BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Diculik


__ADS_3

Mengecup kening Mala seperti biasanya, Galih pamit pada wanita yang menjadi sumber kebahagiaannya itu. Sayangnya kebahagiannya selalalu saja mendapat ujian, seperti saat ini.


Entah mengapa tidak seperti biasanya, Galih merasa berat untuk meninggalkan Mala kali ini. Tapi dia harus menyelesaikan masalah yang kini terjadi di perusahaan.


"Mas berangkat." pamit Galih yang mendapat anggukan dari Mala.


"Hati-hati, Mas."


"Kamu juga hati-hati sayang. Tidak perlu megerjakan apapun. Setelah ini masuk kamar dan istirahat yang cukup." nasehat dan pinta Galih pada Mala.


"Iya, Hubby." jawab Mala membuat Galih semakin berat meninggalkan istrinya. Jika bisa memilih dia lebih baik ikut berbaring bersama Mala dan memeluk erat istrinya.


Menuruti perintah Galih, Mala membaringkan tubuhnya, bukan di kamar melainkan di sofa depan televisi.


Ketidak hadiran Galih sebagai pimpinan perusahaan, juga Leo sang asisten pimpinan, serta Tari sebagai sekertaris pimpinan, membuat Vivi si asisten sekertaris bebas bergerak untuk menjalankan rencananya.


Jika dia tidak bisa menggoda dan mendapatkan Galih seperti rencana pertamanya, maka kali ini dia menggunakan rencana kedua, dengan cara membuat laki-laki itu tergila-gila padanya.


Vivi tidak peduli lagi dengan perintah Mr.X, walau rencana dia menggoda Galih adalah saran laki-laki itu. Semuanya untuk memudahkan Vivi mendapatkan berkas-berkas penting perusahaan dan meninggalkan Galih setelahnya.


Tapi sekarang Vivi benar-benar menginginkan Galih dan menikmati hidup nyaman dengan harta laki-laki itu. Apa yang dia lakukan sekarang untuk kepentingan pribadinya bukan lagi atas perintah Mr.X.


"Kamu sedang apa?"


Suara seseorang yang Vivi kenal suaranya mengejutkan Vivi yang sedang memasukkan sesuatu di laci meja kerja Galih.


"Saya... saya tidak sedang apa-apa." jawab Vivi berbohong.


Vivi merasa terganggu, karena laki-laki ini seperti tidak memiliki pekerjaan lain, selau saja tahu keberadaannya dan apa saja yang dia lakukan.


"Jangan coba-coba berbuat sesuatu yang tidak baik pada pimpinan perusahaan ini." tegur laki-laki itu.


Vivi menjatuhkan bahunya, apa salahnya jika saat ini dia benar-benar jatuh cinta pada Galih dan ingin medapatkan laki-laki itu dengam cara apapun bahkan dengan cara guna-guna yang sekarang akan dia lakukan.


"Saya tidak seperti itu" jawab Vivi lagi menyangah tuduhan yang diberikan padanya.


"Keluarkan benda yang kamu letakkan dilaci itu." perintah laki-laki itu.


Dengan terpakasa, Vivi megambil kain hitam yang sudah dia letakkan di laci. Vivi mengambil jalan pintas karena dia ingin segera diperlakukan Galih seperti perlakuan Galih pada Mala.


"Ikut saya"

__ADS_1


Laki-laki itu kembali memberi perintah pada Vivi, setelah sebelumnya dia memerintahkan asisten Tari itu untuk membersihkan segala sesuatu yang tadi wanita itu tabur hampir di seluruh ruangan Galih.


Kepergian Vivi dari ruangan Galih dan laki-laki yang dia tidak tahu siapa, membuat Toni memberanikan diri masuk keruangan milik Galih.


Ini adalah waktu dan kesempatan yang sangat baik bagi Toni untuk menjalankan aksinya. Dia masuk kedalam ruangan pimpinan setelah melihat keadaan benar-benar aman.


Toni segera memeriksa berkas-berkas perusahaan yang tersimpan di ruangan pimpinan perusahaan ini. Jika Vivi lambat dalam bergerak, maka kali ini dia yang akan bereaksi cepat. Mr.X menginginkan berkas kepemilikan perusahaan Andromega, kini pencarian Toni terpusat untuk mendapatkan itu.


Hidup mewah yang dia nikmati saat ini adalah pemberian Mr.X, karena itu Toni bersedia melakukan apapun untuk Mr.X dan saudara Mr.X yang sudah menyelamatkan hidupnya.


Toni terus mencari dan mencari berkas yang di inginkan Mr.X, dia membuka satu persatu tumpukkan kertas yang ternyata hanya proposal-proposal kerja sama.


Sedikit kebingungan, Toni melihat brankas yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mengapa dia lupa jika berkas penting itu tidak akan di simpan di sembarang tempat.


Menghampiri berankas tersebut, Toni mencoba membuka tapi dia lupa kata sandi yang pernah seseorang beri tahukan padanya.


Sibuk mengingat kata sandi sambil membolak balik berkas yang ada disamping brankas, membuat Toni tidak menyadari kehadiran Papa Andro yang mengejutkannya dengan pertanyaan.


"Siapa kamu?" tanya papa Andro yang membuat Toni langsung mengembalikan berkas yang dia pegang ketempatnya semula.


Toni berbalik dan tersenyum pada papa Andro, seakan dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.


"Toni" panggil papa Andro.


Belum sempat Toni menjawab, dua orang pihak keamanan masuk ke ruangan pimpinan.


"Ada masalah apa, Pak?" tanya salah satu penjaga tersebut.


"Bawa dia kembali keruangannya dan jaga dia sampai Galih tiba" ucap papa Andro memberi perintah pada Joko dan Joni yang biasa dia panggil duo J.


Dengan langkah yang besar, Galih berjalan menuju ruangannya, di temani Leo yang sudah menunggunya terlebih dulu di lobby.


"Dimana dia, Pa?" tanya Galih begitu masuk keruangannya dan menemukan papa Andro disana.


"Di ruangannya, jangan takut dia dijaga duo J." jawab papa Andro.


"Sebenarnya Toni sudah dalam pengawasan kami sejak tante Vina dipenjara." ucap Leo memberitahu papa Andro.


"Ditambah kemarin dia memasukkan orang mereka yang menjadi asisten Tari."


"Kalian sudah tahu dia berbahaya, mengapa kalian biarkan dia tanpa pengawasan?"

__ADS_1


"Siapa bilang tanpa pengawasan, Pa" sahut Galih.


"Kami sudah mempersiapkan semuanya, Om." timpal Leo ucapan Galih.


"Lalu dimana asisten Tari? Papa lihat dia tidak ada di ruangannya.


"Johan sedang mengamankan wanita itu." jawab Leo lagi.


"Maksud kalian"


"Kami sudah menempatkan orang kepercayaan kita untuk menjaga dan megawasi mereka."


"Apa yang dilakukan wanita itu?" tanya papa Andro.


Leo segera mendekati komputer yang berada disamping meja kerja Galih. Dia memutar ulang rekaman cctv beberapa waktu lalu saat Vivi masuk keruangan Galih. Leo menyambungkan video itu kelayar besar yang ada di ruang kerja Galih, agar papa Andro bisa melihat apa yang terjadi.


Tampak jelas, Vivi sedang menaburkan sesuatu lalu meletakkan kain hitam kedalam laci di meja kerja Galih. Lalu tampak Johan datang menegur wanita itu dan memintanya segera membersihkan semua yang sudah dia taburkan.


Leo tidak heran jika wanita seperti Vivi bisa melakukan hal negatif seperti itu. Apa lagi wanita itu juga terang-terangan menggoda Galih dan Leo yang sering membuat Tari jengah. Entahlah apa itu benar cinta atau hanya nafsu ingin memiliki, yang jelas Leo bersyukur Johan dengan cepat memgamankan ruangan Galih dari pengaruh-pengaruh negatif.


"Mengapa kalian Tidak membahas masalah ini dengan Papa sebelumnya?" tanya papa Andro.


"Maaf, Pa. Kami pikir masih bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Rencananya akan membicarakan masalah ini ke Papa setelah semuanya selesai." jawab Galih.


"Melihat Toni terlibat, apa ini berarti perbuatan mereka?" tanya papa Andro.


"Sepertinya begitu, tapi tidak mungkin keduanya dan dua yang tersisa yang bergerak."


"Pasti ada seseorang tokoh yang lebih berkuasa yang punya niat untuk menghancurkan Andromega, atau seseorang yang pernah punya masalah dengan Om dan Galih." jawab Leo.


Papa Andro diam sesaat, terlihat memikirkan sesuatu. Menduga-duga siapa musuh mereka kali ini?


"Kalian urus wanita itu terlebih dulu. Jika benar dia terlibat kerja sama dengan Toni, pastikan dia bicara tentang bos besar mereka."


Leo menghubungi Johan, menanyakan keberadaan Vivi pada laki-laki itu.


Drtt... drtt... ponsel Galih bergetar, panggilan dari pihak keamanan di kediamanya yang mengubungi.


"Ada apa?" tanya Galih begitu dia mengangkat panggilannya.


"Pak, ibu... ibu di... di cu...culik"

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagi...


__ADS_2