
Malam ini Mala tidak bisa memejamkan matanya, bukan karena tidak ada Galih yang memeluknya, Mala tidak butuh itu, dikamarnya ada guling yang bisa dia peluk. Suaminya juga sudah melakukan panggilan video, mereka sudah bicara banyak, bukan mereka tepatnya Galihlah yang lebih banyak bicara terutama untuk meyakinkan Mala kalau tidak ada cinta lagi untuk Kiara dan itu sudah berlalu lama, kejadian saat di retoran tadi siang yang membuat Galih kembali membahas masalah ini. Sikap Mala yang tidak banyak mendebatnya seperti biasa membuat Galih berpikir kalau Mala kembali ragu dengan cintanya, tanpa Galih tahu kalau ada hal lain yang dipikirkan Mala.
Mala dan Tari kembali ke kantor diantar Rafi dan Widya, namun saat dalam perjalanan matanya tidak sengaja melihat sosok yang sangat dia kenal sedang bersama seorang wanita dan anak kecil. Hal itulah yang ada dalam pikiran Mala. Siapa wanita dan anak itu? Mengapa mereka terlihat seperti sebuah keluarga? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang hadir dikepala Mala membuatnya jadi sulit memejamkan mata.
Pagi ini wajah Mala terlihat pucat karena kurang tidur, tapi dia memaksakan diri untuk tetap kekantor. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Tias sebagai adik dari Abiansyah yang pasti tahu kebenarannya.
Kemarin sore sudah dia rencanakan ingin bertanya saat perjalanan pulang, tapi entah mengapa, tiba-tiba Arfan sudah ada di loby kantor menunggunya. Tentu saja membuat Mala memilih pulang bersama Arfan, apa lagi Tias mengatakan kalau dia masih ingin kesuatu tempat sampai malam. Kalau dia tetap memilih pulang bersama Tias, Galih pasti akan menegurnya lagi, dan Mala lelah kalau harus berdebat dengan Galih membahas Tias didalamnya.
"Kamu kekantor sama kakak, Tias tidak akan menjemputmu" ucap Arfan begitu melihat Mala berkali-kali melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Tadi Abi kebetulan lewat dan memberitahu kalau semalam Tias tidak pulang kerumah" jalas Arfan.
"Kamu tahu dia menginap dimana?" tanya Arfan membuat Tias mengedikan bahunya.
"Ya sudah nanti kakak beri tahu Abi kalau kamu juga tidak tahu keberadaan Tias. Tadinya Abi mengira Tias menginap disini"
Mala hanya diam tapi dia mencerna setiap penjelasan dari Arfan.Tias semakin berani tidak pulang kerumah, dan ini mengingatkan Mala pada masa SMP, dimana Tias sering pergi bersama teman-temannya, dimana Mala dan Tias belum saling kenal.
"Mungkinkah?" gumam Mala yang masih bisa didengar Arfan.
Tias pernah salah pergaulan saat SMP, sebelum mereka dekat seperti saat ini. Papanya Tias yang memberi tahu dan sedikit menceritakan masa lalu Tias pada Mala, serta meminta teman baru putrinya itu agar mengawasi pergaulan Tias. Sahabatnya itu tidak pernah mengungkit masa lalunya sampai detik ini, Mala juga tidak begitu ingin tahu lebih jauh jika memang Tias tidak ingin menceritakannya. Yang penting sejak satu kelas di kelas delapan mereka mulai berteman baik, Tiaspun kembali menjadi anak yang betah dirumah seperti keinginan papanya.
Di SMA mereka dipertemukan dengan Zoya, yang bisa menyeimbangi persahabatan antara Mala dan Tias yang sebenarnya memiliki sifat yang sangat berseberangan. Persahabatan mereka bertiga berlanjut sampai ke perguruan tinggi dimana mereka melanjutkan di universitas dan jurusan yang sama. Semester kedua hadir sosok Ardi yang menggenapkan persahabatan mereka. Sebagai satu-satunya pria, Ardi tampil bak pahlawan untuk ketiganya, dia menjaga dan melindungi mereka dari siapapun yang berniat jahat terutama pada Mala yang sering dikira sebagai benalu Tias dan Zoya oleh mahasiswi yang lain.
"Mungkinkah apa?" tanya Arfan.
"Mungkin Tias menginap di tempat Ardi" jawab Mala, karena dia tidak yakin dengan kecurigaanya diawal. Ardilah nama yang akhirnya dia sebut, mengingat bagaimana hubungan Ardi dan Tias akhir-akhir ini.
"Tidak ada disana, Abi sudah menghubungi Ardi dan Zoya" Arfan menjelaskan.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang. Nanti kamu tanyakan saja pada Tias saat bertemu di kantor" ajak dan nasehat Arfan.
Mala mengangguk menyetujui ucapan Arfan. Hari ini banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan, Galih mengalihkan sebagian tugas-tugasnya pada Mala dan Tari. Tidak masalah bagi Mala, dengan begini dia bisa belajar dengan langsung praktik, sehingga memudahkan dia nanti saat menyusun laporan magangnya karena benar-benar menguasai materi.
__ADS_1
"Mala, kamu tahu Tias kemana?" Zoya yang bertanya begitu mereka bertemu di loby dan hendak ke cafe yang ada digedung perkantoran ini juga. Sampai detik ini Tias menghilang tanpa memberi kabar apapun, baik pada Zoya, Ardi dan Mala.
"Ardi mungkin tahu" jawab Mala sambil berjalan menuju cafe.
"Ardi juga kehilangan jejak, sejak kemarin sore mereka sudah tidak kontak. Anak itu menghilang kemana?" Zoya memberitahu dan juga bertanya karena kesal begitu mereka sudah duduk.
Saat makan siang seperti ini, cafe cukup penuh karena bukan hanya karyawan Andromega saja yang menikmati makan siang disini, tapi juga karyawan dari sekitar Andromega. Untung mereka masih menemukan satu tempat kosong yang bisa mereka tempati.
Mala hanya bisa diam mendengar penjelasan Zoya, tidak ada bayangan kemana Tias pergi. Mala juga tidak begitu mengenal teman-teman Tias diluar sana selain mereka bertiga. Tias tidak pernah mengajaknya, Zoya maupun Ardi disaat dia akan bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
"Permisi, boleh ikut duduk disini?" seorang wanita menghampiri mereka.
Mala terkejut saat melihat wanita yang ada dihadapannya, dia wanita yang kemarin yang dia lihat bersama Abi, Mala yakin dan seyakin yakinnya dia wanita yang sama yang dia lihat kemarin.
"Silakan Mbak" Zoya yang menjawab karena Mala hanya diam menatap wanita itu.
"Maaf ya, tidak ada tempat lagi" ucap wanita itu sambil duduk disamping Zoya.
"Tidak apa-apa mbak, kami juga hanya berdua" kembali Zoya yang menjawab.
"Kami masih kuliah mbak, disini hanya magang" kali ini Mala yang menjawab, dia sudah bisa mengontrol suasana hatinya.
"Pantas saja masih sangat muda dan cantik-cantik" puji wanita itu.
"Mbak kerja dimana?" rasa penasaran Mala membuatnya bertanya.
"Saya Saras, saya kerka di gedung sebelah" jawabnya sambil tersenyum.
Pelayan mengantarkan pesanan Mala dan Zoya menghentikan percakapan mereka. Satu menu yang bukan merupakan pesanan mereka, yang Mala kira itu milik Saras tapi ternyata dia juga tidak memesannya.
"Mbak, kami tidak memesan ini" Mala memberi tahu pelayan.
"Iya bu, ini Pak Candra manager kami yang memberikan khusus untuk ibu karena sudah bersedia makan disini" jelas pelayan tersebut.
__ADS_1
"Mengapa begitu?" tanya Zoya heran.
"Bisa tanyakan langsung ke pak manager, saya hanya menjalankan tugas"
"Baiklah, terima kasih mbak" jawab Mala untuk mengakhiri perdebatan yang akan dimulai Zoya jika dia tidak segera memerintahkan pelayan itu untuk pergi.
"Sama-sama bu, bila butuh sesuatu ibu bisa langsung memanggil saya atau karyawan yang lain"
Mala hanya mengangguk menanggapi ucapan pelayan tersebut. Kini pandangannya beralih pada makanan yang ada di hadapannya. Cacing diperutnya sudah menagih tapi dia sungkan untuk menyantapnya karena Saras belum menerima pesanannya.
"Silakan makan, tidak perlu menunggu saya" ucap Saras yang mengerti keraguan Mala dan Zoya.
Baru saja Mala akan menyuapkan makananya, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya. Dari bau farfumnya Mala sangat mengenali siapa orang itu, tapi itu tidak mungkin.
"Sayang" panggil Galih begitu Mala melihat kearahnya.
"Mas, kok sudah pulang? Katanya satu minggu" tanya Mala heran.
"Sudah kangen soalnya" jawaban Galih membuat Zoya tidak tahan ingin menggodanya tapi dia tidak berani karena ini cafe yang ada di kantor mereka.
"Mas sudah makan?" tanya Mala untuk mengalihkan pembicaraan mereka yang membuat Mala malu, terlebih lagi ada Saras, orang yang baru dikenalnya.
"Sudah tadi di bandara, kebetulan bertemu teman. Ayo cepat habiskan, mas tunggu diruangan" Galih berdiri dan mengecup pucuk kepala Mala.
"Zoya, kamu juga meghadap saya di ruangan" tunjuk Galih pada Zoya.
"Saya pak" ulang Zoya karena kaget. Galih memiringkan kepalanya.
"Baik pak" sahutnya lagi.
Sepeninggal Galih, pesanan saras tiba. Melihat itu Mala dan Zoya segera menyantap makanan mereka, dan segera menemui Galih.
Masalah hubungan Saras dan abi, Mala akan menyelidikinya lagi nanti. Sekarang Galih yang jadi pikirannya. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan mengapa suaminya baru satu hari sudah kembali dari jadwalnya yang harusnya satu minggu. Apa ada urusannya dengan peristiwa tak terduga kemarin?
__ADS_1
...⚘⚘⚘⚘...
...Biarkan Aku Bahagia...