
Tidak butuh waktu lama bagi Mala untuk menjalani terapi bersama psikolog. Trauma yang Mala alami bukan trauma berat, Galih diminta untuk bisa mengkondisikan keadaan Mala agar ketakutan istrinya itu bisa hilang.
Sepulang dari tempat psikolog, Galih mengajak Mala langsung menuju kediaman papa Andro. Sudah ada bunda Sarah dan eyang Retno yang menunggu mereka disana.
"Mas tinggal kamu disini sama bunda dan eyang." ucap Galih yang pamit pada Mala.
"Iya Mas, hati-hati. Ingat..."
"Iya, Mas ingat pesan kamu sayang. Jangan khawatir." jawab Galih memotong ucapan Mala.
Selepas mengecup kening istrinya, Galih kembali ke mobil dimana sudah ada papa Andro yang menuggunya.
"Bagaimana kesehatan eyang?" tanya Mala begitu mobil yang dikendarai Galih sudah tidak lagi terlihat.
"Kesehatan eyang sangat baik, dan harus baik. Karena eyang ingin melihat cicit eyang lahir." jawab eyang Retno sambil tersenyum lebar. Mala membalas senyum eyang Retno sambil mencium pipi sang eyang.
"Ayo Eyang, kita masuk." ajak Mala. Saat dia hendak mendorong kursi roda eyang Retno untuk masuk kedalam, dengan cepat buda Sarah langsung menghentikan niat Mala itu.
"Biar bunda saja, kandungan mu harus dijaga." ucap bunda Sarah mengambil alih kursi roda yang di gunakan eyang Retno.
Mala hanya bisa menurut jika sudah menyangkut buah hatinya.
Galih memarkirkan kendaraannya di lapas wanita, dimana mama Vina berada. Sudah ada Lila sebagai perwakilan pengacara keluarga papa Andro menunggunya disana.
"Bagaimana?" tanya Galih pada Lila.
"Semua berkas sudah siap. Ibu Vina bisa kita jemput sekarang." jawab Lila.
"Bagaiman Pa?" tanya Galih pada papa Andro.
"Kita sudah disini sekarang." jawab laki-laki paruh baya itu.
Berjalan beriringan, mereka menuju lapas untuk menjemput mama Vina yang terbukti tidak bersalah dalam pembunuhan terhadap mama Sandra. Yamin lah orang yang merencanakan dan melakukan pembunuhan itu, maka laki-laki itu yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Galih." panggil mama Vina saat melihat siapa orang yang menjemput nya.
Galih tersenyum berjalan mendekati mama Vina. "Maafkan Galih, Ma." ucap Galih sambil membuka lebar tangannya untuk memeluk mama Vina.
"Kamu tidak salah, Nak." jawab mama Vina.
"Mama yang salah, tidak memberi tahu kamu apa yang mama ketahui." lanjut mama Vina.
"Sudahlah Ma, semua sudah berlalu. Ayo kita pulang." ajak Galih.
Mama Vina menggeleng, " Mama bukan istri papa mu lagi." ucap Mama Vina.
"Aku masih suamimu Vina." papa Andro yang sejak tadi berdiri dibelakang mama Vina yang menjawab.
"Mas." panggil mama Vina setelah melepaskan diri dari pelukan Galih dan langsung berbalik ke belakang.
"Aku belum mengucap kata talak. Jadi kita masih sah sebagai suami istri." jelas papa Andro.
"Ayo kita pulang, menatu kesayanganmu sudah menunggu di rumah." lanjut papa Andro.
"Mala." ucap mama Vina.
__ADS_1
"Mala menunggu mama di rumah saat ini." jelas Galih.
"Mama..." panggil Mala begitu melihat mama Vina turun dari mobil.
"Jangan lari sayang." Galih mengingatkan istrinya yang akan berlari mendekati mama Vina.
"Lupa Mas." jawab Mala tanpa merasa bersalah.
Galih hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya yang terkadang seperti anak kecil.
"Bagaimana keadaan kamu dan bayimu, sayang?" tanya mama Vina.
"Sehat Ma, kami berdua sehat." jawab Mala sambil mencium punggung tangan mama Vina.
"Ayo Ma." ajak Mala sambil merangkul mama mertuanya untuk masuk kedalam rumah.
"Bu." mama Vina mendekati eyang Retno dan langsung bersimpuh di pangkuan ibu mertuanya.
"Maafkan Vina, Bu." ucap mama Vina yang tidak dapat menahan tangisnya di pangkuan eyang Retno.
Eyang Retno ikut menangis, bukan hanya Vina yang punya kesalahan, dia pun sama sudah menuduh yang tidak benar pada menantunya ini.
"Maaf kan Ibu juga, Nduk." ucap eyang Retno lalu mengangkat tubuh mama Vina untuk dipeluknya.
Mala dan bunda Sarah ikut meneteskan air mata, mereka berdua juga ikut berpelukan karena terharu dan terbawa suasana melihat eyang Retno dan mama Vina.
"Ayo kita makan, menantu dan besanmu sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu, Vi." ajak eyang Retno setelah melepaskan pelukannya dari mama Vina.
Mala tersenyum bahagia, kini keluarga mereka kembali utuh seperti sediakala, masa lalu yang menjadi masalah dimasa sekarang sudah berlalu. Mala berharap semua akan baik-baik saja dan mereka bahagia selamanya.
"Aku bahagia Mas. Dan biarkan aku bahagia selamanya." jawab dan pinta Mala.
"Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, sayangku." ucap Galih sambil menautkan kedua tangan mereka.
"Terimakasih, Mas." jawab Mala.
Waktu terasa cepat berlalu, satu persatu masalah telah mereka lewati. Mala sudah sembuh dari traumanya dan sekarang dia disibukkan dengan persiapan kelahiran untuk si buah hati.
"Mas aku belanja perlengkapan bayi sendiri saja ya." ucap Mala disaat dia mengantar Galih yang hendak berangkat kerja.
"No, sayang. Tunggu Mas libur kita belanja." jawab Galih.
"Mas janji terus, nyatanya hari libur Mas tetap kerja." sahut Mala yang sudah dua pekan ini Galih terus mengingkari janjinya.
"Besok. Mas janji, sepulang dari dokter kita belanja keperluan putri kita." jawab Galih lagi.
"Janji?"
"Janji, sayang. Senyum dong." jawab dan pinta Galih
Dengan terpaksa Mala memberikan senyumnya pada sang suami.
"Nah gini kan bundanya Kania cantik. Buat ayahnya Kania kangen terus." ujar Galih menggoda istrinya sambil menyebut nama calon putri mereka.
"Ayah kerja dulu ya sayang." ucap Galih lagi sambil berlutut dihadapan Mala untuk mencium putrinya yang ada di perut sang istri.
__ADS_1
"Ayah janji, besok kita jalan-jalan beli perlengkapan buat Kania. Sekarang Kania sama bunda dulu ya, temani bunda dan tolong bilang sama bunda jangan marah lagi sama ayah." ucap Galih sambil melirik melihat wajah istrinya.
"Iya, bunda nggak marah, tapi ayah jangan ingkar lagi." sahut Mala menjawab lirikan mata suaminya.
Galih tersenyum lalu mengecup kening istrinya, "Mas pergi dulu." ucap Galih.
Hari ini Galih menepati janjinya, dia menemani Mala memeriksakan kandungannya dengan dokter Mery, dokter yang menangani Mala sejak pertama dinyatakan hamil.
"Bayinya sehat, ibunya juga harus sehat. Jangan stres, biar nanti melahirkannya lancar." ucap dokter Mery setelah memeriksa Mala.
"Bapaknya tolong di bantu, ibunya dibuat senang dan rileks." lanjut dokter Mery bicara pada Galih.
"Kapan Dok, perkiraan HPLnya?" tanya Mala.
"Sekitar lima minggu lagi. Bisa lebih awal, bisa juga mundur. Yang penting persiapkan saja semua seperti yang sudah saya jelaskan." jawab dokter Mery.
"Pak Galih, jadi suami siaga. Mulai sekarang pekerjaannya dikurangi, luangkan waktu untuk istrinya lebih banyak." pesan dokter cantik tersebut.
Galih mengangguki permintaan dokter Mery. Mala tidak tahu jika Galih sudah meminta Leo untuk mengurus perusahan menjelang kelahiran putrinya, karena Galih ingin menjadi suami siaga.
Kembali memenuhi janjinya, sekarang Galih mengajak Mala menuju toko perlengkapan bayi yang direkomendasikan oleh Tari.
"Mas, ini terlalu banyak." protes Mala saat melihat Galih membeli semua pakaian bayi perempun yang ada di toko itu.
"Kania tidak butuh semua ini. Jangan berlebihan." lanjut Mala lagi saat Galih tidak menghiraukan protesnya.
"Putri kita tidak boleh kekurangan apapun sayang." jawab Galih.
"Tapi tidak harus membeli semuanya, Mas" jawab Mala lagi sambil menggelengkan kepala.
Mereka memang punya uang untuk membeli semuanya tapi bukan itu masalahnya. Putri mereka tidak membutuhkan semuan yang di jual di toko ini. Pelayan toko yang melayani mereka hanya bisa tersenyum melihat perdebatan itu.
"Mbak, saya ambil tiga pisces saja setiap modelnya." putus Mala memberi tahu karyawan tersebut.
"Baik Bu, akan kami siapkan dan akan kami kirim ke rumah ibu secepatnya." jawab pelayan tersebut.
"Ayo Mas, kita cari makan." ajak Mala setelah Galih membayar semua belanjaan yang mereka beli.
Baru saja akan melangkah dari toko perlengkapan bayi itu, mereka bertemu Ardi bersama seorang wanita.
"Ardi." panggil Mala.
"Hai La." balas Ardi menyapa Mala.
"Apa kabar Pak?" tanya Ardi sambil menjabat tangan Galih.
"Seperti yang kamu lihat, mengawal ibu negara." jawab Galih membuat Ardi terkekeh.
"Kenalkan." ucap Ardi mengenalkan wanita yang datang bersamanya.
"Nurlela." jawab wanita itu.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1