BIARKAN AKU BAHAGIA

BIARKAN AKU BAHAGIA
Berita Bahagia


__ADS_3

"Dok, kepala saya pusing" Mala yang baru saja sadarkan diri, mengeluhkan sakit di kepalanya.


"Kalau membuka mata rasanya semua berputar, Dok" lanjut Mala keluhannya pada dokter jaga yang sedang membersihkan luka-lukanya.


"Sebentar ya bu, nanti saya periksa." jawab dokter jaga yang menangani Mala.


Lama dokter memeriksanya, selama itu juga Mala tidak berani membuka matanya. Sejak pagi Mala memang sudah merasakan ada sesuatu yang tidak enak ditubuhnya, serta kepalanya yang sedikit pusing. Tapi Mala tetap memaksakan diri mengendarai nuna melaju ke warung abah Husen. Tidak mungkin dia membatalkan bertemu dengan ketiga sahabatnya, sudah lama mereka tidak berkumpul dan berbagi cerita yang dulu mereka lakukan hampir setiap hari.


Sesampainya Mala di warung abah Husen, rasa sakitnya sedikit berkurang dan saat berbagi cerita, pusing yang tadi menyerang sudah tidak lagi dia rasakan. Hatinya bahagia, karena itu dia melupakan rasa sakitnya.


"Apakah kamu tahu, jika masalah ini yang menghalangi hubungan kita?"


"Kakak mencintaimu, Mala"


Duarrr, seketika itu juga Mala merasa mual, apa yang dikatakan Abi membuat apa yang tadi dia makan seakan berontak ingin keluar. Mala kembali merasakan sakit di kepalanya. Karena itu, dia langsung berdiri meninggalkan ketiga sahabatnya dan juga Abi. Hal yang paling tidak sopan yang pernah dia lakukan, pergi begitu saja tanpa pamit. Yang ada dikepala Mala, dia ingin menemui Galih dan berlari masuk dalam dekapan suaminya. Entah mengapa Mala sangat menginginkannya saat itu.


Mala tiba disisi nuna, suara Abi yang terus memanggilnya membuat dia tidak tahan dengan rasa mual dan sakit dikepalanya. Mala memegang kedua kepalanya dan berjongkok disamping nuna. Bersamaan dengan itu, Mala merasa tubuhnya terdorong. Mala segera menutupi wajahnya dengan kedua lengannya tetap dengan posisi seperti orang berjongkok tubuh Mala berguling di aspal sampai tepat berada di depan nuna. Mala lemah tidak berdaya, hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.


"Coba dibuka matanya, Bu?" perintah dokter jaga yang kini sudah selesai membersihkan luka Mala.


Mala kembali mencoba membuka matanya, baru setengah terbuka dia kembali memejamkan matanya.


"Pusing, Bu Dokter. Saya kenapa? Apa ada luka yang parah di kepala saya, Dok?" tanya Mala beruntun.


"Luka ibu tidak ada yang serius hanya saja lumayan banyak dibagian tangan dan kaki" jawab dokter wanita itu.


"Tadi ibu mengatakan, sudah merasakan sakit kepala sejak pagi"


"Iya dok"


"Ibu sudah datang bulan, bulan ini?"


Mala mencoba mengingat sirklus haidnya, dia belum datang bulan, tapi memang belum jadwalnya. Benarkah? Mala lupa sepertinya dia melewatkan hitungannya.


"Harusnya dua minggu yang lalu, Dok" jawab Mala setelah menghitung ulang. Dokter itu tersenyum, sayangnya Mala tidak bisa melihat senyum diwajah dokter tersebut.


"Mengapa dokter menanyakannya? Apa ada hubungannya dengan sakit kepala saya?" tanya Mala beruntun.


"Ibu sepertinya kurang tidur dan kurang istirahat beberapa hari ini" ucap dokter tersebut.


Dokter itu benar, Mala sibuk menyelesaikan skripsinya selama satu minggu ini, karena besok lusa dia akan menghadap Dito untuk bimbingan. Ditambah dua hari terakhir ini Mala selalu tidur larut malam, terlalu asyik ngobrol bersama eyang Retno yang sedang berkunjung sampai lupa waktu.


"Dokter benar" jawab Mala.


"Karena itu saya sakit kepala ya, Dok? Lalu apa hubungannya dengan datang bulan?" tanya Mala yang masih tidak mengerti.


"Sebentar. Apa saya...?"

__ADS_1


Mala tidak berani melanjutkan pertanyaanya, dia takut apa yang dipikirkannya itu benar dan terjadi sesuatu yang buruk karena kecelakaan tadi. Mala tidak menginginkan hal itu terjadi.


"Ibu kenapa?" dokter itu balik bertanya.


"Apa saya hamil, Bu Dokter?"


"Hemm. Selamat ya bu, kondisi rahim ibu sangat kuat. Kandungan ibu juga baik-baik saja, walau ibu mengalami kecelakaan dan luka cukup banyak." jawab dokter tersebut membuat Mala memberanikan diri membuka matanya. Hatinya menghangat, ini berita yang membahagiakan.


"Masih pusing?" tanya dokter itu begitu melihat Mala membuka mata.


"Sedikit dok"


"Syukurlah, obatnya sudah mulai bereaksi." jawab dokter tersebut.


"Tadi saya sudah menyuntikkan obat penghilang nyeri di cairan infus ibu, mengandung obat tidur yang aman untuk janin. Tujuannya, biar ibu bisa istirahat dan memulihkan kesehatan ibu tanpa gangguan." lanjut dokter itu menjelaskan pada Mala.


"Nanti saat ibu cukup istirahatnya dan tidak pusing lagi, ibu periksa ke dokter kadungan, untuk mengetahui lebih jelas kondisi kehamilan ibu." saran dokter jaga itu pada Mala.


Mala mengangguk setuju, dia masih merasa lelah, walau nyeri di kepalanya sedikit berkurang, tapi Mala ingin tidur dengan nyenyak.


"Dok, tolong rahasiakan kehamilan saya pada suami dan keluarga saya" pinta Mala. Dokter wanita itu menatap heran.


"Ini berita bahagia, Dok. Saya ingin, saya sendiri yang menyampaikan dan memberitahu mereka dengan cara saya. Bisa, Dok?" jelas dan pinta Mala. Dokter itu mengangguk setuju.


"Terima kasih, Dok" jawab Mala yang kembali memejamkan matanya.


"Berita baik apa, sayang?" tanya Galih penasaran.


"Kamu kenapa sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Galih. Istrinya menggeleng tapi Galih tetap memeriksa seluruh tubuh Mala.


"Ada apa?" tanya eyang Retno begitu melihat Galih yang tampak panik sambil memeriksa Mala.


"Tidak apa-apa Eyang, Mala hanya minta tolong panggilkan suster."


"Hubby, panggilkan saja susternya" Mala mengulang permintaannya. Galih mengangguk setuju, dia segera menekan tombol yang ada disisi tempat tidur Mala.


Seorang suster datang sambil membawa kursi roda, dia sudah mengerti jika pasien kamar rawat inap 456 yang memanggil maka dia diminta mengantar sang pasien ke dokter kandungan. Dokter jaga sudah mendaftakan nama Mala di poly kandungan, sehingga begitu Mala siap diperiksa dia bisa langsung diantarkan ke ruang periksa dokter.


"Sudah siap, Bu?" tanya suster itu. Mala menganguk.


"Pak, bisa tolong gendong ibunya biar duduk di kursi roda" pinta suster tersebut.


"Istri saya mau dibawa kemana?" tanya Galih.


"Ibu harus diperiksa dokter spesialis, Pak."


"Hubbyyyy..." panggil Mala dengan nada panjang.

__ADS_1


"Iya, sayang" jawab Galih yang langsung meggendog Mala. Galih faham jika Mala sudah memanggilnya dengan nada seperti itu, dia harus mengikuti keinginan istrinya.


Suster mendorong kursi roda yang membawa Mala. Sementara Galih mengikuti disisi istrinya dan bunda Sarah berjalan di samping suster. Suster itu menghentikan lagkahnya di poly kadungan, membuat tanda tanya besar di benak Galih begitu juga dengan bunda Sarah.


"Ibu Mala selamat sore" sapa dokter kandungan yang bernama Mery.


"Ibu baru saja mengalami kecelakaan? Kita periksa ya, semoga semuanya sehat dan baik-baik saja"


Dokter Mery sudah diberitahu, kalau Mala ingin memberi kejutan pada suami dan keluarganya. Dengan senang hati, dia menyetujui membantu Mala untuk memberi kejutan tersebut.


"Pak, bisa gendong ibunya untuk dibaringkan di tempat tidur" pinta dokter Mery.


Galih segera menggendong istrinya dan membaringkan Mala ditepat tidur seperti permintaan dokter.


"Kita periksa ya, Bu" ucap dokter Mery. Mala mengangguk.


Mala tidak ingin Galih melepaskam gengamanya saat dokter Mery melakukan pemeriksaan. Dia berdiri disisi istrinya yang berbaring. Matanya tertuju pada layar besar yang menampilkan rahim istrinya.


"Rahim Ibu termasuk rahim yang kuat, lihat semua baik-baik saja. Padahal ibu baru saja mengalami kecelakaan" ucap dokter Mery memberi tahu.


"Coba Bapak dan ibu lihat ini" Doktet Mery mengarahkan tanda panah di monitor itu tepat pada sebuah titik hitam yang tidak dapat dimengerti Galih dan Mala.


"Titik hitam ini adalah janin yang ibu kandung"


"Maksud dokter?" sela Galih ucapan dokter Mery.


Mala terkekeh, mengalihkan pandangan Galih yang semula melihat ke dokter Mery kini berbalik menghadap istrinya.


"Kita akan jadi orang tua, Mas" ucap Mala.


"Sayang, kamu..." Mala mengangguk sebelum Galih menyelesaikan ucapannya.


"Dok, istri saya hamil?" tanya Galih lagi tidak percaya.


"Iya Pak, usia kandungan ibu sudah masuk minggu ke lima. Semua sehat dan baik-baik saja"


"Terima kasih sayang" ucap Galih sambil menciumi pipi istrinya berkali-kali. Dia begitu bahagia sehingga lupa dimana dia berada.


Dokter Mery hanya bisa tersenyum, ini bukan kali pertama dia menemukan pasangan berbahagia yang melampiaskan kebahagiaan mereka dihadapanya.


"Hemm"


Deheman dokter Mery menghentikan kecupan Galih di pipi istrinya.


"Ibu harus jaga kesehatan. Mulai sekarang jangan terlalu lelah, makan dan istirahat yang cukup" nasehat dokter Mery pada Mala.


"Bapak harus jadi suami siaga" lanjut dokter Mery nasehatnya pada Galih.

__ADS_1


...⚘⚘⚘⚘...


...Biarkan Aku Bahagia...


__ADS_2