
Ardi yang diperintahkan Mala untuk memberi tahu dokter, segera menekan tombol darurat yang tersedia. Lalu dia mencoba menenangkan Mala yang terus menangis sambil membangunkan Tias.
Nafas Tias sempat berhenti, itu yang membuat Mala berteriak histeris memanggil nama Tias. Mala belum siap kehilangan Tias, walau apa yang telah dilakukan Tias padanya sangat buruk. Tetap saja, tidak akan ada yang bisa merubah rasa sayang yang Mala miliki untuk sahabatnya itu.
"Yas, lo nggak boleh pergi. Lo udah janji kalau lo mau berjuang" Mala berucap lirih dihadapan Tias, setelah lelah usahanya membangunkan Tias gagal.
Dokter segera datang begitu mendengar tombol darurat yang ada dikamar Tias berbunyi. Rafi menarik Mala untuk menjauh dari Tias, begitu melihat dokter dan para perawat datang untuk memeriksa sahabat Mala tersebut.
Hari ini Rafi dan Widya sudah menjadwalkan untuk menjenguk Tias begitu Mala mengabari Widya sepupunya tentang keadaan Tias, tentunya setelah Mala mendapatkan ijin dari sahabatnya itu.
Sebagai sahabat Mala sejak SMP, Widya mengenal Tias cukup baik. Di saat dia dan Rafi berada dipintu kamar rawat inap Tias, mereka berdua menemukan Mala yang berteriak histeris mengguncang-guncang tubuh Tias untuk membangunkan sahabatnya. Sementara Ardi tampak bingung dan kesulitan menenangkan Mala.
Rafi dan Widya menggiring Mala keluar dari kamar rawat inap Tias, mereka mendudukan Mala dibangku yang disediakan pihak rumah sakit diluar kamar.
"Kak Rafi" panggil Mala sambil terisak.
"Tias akan baik-baik saja, kamu jangan takut" Rafi merangkul Mala, untuk menenangkan sepupu istrinya itu.
Widya tidak akan marah melihatnya merangkul Mala, begitupun Galih tidak akan cemburu melihat Mala yang bersandar dibahunya. Keduanya tahu sedekat apa dulu Mala dan Rafi, karena itu Rafi berani melakukannya. Tanpa dia sadari, seseorang mengabadikan adegan mereka yang seperti sepasang kekasih.
Mala tidak berhenti menangis sampai dokter yang memeriksa sahabatnya keluar dari kamar rawat inap dan menyatakan Tias baik-baik saja. Hanya saja sahabatnya itu masih belum sadarkan diri hingga saat ini, membuat Mala belum bisa tenang. Apalagi dokter menjelaskan, kalau jantung Tias sempat berhenti berdetak beberapa kali seperti yang Mala ketahui sebelum dokter tiba, tapi dokter meyakinkan semua sudah kembali normal dan Tias akan baik-baik saja.
Arfan kembali datang kerumah sakit begitu Ardi menghubunginya mengabarkan apa yang terjadi pada Tias dan Mala. Apa lagi Ardi menjelaskan jika dia tidak bisa menghubungi Galih untuk memberi tahu kabar Mala yang terus menangis.
"Kamu baik-baik saja, Dik?" tanya Arfan begitu melihat Mala sudah cukup tenang dengan menyandarkan kepalanya di bahu Widya. Mala hanya menggangguk menjawab pertanyaan Arfan.
"Udah ada Lo yang jaga Mala, Gue sama Widya cabut dulu" ucap Rafi begitu kembali dari toilet melihat sudah ada Arfan diantara Mala dan Widya.
"Thanks bro, Wid" ucap Arfan.
"Mala, kakak pulang duluan ya" pamit Rafi pada Mala sambil mengusap pucuk kepala istri sahabatnya itu, yang langsung dibalas anggukan oleh adik kesayangan Arfan tersebut.
"Gue juga balik ya, La. Sorry nggak bisa lama nemenin lo disini" Sekarang Widya yang pamit pada Mala sambil menangkup wajah Mala dengan kedua tangannya.
"Iya, nggak apa-apa. Thanks udah nyempetin nenggok Tias dan nemenin gue" jawab Mala.
"Jangan nangis, nanti jelek di lihat sama kak Galih" bisik Widya membuat Mala tersenyum.
__ADS_1
Selepas kepergian Rafi dan Widya, Mala yang kelelahan karena menaggis terlelap dalam dekapan Arfan yang mencoba menenangkan Mala, adiknya itu kembali terisak saat menceritakan kembali apa yang terjadi dengan Tias.
"Begitu ceritanya" ucap Arfan pada Galih, mengakhiri ceritanya tentang apa yang terjadi pada Tias dan Mala.
"Bagaimana keadaan Tias?" tanya Galih.
"Gue belum lihat. Lo jaga Mala, gue lihat keadaan Tias dulu. Mungkin keluarganya sudah selesai berbicara dengan dokter."
Ardi masih setia menemani Tias yang masih betah memejamkan matanya begitu Arfan masuk melihat keadaan sahabat adiknya itu. Laki-laki itu baru saja mengakhiri panggilan teleponnya sehingga tidak menyadari ke hadiran Arfan.
"Belum sadar juga?" tanya Arfan. Ardi mengangguk setelah terkejut mendengar suara Arfan yang bertanya.
"Papa dan ibu juga masih konsultasi dengan dokter" ucap Ardi memberi tahu keberadaan orang tua Tias.
"Bagaimana dengan Mala?" tanya Ardi begitu sadar Arfan yang masuk seorang diri.
"Dia kelelahan dan sekarang tidur. Ada Galih yang menemaninya" Arfan menjelaskan pada Ardi.
Zoya sedang berada di kelas maba, seperti saran para sahabatnya, gadis itu menerima penawaran Dito untuk jadi asisten laki-laki itu. Zoya mengecek ponselnya begitu kelasnya berakhir. Hari ini masih Dito yang memberikan materi, sementara Zoya memperhatikan dan ikut duduk di barisan mahasiswa.
"Halo Ar" panggil Zoya begitu Ardi menerima panggilannya.
"Ada apa?" tanya Zoya melanjutkan ucapannya.
Ardi menceritakan apa yang tejadi, mulai dari permintaan maaf Tias pada Mala hingga jantung Tias yang sempat berhenti dan Mala yang berteriak histeris dan terus menangis. Mendengar cerita Ardi, wajah Zoya yang semula ceria berubah menjadi pucat. Matanya berkaca-kaca menahan agar air yang ingin mengalir dari sana tidak keluar. Tapi Zoya tidak sanggup membendungnya, air matanya lolos dan mengalir membasahi pipi.
Apa yang terjadi pada Zoya tak luput dari perhatian Dito. Laki-laki itu diam-diam memperhatikan Zoya yang masih duduk di bangku mahasiswa.
"Ada apa?" tanya Dito membuat Zoya menengadahkan wajahnya melihat laki-laki itu.
"Tias" lirih Zoya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Dito begitu Zoya menyebut nama Tias.
"Dia... Jantungnya sempat berhenti berdetak dan Mala..."
"Ada apa dengan Nurmala?" potong Dito ucapan Zoya begitu mendengar nama Mala.
__ADS_1
Dito selalu bereaksi cepat setiap mendengar nama Mala disebutkan. Dia memang mengikhlaskan Mala besama Galih, tapi dia belum bisa seutuhnya tidak peduli pada mahasiswi yang dikaguminya sejak awal pertemuan mereka.
"Tidak apa-apa, dia hanya tidak siap melihat keadaan Tias" beri tahu Zoya, dia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi dengan Mala sebenarnya pada Dito, seperti yang Ardi ceritakan padanya.
"Kita kerumah sakit sekarang" ajak Dito yang langsung mendapat persetujuan dari Zoya.
Bukan Tias yang Dito khawatirkan, tapi dia ingin meyakinkan jika Mala baik-baik saja. Sementara yang di khawtirkan Dito baru saja membuka mata dan terkejut begitu menyadari siapa orang yang memeluknya.
"Hubby" panggil Mala yang mendapat senyuman dari Galih.
"Kesayangan Mas sudah bangun." Galih mengusap sayang wajah istrinya yang masih terlihat lelah.
"Dimana mas Arfan?" tanya Mala, karena tidak melihat keberadaan kakaknya.
"Sedang memeriksa Tias" jawab Galih sambil menyelipkan rambut Mala yang berantakan.
"Mau minum atau makan sesuatu?" tanya Galih yang kembali mengelus pipi istrinya.
"Haus, lapar juga" jawab Mala jujur. Galih terkekeh mendengar jawaban istrinya.
"Kita ke kantin" ajak Galih.
"Mau gendong di punggung lagi?" lanjut laki-laki itu ucapannya dengan pertanyaan.
"Mala bukan anak SD lagi, Mas" jawab Mala. Keduanya tertawa bersama.
Tanpa Mala dan Galih tahu, Abi berdiri tidak jauh dari mereka dan melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Ada perasaan cemburu saat gadis yang sejak dulu dia cintai bersama laki-laki lain. Tapi dia bisa apa? Mala hanya untuk dia cintai bukan untuk di miliki.
"Sulit memang melihat orang yang kita cintai tertawa bahagia bersama orang lain" Ardi yang bicara, dia keluar dari kamar rawat inap Tias dan menemukan Abi yang sedang memandang kemesraan sepasang suami istri itu.
"Terlebih lagi rasa itu tidak pernah pergi" sahut Abi ucapan Ardi.
Kehadiran Galih membuat Mala kembali tertawa. Terlukis senyum diwajah Arfan melihat kebahagiaan adiknya, walau dia tidak menyangka jika Galih adalah jodoh adiknya.
"Ayah, kamu memilihkan jodoh yang tepat untuk Mala" gumam Arfan sambil memandang Mala dan Galih yang berjalan menjauh.
Bagaimana dengan jodoh Arfan sendiri? Siapa wanita yang dicintai laki-laki itu?
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...