BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
92. Selalu Memberikan Kebahagiaan


__ADS_3

Kania berkali-kali melihat benda yang melingkar di tangannya, sudah lima belas menit dia menunggu sang bunda yang tak kunjung datang untuk menjemputnya.


"Bunda kamu belum jemput?" sapa Arkarna dengan bertanya pada Kania.


"Nggak usah sok akrab Lo." jawab Kirana ketus.


Entah mengapa jika melihat Arkarna, Kania selalu merasa kesal. Arkarna sejak mereka masih kanak-kanak selalu saja mengajaknya bertengkar hingga membuat Kania menkadi kesal dan menaggis. Itu yang membuat putri dari Galih dan Mala itu terbiasa bersikap jutek. Kania tidak ingin lagi di bilang cenggeng oleh Arkarna, sehingga dia membentengi dirinya sebelum Arkarna membuatnya menangis.


"Gue nanya baik-baik nih." jawab Arkarna yang ikut kesal denga jawaban Kania.


"Nggak ada bedanya lo nanya baik-baik sama bikin kesel gue." balas Kania sambil membuang mukanya.


"Ya udah deh, gue minta maaf sering buat lo kesel. Sekarang kita friend." ucap Arkarna sambil mengulurkan jari kelingkingnya dihadapan Kania. Belum sempat Kania membalas ajakan berdamai Arkarna Rayen datang menyapa mereka.


"Kalian belum pulang?" Rayen yang baru tiba langsung bertanya.


"Belum." jawab Kania dan Arkarna bersamaan.


"Cie...cie kompak nih sekarang." goda Rayen pada keduanya.


"Reseh lo." sahut Arkarna.


"Mas Rayen sendiri kenapa belum pulang?" tanya Kania.


"Lihat Lo belum di jemput bunda Mala berarti gue harus jagain elo. Itu pesan ayah Galih." jawab Rayen.


"Mas Rayen sama ayah sama aja. Emang Nia nggak bisa apa nunggu bunda sendirian." jawab Kania lagi sambil berlalu meninggalkan Rayen dan Arkarna.


"Dia kenapa?" tanya Rayen pada Arkarna.


"Mana gue tahu, kan dia kesalnya sama elo." jawab Arkarna.


"Dia biasanya jutek kalo ada elo." balas Rayen.


"Emang gue pikirin. Gue mau pulang." jawab Arkarna, dia tidak peduli dengan ucapan Rayen ataupun sikap Kania.


"Arka..." panggil Kania.


"ARKARNA." panggil Kania lagi karena Arkarna terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan darinya.


Mendengar namanya di panggil dengan nada keras membuat Arkarna menghentikan langkahnya.


"Gue pulang nebeng elo." ucap Kania sambil menghampiri Arkarna.


"Mas Rayen aja yang antar kamu pulang." sahut Rayen yang mengikuti Kania mengejar Arkarna.


"Rumah lo beda arah sama kita, tau." balas Arkarna.


"Bukan itu masalahnya, tapi bunda yang suruh aku pulang sama Arka. Bunda lagi main di kediaman tante Al" jawab Kania menjelaskan.


"O...gitu." jawab Rayen kecewa.


"Ayo, sopir gue udah nunggu tuh dari tadi." ajak Arkarna.


"Lo ikhlas nggak sih sebenernya gue tebengin?" tanya Kania kesal dengan sikap Arkarna yang sombong.


"Ikhlas tuan putri, gue ikhlas." jawab Arkarna sambil menarik tangan Kania menuju mobil sport milik Ezra papinya yang disukai Arkarna.

__ADS_1


Tiba di kediaman Ezra Syhareza, Arkarna turun dari mobil dan meninggalkan Kania begitu saja.


"Kebiasaan, tuh anak nggak punya sopan santun." kesal Kania yang di tinggalkan Arkarna masuk ke rumahnya.


"Siapa yang nggak punya sopan santun?" suara Arkarna yang ada di belakang Kania mengejutkan gadis kecil itu.


"Tadi yang lari siapa?" tanya Kania heran.


"Apa gue lihat hantu mirip elo ya?" tanya Kania lagi.


Arkarna memasang wajah marah meskipun dia tertawa di dalam hatinya, inilah yang dia suka kalau menggoda Kania. Dia memang berlari dan kembali lagi tanpa Kania melihatnya, karena dia melewati pintu lain yang ada di kediamannya.


"Lo pikir rumah gue ada hantunya." tanya Arkarna seakan-akan dia tidak suka dengan tuduhan Kania.


"Mungkin aja, orang gue lihat lo lari kok." jawab Kania sambil berjalan meninggalkan Arkarna.


"Assalamualaikum." ucap Kania begitu tiba di depan pintu kediaman Ezra Syhareza.


"Waalaikumsalam." jawab Mala dan Almaira bersamaan.


"Eh putri kesayangan mami Al udah datang." ucap Almaira yang langsung mencium pipi Kania setelah gadis kecil itu mencium punggung tangannya.


"Terimakasih ya Arka, sudah kasih tumpangan untuk Nia." ucap Mala begitu Arkarna mencium punggung tangan Mala.


"Sama-sama tante." jawab Arkarna.


"Ayo kita makan dulu, Mami sama bunda sengaja nunggu kalian biar kita makan sama-sama." ucap Almaira.


"Adek Emir mana, Bun?" tanya Kania mencari keberadaan adiknya.


Selesai makan, Kania menyusul adiknya di rumah belakang, rumah yang di buat khusus untuk kucing-kucing peliharaan Ezra Syhareza.


Sementara Mala dan Almaira sibuk membahas bisnis baru mereka, sambil membicarakan Kania dan Arkarna pastinya.


Galih pulang dan menemukan seekor kucing berkeliaran di kediamannya. Sudah dapat dia duga ini pasti salah satu kucing Ezra yang dibawa pulang oleh Emir putranya.


"Ayah..." panggil Emir sambil berlari menyambut Galih.


"Jagoan Ayah." ucap Galih menjawab panggilan Emir lalu mengangkat tubuh putranya sambil berputar-putar, sudah jadi kebiasaannya melakukan itu pada Emir yang akan tertawa kesenangan.


"Ini kucing siapa?" tunjuk Galih pada kucing yang sedang duduk melihat kearah mereka berdua.


Emir tertawa memamerkan giginya yang ompong, "Kucing om Ezra, Yah. Namanya Gubo. Tante Al bilang, Gubo boleh untuk Emir pelihara." jawab Emir.


"Memangnya Emir bisa merawat kucing?" tanya Galih lagi sambil mengusap kepala Gubo.


Emir kembali memamerkan gigi ompongnya, "Kan ada bunda." jawab Emir membuat Galih terkekeh, sudah dia duga putranya akan mengandalkan sang istri untuk merawat hewan peliharaannya.


"Ada yang sebut nama Bunda, nih." ucap Mala mengagetkan ayah dan anak itu.


"Adek," jawab Emir mengakui dirinya yang menyebut nama sang bunda.


"Emir bawa kucing nya ke belakang ya sayang, biar Ayah mandi dulu." ucap Mala memberi tahu putranya.


"Iya Bunda." jawab Emir patuh.


"Good boy." ucap Galih sambil mengusap kepala putranya.

__ADS_1


Jadi bagaimana perkembangan Nia dan Arka?" tanya Galih begitu keluar dari kamar mandi dan melihat Mala masih menunggunya di kamar.


"Ya gitu deh." jawab Mala.


"Gitu gimana?"


Mala terkekeh melihat Galih memainkan alisnya. "Mereka berdua seperti biasa, sebentar akur terus ribut lagi." jawab Mala.


"Tapi Arka sedikit mengalah kalau Bunda perhatikan." lanjut Mala lagi penjelasannya.


Galih tersenyum, setidaknya apa yang dia bisikan pada Arkarna tadi pagi berhasil mempengaruhi anak laki-laki calon menantunya itu.


"Apa yang buat kamu tersenyum, Mas?" tanya Mala.


"Kamu tambah cantik setiap harinya sayang." jawab Galih.


"Gombal, udah tua juga masih suka gombal."


"Siapa yang tua, ayah masih kuat" jawab Galih tidak terima dikatakan tua.


"Masih kuat buat nambah anak." bisiknya lagi yang langsung mendapat pukulan dari sang istri di lengannya.


"Emir sudah besar sayang, tidak apa-apa kan kita tambah satu lagi." ucap Galih.


Mala tidak menghiraukan ucapan Galih, dia meninggalkan suaminya dan menuju nakas yang ada di samping tempat tidur. Mala sengaja menunggu Galih keluar kamar mandi untuk memberi tahu berita baik pada suaminya.


"Ini." Mala menyerahkan sebuah amplop kecil pada Galih.


"Apa ini sayang?"


"Buka dan lihat aja, nanti juga ayah tahu." jawab Mala sambil tersenyum jahil.


"Sayang, ini garis dua." ucap Galih tidak percaya melihat hasil test pack milik istrinya.


"Terimakasih sayang." ucap Galih lagi yang langsung memeluk istrinya.


"Terimakasih selalu memberikan kebahagiaan untuk Mas dan keluarga kita." ucap Galih mengeratkan pelukannya.


Mala menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Galih. "Bunda juga bahagia, Ayah." ucap Mala yang langsung mendapat kecupan di pucuk kepalanya.


"Dan biarkan aku bahagia selamanya, Tuhan." doa Mala di dalam hatinya.


...****************...


Terimakasih untuk semuanya yang sudah mengikuti kisah Mala dan Galih. Kisah mereka Author akhiri sampai disini. Sesuai dengan judulnya Biarkan Aku Bahagia, jadi kita akhiri disini karena Galih dan Mala sudah bahagia.


Next akan ada cerita cinta Kania dan Arkarna. Untuk kalian yang ingin tahu Ezra Syhareza dan Almaira orang tua dari Arkarna, kalian bisa mengikuti kisah mereka di Bila Aku Jatuh Cinta. Novel ini masuk dalam Karya Berkualitas YAAW s7


Jangan lupa juga ikutin cerita novel terbaru dari author yang berjudul Setelah Suamiku Berselingkuh Aku Menjadi Kaya. Karya ini ditulis untuk mengikuti lomba Konflik Rumah Tangga # Suami Tidak Berguna yang tidak kalah seru ceritanya.


Terimakasih juga untuk kalian para reader yang sudah memberikan Like, Vote, Hadiah dan Komentar di Biarkan Aku Bahagia. Semua dukungan yang kalian beri mampu memberikan semangat untuk author menulis cerita ini sampai tamat.


Khusus untuk Surya Mandayuni, author ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, selalu memberikan like dan komentar positif di setiap bab nya yang memberikan semangat untuk author.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2