BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
79. Informasi Abi


__ADS_3

Sudah tiga hari Galih pulang dari rumah sakit, dan hari ini bunda Sarah akan mengadakan syukuran untuk kembalinya Mala pada keluarga serta kesembuhan Galih. Tidak lupa bunda Sarah juga ingin mendoakan kesehatan Mala dan bayi yang sedang dikandung putrinya.


Akhir-akhir ini begitu banyak masalah yang menimpa Mala dan Galih, sebagai orang tua tentu saja yang bunda Sarah inginkan adalah kebahagian putri dan menantunya. Bunda Sarah berharap setelah ini badai akan berlalu dan berganti kebahagian untuk keduanya.


"Mau berangkat sekarang, Sayang?" tanya Galih begitu melihat Mala sudah cantik dengan pakaian syar'inya.


"Bulan depan" jawab Mala sambil berlalu.


Galih mengulum senyum mendengar jawaban istrinya, dia tahu Mala masih menahan kesal karena ulah yang dia buat.


Sehari sebelumnya Mala mengajak Galih untuk menginap, tapi suaminya menolak. Jika di kediaman bunda Sarah tentu saja dia tidak bisa bermanja-manja dengan istrinya, itu alasan yang Galih berikan pada Mala.


Bukan bermanja sebenarnya yang Galih inginkan, melainkan dia sudah berhari-hari menahan hasrat pada Mala. Selain Mala yang baru di temukan, kesehatannya juga terganggu. Malam ini Galih ingin menghabiskan waktunya berdua Mala, karena itulah dia lebih memilih untuk tetap tinggal di kediman mereka sendiri dari pada menginap di kediaman mertuanya.


Setelah sarapan, Mala mengingatkan Galih untuk segera bersiap-siap ke kediaman bunda Sarah.


"Ayo Mas, kita kerumah bunda sekarang" ajak Mala begitu selesai sarapan.


Bukan menjawab ajakan Mala, Galih justru menggendong istrinya kekamar dan kembali menidurkan Mala di tempat tidur.


Cup... cup... cup. Galih mengecup berkali-kali bibir istrinya.


"Sayang..." panggil Galih sambil menatap lekat wajah istrinya.


"Sekali lagi." pinta Galih.


Mala menggeleng. Jika menuruti keinginan Galih, mereka bisa terlambat ke kediaman bunda Sarah. Apa lagi semalam mereka sudah melakukannya. Galih tidak menaggapi gelengan Mala, dia langsung saja melahap danging kenyal merah delima istrinya. Mala hanya bisa pasrah jika Galih sudah seperti ini, menolakpun percuma.


"Terima kasih sayang" ucap Galih setelah melepas penyatuan mereka.


Mala langsung berdiri, dia ingin segera membersihkan diri lalu bersiap-siap ke kediaman bunda Sarah.


"MAS" teriak Mala begitu merasakan tubuhnya melayang.


Galih membawa Mala kekamar mandi, dia tidak akan membiarkan kesempatan untuk mandi berdua istrinya.


Hal itulah yang membuat Mala menjadi kesal, tentu saja kegiatan mandinya menjadi lebih lama jika berdua Galih.


"Mulai berani sekarang, hemm." ucap Galih menaggapi jawaban Mala sambil mencubit sayang hindung istrinya. Mala yang tandinya kesal jadi terkekeh.


"Ayo." ajak Galih mengulurkan tangannya untuk menggandeng Mala.


Tiba di kediaman bunda Sarah, tampak wanita paruh baya itu sudah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


"Kenapa siang sekali kalian berdua datangnya?" tanya bunda Sarah begitu melihat putri dan menantunya yang baru tiba.


Mala melirik kearah Galih yang hanya tersenyum simpul, Galih tahu arti lirikan Mala yang menyalahkannya.


"Sudahlah, sekarang kalian berdua bersiap-siap menyambut tamu saja." ucap bunda Sarah begitu Mala hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya.


"Sebentar lagi tamu yang Bunda undang datang." lanjut bunda Sarah memberitahu Mala dan Galih.


"Tamunya siapa saja, Bun?" tanya Mala.


"Bunda hanya mengundang tetangga dan anak-anak yatim dari panti asuhan yang biasa kita kunjungi." jawab bunda Sarah.


Satu persatu tamu berdatangan, Galih menyambut mereka. Dia tidak sendiri melainkan ada Arfan yang menemaninya.


"Bagaimana keadaannya Pak?" tanya Indra yang juga diundang oleh bunda Sarah.


"Sudah lebih baik. Terima kasih sudah mau datang." jawab Galih lalu mempersilakan Indra duduk.


Galih tidak menyangka jika Abi juga akan datang di acara yang diadakan bunda Sarah, saat pandangan mereka bertemu. Harusnya dia sudah tahu, selain Abi cukup dekat dengan Arfan dan bunda Sarah, laki-laki itu juga tinggal satu komplek dengan ibu mertuanya.


"Terima kasih sudah mau hadir" sapa Galih sambil berjabat tangan dengan Abi.


"Setelah acara ini bisa kita bicara?" tanya Abi.


Entah apa yang akan dibicarakan Abi dengannya, Galih yakin ada hal penting yang akan disampaikan laki-laki itu.


"Hai Bro, bagaimana lukamu?" Rafi yang menyapa Galih.


"Alhamdulillah, sudah membaik."


"Sory nggak sempat menjengguk." ucap Rafi lagi.


"Tidak masalah, gue tahu orang penting kayak lo selalu sibuk." sindir Galih.


Rafi terkekeh, dia tahu itu sindiran untuknya. Dia belum sehebat Galih kalau mau di setarakan. Harusnya Galih yang jauh lebih sibuk dari pada dirinya.


Acara syukuran atas kembalinya Mala pada keluarga, juga untuk kesembuhan Galih serta syukuran untuk bayi yang Mala kandungan berjalan lancar.


Banyak doa yang dipanjatkan untuk kesehatan dan kebahagian Mala, Galih dan juga buah hati mereka yang sedang tumbuh di dalam rahim Mala.


Para tamu dan anak-anak yatim yang di undang bunda Sarah satu persatu pamit pulang. Kini, tinggalah keluarga dan para sahabat yang masih berada di kediaman bunda Sarah.


Seperti janjinya pada Abi, Galih menemui laki-laki yang pernah mengisi hati istrinya itu.

__ADS_1


Saat Galih menemui Abi, ternyata sudah ada Arfan dan Alan duduk bersama laki-laki itu. Bukan hanya Galih yang akan Abi ajak bicara, dia juga meminta Arfan dan Alan mendengarkan informasi yang akan dia sampaikan.


"Hei bos Andromega" sapa Alan pada sepupunya itu.


Hubungan Galih dengan Alan memang sudah membaik, tapi Galih tetaplah Galih yang tidak banyak bicara dengan orang lain termasuk pada Alan. Sehingga suami Mala itu hanya menanggapi sapan Alan dengan tersenyum. Alan sudah terbiasa dengan sikap sepupunya yang seperti itu, salah dia sendiri yang membuat Galih menjaga jarak.


"Jadi ada hal apa?" Arfan yang bertanya pada Abi.


"Saya ingin menyampaikan beberpa hal yang terkait dengan kasus-kasus yang kalian hadapi saat ini." jawab Abi.


"Apa ada sesuatu yang kamu ketahui dan kami belum tahu itu?" kembali Arfan yang bertanya.


"Iya, kebetulan saya ikut menyelidiki kasus ini karena berkaitan dengan Saras dan juga ibunya."


"Ada beberapa hal yang baru saya ketahui, saya pikir kalian harus tahu tentang ini."


"Apa itu?" tanya Galih yang tidak ingin bertele-tele.


"Tentang kematian eyang kalian berdua." jawab Abi sambil melihat Galih dan Alan bergantian.


"Pak Yamin yang melakukanya." lanjut Abi ucapannya.


"Maksud kamu kecelakaan eyang itu sebuah pembunuhan?" tanya Alan.


"Apa informasi ini bisa di percaya?" tanya Galih, tidak mudah baginya menerima informasi tanpa bukti.


"Saya sudah mengumpulkan beberapa bukti." jawab Abi. "Nanti saya kirimkan bukti itu pada kalian." lanjutnya.


"Saras yang memberitahumu?" tanya Arfan mengingat Saras ternyata adalah putri dari Yamin.


"Bukan dia, tapi ayahku."


"Kamu bertemu ayahmu?" tanya Arfan lagi. Abi mengangguk.


"Iya, ayah memberikan semua informasi tentang Yamin dan kejahatannya."


"Bukan hanya membunuh eyang kalian, kejahatan yang Yamin lakukan pada keluarga kalian."


"Masuknya Kiara dalam kehidupan kalian berdua juga campur tangan laki-laki itu."


Alan menarik nafas panjang, dia mengingat awal dia mendekati Kiara. Yamin yang saat itu bekerja sama dengan perusahaan ayahnya yang mendorong Alan mengusik kehidupan Galih. Laki-laki itu tahu rasa iri yang dimiliki Alan pada Galih, hingga semua terjadi dan berakhir seperti sekarang.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2