BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
89. Melahirkan


__ADS_3

Tiba di rumah sakit Galih menemukan banyak awak media yang berkumpul di lobby, hal tersebut membuat Galih memperlambat jalannya karena ragu untuk masuk.


"Mengapa banyak awak media, Pak?" tanya Leo pada satpam rumah sakit.


"Mereka ingin meliput berita istri tuan Ezra, Pak." jawab satpam itu.


"Ezra Harley" ucap Leo untuk meyakinkan lagi siapa yang dimaksud satpam tersebut.


Satpam itu membenarkan dengan mengangguk bersamaan dengam ponsel Galih yang berdering.


Melihat nama istrinya yang menghubungi, Galih segera menerima panggilan itu. "Assalamualaikum sa...."


"Galih kamu dimana?" suara bunda Sarah memotong ucapan Galih yang mengira istrinya yang menghubungi.


"Sudah di depan lobby rumah sakit, Bun" jawab Galih.


"Cepat masuk, Mala sudah mau di bawa ke ruang persalinan." ucap bunda Sarah memberi tahu Galih.


Mendengar penjelasan bunda Sarah, Galih melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit diikuti Leo. Galih sudah tidak peduli dengan awak media yang berkumpul akan mengenali dirinya. Saat ini dia ingin menemani Mala melahirkan buah hati mereka.


"Galih." suara seorang pria memanggilnya membuat Galih terpaksa menghentikan langkahnya.


"Om Dimas." sapa Galih sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sahabat papa Andro yang merupakan pemilik rumah sakit ini.


Pak Dimas memanggil Galih sambil berjalan mendekati suami Mala itu. Para awak media yang semula sibuk bertanya pada pak Dimas, kini beralih mengajukan pertanyaan pada Galih.


"Galih kedatangan anda untuk mengunjungi putra Almaira dan Ezra atau apa?"


"Galih mengapa anda hanya ditemani asisten anda?"


"Mengapa istri anda tidak dibawa?"


Bermacam-macam pertanyaan mengalir dari mulut para wartawan pada Galih yang tidak bisa melanjutkan jalannya.


"Istri saya akan melahirkan, mohon maaf saya harus segera menemui dan menemani istri saya." jawab Galih sambil berjalan cepat diikuti Leo dan juga pak Dimas.


"Selamat Om. Om Dimas sudah dapat cucu lagi." ucap Galih sambil berjalan bersisian bersama pak Dimas.


"Iya, terimakasih ucapannya. Selamat juga untuk kamu. Ini cucu pertama untuk Andro, dia pasti sudah sangat menantikannya." ucap pak Dimas menjawab ucapan selamat dari Galih.


"Maaf Om, saya harus segera...."


"Iya-Iya, silakan. Semoga lancar." ucap pak Dimas memotong ucapan Galih.


"Sayang." panggil Galih begitu masuk ke kamar rawat inap Mala dan melihat istrinya itu meringis kesakitan.


"Mas kenapa lama sekali?" tanya Mala sambil meringis menahan sakit.


"Banyak wartawan di luar, sayang. Mas sempat tertahan oleh mereka."


"Kenapa mereka bisa tahu Mas ke rumah sakit?" tanya Mala lagi.


"Bukan mencari berita tentang kita. Kebetulan Istri Ezra juga sedang melahirkan." jelas Galih.

__ADS_1


"Ibu Mala masih bisa jalan?" tanya perawat yang baru saja masuk menghentikan pertanyaan Mala selanjutnya pada Galih.


"Sakit Sus." bukan menjawab pertayaan perawat itu Mala malah mengadu sakit.


Suster itu tersenyum mendengar aduan Mala, "Pak tolong di bantu istrinya untuk dudukan di kursi roda." pinta perawat tersebut pada Galih.


"Pelan-pelan Mas." pinta Mala saat Galih akan menggendong dirinya.


Galih sendiri yang mendorong Mala menuju ruang persalinan, dia akan terus menemani istrinya sampai putri mereka lahir.


"Mas sakit" teriak Mala sambil mencengkeram erat tangan Galih.


"Iya sayang, Mas tahu. Tapi kamu harus kuat demi Kania." ucap Galih memberi semangat pada Mala.


Galih sudah menawarkan pada Mala untuk melahirkan secara ceisar saja, isterinya menolak dan memilih untuk melahirkan secara normal.


"Bukaan lengkap." ucap dokter Mery memberi tahu Mala.


"Tarik nafas yang panjang, lalu hembuskan sambil mendorong bayinya ya." ucap dokter Mery memberi tahu Mala.


"Ayo sayang, kamu bisa." kembali Galih memberi semangat pada istrinya.


Mengeratkan peganggan tangannya pada tangan Galih, Mala menarik nafas panjang dan dalam.


"Huu." Mala menghembuskan nafas dari mulutnya sambil mendorong bayinya untuk keluar.


"Bagus, sekali lagi." ucap dokter Mery memberi aba-aba.


"Mas." panggil Mala.


"Huu" ulang Mala lagi, dengan sekuat tenaga dia mendorong bayinya.


Suara bayi terdengar memenuhi ruang persalinan tersebut.


"Alhamdulillah, bayinya perempuan dan cantik sekali." ucap dokter Mery begitu dia mendapatkan bayi yang Mala lahirkan di tangannya.


"Terimakasih sayang." ucap Galih.


Galih mencium seluruh wajah Mala, sebagai ungkapan syukur, terima kasih dan bahagia. Tidak ada yang membuatnya sebahagia hari ini, Mala benar-benar memberikan kesempurnaan dalam hidupnya.


"Pak ini putrinya." ucap perawat memberikan Kania untuk digendong Galih.


Galih segera mengambil alih putrinya, dia sudah belajar cara menggendong bayi yang baik dan benar. Mala dan Tari yang menjadi gurunya, yang menyuruhnya mempraktekkan langsung pada kekasih hati baru Mala, putra Tari sepupunya.


Kamar rawat inap Mala seketika saja ramai. Sudah ada eyang Retno dan mama Vina disana menunggu kedatangan Mala dan putrinya yang akan dipindahkan ke Kamar yang lebih luas dari kamar rawat sebelumnya.


Pak Dimas yang memerintahkan pihak rumah sakit untuk memindahkan Mala ke kamar rawat inap yang hanya dipakai oleh keluarga Harley saja. Kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati menantu dan cucunya.


"Terima kasih Dimas, sudah mengijinkan menantuku menempati kamar khusus keluarga ini." ucap papa Andro begitu dia melihat kehadiran sahabatnya itu.


"Kita memang keluarga Andro. Kamu dan Riadi adalah sahabat terbaikku." jawab Pak Dimas.


Kedua laki-laki paruh baya itu berbagi cerita, mengingat masa remaja mereka hingga akhirnya mereka menemukan pasangan hidup masing-masing.

__ADS_1


"Cucuku laki-laki, dan cucumu perempuan Andro. Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka?" tanya pak Dimas pada papa Andro.


"Apa putramu setuju Dimas? Kamu tahu sendiri anak sekarang." jawab papa Andro.


"Ya, kita bicarakan dulu dengan keluarga masing-masing." jawab Pak Dimas.


Tanpa keduanya sadari seorang wartawan berada disana mendengar percakapan mereka.


Mala dan Kania disambut eyang Retno begitu tiba di kamar rawat inapnya. Eyang dari Galih itu langsung menciumi cucu bunyutnya berkali-kali karena bahagia.


"Bu bos selamat sudah bongkar mesin." ucap Zoya membuat Mala terkekeh.


"Kamu cepat menyusul, Zoy." sahut bunda Sarah.


"Sabar bunda, di produksi dulu baru bongkar mesin." sahut Zoya lagi.


"Produksinya langsung di rakit, jangan hanya produksi aja." Tari yang baru datang menimpali.


Semua yang ada disana tertawa mendengar ucapan Tari membuat Kania terbangun dan menangis.


"Tari tanggung jawab Lo." ucap Galih.


"Kenapa gue." sahut Tari tidak terima.


"Mas..." panggil Mala pada Galih untuk tidak berdebat dengan sepupunya.


Kania tidak juga berhenti menangis meskipun sudah di gendong oleh bunda Sarah dan mama Vina bergantian.


"Sepertinya Kania haus, La." ucap bunda Sarah memberi tahu Mala.


Bunda Sarah meletakkan Kania di pangkuan Mala, "Ayo belajar menyusui." ucap bunda Sarah.


Memperhatikan putrinya yang sedang di susui oleh Mala, menjadi pemandangan yang membahagiakan bagi Galih. Dia bersyukur di anugrahi dua wanita yang melengkapi kebahagiannya.


Tidak jauh berbeda dengan Galih, Mala juga bersyukur Tuhan memberikan kebahagiaan padanya.


"Kania sudah tidur Mas." ucap Mala memberi tahu Galih.


Galih mengambil alih putrinya dari Mala lalu meletakkannya dengan hati-hati kedalam box bayi yang disediakan rumah sakit.


Tinggal mereka berdua saat ini yang ada di kamar rawat Mala. Keluarga dan sahabat sudah pulang sore tadi, sementara bunda Sarah yang masih menemani Mala saat ini sedang berkunjung ke kamar sebelah menengok cucu pak Dimas.


"Mas kenapa kita pindah kamar? Ini terlalu besar." tanya dan jelas Mala.


"Om Dimas yang menyiapkan kamar ini untuk kita."


"Om Dimas pemilik rumah sakit ini?" tanya Mala lagi. Galih mengangguk membenarkan.


"Sayang, papa dan om Dimas ingin menjodohkan Kania dengan Arkarna putra Ezra dan Almaira." beritahu Galih pada Mala.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Galih karena Mala hanya diam saja.


...⚘⚘⚘⚘...

__ADS_1


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2