
Satu bulan berlalu. Keinginan Tias dan keluarganya untuk menjalani operasi transplantasi sumsum tulang tidak semudah yang dibayangkan. Sahabat Mala itu masih harus menunggu pendonor yang bersedia. Papa Tias yang mengajukan diri sejak awal ternyata tidak bisa menjadi pendonor untuk putrinya. Begitupun Abi dan ibunya, mereka dinyatakan tidak layak sebagai pendonor.
Sekarang giliran Ardi yang sedang menjalani pemeriksaan sebagai calon pendonor. Sayangnya dia juga dinyatakan tidak bisa menjadi pendonor untuk sahabatnya. Hal itu membuat Ardi memutuskan kembali ke pesatren untuk meneruskan tujuannya mendalami ilmu agama sambil meyelesaikan laporan magang dan juga menyicil mengerjakan skripsinya.
Selama menunggu jadwal operasi dan pendonor, Erick mengijinkan Tias kembali menjalani aktifitasnya di kampus. Tentu saja dengan pengawasan ketat sang dokter dengan Tias yabg terus mengkonsumsi obat yang disarankan untuk menunjang kesehatannya, sehingga dia bisa beraktifitas lagi. Satu syarat yang juga harus dipenuhi Tias, dia harus menjaga kondisi tubunya yang tidak boleh kelelahan. Untungnya Tias sudah tidak ada mata kuliah lagi, sehingga dia tidak perlu setiap hari ke kampus.
Zoya yang sekarang menjadi asisten dosen dari Dito disibukkan dengan mempersiapkan materi pembelajaran yang akan dia sampaikan pada mahasiswa baru. Sama seperti Ardi, ditegah kesibukannya Zoya bekerja keras untuk mengerjakan laporan magang dan juga mempersiapkan skripsinya.
Sedangkan hubungannya dengan Dito berjalan ditempat, tidak ada kemajuan yang berarti. Kedekatan mereka hanya sedekat seorang dosen dengan asistenya, selebihnya tidak ada lagi. Zoya bisa apa? Dia tidak bisa memaksakan perasaan orang untuk jatuh cinta padanya bukan? Zoya paham itu, dia berusaha untuk bisa menerima kenyataan.
Tanpa Zoya tahu, jika selama magang hingga saat ini dia memiliki pengagum rahasia. Seseorang yang akhir-akhir ini selalu ada untuknya, memperhatikan dan menjaganya walau tak terlihat.
Sementara itu rumah tangga Mala dan Galih semakin hari semakin mesrah. Galih tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Mala. Pengalaman buruknya yang pernah satu hari mengabaikan Mala membuat dia menjadi suami siaga, suami yang selalu menjaga istrinya agar tetap aman dan baik-baik saja.
Siang ini, Mala, Tias, Zoya dan Ardi berjanji bertemu di warung abah Husen. Sudah lama mereka tidak mengunjungi orang tua angkat mereka itu sambil menikmati makan siang bersama disana.
"Neng Tias sudah sehat?" tanya abah Husen begitu melihat kehadiran Tias diwarungnya.
Tias lebih dulu tiba di tempat abah Husen, dia baru saja selesai kontrol kesehatanya dengan dokter Erick. Setiap selesai kontrol, Tias akan merasa lebih sehat dan baik-baik saja. Tentu saja karena hatinya akan bertabur bunga dengan sikap lembut yang selalu dokter Erick berikan.
"Berusaha untuk sehat, Abah" jawab Tias sambil tersenyum lebar.
"Ya bagus itu Neng. Abah doakan semoga cepat mendapatkan pendonor dan Neng Tias bisa sehat lagi" puji dan doa abah Husen.
"Amin" Ardi yang mengaminkan doa abah Husen yang juga diikuti Tias.
"Den Ardi, kumaha damang?" (Den Ardi, apa kabar?)
"Alhamdulillah, baik Bah." jawab Ardi sambil menyambut tangan keriput milik abah Husen yang diulurkan padanya.
"Sehat Bah?" tanya Ardi pada abah Husen.
"Sehat Den, alhamdulillah."
"Assalamualaikum" Mala memberi salam bersama Zoya.
"Waalaikumsalam geulis" abah Husen menjawab salam Mala, diikuti Tias dan Ardi.
"Leuwih geulis neng Mala ayeuna" ambuh Eti yang baru datang yang bicara.
__ADS_1
"Mala aja nih ambu yang cantik? Zoya enggak ya." Zoya memasang wajah merajuk.
"Jijik gue lihat muka Lo kayak gitu. Gimana Lo mau dibilag cantik sama ambu" Zoya membulatkan matanya pada Tias yang meledeknya.
"Jangan bicara yang tidak baik" Sela Ardi agar Tias dan Zoya tidak meneruskan aktifitas saling ejek yang biasa keduanya lakukan.
"Tuh dengerin apa kata pak ustadz" sahut abah Husen.
"Saya belum jadi ustadz atuh Bah, masih jauh ilmunya" jawab Ardi jujur. Dia belajar agama untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dosanya terlalu banyak selama ini, terutama dosa zina yang dulu sering dia lakukan.
Keempat sahabat itu menikmati waktu kebersamaan mereka, Ardi banyak berbagi cerita selama dipesantren. Zoya menceritakan pengalamannya selama satu bulan ini menjadi asisten dari Dito. Tias menceritakan pengobatan yang dia jalani bersama dokter Erick.
"Lo gimana La?" tanya Tias melihat Mala hanya menyimak cerita mereka tanpa ada niatan untuk berbagi cerita.
"Gue nggak punya bahan cerita, binggung mau cerita apa." jawab Mala.
"Mama Vina gimana perkembangan kasusnya?" tanya Ardi.
"Mama Vina? Kenapa?" Tias dan Zoya bertanya bersamaan. Keduanya sama-sama tidak mengetahui kasus apa yang Ardi maksud.
Tentu saja kasus ini tertutup untuk umum. Galih membayar mahal untuk itu. Dia tidak ingin masalah dalam keluarganya menjadi konsumsi publik.
"Lupakan masalah mama Vina. Ada sesuatu yang mungkin kalian harus tahu. Terutama lo Yas, biar lo bisa memberi tahu kak Abi" ucap Mala yang teringat percakapan antara Saras dan Kiara.
"Baru gue sama mas Arfan yang tahu, itu juga gue enggak sengaja nguping. Awalnya gue penasaran lihat Saras dan Kiara ada di rumah sakit saat lo di rawat Yas"
"Saras dan Kiara?" tanya Tias.
"Mereka saling kenal?" Zoya ikut bertanya.
Mala mengangguk menjawab mengiyakan pertanyaan kedua sahabatnya. Menarik nafas panjang untuk menenagkan diri, lalu menghembuskannya berlahan.
"Kayaknya cerita lo berat isinya La" ucap Ardi yang faham jika Mala sudah menarik nafas panjang.
"Bener, gue jadi penasaran" sahut Zoya.
"Bisa pada diem nggak sih biar Mala cerita." Tias yang bicara dengan nada sedikit tinggi.
"Lo tahu status kak Abi dengan Saras, Yas?" tanya Mala pada Tias.
__ADS_1
"Iya gue tahu, tapi tidak dengan papa dan ibu. Kak Abi merahasiakannya"
"Itu bagus, setidaknya mempermudah kak Abi jika dia ingin mengakhirinya setelah tahu sebuah kebenaran." jawab Mala.
Mala mulai bercerita, berawal dari dia dan Arfan yang ingin menjenguk Tias. Lalu tidak sengaja dia melihat Saras dan Kiara sedang duduk berdua dan terlihat terlibat percakapan.
Tias yang mendengar cerita Mala terdiam, dia tidak berani berbicara saat Mala menceritakan kecurigaan Kiara tentang Alan dan dirinya. Laki-laki itu memang sempat mengusiknya, tapi kini dia menghilang tanpa jejak.
"Jadi mereka saudara satu ibu beda bapak?" ulang Zoya ucapan Mala yang menjelaskan hubungan antara Saras dan Kiara.
"Ini baru yang namanya berita" lanjut Zoya ucapannya.
Mala kembali bercerita. Kini Mala mengulang apa yang di ucapkan Saras yang membuka identitas siapa ayah dari putra Kiara.
"APA?" Tias, Ardi dan Zoya berteriak bersamaan saat Mala memberi tahu jika putra Kiara adalah adiknya Abi.
"Gila, gue nggak bisa percaya ini" ucap Tias.
"Lo nggak mengada-adakan, La?" tanya Tias melanjutkan ketidak percayaannya.
"Apa gue tipe orang yang seperti itu?" Mala balik bertanya.
"Dia itu adik tiri kak Abi, tapi dia..." Tias diam tidak melanjutkan ucapannya, masih sulit baginya menerima kebenaran ini.
"Perlu gue lanjut ceritanya?" tanya Mala setelah semua terdiam.
"Lanjut" Zoya yang menjawab diikuti Tias dan Ardi yang mengangguk.
Mala kembali bercerita, sekarang dia mengulang apa yang di ucapkan Kiara tentang putra Saras, yang kembali mendapat tanggapan terkejut oleh sahabat-sahabatnya.
"Kak Abi tertipu?" ucap Tias lirih, lalu dia menatap Mala.
"Saya tertipu apa?" Suara yang sangat dikenal keempat sahabat itu mengejutkan mereka.
"Kak Abi" panggil Mala.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1