, Abi datang mengunjungi Tias, dia terlibat percakapan bersama papa dan ibunya, keluarga itu membicarakan pengobatan yang akan dilakukan Tias dan meminta pendapat dari Mala, Galih, Zoya, dan juga Indra. Saat itu Galih memperhatikan dan melihat Abi yang sesekali mencuri pandang pada istrinya, meskipun jari jemarinya menyatu dengan jari jemari Mala, mengingatkan kalau Mala adalah miliknya. Namun itu tidak membuat rasa takut Galih hilang begitu saja, kemungkinan Mala kembali menjatuhkan hati pada laki-laki itu bisa saja terjadi, seiring kebersamaan mereka di rumah sakit.


Sekarang Galih benar-benar bisa bernafas lega, Mala tahu batasan sorang istri. Satu poin lagi yang membuat Galih semakin mencintai istrinya.


"Ke kampus jam berapa?"


"Jam sembilan, nanti Zoya yang jemput" jawaban Mala membuat Galih menyatukan alisnya, lalu mengusap lembut wajah Mala.


"Ke kampus diantar pak Agus aja ya" ucap Galih. Mala mengangguk setuju, baginya ucapan Galih adalah perintah. Mau tidak mau Mala harus setuju, sebagai bentuk penghormatannya pada perintah suami. Apa lagi ini hanya masalah dengan siapa dia pergi kekampus, bukan hal yang harus dipermasalahkan.


Ini adalah hari pertama Mala dan Zoya kembali ke kampus setelah mereka selesai magang. Tidak ada yang berubah, hanya saja anggota mereka yang berkurang. Biasanya dia akan berjalan berempat bersama Tias dan Ardi, tapi kali ini hanya bersama Zoya.


"Lo, ngerasa nggak sih kalau mereka memperhatikan kita" tanya Zoya pada Mala.


"Biarkan saja, mungkin mereka heran melihat kita hanya berdua" jawab Mala yang selalu mencoba berfikir positif.


"Iya juga ya" ucap Zoya sambil terkekeh, menertawai dirinya sendiri yang terlalu baper.


Keduanya sedang berjalan menuju ruang dosen. Mala akan menemui Dito sebagai dosen pembimbingnya. Sementara, Zoya akan menemui ibunya Ardi yang juga sebagai dosen pembimbing Zoya.


Dito tidak ada diruangan, dia sedang memberikan materi di kelas maba. Itu yang dikatakan bu Fatma, ibunya Ardi.


"Bu, apa benar Ardi sekarang mondok?" Mala yang bertanya setelah Zoya selesai dengan bimbingannya.


"Iya, itu benar. Tadinya ibu juga tidak percaya kalau anak itu meminta ijin untuk tinggal di pesantren beberapa minggu."

__ADS_1


"Katanya ingin menenangkan diri setelah magang, dia bilang kalau selama magang banyak tuntutan dari perusahaan"


Mala dan Zoya saling berpandangan, tentu saja Ardi tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada ibunya, jika dia mondok karena sempat salah jalan.


"Ardi bilang, kakak Tias yang merekonendasikan pedantren itu untuk Ardi."


"Dimana Tias? Kalian tidak biasanya hanya berdua" tanya dan seru bu Fatma begitu menyadari sahabat-sahabat putranya ini berkurang satu.


Awalnya ibu Fatma merasa aneh, putranya lebih memilih bersahabat dengan kaum hawa, namun setelah banyak perubahan positif pada putranya, ibu Fatma membiarkannya hingga sekarang.


"Tias sedang dirawat di rumah sakit, bu" jawab Mala memberi tahu.


"Jadi benar yang dikatakan Ardi, soal Tias" ucap bu Fatma lirih.


"Ardi bicara apa bu, tentang sakitnya Tias?" Kali ini Zoya yang bertanya.


"Ardi sempat katakan kalau dia ingin lebih memperbaiki diri, sebelum dia sakit seperti Tias" Jelas bu Fatma.


"Jadi Ardi sudah tahu tentang sakitnya Tias?" gumaman Mala masih bisa didengar Zoya dan bu Fatma.


"Bu, bisa tolong rahasiakan tentang sakitnya Tias?" pinta Mala. Bu Fatma mengangguk setuju.


"Tentu saja, kalian itu sudah seperti anak-anak saya sendiri semenjak bersahabat dengan Ardi" Jawaban dari bu Fatma membuat Mala dan Zoya tersenyum senang.


"Sama-sama" jawab bu Fatma. Tidak bisa dipungkiri jika putranya jauh lebih baik sejak berteman dengan Mala, Zoya dan Tias.


"Nurmala"


Mala berbalik melihat orang yang memanggilnya, dia sudah tahu siapa orangnya. Hanya Dito di kampus ini yang memanggilnya dengan nama lengkap, karena itu Mala sudah sangat hapal.


"Kamu ada jadwal bimbingan dengan saya?" tanya Dito melanjutkan ucapannya.


"Bapak pake basa-basi nanya. Mala udah dari pagi nunggu bapak disini" Zoya yang menjawab pertanyaan Dito.


"Zoy" tegur Mala pada sahabatnya itu. Zoya kalau kesal suka tidak memandang siapa yang jadi lawan bicaranya.


"Iya maaf kelepasan" jawab Zoya.


Dito hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Zoya, sementara Mala dan bu Fatma terkekeh, menertawakan Zoya. Bagaimana Dito bisa jatuh hati pada Zoya, jika dia tidak bisa merubah kebiasaan buruknya itu?

__ADS_1


"Kamu bisa bimbingan sekarang" ucap Dito pada Mala.


Mala langsung berdiri, dia berjalan ke meja kerja dimana Dito sudah duduk lebih dulu menunggunya. Mala menyerahkan beberapa pilahan judul untuk laporan magangnya dan beberapa judul untuk skripsinya.


"Jadi kamu ditempatkan jadi asisten sekertaris?" tanya Dito setelah membaca surat keterangan yang di keluarkan perusahaan Andromega, yang menyatakan kalau benar mahasiswi yang bernama Nurmala Azhara telah menyelesaikan magangnya di perisahaan Andromega, di bagian kesekertariatan.


"Iya, Pak" jawab Mala.


"Teman-temanmu yang lain juga ditempatkan ditempat yang sama?" tanya Dito lagi. Mala menggeleng.


"Hanya saya sendiri, Pak."


"Kebetulan Ibu Tari, sekertaris Pak Galih, sedang hamil muda waktu itu. Jadi dia membutuhkan asisten dan saya yang terpilih" jawab Mala sambil menjelaskan.


"Kebetulan atau memang..."


"Tidak ada yang tahu kalau saya putri Riadi Megantara. Bahkan saya baru kenal pak Galih, setelah tiga hari saya menjadi asisten bu Tari" potong Mala ucapan Dito yang akan menyudutkannya, Galih juga Tari.


"Maaf, saya tidak bermaksud" ucap Dito, merasa tidak enak dengan Mala. Kalau dia bisa jujur, masih ada rasa cemburu dihatinya, tidak bisa memiliki wanita yang selama ini tersimpan disudut hatinya. Tapi dia bisa apa? Mala bukan jodohnya, seperti lagu yang dia nyanyikan saat pesta pernikahan Mala dan Galih.


Dari jauh, Zoya memperhatikan keduanya. Tidak bisa dibohongi, tatap teduh Dito pada Mala membuat Zoya merasa tipis harapan pada laki-laki itu. Sejak dulu, tidak sekalipun Dito menatapnya seperti Dito menatap Mala. Haruskah Zoya melepaskan Dito, dosen muda yang sejak awal kuliah sudah menempati sebagian hatinya?


"Kalian mau pulang sekarang?" Suara Dito mengejutkan Mala dan Zoya. Mereka saat ini sedang berdiri di selasar kampus, setelah Mala menyelesaikan bimbingannya dengan Dito.


"Pak Dito, kenapa suka sekali kalau bicara itu mengejutkan orang." Protes Zoya.


"Maaf, saya tidak bermaksud"


"Untung saja saya sayang sama Bapak, jadi saya maafkan. Tapi kalau jantung saya ada apa-apa Bapak harus tanggung jawab" Balas Zoya permintaan maaf Dito.


"Saya harus tanggung jawab seperti apa?" tanya Dito menanggapi ucapan Zoya.


"Dengan menikahi saya"


Mala menepuk bahu sahabatnya, kembali mengingatkan Zoya, jika dihadapan mereka ini seorang dosen, bukan teman satu kampus mereka yang bisa diajak bicara asal.


Dito hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi jawaban Zoya, masiswinya satu ini sudah berkali-kali mengungkapkan rasa sayangnya dan berkali-kali juga Dito menganggap itu hanya candaan muridnya. Haruskah dia mencoba menerima Zoya yang sayang padanya?


Jawabannya ada di bab selanjutnya.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2