
Berita tertangkapnya Rania oleh polisi karena penyalah gunaan narkotika sampai di telinga Vina. Dia merutuki kebodohan putrinya itu.
"Mengapa dia bisa tertangkap karena kasus narkoba?" Kesal Vina sambil bertanya-tanya sendiri.
Sekarang bagaimana dia bisa memisahkan Galih dan Mala dan menekan Galih untuk kembali pada putrinya itu. Vina terus berpikir, pada siapa lagi dia meminta bantuan. Andro sudah menceraikannya, Galih juga membencinya. Wina sang kakak juga berada di tempat yang sama dengannya. Mengapa hidupnya berakhir seperti ini?
"Mala" gumam Vina dalam hati.
Dia bisa memperdaya Mala, agar istri Galih itu bersimpati padanya. Harusnya sejak awal dia melakukan ini, bukan membayar Kiara atau meminta bantuan Rania. Tapi sekarang bagaimana cara dia bertemu Mala?
"Menyesali sesuatu?" tanya Wina menghampiri adiknya.
Mereka berada di rutan yang sama, Vina masih menjalani proses pengadilan sementara Wina masih menunggu proses pengadilan
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Vina
Wina tersenyum, "Sedikit, setidaknya kedua putriku masih hidup bebas, tidak seperti putrimu." Wina terkekeh mengejek adiknya.
"Kedua putrimu pastinya tidak bisa diandalkan. Kiara dengan keuangannya yang terbatas bagaimana bisa membantu kamu? Saras yang aku tahu tidak bisa berbuat banyak untuk menguasai Abi dan perusahaan mantan suamimu itu"
Wina terdiam, apa yang dikatakan adiknya benar. Apa lagi setelah Abi tahu kebenaran tentang putra Saras yang bukam putranya, putrinya pasti dalam masalah saat ini. Nyatanya, sampai detik ini, tidak ada satupun dari mereka yang datang berkunjung walaupun mengirim orang lain seperti yang dilakukan Rania pada Vina.
"Musuh kita sama, orang yang sudah menghancurkan keluarga kita. Keluarga yang menyebabkan kematian kedua orang tua kita" ucap Vina menarik lamunan Wina untuk memperhatikan adiknya itu.
"Kita harus bersatu sekarang. Aku mempunyai banyak rahasia tentang keluarga itu. Kita bisa membalikkan keadaan" ajak Vina pada kakaknya.
Wina diam, bukankah selama ini keinginannya adalah membalas dendam kematian kedua orang tua mereka.
Terlalu sering ke kantor polisi membantu adik iparnya, membuat Arfan sering bertemu Lila, asisten pengacara keluarga Andro itu. Seperti malam ini, mereka melanjutkan perbincangan mereka tentang perkembangan kasus Wina dan Rania yang baru saja terjadi sambil menikmati makan malam.
Arfan yang pernah mengenyam ilmu hukum, sedikit banyak mengerti jalan apa saja yang bisa mereka ambil untuk memberatkan hukuman tersangka.
"Saya tidak mengerti, mengapa mereka selalu saja mencari masalah dengan pak Andro dan pak Galih" ucap Lila.
"Saya juga tidak begitu mengerti, mungkin dendam mereka terlalu besar" jawab Arfan.
"Tapi keluarga pak Andro tidak melakukan apa-apa atas kematian tuan Wily dan istrinya."
"Itulah masalahnya, mereka salah faham. Sepertinya sekarang kita harus mengawasi dua yang tersisa dari keluarga mereka" jawab dan Saran Arfan.
"Mas benar" ucap Lila sambil tersenyum.
Arfan terpesona dengan senyum yang diberikan Lila, terlebih lagi saat pandangan mereka bertemu, mata itu terlihat lebih indah dimata Arfan. Rasa apa ini? Bagaimana dengan kekasihnya?
Baru saja Arfan mengingat kekasihnya, wanita itu sekarang terlihat dimatanya. Senyumnya merekah, tawanya bahagia dan tanganya bertaut mesrah dengan seorang pria. Inikah jawaban dari doa-doa yang sering Arfan layangkan saat dia mengadu pada sang Khaliq.
__ADS_1
Arfan berpura-pura mengelap mulutnya dengan sapu tangan saat sang kekasih berbalik menghadapanya. Bunda Sarah benar, wanita itu memang tidak mencintainya.
"Mas Arfan kenapa?" tanya Lila heran.
Makanan di piring laki-laki itu masih penuh, tapi dia sudah mengelap mulutnya seperti orang yang akan menyudahi makannya. Karena itu Lila bertanya.
"Tidak apa-apa. Saya merasa sekitaran mulut penuh makanan. Takut kamu menertawai saya makan seperti anak kecil" jawab Arfan. Lila tertawa mendengarnya.
Wajah Lila tampak cantik dimata Arfan, matanya menyorot tajam menunjukkan kekagumannya pada wanita itu. Tanpa Arfan sadari jika sang kekasih kini sedang melihat kearahnya.
"Arfan"
Arfan menghentikan langkahnya mendengar namanya dipanggil lalu berbalik diikuti Lila.
"Senang bisa bertemu kamu disini. Kenalkan ini calon suami aku"
Arfan tersenyum tipis menaggapi ucapan kekasihnya, tanpa rasa bersalah sang kekasih mengenalkan pria di sampingnya sebagai calon suaminya.
Tanpa diketahui Arfan jika Lila sama terkejutnya dengan Arfan mendengar penjelasan wanita yang bersama laki-laki yang masih berstatus sebagai kakak iparnya. Lila menatap tajam laki-laki itu yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun, bahkan bersikap seolah mereka tidak saling kenal.
"Selamat kalau begitu. Saya tunggu undangannya. Permisi" jawab Arfan tanpa ingin memperkenalkan dirinya pada calon suami kekasihnya.
Arfan berbalik hendak meninggalkan sang kekasih, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi antara mereka. Semua jelas dan berakhir disini. Bukan dia yang mengakhiri tapi kekasihnya yang berpaling. Arfan bodoh berharap banyak pada wanita seperti itu.
"Dia pengacara yang menagani kasus Mala. Dia..."
"Lila" ucap Lila sambil mengulurkan tangannya.
"Syifa" ucap kekasih Arfan menyambut uluran tangan Lila.
Syifa terdiam, dia salah menduga mengira Arfan juga berjalan bersama kekasih barunya. Mereka memang sudah jarang berkomunikasi akhir-akhir ini karena kedekatannya dengan laki-laki yang dijodohkan dengannya. Syifa kecewa saat Arfan bersama wanita lain, hingga dia tanpa berpikir panjang memeperkenalkan laki-laki yang bersamanya sebagai calon suami pada Arfan.
Arfan meninggalkan Syifa kekasihnya, tepatnya mantan kekasihnya. Entah mengapa Arfan merasa biasa saja, wanita seperti itu untuk apa di tangisi bukan? Pikir Arfan untuk menghibur dirinya sendiri.
"Syifa itu teman Mas Arfan?" tanya Lila.
"Iya" jawab Arfan singkat. Dia tidak ingin membicarakan atau menjelaskan lebih banyak tentang Syifa.
"Aku kenal laki-laki yang bersamanya" ucap Lila. Arfan mengehentikan langkahnya dan menoleh pada Lila.
"Dia suami kakak saya"
Arfan terkejut mendengar penjelasan Lila. Mengapa dia tidak mengenal sifat Syifa sebenarnya selama ini. Wanita itu bahkan berani merebut suami orang.
"Keluarga suami kakak saya memang tidak begitu menyukai kakak saya, hanya neneknya yang selalu baik dengan kakak saya, tapi bukan berarti laki-laki itu bisa meninggalkan kakak saya begitu saja" keluh Lila.
__ADS_1
"Lelaki seperti itu tidak pantas untuk wanita baik-baik seperti kakak kamu."
"Menurut Mas Arfan, Syifa bukan wanita baik-baik? Sepertinya Mas Arfan sangat mengenalnya."
"Saya tidak begitu mengenalnya, karena itu saya tidak mengira dia seperti itu. Wanita yang baik tidak akan merebut suami orang bukan?" Arfan membalikan pertanyaan Lila dengan pertanyaan lagi.
Arfan memilih pulang ke kediaman Galih dan Mala, dia tahu malam ini bunda Sarah menemani Mala di kediamam adiknya itu. Arfan butuh bunda Sarah saat ini, setidaknya dia bisa memberi tahu bundanya tentang Syifa. Sebelumnya Arfan mengantar Lila pulang terlebih dahulu ke rumahnya yang kebetulan satu arah dengan kediamam adiknya.
"Tidak mau mampir dulu Mas?" tanya Lila.
"Sudah malam, lain kali saya akan mampir" jawab Arfan.
"Saya tunggu dengan senang hati" jawab Lila membuat Arfan tersenyum lebar.
"Apa dia kakak kamu yang tadi kamu bicarakan?" tanya Arfan melihat seseorang yang membukakan pintu untuk Lila.
"Iya, sudah satu minggu dia menginap. Tidak bicara apapun, tapi sekarang saya tahu alasannya" ucap Lila.
Arfan mengerti maksud Lila dan segera pamit. Sepanjang jalan dia terus menyungingkan senyumnya.
"Sudah makan Mas?" tanya bunda Sarah saat membukakan pintu untuk putranya.
"Sudah Bun" jawab Arfan sambil mencium punggung tangan bunda Sarah.
"Dimana mereka berdua?"
"Adikmu sepertinya sudah tidur, Galih tadi terlihat sangat lelah" jawab bunda Sarah.
"Ada apa, Mas?" tanya bunda Sarah begitu Arfan duduk di dekatnya.
"Bunda benar tentang dia"
Bunda Sarah tersenyum. "Lalu, apa rencana Mas selanjutnya?"
"Lihat saja nanti" Arfan tersenyum. Bunda Sarah menatap heran, tidak ada aura kesedihan diwajah putranya.
"Aku dan dia tidak berjodoh, mau apa lagi? Tidak ada gunanya ditangisi bukan?"
"Bunda yakin, Mas akan mendapatkan yang lebih baik dari dia."
"Itu pasti, Bunda doakan saja" jawab Arfan.
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...
__ADS_1