BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Memo


__ADS_3

Ucapan Vivi yang menghina Mala dan Zoya sebagai anak magang memancing emosi Tari, hanya saja Mala menahan sepupu suaminya itu untuk tidak memberi tahu siapa Mala sebenarnya.


"Mala ini...."


"Iya, kami hanya magang disini, Mbak" jawab Mala memotong jawaban Tari.


"Anak magang bisa sangat akrab dengan Bu Tari, hebat juga kalian." ucap Vivi sambil memandang sinis Mala dan Zoya.


"Saya akrab dengan siapa saja bukan masalah buat kamu, kan?" tanya Tari yang sejak awal Vivi menjadi asistennya sudah tidak suka dengan cara dan sifat wanita itu.


Berbeda saat Mala yang menjadi asistenya, dengan mudah dia bisa dekat dan jatuh hati dengan sosok Mala yang sekarang jadi adik iparnya.


"Tidak masalah sih... hanya saja apa kata orang jika tahu sekertaris dari perusahaan Andromega berteman baik hanya dengan anak magang" jawab Vivi.


"Apa yang salah dengan anak magang, Mbak?" Zoya yang bertanya.


"Pertemanan yang tulus itu tidak melihat status seseorang, selama kami merasa cocok dan sehati mengapa kami tidak bisa dekat dan akrab" lanjut Zoya ucapannya menjelaskan.


"Tidak ada yang salah memang, asal jangan minta memo agar dipermudah untuk kerja di perusahaan ini ya...."


Zoya terkekeh. "Saya tidak berminat sebenarnya kerja disini, tapi mendengar ucapan Mbak Vivi saya jadi tertarik. Sepertinya boleh juga minta memo" jawab Zoya lagi.


Mala dan Tari tertawa mendengar jawaban Zoya. Tanpa ada memo jika mau, mereka bisa memilih ingin posisi yang manapun diperusahaan ini.


"Asal bukan minta ditempatkan di posisi asisten sekertaris saja." sahut Vivi ketus.


Kali ini Zoya tertawa lebar mendengar ucapan Vivi. Bukankah dia diminta Mala untuk mengantikan posisi wanita yang ada dihadapannya ini?


"Mala... sepertinya aku akan terima tawaran pemilik perusahaan ini untuk menempati posisi asisten sekertaris" jawab Zoya sambil melihat Mala yang tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu.


Vivi mendengus kasar pada Zoya. "Memang kamu sedekat itu dengan pemilik perusahaan ini?" gumam Vivi yang masih bisa di dengar Mala, Zoya dan Tari.


"Sangat dekat" sahut Zoya lagi.


"Buktikan!" Vivi membalas sahutan Zoya.


"Siapa takut" balas Zoya lagi.


"Zoy, mau minum apa?" Tari yang bertanya pada Zoya untuk menghentikan perdebatan antara asistenya dan sahabat Mala itu.


"Nanti saja Mbak, kalau mau aku dan Mala bisa ambil sendiri" jawab Zoya.


"Oh ya, kandungan kamu baik-baik saja, kan?" Tari mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Mala sambil mengelus perut yang terlihat rata.


"Alhamdulillah, dedeknya baik-baik saja. Aku kesini sekalian mau tanya-tanya sama Mbak Tari soal kehamilan di trimester pertama." jawab Mala.


"Kamu sudah menikah? Masih kuliah, kan?" tanya Vivi beruntun menyela percakapan Mala dan Tari.

__ADS_1


"Kalau masih kuliah memangnya tidak boleh menikah, Mbak?" Zoya yang balik bertanya.


"Zoya...." panggil Mala untuk menghentikan Zoya yang akan melawan Vivi.


Zoya diam, menuruti perintah Mala agar tidak meneruskan perdebatannya, walau sebenarnya dia masih ingin membuat Vivi tahu siapa Mala yang dia pandang sebelah mata.


Merasa sudah tidak ada lawan bicara, Vivi pergi meninggalkan ketiganya. Dia melihat sosok Galih dan Leo di kejauhan, keduanya baru saja keluar dari ruang meeting. Dari pada berdebat dengan Zoya, lebih baik dia mengambil hati bosnya. Vivi pun melangkah mendekati Galih dan Leo.


Dari jauh Galih sudah bisa mengenali sosok Mala, wanita yang selalu dia rindukan. Galih yang berjalan sedikit cepat agar bisa segera menghampiri istrinya, dikejutkan oleh seseorang yang menghentikan langkahnya.


"Bagaimana meetingnya hari ini, Pak? Apa ada yang biasa saya bantu? Bapak mau diambilkan minuman atau makanan apa?" tanya Vivi beruntun.


Pertanyaan Vivi mengalihkan pandangan Mala, Zoya dan Tari yang langsung memperhatikan sikap wanita itu. Ketiganya hanya bisa tersenyum menertawakan Vivi dalam hati mereka. Terlebih lagi Galih hanya melihat sekilas lalu kembali menatap kedepan dimana istrinya berada.


"Sayang" panggil Galih pada Mala begitu istrinya itu melihat kearahnya.


Vivi yang mendengar kata sayang keluar dari bibir bosnya merona merah, merasa jika panggilan itu adalah untuknya. Tapi rona itu hilang saat melihat Galih melangkah pergi dan mendekat pada Mala.


"Sudah lama?" tanya Galih sambil menerima uluran tangan Mala yang ingin menyaliminya.


Seperti biasa, jika sang istri mencium punggung tangannya, maka Galih akan mencium kening Mala.


Vivi tercengang dengan adegan yang dia lihat, terlebih lagi tatapan lembut Galih pada Mala. "Dia...." gumam Vivi.


"Belum lama kok, Mas" jawab Mala sambil memberikan senyumnya pada sang suami.


"Mas ke ruangan kalau gitu, masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Kalau kamu sudah selesai temui Mas di ruangan"


"Iya, sayang" ucap Mala pelan.


Hanya Galih yang bisa mendengar panggilan sayang Mala, membuat laki-laki itu menyungingkan senyum sambil megelus wajah Mala sebelum melangkah meninggalkan istrinya. Ucapan sayang yang Mala ucapkan tentu saja menjadi mood boster untuknya. Kalau saja hanya berdua, sudah dapat dipastikan Galih akan melahap bibir istrinya sambil memeluknya erat.


Dari tempatnya berdiri Vivi bisa melihat senyum yang tersunging di wajah Galih. Sebuah anugrah baginya bisa melihat senyum yang tidak pernah diberikan Galih ke sembarang orang.


"Apapun dia bagi kamu, aku tetap akan berusaha membuat kamu berpaling padaku" Vivi bicara dalam hatinya.


Belum selesai perhatiannya pada senyum Galih, Vivi dikejutkan oleh suara Zoya.


"Pak Leo, selamat siang, Pak" sapa Zoya begitu melihat Leo berjalan kearahnya.


"Kamu ikut saya" ucap Leo.


Bukan menjawab sapaan calon istrinya, Leo malah memberi perintah. Zoya mengikuti apa yang di inginkan Leo, karena laki-laki itu tidak memberi kesempatan pada Zoya untuk menolak apa lagi menjawab.


Zoya melihat kearah Mala dan Tari, hanya kekehan kecil dari keduanya sambil mengusir Zoya untuk mengikuti Leo.


"Zoya mau diajak kemana?" tanya Vivi pada Tari, begitu Zoya mengikuti langkah Leo.

__ADS_1


"Wawancara kerja" jawab Tari asal membuat Mala kembali terkekeh mendengarnya.


"Udah sana, selesaikan pekerjaan kamu. Itu harus segera di laporkan pada pak Galih" perintah Tari agar asistennya itu jangan banyak bertanya.


Mendengar akan menghadap Galih, Vivi bersemangat. Tanpa banyak tanya dan bicara dia kembali ke meja kerjanya. Melihat itu Mala dan Tari saling melempar senyum, karena itu hanya trik Tari agar Vivi kembali bekerja. Tidak mungkin Tari membiarkan Vivi memberi laporannya langsung pada Galih.


Zoya berjalan di belakang Leo, dengan segala pikiran yang berterbangan di kepalanya, sehingga saat Leo mendadak menghentikan langkah kakinya, Zoya menabrak punggung laki-laki itu.


"Bang..." panggil Zoya sambil mengusap keningnya.


Leo berbalik. "Maaf sayang" jawabnya sambil menatap Zoya, membuat gadis itu kembali menundudukkan kepalanya.


"Aku yang salah sih, ngelamun soalnya" jawab Zoya jujur. Leo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayo masuk" ajak Leo sambil membuka pintu ruangannya, dan mempersilakan Zoya masuk lebih dulu.


"Abang tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan lagi?" tanya Zoya heran. Mengapa laki-laki ini mengajaknya ke ruangan asisten ceo.


"Ada pekerjaan yang harus di bahas berdua Galih sebenarnya, tapi masih ingin bicara sama kamu" jawab Leo.


"Sana kalau gitu, Abang pasti sudah ditunggu sama pak bos, bicara sama akunya nanti aja." Zoya mengusir Leo.


"Sudah berani ya sekarang, pake acara ngusir segala." jawab Leo. Zoya hanya terkekeh.


"Kamu ada keperluan apa kekantor?"


"Apa lagi kalau bukan mengawal permaisuri, Bang. Atas perintah yang mulia raja." jawab Zoya sambil menyengir kuda.


"Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" tanya Leo lagi sambil menyuruh Zoya duduk disampingnya.


"Kalau bilang bukan kejutan namanya, Bang" jawab Zoya. Leo terkekeh.


"Kamu tuh yah" Leo yang gemas mendengar jawaban Zoya, mencubit hidung calon istrinya itu.


"Ih... Abang juga sudah mulai berani ya, cubit-cubit hidung aku"


"Lebih dari itu juga bolehkan?" goda Leo.


"Bulum boleh, Bang"


Leo terkekeh, dia hanya ingin menggoda calon istrinya ini. Leo yang kaku seperti kanebo kering, berubah menjadi Leo yang banyak tersenyum dan tertawa bila sudah bersama Zoya.


"Udah sana, keruangan pak Galih. Aku juga mau balik ke tempat mbak Tari" ucap Zoya sambil berdiri meninggalkan Leo.


"Dah Abang...." Zoya melambaikan tangannya meninggalkan ruangan Leo.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2