BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
24. Permintaan Bunda


__ADS_3

Kencan pertama Galih dan Mala berakhir bahagia, itu yang tergambar dari wajah keduanya. Galih yang terus menyunggingkan senyum dan Mala yang selalu merona atas perlakuan romantis suaminya. Kebahagiaan itu terus berlanjut sampai mereka berada di kediaman orang tua Mala yang disambut langsung oleh Bunda Sarah.


"Lho, Galih kok sudah pulang?" tanya Bunda Sarah saat melihat putrinya yang pulang bersama menantunya.


"Sudah kangen sama anak bunda" jawab Galih sambil menyalimi tangan ibu mertuanya yang hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar jawaban menantu laki-lakinya ini.


"Wah, yang dikangenin pasti senang ya" goda Bunda sarah pada putrinya.


"Apaan sih bun" sanggah Mala godaan Bunda Sarah. Bunda Sarah dan Galih sama-sama terkekeh mendengar sangahan Mala.


"Kalian hanya mampir apa menginap disini lagi?" tanya Bunda Sarah lagi pada sepasang suami istri itu.


"Malam ini menginap disini bolehkan bun?" Galih yang bertanya.


"Tuntu saja boleh, bunda senang sekali mendengarnya. Jangankan malam ini, mau selamanyapun bunda ijinin" jawab Bunda Sarah dengan wajah yang gembira.


"Malam ini aja kok bun. Besok kami mau ke Jogja" Galih menjawab ucapan Bunda Sarah.


"Kami? Jogja?" Mala membeo dalam hati tidak mengerti maksud Galih. Suaminya tidak bicara apapun masalah ini padanya, ingin protes tapi saat ini ada Bunda Sarah dihadapannya.


"Ada pekerjaan disana, skalian bulan madu" beritahu Galih sambil melirik istrinya dan tersenyum nakal membuat Mala membalas dengan tatapan tajam, tapi suaminya itu tetap membalasnya dengan tersenyum penuh arti.


"Bagus itu, biar bunda cepat dapat cucu" ujar Bunda Sarah antusias sambil menepuk bahu Mala dan tersenyum menggoda putrinya.


"Tenang aja bunda, kami akan usaha terus" jawab Galih, merangkul istrinya membuat Mala memaksakan senyum pada Bunda Aisyah dan membulatkan matanya saat menatap Galih. Galih tidak peduli, dia tetap menyungingkan senyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Mala dan itu sangat menyebalkan bagi Mala.


"Ya sudah sana bersih-bersih, kita bicara lagi nanti waktu makan malam" lanjut Bunda Sarah ucapannya sambil berlalu dari anak dan menantunya.


Mala keluar dari kamar mandi dan menemukan suaminya sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Tadi dia meninggalkan Galih begitu saja masuk kekamar karena tidak suka dengan perkataan suaminya pada sang bunda. Namun bukan Mala namanya kalau akan terus-terusan kesal, dia tipe orang yang mudah melupakan kekesalannya dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Dia juga bukan tipe orang yang pendendam, karena dia orang yang tidak ingin merusak hati dan pikirannya. Seperti sekarang, dia sudah menegur suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Mandi mas sana" tegur Mala mengingatkan Galih.


Galih mengalihkan pandangannya pada Mala sambil tersenyum. Ini yang Galih suka dari Mala, istrinya itu mudah kesal tapi juga mudah melupakan kekesalannya. Bahkan dia sudah disuguhi wajah segar Malah yang menambah kecantikan istrinya, bagaimana Galih tidak semakin jatuh cinta? Andai saja pernikahannya sudah berjalan normal seperti pada umumnya, tentu saja dia akan segera membawa istrinya dalam kungkungannya. Sayangnya itu masih sebatas angan-angan yang masih harus dia perjuangkan.

__ADS_1


"Mas, kok diam aja sih" seru Mala mengejutkan Galih dari keterpanaannya pada sang istri.


"Iya mas mandi sayang" jawab Galih lalu menerima handuk yang diberikan Mala padanya. Mala mulai belajar untuk menyiapkan keperluan Galih setelah mereka sepakat untuk menjalankan rumah tangga ini dengan sesungguhnya, dan membatalkan kontrak nikah yang pernah diajukan Galih.


Ponsel Galih yang di letakkan di nakas berbunyi, ada pesan yang masuk. Mala bisa melihat itu notif dari chat group hanya saja nama Ardi yang tertulis disana yang mengirimkan pesan membuat Mala tertarik untuk melihatnya.


"Ardi" gumam Mala sambil menggelengkan kepala.


Ada banyak nama Ardi, bukan berarti itu Ardi sahabatnya apa lagi itu adalah group yang dia tidak tahu group apa karena tidak ada judul yang jelas hanya terera group RHS. Mala mengira bisa jadi itu group teman-teman sekolah atau teman-teman kuliah suaminya. Dan salah satu dari temannya Galih memiliki nama yang sama dengan Ardi sahabatnya. Tidak mungkin juga suaminya itu satu group dengan Ardi sahabatnya. Untuk apa? Namun rasa penasaran Mala yang tinggi, membuat dia ingin membaca isi notifikasi tersebut untuk sekedar ingin tahu itu Ardi sahabatnya atau bukan dan ada urusan apa dengan suaminya?


Belum sempat Mala membaca isi pesan itu, ponsel miliknya berbunyi. Terlihat dari layar nama Tias yang tertera. Melupakan rasa penasarannya Mala langsung menerima panggilan itu dengan menyentuh tombol hijau dan menggesernya. Sejak pagi Tias tidak ada kabar beritanya, membuat Mala tidak lagi menunda menerima panggilan tersebut. Mala meletakkan ponselnya di meja rias lalu menyalakan loud speker agar bisa bicara dengan Tias sambil mengeringkan dan menyisir rambutnya.


"Halo Tias, kamu kemana aja? Zoya sama Ardi nyariin kamu, Kak Abi juga" sapa, tanya dan jelas Mala.


Tias terkekeh, begitulah dia. Tias sangat pandai bersandiwara sejak dulu, menutupi hatinya yang sebenarnya. Sejak orang tuanya bercerai dan mamanya lebih memilih tinggal bersama putri tirinya dari pada bersama dirinya, Tias merasa hancur dan sakit hati. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menutupi kecewanya dengan bersandiwara seakan dirinya baik-baik saja walau sebenarnya luka di hatinya menganga lebar.


"Aku ada keperluan penting sama teman aku. Maaf ya baru ngasih kabar kekamu sekarang. Btw kamu masih menginap di kediaman bunda?" jawab dan tanya Tias yang ingin tahu sesuatu.


"Aku masih diluar, masih ada urusan sama teman aku. Mala, kamu masih menginap di tempat bunda itu berarti suami kamu masih diluar kota ya?" tanya Tias lagi.


Keberadaan Galih yang menghilang dari Surabaya yang ingin Tias ketahui, dia memang sengaja menghubungi Mala untuk mencari tahu keberadaan Galih. Belum sempat Mala menjawab, terdengar suara Bunda Sarah memanggil Mala dari depan pintu kamarnya.


"Tias aku dipanggil bunda sebentar ya" Mala berlalu meninggalkan ponselnya di meja rias.


"Ada apa bun?" tanya Mala begitu dia membuka pintu dan langsung berhadapan dengan bundanya.


"Mana suamimu? Ajak dia makan malam" tanya dan beritahu Bunda Sarah.


"Masih di kamar mandi. Nanti kalau sudah selesai Mala ajak keluar" jawab Mala dan mendapat anggukan dari Bunda Sarah.


Mala kembali ke meja rias dan mendapati ponselnya yang sudah tidak terhubung dengan Tias. Tanpa Mala sadari kalau sebenarnya Galih yang memutus panggilan itu. Dia mendengar percakapan istrinya dengan Tias, dan dia tahu kemana arah pembicaraan Tias, yang ingin tahu keberadaan dirinya. Karena itulah sebelum Mala memberitahu kebenarannya Galih menekan tombol merah untuk memutuskan panggilan tersebut.


"Lho mas, sudah selesai mandinya?" tanya Mala terkejut melihat Galih keluar dari walk in closet.

__ADS_1


"Hemm" jawab Galih hanya dengan berdehem.


"Ayo sudah di tunggu di meja makan sama bunda dan Mas Arfan" Mala memberi tahu Galih.


"Sini" bukan mengiyakan ucapan Mala, Galih malah menarik istrinya agar duduk di pangkuannya.


"Mas" protes Mala.


"Mas mau bicara" jawab Galih.


"Nggak mesti dipangku kan?" Mala masih melayangkan protesnya.


Galih terkekeh sambil menciumi rambut Mala yang panjang. Inilah nikmatnya pacaran dalam ikatan pernikahan, tidak ada larangan baginya untuk menyentuh istrinya dibagian manapun.


"Sebentar saja, mas masih kangen" bukan menurunkan Mala yang berontak ingin turun, Galih malah mengeratkan pelukannya. Mala pasrah, percuma dia berontak kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki suaminya yang memiliki tubuh yang besar tinggi dan kekar.


"Mau bicara apa mas?" tanya Mala agar mereka segera beegabung bersama Bunda Sarah dan Arfan.


"Tentang permintaan bunda"


"Memang bunda minta apa?" tanya Mala polos.


Galih mengulum senyum. Istrinya benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti.


"Permintaan bunda yang ingin punya cucu" bisik Galih membuat Mala menegang. Dia belum siap untuk sampai ke tahap itu. Mala masih belajar untuk membuka hatinya pada Galih, dia belum tahu isi hatinya walau akhir-akhir ini jantungnya berdebar saat Galih bersikap romantis seperti saat ini dia yang duduk dipangkuan suaminya. Tapi itu bukan berarti dia siap untuk berhubungan lebih jauh lagi.


"Kita sudah ditunggu bunda dan Mas Arfan" ucap Mala mengalihkan pembicaraan dan langsung berdiri.


Galih mengikuti langkah istrinya keluar kamar menuju meja makan. Dia tahu Mala tidak akan secepat itu untuk menyerahkan dirinya. Galih masih harus berusaha untuk bisa memiliki istrinya seutuhnya.


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...

__ADS_1


__ADS_2