
"Kita mau kemana Ayah?" tanya Mala saat ayah Riadi mengajaknya pergi bersama Arfan dan bunda Sarah.
"Ke rumahnya om Andro, sayang" jawab ayah Riadi sambil mengusap kepala putrinya.
"Ooo rumahnya mama Sandra ya, Bun?" kini Mala beralih pada bunda Sarah. Bunda Sarah mengangguk sambil menjawab, "Iya sayang"
Baru saja Mala akan bicara lagi, dia dihentikan Arfan yang sering merasa berisik dengan banyaknya pertanyaan yang sering Mala lontarkan.
"Diam Dek, jangan berisik" ucap Arfan.
Mala tidak berani mejawab bila Arfan sudah seperti itu, gadis kecil itu lebih memilih diam dan memandang keluar jendela dari pada membantah ucapan sang kakak.
"Ayo cantik kesayangan mama, masuk" ucap mama Sandra begitu melihat kehadiran Mala bersama keluarganya.
"Galih... Sini nak. Ada Arfan sama adek, nih" panggil mama Sandra pada putranya. Mala sudah terbiasa dipanggil adik oleh keluarganya dan juga keluarga papa Andro, dan dia suka dengan panggilan itu.
"Hei Ar" sapa Galih pada Arfan.
"Halo, Dek" Galih beralih pada Mala yang langsung mencubit pipi chubby milik gadis kecil itu.
Semua masuk ke dalam kediaman papa Andro. Awalnya mereka duduk di ruang keluarga, lalu satu persatu pergi. Ayah Riadi dan papa Andro pergi ke ruang kerja, Arfan dan Galih pergi kekamar Galih untuk bermain game. Tinggal Bunda Sarah yang sibuk berbincang dengan mama Sandra dan Mala.
Mala akhirnya memilih duduk sendiri dipinggir kolam ikan, mengamati pergerakan hewan yang ada didalam kolam tersebut sendiri, tidak ada teman yang sebaya dengannya disini. Itu yang membuat Mala tidak suka jika diajak ke kediaman papa Andro. Tadi saat Arfan memintanya diam, Mala sebenarnya ingin meminta diajak pergi ke taman bermain atau ke kediaman nenek dari bundanya, disana dia bisa bermain bersama Widya.
"Mau main nggak?" Mala menatap Galih yang tiba-tiba datang bertanya padanya. Gadis kecil itu tersenyum sambil mengangguk.
"Main apa, Mas?" tanya Mala yang masih berusia empat tahun itu dengan lugu.
"Kamu maunya main apa?" Galih balik bertanya.
"Main pentak umpet mau?" tanya Galih lagi begitu melihat Mala hanya diam.
"Pentak umpet itu apa?" Galih lupa jika yang diajaknya bermain ini anak balita yang belum menyecap bangku sekolah dan juga tidak pernah bermain diluar rumah bersama teman sebayanya.
"Main sembunyi-sembunyi" jawab Galih memberitahu Mala.
"Mau" jawab Mala dengan cepat setelah Galih menjelaskan cara bermainnya.
"Aku jaga, kamu sembunyi ya dek" ucap Galih memberitahu Mala. Gadis kecil itu megangguk mengerti.
Galih menghitung sambil menutup mata, sementara Mala yang diminta bersembunyi berjalan kembali kedalam rumah mendekati bunda Sarah dan mama Sandra. Dia masih belum mengerti apa maksud sembunyi yang diperintahkan Galih.
"Dek, mau coklat?" tawar mama Sandra yang langsung mendapat anggukan dari Mala.
__ADS_1
Menikmati coklat pemberian mama Sandra membuat Mala lupa jika saat ini dia sedang diajak bermain petak umpet oleh Galih. Harusnya dia sembunyi, bukan duduk sambil menikmati coklat.
Tidak menemukan Mala disekitar dia berdiri, Galih melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Benar saja, dia melihat gadis kecil itu sedang mengunyah coklat.
"Coklatnya enak?" tanya Galih sambil duduk disamping Mala.
"Enak, Mas" jawab Mala, sambil melihat Galih dan tersenyum tanpa dosa.
"Boleh minta nggak?" tanya Galih lagi.
"Boleh, ambil aja" jawab Mala santai.
"Suapin, tangan aku kotor" pinta Galih.
Mala menuruti permintaan Galih, dia menyodorkan sisa coklat yang sudah digigit olehnya. Galih tidak protes, dia menikmati suapan demi suapan hingga mereka menghabiskan bersama satu batang coklat.
"Kamu kena" ucap Galih setelah dia membersihkan mulutnya dan mulut Mala yang berlepotan coklat.
"Kena" ulang Mala.
"Tadi kita main sembunyi-sembunyi lho. Aku bisa nemuin kamu disini. Sekarang kamu yang jaga" jelas Galih.
"Kamu bisa berhitung?" tanya Galih lagi. Mala mengangguk mengatakan kalau dia bisa.
Mala mulai berhitung satu sampai sepuluh seperti yang diperintahkan Galih, dia menjauhkan kedua telapak tangannya yang menutupi wajah. Tidak ada Galih disekitarnya, Mala mengembungkan pipinya yang chubby menandakan dia kesal. Sebelum berhitung dia meminta Galih berdiri dibelakangnya dan laki-laki itu mengiyakan.
"Mas Galih" panggil Mala mencari sosok Galih yang tidak dia temui saat berbalik.
"Mas... Mas Galih dimana?" panggil Mala lagi.
"Mas jangan tinggalin Mala"
"Mas Galih... Mas..."
Papa Andro, bunda Sarah Widya, Alya dan eyang Retno yang berada di kamar rawat inap Mala, bisa mendengar jelas kalau wanita itu meracau memanggil Galih.
"Galih suruh kembali ke sini Mas, biar Arfan dan yang lain yang menagani Wina" pinta bunda Sarah yang langsung disetujui oleh papa Andro.
"Sayang" panggil Galih begitu masuk kedalam kamar inap istrinya. Bibirnya menyunggingkan senyum kala dia lihat wanita yang dicintainya tengah disuapi bunda Sarah dan terlihat baik-baik saja walau tububnya penuh luka.
"Mas" panggil Mala dengan membalas senyum Galih.
"Sudah tidak pusing lagi?" tanya Galih. Mala mengngguk.
__ADS_1
"Mau Mas yang suapi?" tanya Galih lagi. Dia merasa bersalah pada Mala yang saat bangun tidak melihat kehadirannya.
Mala mengangguk membuat bunda Sarah langsung menyerahkan piring yang ada ditangannya pada Galih.
"Maaf sayang, tadi Mas tinggal" Mala menjawab dengan seyuman. Dia tidak akan mempermasalahkan itu, dia juga tidak ingin tahu siapa orang yang tega melakukan ini semua padanya. Mala butuh Galih, hanya Galih yang dia inginkan. Bunda Sarah juga sudah memberitahunya kalau sejak tadi suaminya itu selalu menemaninya, sampai laki-laki itu terlelap tanpa melepaskan gengamannya pada Mala. Mala bahagia mendengarnya, itu yang Mala butuhkan, perhatian dan kasih sayang suaminya untuk menghadapi semua ini.
"Aaak" pinta Galih agar Mala membuka mulutnya.
"Tadi ada yang cari-cari Mas, ya?"
"Siapa?" tanya Mala tidak mengerti.
"Papa bilang kalau kamu panggil-panggil nama Mas" Mala tersenyum, dia ingat kalau tadi dia bermimpi tentang masa lalu. Apakah dia sampai meracau? Wajah Mala memerah karena Malu.
"Kok senyum?" tanya Galih sambil melihat wajah Mala yang merona merah.
"Tadi aku mimpi, mimpi waktu diajak main petak umpet sama Mas Galih" jawab Mala jujur. Balik Galih yang tersenyum.
"Jangan semyum. Mas jahat waktu itu ninggalin Mala"
Mala memasang wajah cemberut, entah mengapa kenangan masa lalu itu tiba-tiba kembali dalam memori ingatannya yang sudah lama dia lupakan. Mungkin karena kecelakaan membuatnya kembali mengingat banyak hal dimasa lalu, Mala sendiri tidak mengerti.
Selama dia tidur, satu persatu kenangan itu seakan diputar ulang. Galih yang suka menjahilinya hingga dia menangis, tapi anak laki-laki itu juga yang akan menghiburnya hingga dia kembali tertawa dan ceria.
"Bilangnya iya berdiri dibelakang aku, tapi masuk kamar main sama mas Arfan" lanjut Mala ucapannya membuat Galih terkekeh. Dia jadi kembali mengingat kisah itu, mengajari anak balita yang tidak mengerti bermain petak umpet.
"Bukannya kamu duluan yang nyebelin, di suruh sembunyi malah makan coklat" ucap Galih. Balik Mala yang terkekeh dan berakhir dengan mereka yang sama-sama tertawa mengingat masa lalu yang terlupakan.
Sedekat itu dulu dia dan Galih, dimasa kanak-kanaknya. Namun setelah Galih SMP, pemuda itu mulai jarang berinteraksi dengan Mala. Galih lebih memilih memperhatikan gadis kecil itu dari jauh saat bersenda gurau dengan Rafi. Karena itulah, saat laki-laki itu menjemputnya di sekolah dan mengendongnya, Mala merasa Galih kembali seperti dulu. Hatinya bahagia mendapati Galih yang perhatian padanya seperti masa kanak-kanak, membuat Mala memberikan kalung kesayangannya pada Galih.
Galih menghilang setelah lulus SMP membuat Mala terbiasa tanpa kehadiran laki-laki itu. Mala juga sibuk dengan teman-teman barunya, terutama pada Abi yang memberikan perhatian lebih padanya. Sehingga Mala lupa pada sosok Galih saat mereka kembali bertemu di situasi yang saat itu tidak baik.
"Hubby" panggil Mala setelah Galih meletakkan piring di nakas. Mala sudah menghbiskan makananya.
"Iya sayang" jawab Galih sambil mengulurkan segelas air putih untuk Mala minum.
Mala menghabiskan air pemberian Galih hingga tandas. Dia kembali menunggu suaminya itu duduk dihadapnnya.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Galih. Malah menggeleng sambil tersenyum.
"Ada berita baik" ucapnya.
...⚘⚘⚘⚘...
__ADS_1
...Biarkan Aku Bahagia...